The first 185 lines.
Melangkah Maju
Episode 28
Jianjian
Jianjian.
Kenapa masih belum tidur?
Xiao Jian, bicaralah.
Ayah.
Ada apa ini?
Begitu tak bersemangat,
seperti hampir kehabisan nafas
Aku mendapat pukulan.
Katakan ada apa.
Itu...
Itu...
Sekarang tak bisa kukatakan.
Nanti aku ceritakan.
Kenapa menjaga rahasia dariku?
Jadi untuk apa meneleponku?
Aku perlu semangat untuk menghadapinya.
Aku butuh semangat
dari Ayah.
Kau masih butuh
semangat dariku?
Kau sendiri adalah penyemangat, 'kan?
Kami semua
selalu mendapat semangat darimu.
Aku sudah tak bersemangat lagi.
Tidak semangat lagi?
Kau bisa tak bersemangat juga?
Baik, kau tunggu sebentar.
Nanti kutelepon.
Apa ini perusahaan minyak?
Aku Direktur Li, Li Haichao.
Aku ingin minta bantuan kalian.
Sumber tenaga di putriku ini
sudah habis,
kalian tolong isikan lagi.
Bisa isi berapa?
Lima truk? Kurang.
Paling tidak 50 truk.
Kapan bisa terkirim?
Baik, besok pagi.
Terima kasih.
Jika senggang, makan mie di tempatku.
Baik.
Xiao Jian, dengar tidak?
Sudah aku urus.
Besok pagi saat kau bangun,
minyakmu sudah terisi penuh.
Terima kasih, Ayah.
Jangan sungkan.
Ayah.
Maaf.
Kenapa sampai minta maaf?
Katakanlah.
Aku merasa Ayah demi aku,
Ayah bahkan tak menikah lagi.
Aku tak menikah lagi
apa hubungannya denganmu?
Lagi pula,
dulu aku juga pernah
bersama ibunya Ziqiu?
Ayah masih tak bisa lupakan Bibi He Mei?
Bukan.
Setelah ada kalian bertiga.
Adanya kalian,
tak ada yang kenalkan lagi padaku.
Berarti Ayah sendiri
sebenarnya ingin mencari, 'kan?
Bukan.
Ayah jujurlah.
Sejujurnya, aku memang tidak ingin.
Beberapa tahun ini aku dan Ayah Ling,
hidup dengan baik-baik saja.
Aku sudah berdiskusi dengannya.
Jika kelak sudah tua,
kami akan bersama
pensiun ke panti jompo.
Panti jompo?
Ayah kira tinggal di panti jompo
sangat bagus?
Itu perlu persetujuan anak-anak.
Jadi kenapa?
Saat itu
masih perlu merepotkan Anda
untuk tanda tangan.
Aku tak mau.
Kelak aku mau
tinggal bersama Ayah,
melayani Ayah.
Siapa yang melayani siapa belum tentu.
Coba pikirkan.
Kau yang begini,
melahirkan anak,
lebih nakal darimu,
aku yang melayani atau tidak?
Sudahlah.
Lebih baik ke panti jompo,
untuk menikmati hidup saja.
Benar juga.
Baiklah.
Asal bicara begitu lama.
Cepat tidur.
Aku tutup dulu.
Tunggu, ada satu hal.
Cepatlah.
Ayah, aku mencintaimu, selamat malam.
Beberapa hari ini,
jangan makan yang pedas,
makan lebih tawar.
Jika sakit gigi,
makanlah es krim, tiga hari lagi baru cabut saraf.
Baik, terima kasih, Dokter.
Xiao Song, bawa pasien ambil obat.
Baik.
Kenapa kau datang?
Traktir kau makan.
Aku menunggumu sejam lebih.
Ayo.
Tunggu.
Cepat.
Cepat.
Kenapa kau tak makan?
Cepat makan.
Makanlah.
Apa ada yang mau kau katakan?
Tidak ada.
Cepatlah, setelah makan cepat kembali.
Nanti aku masih ada kerjaan.
Kau datang ke tempatku
hanya untuk makan denganku?
Jika tidak?
Kelak asalkan aku senggang,
aku datang temani kau makan.
Nanti sore,
aku usahakan cepat selesai kerja,
menjemputmu pulang.
Kau tak perlu menjemputku.
Cepat makan.
Aku antar kau naik taksi.
Tak perlu.
Dekat saja.
Aku kembali sendiri saja.
Kau juga kembalilah.
Ada apa?
Kenapa kau tiba-tiba begini?
Kau bilang aku kasihan padamu, 'kan?
Aku kasihan padamu.
Saat melamun sendirian,
pasti akan berpikir sembarangan.
Kau jangan pikir terlalu banyak,
untuk apa berpikiran begitu?
Kau pakai kecerdasanmu
untuk hal yang baik.
Kau bisa periksa lebih banyak pasien.
Kau tenang saja.
Aku akan mengasihanimu dengan baik.
Mengasihanimu sepenuhnya,
sampai kau merasa tak perlu dikasihani lagi.
Aku akan terus kasihani kamu.
Karena aku suka
kasihani orang lain.
Sudah puas?
Kau masih marah?
Tidak.
Kemarin kau menangis.
Tidak!
Baik, tak menangis.
Anjing kecil buang air.
Kaulah yang begitu.
Aku pergi dulu, malam kujemput.
Tak perlu.
Ayah meneleponku,
minta aku bawa dia ke dokter malam ini.
Kenapa ke dokter lagi?
Katanya badan tak sehat.
Baik, aku izinkan.
Pergilah.
Kenapa begitu tinggi?
Sampai jumpa.
Sudah mau pulang masih ada kerjaan,
sibuk sampai sekarang.
Jam berapa dokternya tutup?
Masih sempat?
Sempat.
No comments yet. Be the first to leave one.