The first 200 lines.
Yoon Seo Young, ada apa denganmu?
Kau sudah tahu, 'kan?
Tae Joon akan pergi ke pulau, kau sudah tahu, 'kan?
Ya, lalu kenapa?
Kau sudah tahu apa impian Tae Joon.
Selama ini kau sudah tahu.
Lalu aku harus bagaimana?
Aku harus bagaimana?
Aku harus bagaimana?
Aku harus bagaimana?
Aku harus bagaimana?
Sudah kubilang, aku pergi dari rumah bukan karena bertengkar.
Aku hanya tak ingin jadi penghalang bagi Seo Young dan Tae Joon.
Aku ingin mereka merasa nyaman jika aku berada di dekat mereka.
Aku bicara jujur.
Halo.
Maafkan aku.
Aku mengatakannya tanpa berpikir panjang, kurasa dia sedikit kaget.
Kau perlu mendengarku bicara sampai selesai.
Apa yang akan berubah jika aku mendengarmu?
Katakan...
Apa yang akan berubah?
Bagaimanapun juga kau tetap akan pergi.
Kenapa kalian tak hentikan pertengkaran kalian?
Aku sudah lelah mendengarnya.
Aku juga lelah begini terus.
Jika bukan karena ahjumma, Tae Joon bisa salah paham.
Terima kasih.
Kurasa aku harus masuk sekarang.
Sepertinya ada yang ingin kalian bicarakan.
Tidak, Jae Won...
Walau keadaannya tampak rumit sekarang...
...jawabannya sederhana saja.
Waktu.
Ini hanya masalah waktu.
Kau tahu itu, 'kan?
Kurasa kau tak perlu menjelaskan semua itu padaku.
Aku juga pergi sekarang.
Aku harus pergi juga.
Baiklah, semangat.
Kita perlu bicara.
Ketika aku mengajaknya bicara, dia bilang dia sangat lelah.
Aku tak berniat memasukkan namaku di sampul bukumu.
Jadi buatlah kontrak baru dan tandatanganilah.
Aku sudah mendengarnya dari penerbitmu.
Tapi aku sungguh tak mengerti.
Kau benar-benar mengedit bahasa kasar dalam konsepku menjadi kalimat-kalimat yang bagus.
Apa kau malu menjadi editor bukuku?
Hanya menulis namamu di buku yang kau tulis, itu agak...
Kau ingin tenar sendirian?
Kau tak mau menulis namamu di bukuku karena bukuku kurang berkelas?
Mungkin bagimu, menerbitkan buku seperti itu bukan masalah besar.
Tapi penulis lain tak menganggapnya seperti itu.
Buku yang dengan susah payah mereka kerjakan hanyalah milik mereka.
Seakan-akan kau berbuat kebaikan pada seseorang...
"Aku akan memasukkan namamu dan berbagi royaltinya."
Kau tak boleh melakukan itu.
Itulah kondisi pekerjaanku.
Apa itu berbuat kebaikan?
Wasit?
Oh, itu hal yang baik.
Itukah yang kau rasakan?
Bahwa aku sedang berbuat baik padamu?
Aku akan menganggap semuanya sudah jelas sekarang.
Yang benar saja...
Baik. Kurasa aku melakukan kekonyolan lagi.
Kau tahu aku hanyalah cangkang kosong yang sombong.
Biar kuperjelas, aku sudah mengabaikanmu seperti yang kau minta.
Kaulah yang duluan bersikap mengenaliku.
Cangkang kosong...
Maafkan aku atas kata-kata itu.
Itu sudah keterlaluan.
Kau tak keterlaluan.
Aku bisa merasa bahwa kau menganggapku sebagai cangkang kosong.
Jujur saja, apa yang kau lakukan tadi karena kau tak mempercayaiku, 'kan?
Kau pikir aku masih memiliki sisa perasaan pada Seo Young...
...dan akhirnya aku akan melukai Tae Joon.
Itu sebabnya kau melibatkan diri, walau itu tak seperti dirimu.
Karena aku hanyalah cangkang kosong, manusia sampah, yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Aku melakukannya karena tahu perasaanmu yang sebenarnya. Karena aku tahu kejujuranmu!
Karena khawatir jika itu menyebabkan kesalahpahaman besar.
Khawatir jika semua hati saling terpaut dan tidak bisa dilepas.
Hentikanlah sekarang.
Mengkhawatirkan Seo Young, dan menghiburnya ketika dia sedih...
Itu bukan tanggung jawabmu.
Wow, kau mengatakan saran yang menyakitkan itu dengan begitu anggun.
Tapi...
Aku tak bisa berdiam diri ketika teman-temanku menangis dan mengalami kesulitan.
Dan walau terjadi kesalahpahaman, dan hati orang-orang saling terpaut...
...kita bisa mencari jalan keluarnya.
Mungkin ada yang tak bisa dilepas.
Apapun itu...
Kuharap bisa mengetahuinya.
Kuharap aku tahu apa yang membuatmu merasa sangat kesulitan.
Ini pertama kalinya aku merasa begitu penasaran tentang orang lain...
...dan apa yang ada di dalam benak mereka melebihi diriku sendiri!
Ya, Manajer.
Ah, ya...
Halo.
Aku sudah keluar rumah sekarang, jadi aku pasti bisa segera sampai di sana.
Tunggulah sebentar, ya.
Ya, tentu.
Dialah yang memberitahuku apa kata pencarianmu.
Tapi melihat bagaimana dia sangat mengenalmu, kurasa dia tak terlalu sering keluar juga.
Kupikir-pikir, kalian berdua sangat mirip.
