The first 200 lines.
Sebelumnya di Chesapeake Shores:
- Beri nomor teleponmu untuk disadap. - Baik.
- Ayo makan malam. Bukan kencan. - Makan malam?
Aku makan malam dengan Jess, David, Kevin, dan Sarah. Menyenangkan. Seperti…
- Keluarga? - Ya. Aku tak pernah merasakannya.
Aku sudah lama tak melukis atau menggambar.
- Tak apa. Kita akan punya. - Kau mau keluarga.
- Ini dari lokasi konstruksi hotel? - Pekerjaan bisa terhenti.
Firma hukum ini memata-matai pengacara demi informasi keluarganya. Aku berhenti.
Terima kasih.
David, kau terima Jess menjadi istrimu?
Kau berjanji menghormati, menyayangi,
- dan melindunginya? - Aku…
David!
Hei, Sayang.
Kau bermimpi itu lagi, ya?
Kali ini tanah di bawah kakimu terbelah.
Lebih baik daripada dibawa pergi oleh burung camar.
Aku tak sabar pesta pernikahan ini selesai agar bisa tidur nyenyak lagi.
Itu yang ingin didengar pengantin pria.
Ternyata Jerry Trask tak menyebalkan.
Orang berubah.
- Kami akan makan malam nanti malam. - Kencan?
Bukan. Hanya…
Hanya mendiskusikan kurikulum sambil makan malam.
- Antar sesama pengajar. - Baik, pastikan dia yang bayar.
Baik.
- Hai. - Hai.
Aku tahu yang kalian pikirkan, pernikahannya sepekan lagi.
Tapi tolong, jangan menggila.
Jalani serasa ini pekan normal. Itu yang aku dan David akan lakukan.
Karena sepekan cukup untuk menyelesaikan semua.
Jadi, jangan panik, ya?
Jangan panik!
Baik.
- Dia panik. - Amat panik.
- Hei. Pagi. - Pagi.
Connor,
sudah berapa lama kau memakai setelan itu?
Kuganti…
bajuku…
tempo hari.
Bagus.
Bagus sekali.
Dia senang tak harus berpakaian rapi dan pergi ke kantor.
Benar. Tapi ini sudah tiga pekan.
Dua setengah.
Ayah hargai jasamu,
- tapi seharusnya kau… - Merencanakan masa depanku?
Sudah kulakukan.
Aku tak tidur di malam hari
memandangi plafon, hanya memikirkan itu.
Con, wajar merasa sedih di saat seperti ini.
Mungkin.
Yang kukira pekerjaan impianku,
ternyata ruang rapat penuh ular.
Kau perlu pelukan.
Aku bukan anak-anak.
Kau tak mau pelukan?
Aku sedikit mau.
Ibu tahu.
CHESAPEAKE SHORES BALAI PERTEMUAN
Bagus.
Kerja bagus.
Beri hormat.
Abby.
Ini agak sulit untuk kelas ini, tapi aku mau lihat kemampuanmu.
Bagus sekali.
Amat mengesankan.
Kau telat. Ini Evan. Dia berpikir ikut kelas kita.
- Kenapa kau di sini? - Aku suka coba hal baru.
Kau mau mengamati?
Aku cepat belajar. Bisa langsung mulai.
Pernah belajar taekwondo?
Tidak, tapi aku tahu seni bela diri.
Aku belajar Muay Thai, Krav Maga, savate. Yang standar.
Sepertinya kau bisa mengajari kami.
Tidak, aku hanya murid.
Kami melakukan tangkisan lengan dasar. Bisa tunjukkan, Abby?
Aku?
"Cara belajar terbaik dengan mengajar." Benar, Master Amy?
Kau baca bukuku?
Dia punya anak buah untuk meriset.
Ya.
Aku juga menonton video di internet, jadi, aku lebih unggul.
Kalau begitu, lakukan. Abby?
Bagus.
Ingat, kita belum siap uji coba.
Maaf, insting.
Giliranku.
- Maju. - Kau siap?
Aku siap.
Evan, maaf. Kupikir kau akan menunduk.
- Tak apa. Aku akan menunduk seterusnya. - Coba kulihat.
Tampak keren, 'kan? Ini pujian.
- Tendanganmu seperti keledai marah. - Maaf.
Kau sudah bilang. Tak apa. Sungguh.
- Kursusmu tampak seru, Tuan. - Tanya dia.
