The first 170 lines.
Imbalan untuk Tim Bida Best!
Apa kau sudah mau pulang?
-Kenapa kau tak bergabung dengan kami? -Sarah!
Permisi, aku harus menjawab ini.
-Morpheus? -Nn. Kim, dia menarik sekali.
(Dia punya kesan baru, tampilan baru, energi baru.)
Kami menemukan pembicara baru, Bos. Dia...
Tidak apa-apa. Aku sepenuhnya memercayaimu.
Apa kau ada di kantor? Cyrus dalam perjalanan ke sana.
-Pak Cyrus! -Aku datang mengunjungi Brandon.
-Kau membaca karyanya? -Morpheus?
Perusahaan membutuhkan sesuatu darinya.
Biarkan aku lewat. Sebagai imbalannya,
aku akan memberimu nomor ini untuk membantumu.
(Kakaknya akhirnya pulang ke rumah, jadi aku menghargai)
supaya pulang untuk makan malam besok.
Aku akan berusaha sebaiknya, Nyonya.
Sayangnya, Bu, aku gagal membujuk Brandon
-untuk bergabung dengan kita malam ini. -Kim akan mengurusnya.
-Pergilah dulu, Teman-teman! -Baik, Pak Walt!
-Baik! -Kita mau makan di mana?
-Ini menunya. -Hai, Roni!
- -Apa kau sudah makan siang?
-Belum, Nn. Sarah. -Bergabunglah dengan kami!
Ada tempat baru di gedung satunya.
Ya, dan Nn. Sarah yang traktir.
-Ayolah, Roni! -Hei!
Maaf, Teman-teman. Aku mau kerja saat makan siang.
Apa kau terburu-buru supaya dipromosikan?
Sebenarnya, ya.
-Oh... -Wow.
Hatiku terbuka untuk promosi.
-Apa? Maaf? -
Kubilang, jaga kesehatanmu.
- -Itu rasa laparnya yang bicara.
Ayo!
Dah!
-Ayolah, Pak Walter! -Aku datang.
-Aku butuh tanda tanganmu. -Tinggalkan saja di mejaku.
-Baiklah. -Terima kasih.
Ayolah! Mereka sedang menunggu kita.
Pukul 14.00 adalah jadwal rapatmu dengan Komite Keuangan dan Risiko.
Pukul 17.00 adalah jadwal rapatmu
dengan Komite Tata Kelola Pemerintahan.
Lalu, pukul 19.30 adalah jadwal makan malammu bersama keluarga.
Aku tak ingat melihatnya di kalenderku.
Maaf, Bos, tapi Bu Carlota kemarin menelepon.
Dia sangat bersikeras.
Sekretaris Kim.
Bos?
Kau dan kakak-kakakmu,
apa kalian selalu seperti itu?
Apa kalian sungguh sedekat itu?
Kurasa begitu.
Terutama setelah ibu kami meninggal.
Kurasa kami hanya mau mengisi kekosongan yang ditinggalkannya.
Terkadang kakak-kakakku cenderung terlalu protektif,
tapi aku tak keberatan.
Tunggu sebentar, Bos.
Oh!
- -Apa yang terjadi?
Bos, pembicara kita untuk IdeaEx sudah dikonfirmasi!
Jadi, itu berarti kita sudah siap menggelar acaranya?
Ya. Semuanya sudah siap.
-Ya! -Itu bagus.
Jadi, untuk sisa hari ini, kenapa kau tak libur saja
dan menghadiahi dirimu sendiri?
Tapi bagaimana denganmu, Bos?
Cintaku!
Apa setidaknya aku boleh makan seladanya?
-Tidak. Kita akan makan bersama. -
Kau masih memakai itu?
Apa?
Kita hanya makan di rumah.
Aku tak menyukai sikapmu.
Kau tak mau mendengarkanku lagi.
Ayolah.
Jangan marah-marah.
Aku sudah memberitahumu hari ini adalah hari istimewa.
Aku tahu.
Lalu, kenapa kau malah membuatku marah?