Aku yakin kalian berdua bisa berkumpul dan berbicara tentang semua kejadian di kompleks ini.
Karena kau yang duluan bersikap mengenaliku, maka perjanjian kita batal.
Kita kembali saling mengenal.
Ah, kurasa aku benar-benar mahir berbahasa Korea.
Sampai bertemu.
Kau pikir siapa yang kau temui? Sudah kubilang jangan datang seenaknya.
Apa kau menelan perkataanku?
Meminum perkataanku?
Tiba-tiba aku ingin camilan tengah malam, sangat menyebalkan.
Aku takkan datang ke sana! Aku takkan menemuimu!
Aku takkan pernah datang menemuimu lagi seumur hidupku!
Pak Penulis...
Pria dari Spanyol yang muncul di episode empat...
Maksudku bajingan itu...
Apa di dunia ini ada orang seperti itu?
Atau ia hanya karakter rekaan untuk membuat ceritanya lebih menarik?
Seseorang yang jenius,
kaya, dengan kepribadian yang menyenangkan...
Benar-benar tak masuk akal!
Orang yang baik takkan ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain.
Buatlah dia menjadi bajingan rendah, orang aneh dan manusia sampah!
Bajingan rendah, orang aneh dan manusia sampah?
Kurasa gadis seperti Rapunzel akan jatuh hati pada pria seperti itu.
Apa?
Tapi kenapa? Kenapa?
Disaat dia akan kembali ke Spanyol dalam sebulan?
Dia akan kembali ke Spanyol dalam sebulan.
Tanpa perlu khawatir...
Ini adalah peluang untuk jatuh cinta dan melakukan segala sesuatu yang ingin dilakukannya.
Dan ketika pria itu pergi, semua rahasianya akan tetap terjaga.
Aku iri padanya!
Melakukan apa tanpa perlu khawatir?
Cinta macam apa itu?
Apa wanita punya keinginan seperti itu juga?
Tidak. Bukan aku.
Aku terlalu berhati-hati untuk itu.
Pak penulis...
Jangan biarkan asistenmu menangani sketsa karakternya.
Itu akan merubah pola gambarnya.
Walau ini hanya sebuah melodrama, jangan terlalu serakah mengerjakan latarnya...
Berkonsentrasilah pada karakternya.
Karena latarnya begitu indah, karakternya jadi tak menonjol, paham?
Kau paham?
Sampai ketemu.
Maaf, itu...
Karakternya adalah lukisanku.
Jae Won!
Perasaanku mengatakan kau berada di sekitar sini.
Buatlah dia menjadi bajingan rendah, orang aneh dan manusia sampah!
Malam ini ada pertandingan antara Barcelona dan Real Madrid.
Mau menonton bersama?
Jika kita menontonnya bersama, Aku bisa mendukung Madrid khusus untukmu.
Belakangan ini Barcelona selalu menang hingga aku agak bosan.
Kita bisa mendukung Madrid bersama. Seperti fans berat mereka. Bagaimana? Setuju?
Apa yang kaubicarakan? Kenapa?
Karena dirimu, Oh Jae Won!
Jadi maksudmu, tergantung situasi, tergantung bersama siapa kau menontonnya,
Kau mengganti tim seperti burung yang bermigrasi?
Aku benci orang seperti itu.
Aku hanya mendukung satu tim, walau aku harus mati karenanya.
Aku hanya memandang satu tim hingga aku mati!
Itulah semangat sepakbola yang sesungguhnya!
Kau tak boleh mengaku kalah.
Untuk menang, walau lawannya adalah saudara kandungku, aku akan menghajarnya!
Bahkan seorang pemain bola pernah mengatakannya. Tentu!
Bajingan macam apa yang tega menghajar saudara kandungnya sendiri? Kenapa?
Seberapa pentingnya sepak bola hingga seseorang tega menghajar saudaranya sendiri? Kenapa?
Apapun yang kukatakan, kau tetap tak suka, 'kan?
Kau sudah memperingatkanku bahwa kau akan membenciku, dan itu sudah terjadi.
Aku bisa melihatnya.
Kenapa? Apa karena ahjumma?
Kenapa kau terus memanggil Dok Mi, ahjumma?
Baiklah! Dok Mi, Dok Mi... Nona Go Dok Mi!
Aku tak ada hubungan dengan Nona Go Dok Mi, tapi aku hanya penasaran padanya.
Kenapa dia hidup seperti itu? Kenapa dia tak bisa keluar rumah?
Dia begitu berbeda denganku.
Dia membuatku penasaran.
Awalnya aku juga seperti itu.
Setiap saat aku selalu penasaran padanya...
Setelah penasaran, aku jadi mengkhawatirkannya...
Saat mengkhawatirkannya, aku mulai memikirkannya.
Disaat memikirkannya, aku jadi merindukannya.
Oleh karena itu...
Oleh karena itu...
Jangan pernah penasaran padanya.
Jujur saja, kau harus berterima kasih padaku.
Aku, yang begitu usil, pergi ke tempatnya, mengetuk pintu,
menerobos tempatnya dan membawanya keluar, hingga kau bisa mengaku cinta padanya!
- Sudah kubilang, aku tak mengaku cinta padanya! - Tapi kau tetap berterima kasih padaku, 'kan?
Baik, baik! Aku takkan penasaran lagi padanya!
Tapi, pikirkanlah... Bagaimanapun juga aku akan pulang sebulan lagi!
- Bukankah ini... - Berhenti berkata seperti itu!
Semakin singkat tanggal kadaluarsanya...
...orang-orang akan semakin memberi perhatian!
Kadaluarsa?
No comments yet. Be the first to leave one.