The first 200 lines.
Nam-soon?
Ibu?
Ayo kemari.
Kemarilah.
Nam-soon!
Nam-soon.
Nam-soon?
Ibu.
Nam-soon.
Ibu…
Biar aku saja.
Bagi ibu,
kau masih…
berusia enam tahun.
Ibu.
Ya.
Aku adalah ibumu.
Kau ingat ibu?
Aku tidak ingat,
tapi bisa merasakan…
bahwa Ibu adalah ibuku.
Jangan menangis.
Karena aku menjalani hidup dengan penuh semangat.
Ingatan ibu berhenti di saat kau berusia lima tahun.
Ibu akan anggap
kau masih berusia enam tahun.
Namun kini, aku sudah sebesar ini.
Gigiku sudah tumbuh semua dan kakiku sangat besar.
Bagaimana kau bisa berbahasa Korea selancar ini?
Aku mempelajarinya.
Ibu dan ayahku di Mongolia memberikanku uang untuk belajar.
Ibu benar-benar berterima kasih…
pada orang yang membesarkanmu.
Kita datangkan mereka ke Korea.
Jangan.
Ibu dan Ayah harus ada di Mongolia.
Mereka pasti sedang sibuk mencukur bulu domba sekarang.
Tidak bisa.
Ibu harus membalas kebaikan mereka.
Kalau begitu,
tolong buatkan ger untuk mereka.
Ger ?
Maksudmu tenda?
Tenda itu hanya tempat untuk mereka melakukan hobi.
Ibu akan mendirikan gedung juga.
DISEWAKAN
Suruh mereka menyewakannya.
Jadi, mereka bisa pensiun
dan hidup dari uang sewa gedung itu.
Sewa?
Aku tahu itu. Aku sering lihat di drama.
Mulai sekarang, ibu akan mengajarimu
mengenai kapitalisme di Korea.
- Kapitalisme? - Kau tahu…
alamat rumahmu di Mongolia, 'kan?
Tenda tidak ada alamat.
Kau tinggal di rumah yang tidak memiliki alamat?
- Ya. - Rumah tanpa alamat?
Gang Bong-go berengsek!
"Gang Bong-go berengsek"?
Jangan didengarkan! Lupakan!
Abaikan umpatan ibu.
Aku sudah mendengarnya. Percuma menutup telingaku sekarang.
Tidak apa-apa.
Aku pandai mengumpat.
Aku belajar banyak dari film.
"Enyahlah, Bedebah."
Tidak boleh! Jangan mengumpat!
Ibu secara tidak sengaja mempelajarinya dari nenekmu.
Kebiasaan buruk ini sulit hilang.
Ibu tidak ingin menurunkan kepadamu kebiasaan mengumpat ini.
Baiklah. Aku tidak akan melakukannya.
Intinya,
ibu akan membalas semua kebaikan orang-orang
yang sudah membantumu selama 20 tahun terakhir.
Tulis nama mereka satu per satu dan berikan kepada Ibu.
Kelas Profesor Choi
selalu sama dari tahun lalu sampai sekarang.
Tidak ada usaha.
Dia dalam masalah besar.
Pasti akan langsung dipecat saat evaluasi.
- Aku khawatir. - Dia kenalanmu?
Tentu bukan.
Aku diam-diam ikut kelasnya karena dia ahli makroekonomi.
Buang-buang waktu saja.
Jika pendekatannya terhadap mikroekonomi seperti itu,
bagaimana bisa mengerti makroekonomi?
Benar.
Karena tidak melakukan aktivitas ekonomi dalam berbagai sisi sepertimu,
dia tidak tahu apa-apa.
Itu masalahnya.
Dia hanya duduk melakukan penelitian…
- Kau lapar? - Ya.
Aku ingin yang pedas hari ini.
Bagaimana kalau kita membeli makanan saja hari ini?
Telur bibimbap di kantin kampus ini besar
karena pakai telur fertil.
Jangan begitu. Kita ke Haengdang-dong saja.
