The first 200 lines.
Acara ini berisi materi
luka parah yang bisa meresahkan.
Harap bijak menyikapi.
Itu pertama kaliku ke Ngarai Grand.
Berkelana, alam liar, di Ngarai Grand.
Berpikir aku di mana dan terkena masalah apa.
Taman Nasional Ngarai Grand,
salah satu keajaiban menakjubkan dunia alami.
Alyson Redmond, 29 tahun, dan ayahnya Dennis
akan berangkat dalam haiking lima hari ayah dan anak
ke dasar lubang besar.
Namaku Alyson Redmond dari Reno, Nevada.
Aku suka yoga dan panjat tebing.
Teman mengajakku suatu hari, berkata aku atletis,
dan kupikir menikmatinya, dan terus pergi ke sasana.
Ayahku sangat atletis, dia bisa bangun saat fajar untuk haiking.
Dia tak berhenti. Terakhir kali kucoba melampauinya, lenganku patah.
Namaku Dennis Redmond, sudah pensiun.
Aku tinggal di Scottsdale, Arizona. Kami punya lima anak.
Alyson nomor empat dan sangat aktif,
sangat supel dan selalu mau bertualang.
Ini akan jadi petualangan ayah-anak.
Mereka mulai turun dari Monument Point di Tepi Utara.
Karena sudah sering melakukannya, Dennis memimpin grup.
Baik, ayo berangkat.
Di belakangnya, putrinya Alyson, teman mereka Scott,
putrinya Samantha, dan pacarnya Nick.
Rencana haiking kami adalah hari pertama, parkir di awal jalur,
turun sekitar delapan kilometer ke lokasi kamp pertama.
SUNGAI THUNDER
Walau pejalan berpengalaman, Alyson berlatih keras untuk ini.
Turun pertamanya ke Ngarai Grand.
Saat haiking, aku takjub menatap Ngarai.
Sangat menakjubkan.
Ada beragam warna merah dan hijau.
Aku berpikir sendiri,
"Jika jatuh, bukan hanya sakit, tetapi ini sangat berbahaya."
Ngarai Grand tidak mudah, tempat haiking yang kasar.
Batu dan langkan dan entah apa lagi,
tak pernah tahu akan menginjak apa.
Setelah turun, grup mulai haiking berat
sepanjang Redwall, jalur yang melintasi Ngarai
ke oasis bernama Sungai Thunder.
Redwall berjarak beberapa kilometer, berbahaya dan berbatu.
Ada hewan-hewan kecil, kadal.
Kami melihat elang, dan hawa panas sekali,
lebih dari 32 derajat, aku mengandalkan tongkatku.
Aku lebih suka pakai tongkat.
Enak untuk penopang, dan jika mau duduk,
tongkatnya kuketukkan sekitar batu.
Kalajengking, makhluk berbisa lainnya bisa saja ada di situ.
Membayangkan hal yang bisa menggigit jelas bagian dari rencana.
Aku Dr. Emily Taylor,
profesor Ilmu Biologi di Cal Poly.
Area Ngarai Grand umumnya adalah pusat keragaman hayati.
Ini gurun panas yang sangat keras.
Cenderung ada sejumlah spesies yang beradaptasi,
termasuk spesies berbisa.
Ada kelabang, ular derik, kalajengking,
ada serangga air dengan gigitan menyakitkan.
Ada sejumlah hal-hal
yang berpotensi mematikan bagi manusia jika menggigit.
Lalu kami menuju Sungai Thunder.
Luar biasa, karena ada dinding ngarai besar ini
dengan lubang mungil, di mana air menyembur keluar.
Kita berhasil.
Melepas ransel, di bawah naungan, rasanya menakjubkan.
Oasis sejati.
Itu tempat favoritku di dunia saat itu.
Kami makan siang dan minum smoothie.
Sangat menyenangkan.
Semua sudah mengganti sepatu haiking
dan memakai sepatu air.
Kami melihat dan memotret air terjunnya.
Kulihat Sam dan Nick banyak memotret.
Nick, giliranmu.
Baik, terima kasih.
Aku meraih ponsel dan ada di sebelah semak.
Berduri dan sangat hijau, dan aku terus memotret.
Terus memotret.
Aku ke sudut lain, sebentar.
Lalu saat melangkah...
Ada sakit menyengat, duri masuk dan keluar.
Aku tersandung-sandung, "Apa ini?"
Seperti beri alkohol pada sayatan kertas.
Rasa sakit yang menyengat.
Tentu saja jariku akan terbentur
di tengah Ngarai Grand.
-Al? -Kau baik-baik saja?
Semua berkumpul untuk melihat.
