The first 188 lines.
Terus karena Tani sudah mengurus sekitar,
kita bisa fokus di garis depan.
Daripada itu, aku mendengar suara orang mengobrol...
Sudah kubilang aku enggak mau menyalakan kamera.
Siapa?
Keras kepala banget.
Maaf, aku AFK dulu.
Nanti balik lagi.
Apa...
...maksudnya ini?
Eng...
Ya?
Eng...
Aku...
Jangan-jangan aku...
Yah, intinya...
Aku harus membawamu pulang
atau menelantarkanmu di jalan.
Kurasa yang kedua terlalu tidak berperikemanusiaan.
Maafkan aku.
Aku pasti akan membalas budi...
Kamu segera pulang saja sudah cukup.
Aku akan segera pulang!
Soal bajumu yang penuh dengan muntahan...
Sudah kucuci dan kujemur di kamar mandi.
Selain itu, aku yang membayar di kedai sake...
Akan segara kuganti uangnya!
Mampus.
Eng, kamar mandinya di mana?
Di balik pintu lalu sebelah kanan.
Bagaimanapun, ini sudah...
Karena kita enggak akan bertemu lagi,
jaga dirimu.
Aku mengacaukannya.
Terlebih lagi aku menginap di rumah cowok yang baru kukenal.
Maafkan aku, Ibu yang ada di Gunma.
Capek banget.
Aku harus beres-beres rumah.
Eh?
Aku...
memakai kalung, kan?
Eh? Kok enggak ada?
Enggak ada.
Bajumu yang penuh dengan muntahan sudah kucuci dan kujemur di kamar mandi.
Jangan-jangan...
Terjatuh di kamarnya Yamada?
Halo, Akane!
Halo, Rurihime!
Yamada ada di mana?
Offline.
Waktu di kedai sake, jelas-jelas aku memakainya.
Berarti aku menjatuhkannya setelah itu.
Pasti waktu aku melepas baju di rumahnya Yamada.
Bagaimana ini?
Kalung itu adalah hadiah pertama dari Takuma.
Eh, kamu membeku, Akane?
Sedang murung, ya?
Aku akan mendengarkan curhatanmu!
Karena aku ketua kalian semua, jadi bergantunglah padaku!
Rurihime imut seperti biasanya.
Rurihime imut seperti biasanya.
Begitu rupanya.
Kamu habis dicampakkan sama pacar, lalu kehilangan aksesori penuh kenangan.
Aku mengerti perasaanmu.
Aku juga banyak menerima hadiah dari penggemar
dan semuanya sangat berharga.
Semuanya ada kenangan masing-masing.
Sekarang aku bingung cari tempat untuk menyimpannya.
Keren...
Halo, Yamada!
Halo.
Akhirnya dia datang!
Eng...
Yama! Yama! Yamaya! Yamada!
Yama! Yama! Yamaya!
Kamu juga ikut mengobrol soal hal romantis, yuk! Yama! Yama! Yamaya!
Sudah waktunya bos bangkit, jadinya enggak bisa.
Berburu bos lagi?
Soalnya lagi ada EXP dua kali lipat.
Eh, sampai kapan?
Aku enggak bisa ikutan pembicaraan mereka.
Aku enggak bisa ikutan pembicaraan mereka.
Aku enggak bisa ikutan pembicaraan mereka.
Langsung chat pribadi saja.
Eh, dia membacanya?
Langsung dijawab. Minimal cari dulu, dong...
Ogah.
Jahat!
Daripada itu...
Penyimpanan guild ini selalu penuh,
aku jadi enggak bisa memakainya.
Oh, iya! Penuh banget!
Aku enggak pernah mengeceknya!
Aku enggak pernah mengeceknya!
Aku selalu membuangnya,
tapi tiba-tiba penuh lagi.
Kok bisa begitu, ya?
Kalau bukan di kamarnya Yamada, berarti di kedai sake?
Mungkin ada orang yang sengaja menaruhnya di sini?
Oh, itu aku—
Eh? Semua sampah ini?
Jangan dibilang sampah, dong!
Mungkin ada anggota guild yang ingin membantu anggota pemula!
Bahkan pemula yang baru main tiga menit saja
bisa dapat perlengkapan yang lebih bagus.
Sudah, sudah.
Bagaimana kalau orangnya lagi online?
Dia pasti kaget setelah melihat chat ini.
Itu aku.
Memang mengganggu.
Yamada!
Selama ini aku yang membuang sampah-sampah itu.
Jangan sebut itu sampah!
Akane hanya berniat baik!
Akane hanya berniat baik!
Akane hanya berniat baik!
Seenggaknya sortir dulu.
Penyimpanan kita terbatas.
Yamada!
Apa kamu enggak bisa
menyampaikannya dengan lebih ramah?
menyampaikannya dengan lebih ramah?
Aduh...
Aku menginjak sesuatu?
Gawat, nih.
Aku benci Yamada!
Akane.
Maaf.
Pasti ada yang salah denganku.
Akhirnya aku tersadar.
Takuma...
Ini...
Hadiah permintaan maaf. Terimalah.
Aku senang, Takuma!
Takuma...
Takuma... Takuma!
Takuma!
Mimpi buruk...
Mimpi buruk yang jadi kenyataan.
Kamu senang dengan situasiku saat ini?
Enggak juga.
Aku sudah mulai bosan sama kamu yang bahas Takuma melulu.
Yang tadi aku cuma pura-pura.
Daripada itu, aku mau dengar soal cowok ganteng yang kamu temui di gim online.
Kamu benar-benar menginap di rumahnya dan enggak ada yang terjadi?
Itu lagi? Sudah kubilang enggak ada.
Yamada hanya sekadar menolongku.
Bagaimana tentang kalung pemberian Takuma, ya?
Aku yakin pasti terjatuh saat di rumahnya Yamada.
Buat apa menyimpan hadiah dari
cowok yang mencampakkanmu?
cowok yang mencampakkanmu?
Ketergantungan cowok.
Ketergantungan cowok.
Kamu memang orang yang begini, ya?
Selalu saja memprioritaskan pacarmu.
Kamu main gim online karena ajakan pacarmu, padahal enggak tertarik sama gim.
Kalau dipikir-pikir,
kamu pernah membuatkan bekal, padahal baru pacaran, kan?
Kamu terlalu bucin, deh.
Aku enggak akan membahas Takuma lagi, jadi tolong hentikan.
Baguslah kalau kamu mengerti.
Sudah pukul enam sore...
Sepulang nanti cuci baju, terus...
Hari ini ada acara TV apa?
Aku enggak ada kerjaan...
Enggak seru kalau main gim sendirian.
Memang mengganggu.
Aku belum main gim lagi sejak saat itu,
si afro menyebalkan itu masih hidup enggak, ya?
Maaf, Akito.
Padahal sudah mencegatmu, tapi aku malah ragu-ragu...
Jadi...
Eng...
Jadi begini...
Anak SMA... Cewek itu mau menembaknya, ya?
Enak banget masa remaja. Kamu populer banget, Bang.
Aku juga pernah menembak seniorku pas masih SMA.
Aku mencintaimu!
Aku sudah punya pacar.
Senior Saito yang ganteng...
Bagaimana kabarnya, ya?
Eng, jadi...
Masih belum?
Sudah tujuh menit berlalu sejak kamu mencegatku.
Bagaimana kalau katakan lain kali saja?
Maaf, sekarang sudah waktunya bos untuk bangkit.
Permisi.
No comments yet. Be the first to leave one.