Baik, maafkan aku. Baiklah.
Aku akan mengganti bajuku jika boleh cium.
Ayolah. Ini dia!
-Aku akan mengganti bajuku. -Ahem.
-Jangan marah-marah. -Ahem.
Kau sudah datang!
Maaf aku terlambat, Bu.
Tidak apa-apa.
Yang penting kau sudah datang.
Kring, kenapa kau sendirian?
Aku disuruh keluar.
Kakek sedang memarahi mereka.
Bagus, kau sudah datang. Kita perlu bicara.
Terima kasih atas makanan yang sudah Kau berikan pada kami.
Tapi yang terpenting, terima kasih untuk keluargaku.
Terima kasih kami bisa berkumpul lagi malam ini.
Amin.
-Amin. -Baik, mari makan.
Ayo makan, Cyrus.
Terima kasih, Bu.
Saus seladanya di sini.
Baik, Bu. Terima kasih.
Bagaimana pekerjaanmu?
Terakhir kali, kau bilang ada keadaan darurat
karena jadwal IdeaEx digeser.
Apa semuanya baik-baik saja?
Ya, semuanya baik, Ayah.
Semuanya sudah ditangani.
Kami sudah menemukan pembicara baru untuk acara itu.
Siapa yang kau undang?
Aku belum tahu.
Sekretaris Kim yang mengurusnya.
Aku percaya pada karyawanku.
Semoga beruntung.
Aku yakin acaranya pasti sukses
karena ada kau.
Kau menggali kasus penculikan itu bersama teman reportermu?
Ayah harus memaksa mereka mengaku
kenapa terburu-buru menemuimu.
Ayah, jangan marah.
Ayah tidak marah.
Ayah hanya kesal.
Kau tak memberi tahu Ayah kalau kau masih memikirkannya.
Aku tak mau Ayah khawatir lagi.
Jangan menyuruh Ayah untuk tidak khawatir, Kim.
Tapi itu bukan berarti aku tak akan mendukung upayamu.
Tapi bagaimana Ayah bisa membantumu jika kau merahasiakannya dari Ayah?
-Maafkan aku, Ayah. -Astaga.
Pelan-pelan saja, Sayang.
Kau bekerja, berencana melanjutkan studi,
dan sekarang kau menyelidiki ini.
Kau tak perlu melakukannya sendiri. Ayah siap membantumu.
Tapi masalah Ayah sudah banyak.
Aku malu untuk minta bantuan Ayah.
Seharusnya kau lebih malu Ayah mengalami FOMO.
-FOMO? -Ya.
Dari mana Ayah belajar hal itu?
Siapa lagi jika bukan dari Kring-Kring?
-Maafkan aku, Ayah. -Astaga.
Tolong sampaikan pada Ibu
aku menikmati makan malamnya.
Kau sudah mau pulang?
Aku datang hanya untuk ini. Aku meminjamnya dari Ayah.
Padahal kupikir Sekretaris Kim sudah berhasil membujukmu.
Kenapa kau peduli pada sekretarisku?
Bukan apa-apa. Dia baik. Dia...
Dia cantik.
Apa dia sudah punya pacar?
Jangan coba-coba mendekatinya.
Kenapa?
Apa kau menyukainya?
Dengar, Brandon.
Jika kau menyukainya, katakan saja. Aku akan mundur.
Bisa tolong jauhi sekretarisku?
Dia berhak mendapatkan yang lebih baik.
Pak Sempurna.
Kau masih menganggapku rendahan, 'kan, Brandon?
Apa kau mau memukulku?
Jika itu membuatmu merasa lebih baik, Brandon,
lakukan saja.
Lalu, apa? Setelah aku memukulmu, kita anggap impas?
Kau sudah lama ingin melakukannya, 'kan?
Jadi, silakan saja.
Pukul aku. Lakukanlah!
Lakukanlah!
Aku tidak sepertimu.
Aku bukan monster.
Lakukanlah.
Pukul aku.
No comments yet. Be the first to leave one.