The first 200 lines.
Kau diminta membuang berapa jasad?
Gelang ini kenang-kenangan.
Satu manik
mewakili satu jasad.
Setiap kali ada jasad,
peti kayu yang berisi jasad itu
selalu ditandai simbol ini.
Sembilan jasad?
Berarti…
kau pasti tahu siapa dia, 'kan?
Entahlah.
Pernah lihat wajahnya?
Tidak pernah bertemu.
Kami hanya bicara di telepon.
Ingatlah aku.
Aku tanya apa dia pernah melakukan kejahatan.
Dia bilang tidak pernah.
Itu saja.
Kau pikir aku percaya?
Hei, kau mau ke mana?
Hei, Dok.
Baiklah, aku akan menginterogasinya.
- Fab. - Fab.
Apa?
Kau mau ke mana?
Tanwa.
Dia bilang apa kepadamu? Katakan.
Dia bertanya
apa aku pernah melakukan kejahatan.
Aku tak percaya.
Katakan yang sebenarnya.
Jika tidak, kau membusuk di penjara.
- Fab, tenanglah. - Katakan.
Tenanglah.
Dia bertanya tentang…
Halo.
Dia masih diinterogasi?
Hei, ini area terbatas. Hanya untuk petugas berwenang.
Silakan keluar.
Kami menjalankan tugas.
Lakukan tugasmu.
Aku hendak melakukan tugasku.
Apa maksudmu?
Aku akan mengurus klienku.
Di mana berita soal Meena?
Di mana jasad adikku?
Kenapa kau bilang Meena sudah mati?
Apa semua orang membohongiku
karena aku masih kecil?
Di mana sopan santunmu?
Kenapa kau menguping?
Maafkan aku.
Jangan sampai kulihat kau mengulanginya lagi.
Baik, Komandan.
Aku berusaha mencarinya.
Namun, tak ada kabar atau petunjuk.
Setelah lima tahun,
aku harus minta pengadilan
menyatakan dia orang hilang
yang sudah meninggal sesuai hukum.
Kenapa kau tak jujur sejak awal?
Kau takut aku akan mencarinya?
Berkas ayahku tidak boleh dibaca.
Kau membohongiku soal Meena.
Kau merahasiakan sesuatu.
Kasus ayahmu sudah ditutup.
Ada berkas lamanya yang hilang.
Apa gunanya membahasnya sekarang?
Jika adikmu masih hidup,
kenapa dia belum menghubungi?
Jangan bicara begitu padanya.
Kau tahu soal adikku?
Ayahmu teman dekatku.
Tentu saja, aku tahu tentang keluargamu.
Jangan membesar-besarkannya.
Kau harus menerima kenyataan.
Aku mengerti.
Aku permisi.
Tanwa.
Apa yang kalian bicarakan?
Apa?
Semua berkas kasusnya sudah disingkirkan?
Jangan khawatir.
Kasusnya sudah ditutup.
Biarkan tetap tertutup.
Ikuti saja instruksiku.
Aku akan mengikuti semua perkataanmu.
Waktu habis. Ayo.
Kau pengacaranya?
Ya.
Kurasa kali ini bukan kebetulan.
Ya, kebetulan.
Kebetulan, kau menangkap klienku.
Kita ditakdirkan dekat.
Omong-omong,
aku belum membalas budimu
karena menangani kasus Sharas.
Kau sudah membayarku secara tunai.
Itu bagian dari bayarannya.
Aku ingin mentraktirmu makan.
Bukankah kau bilang ingin lebih mengenalku?
Ya.
Aku juga ingin lebih mengenalmu.
Baiklah.
Hubungi aku saat senggang.
Ini.
Kau belum bicara denganku sejak siang ini.
Kau tak apa-apa?
Apa kau yakin
ayahmu masih hidup?
Ya.
Yakin.
Begitu rupanya.
Kau mendongkol seharian.
Kau membanting pintu dan tak mau bicara denganku.
Apa karena kau mencemaskan adikmu?
Bagaimana denganmu?
Menurutmu adikmu masih hidup, 'kan?
Sebenarnya,
aku takut dia mungkin masih hidup
dan berubah menjadi pembunuh.
Hei, Tanwa.
Ayo, menonton film.
Ayolah.
Besok hari ketigaku di sini.
Aku akan segera pergi.
Ayolah.
Tidak perlu pergi.
Tetaplah di sini
sampai penyerangmu tertangkap.
Bagaimana jika tak tertangkap?
Dia mendiamkanku lagi.
Mari istirahat sejenak.
Baiklah.
Kau tahu,
senang bisa berolahraga bersama di pagi hari.
Dengan begini, ada teman mengobrol.
Ya.
Kau berolahraga setiap hari?
Hampir.
Aku harus menjaga kesehatanku.
Baguslah.
Suasananya
agak suram.
Firasatku mengatakan
akan ada jasad lagi hari ini.
Terdengar menyeramkan.
Orang-orang di tempat kerjaku dapat firasat aneh.
Ayo, kita lanjutkan.
- Ayo. - Baiklah.
Ke mana dia pergi?
Dia menakutkan saat kecil.
Kenapa gambarnya aneh sekali?
Kenapa ini tampak familier?
Kurasa aku pernah melihatnya.
Sedang apa kau di sini?
Hei, aku sedang berolahraga.
Aku melakukan Zumba.
Zumba di pagi hari sangat menyegarkan.
Aku biasanya menari setiap pagi.
Kenapa kau di sini?
Masalahnya…
aku…
Aku lapar.
Aku mencarimu ke mana-mana,
tapi kau tidak ada,
jadi, aku kemari.
Kau mencariku,
lalu melakukan Zumba?
Keluar dari sini.
Tidak.
Tidak.
Hei, kau baik-baik saja?
Tidak.
Meena.
Meena, jangan pergi.
Apa yang sebenarnya kau selidiki?
Kau tiba-tiba bekerja paruh waktu.
Aku tahu kau punya alasan lain.
Ini bukan kebetulan, 'kan?
Ini bukan apa-apa.
Apa maksudmu?
Sedang apa kau di sini?
Hei, kita teman.
Kita saling bercerita.
Kurasa lebih baik kau tak mengetahui apa yang kuselidiki.
Tunggu.
Jangan rahasiakan ini dariku.
Kita teman.
Kita harus saling membantu.
Aku akan bilang jika butuh bantuanmu.
Mungkinkah…
Hei.
Apa yang kau lakukan?
Mungkinkah apa?
Apa?
Apa aku bicara?
Ya.
Kurasa aku menyuarakan pikiranku lagi.
Apa yang kau pikirkan?
No comments yet. Be the first to leave one.