Jika buang-buang uang, kita akan menjadi pengemis.
Kenapa harus bicara seperti itu?
- Aku tidak bermaksud. - Pengumuman.
Kepada Pak Ji Hyun-soo dan Bu No dari Menara Jolai Jota
- Metro Trump Square di Sungah Han, - Bu Noh.
- dimohon menuju gerbang belakang. - Ayo ke sana.
Akan kuulangi sekali lagi.
Aku ibu Gang Nam-soon.
- Ya. - Halo.
Omong-omong, apa kami melakukan kesalahan?
Ini uang tunai 200 juta won.
Kalian bisa memakai uang ini.
Silakan beli baju
dan juga makanan.
Tidurlah di Hotel Geumju saja malam ini.
Hotel itu milikku.
Tinggal ke sana saja.
Pak Choi akan menjemput kalian nanti malam.
Selesaikan masalah kalian satu per satu. Mulai dari rumah.
Jika terjadi sesuatu, langsung hubungi aku.
Keberadaan kalian berdua di dalam proses kembalinya…
Nam-soon ke pelukanku,
benar-benar sangat berarti.
Apa pun yang terjadi,
silakan hubungi aku.
Benar-benar gila.
Dua ratus juta won?
Ini uang asli.
Tidak perlu makan bibimbap hari ini.
Sepertinya kita makan pedas di hari lain saja.
Peluk uang ini dengan erat.
Kita ke loker kereta bawah tanah dahulu.
- Cepat! - Loker?
Tidak perlu dibawa. Ayo pergi saja.
Astaga!
Cucuku tercinta!
Astaga, cucuku.
Astaga, kau tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Kau tidak mirip ibumu, tapi mirip nenek.
Bagaimana kau bisa secantik ini?
Kau benar-benar cantik.
Nam-soon.
Katanya ada kebakaran tadi?
Dan kau menyelamatkan orang?
Nenek sudah dengar dari ibumu.
Kenapa kau kotor sekali?
Ayo kita ke kamar mandi. Kau harus mandi.
Tunggu.
Bu Jung, tolong belikan baju ganti untuk Nam-soon sekarang juga.
- Baik. - Ayo cepat.
Nenek akan bantu gosok badanmu.
Akan meleleh begitu terkena air,
lalu setelah beberapa waktu,
air akan menguap dan hanya tersisa bubuk putih.
Ini monster.
Kuyakin masker ini…
Tunggu sebentar.
Halo?
Ini Hwang Geum-ju.
Ya.
Apa kau sudah bertemu Nam-soon?
Ya, ini semua berkatmu.
Dia bersamaku sekarang.
Rupanya begitu. Syukurlah.
Terima kasih.
Koper dan semua barang Nam-soon masih ada di rumahku.
Aku akan mampir ke rumahmu dan mengambilnya.
Biar kuantarkan saja.
Tidak perlu.
Aku tidak mau merepotkanmu.
Baiklah.
Narkoba apanya? Ini hanya serbuk biasa.
Pak, tidak boleh! Ini lebih kuat dari fentanil!
Cepat kumur!
- Cepat! - Kenapa?
Kurasa aku sudah menelannya.
Kau bukan anak kecil.
Bagaimana kau bisa mencicip narkoba
yang masih belum diketahui?
Bukan begitu. Aku merasa bahwa serbuk ini bukan narkoba.
Kau benar-benar ceroboh seperti anak kecil.
Nam…
Nam-soon.
Ternyata benar.
Pantas saja.
Rupanya kau.
Waktu itu…
Studio foto.
Ayah?
Ya, ini ayah.
Ini ayah, Nam-soon.
Ayah, maafkan aku.
Aku melepaskan tangan Ayah, ya?
Tidak. Tidak seperti itu.
Ayah benar-benar minta maaf.
Maafkan ayah.
Nam-soon!
Itu Nam-in.
Adik kembarmu.
Kembar?
Ya, dia mirip denganmu. Hanya tertutup lemak saja.
Nam-in.
No comments yet. Be the first to leave one.