- Aku tak sengaja. - Dimengerti.
Insiden mirip juga terjadi saat kursus Krav Maga.
Dia cepat sembuh.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Jay. Maaf.
Tidak, aku yang salah.
Kau tampak berbahaya.
Ya, benar.
- Hobi baru? - Ya, baru mulai.
Putri dan ibu sama saja.
Pasti senang bisa menendang.
Awalnya kukira begitu, ternyata aku tak tahu kekuatan sendiri.
Aku takkan mau mengganggumu.
Bagaimana kabarmu?
Masih merasa stres?
Ya, Evan Kincaid membuatku gila. Aku mungkin menyebabkan dia gegar otak.
- Strategi bisnis yang menarik. - Bukan.
Itu bukan salahku. Kami sedang di kelas…
Tunggu, Kincaid kursus taekwondo bersamamu?
Ya. Dia muncul begitu saja. Siapa yang melakukan itu?
Menarik.
Dia sering seperti itu. Amat impulsif.
Dia tak punya rentang perhatian. Selalu tertarik hal baru.
Abby,
kau tak terpikir mungkin hal baru yang menarik buatnya adalah kau?
Bukan seperti itu.
Aku akan berhenti bicara.
Jangan. Aku menikmati bicara denganmu.
Aku juga.
Sebaiknya kita lakukan lagi.
Sambil makan.
- Kencan? - Aku tak suka memberi label.
Aku mau.
Bagus.
Cek jadwalmu, anak buahmu bisa hubungi anak buahku.
Akan kulakukan.
Aku akan menelepon jika mau menendang seseorang.
- Baik. - Baik.
Hei, bisa pesan kopi?
Bree O'Brien.
- Kita harus berhenti bertemu seperti ini. - Luke. Apa kabar?
Seperti kau lihat sapu ini, aku manajemen tingkat atas.
Jangan lupakan kami orang kecil.
Tak akan.
Kubaca bukumu akhir pekan ini.
Benarkah?
Ya. Aku punya kartu perpustakaan dan meminjamnya. Buku bagus.
Terima kasih.
Besar di sini, aku tahu siapa karakter samar di sana.
- Ya. - Bagaimana respons keluarga?
Ternyata tak terlalu samar.
Akhirnya tak masalah.
Karena itu buku terlaris.
- Masih tak percaya itu. - Aku percaya.
Terima kasih.
- Bagaimana kelasmu? - Belum mulai.
Aku gugup.
Benarkah?
Bersikaplah percaya diri. Yang lain akan beres.
Benarkah?
Aku tahu apa? Aku memegang sapu.
Kau tak apa-apa?
Lihat bagaimana aku beralih dari sapu ke pel. Sampai jumpa.
- Ini. Kau… Ya. Baik. - Terima kasih.
Aku juga menantikan bekerja sama lagi.
Terima kasih. Sampai jumpa.
Ini telepon keempat soal mitigasi.
- Yang dibayar Dilpher. - Semuanya.
- Ayah berhak. - Terima kasih.
Kau tampak rapi.
Memakai celana tak melar.
Sudah saatnya.
Ayah tahu Denzer, Lewis dan Phelps adalah pekerjaan impianmu.
Kupikir begitu.
Kau akan berhenti jika bukan karena Ayah?
Mungkin.
Tapi menjadi lebih mudah karena Ayah.
Ayah bangga kau melakukannya.
Terima kasih, Ayah.
Lalu menurut Ayah kau akan sukses mandiri.
Ini niatnya. Pertama, ruang kantor.
Soal real estat, jangan lupa…
Lokasi yang penting.
Benar.
Apa novel favoritmu?
Anna Karenina, All My Friends Are Going to Be Strangers.
Pilihan bagus.
Jika kau bisa di mana saja sepanjang sejarah, apa pilihanmu?
Sekarang.
Aku suka sekarang.
Baik.
Apa band atau jenis musik favoritmu?
- Country. - Apa? Sungguh?
Ya, sungguh.
Kau pernah dengarkan? Yang bagus.
Ada yang bagus?
Jangan sombong.
Datanglah ke Chesapeake Shores kapan-kapan.
Pergilah ke kelab The Bridge. Mereka punya…
Mereka punya beragam musik bagus, termasuk country.
Baik. Mungkin akan kulakukan.
No comments yet. Be the first to leave one.