Kubilang ini...
"Aku kesakitan." Lalu aku melepas sepatu,
kulihat jariku dan darahnya mengalir.
Aku terpikir, "Tampaknya aneh."
Jujur, kami tak tahu menghadapi apa
karena hanya satu luka tusuk kecil.
Apa dia tertusuk ranting atau serangga?
Entah apa yang melukaiku.
Tak tampak atau terdengar apa pun, hanya sensasi sakit.
Misteri besar.
Bagiku menombak ikan adalah olahraga terkeren sedunia.
Ada di air, menahan napas, mencoba membuat
sesedikit mungkin gangguan, dikelilingi biota lain
dan melihat keindahan alamnya,
tetapi jika mau menangkap ikan, ada risiko yang harus ditempuh.
Sudah kulakukan sejak lama, dan kurasa akan terjadi.
Semenanjung Yucatan di Meksiko,
terkenal dengan perairan hangat dan resor penuh matahari.
Tujuan populer bagi pemancing dari seluruh dunia.
Seperti Jonathan Schoeneman dari Houston,
yang sudah memancing di sini sejak kecil.
Namaku Jonathan Schoeneman.
Aku dari Houston, Texas, dan ibuku dari Mexico City.
Jadi, keren karena aku tumbuh antara Meksiko dan Houston.
Aku tumbuh di desa, jadi hidupku diisi berburu dan memancing,
menangkap armadillo, apa pun yang bisa dengan tangan.
Menakjubkan, bisa menangkap ikan dan mengisi perahu
dengan dorado atau marlin putih besar, menangkap banyak.
Travis Simmons adalah teman masa kecil Jonathan
dan teman memancingnya.
Dia selalu seperti kakak bagiku.
Kami selalu memancing dan membuat masalah,
membuat keributan di area.
Jonathan selalu berjiwa bebas.
Dia suka memancing dan bertualang.
Dia hanya pikirkan ikan berikut yang ditangkap.
Saat itu tahun 2016.
Jonathan mengalihkan kecintaan memancingnya menjadi bisnis,
menjual tangkapannya ke restoran lokal di sekitar Cancun.
Dia membujuk Travis bergabung.
Kuputuskan pindah ke Cancun, dan kami memancing setiap hari.
Cuacanya hebat beberapa minggu,
lalu mendadak cuaca buruk
selama 1,5 minggu, jadi kupikir, "Travis, ayo ke laguna.
"Ayo menangkap snook."
Pada sore September sejuk,
Jonathan dan Travis ke Laguna Nichupte,
area dengan banyak spesies ikan yang digemari, seperti snook,
tarpon, dan bonefish.
Namun, kelimpahan itu juga memikat banyak pemangsa.
Jaguar, ocelot, dan buaya sering ke sana.
Kami memancing dua jam tanpa hasil,
dan aku merasa ikan akan berkumpul
di teluk ini, yang menuju mata air tawar.
Jadi, area tepat untuk biota di sana.
Kami buang sauh sekitar 27 meter dari batas pohon,
di mana banyak akar dan bakau.
Dia sudah berganti baju dan bersiap, memakai sabuk pemberat,
snorkel, masker, dan senjatanya.
Kubilang, "Ayo masuk ke air."
Katanya, "Entahlah."
"Aku sudah pernah. Tak apa. Tak masalah."
Aku pernah dengar dia bilang itu, dan kami kena masalah.
Kubilang kepada Travis...
Jika mau menangkap ikan, harus menjadi ikannya.
Ada banyak papan peringatan.
Aku sayang Jonathan,
tetapi terkadang idenya tak bagus.
Namun, aku tak mau dia bergembira sendirian,
jadi kuputuskan terjun.
Aku tak perhatikan Travis, dia tetap di luar,
dan aku masuk ke hutan bakau.
Itu termasuk hari...
Aku tak akan lupa betapa banyak ikan di sana.
Ada kawanan 40-50 ikan berenang.
Mudah, bidik, pilih satu, dan tembak.
Snook, jika dijual ke restoran, bisa mendapat 180-220 peso.
Aku tak bisa berhenti dan terus menembak.
Jelas saat itu terjadi,
aku tak perhatikan apa pun, tak peduli ada apa di sampingku.
Kurasa sudah dapat 10-12 ikan. Taliku sudah penuh,
aku mau menaruhnya, dan di penyelaman terakhir, tak melihat apa-apa.
Jadi, aku berenang keluar bakau dengan senjata di sampingku.
Siap menghirup udara, dan saat aku naik,
tepat di depanku, buaya menatapku.
Aku hanya melihat moncongnya...
Langsung menerkam wajahku.
Aku menatap langsung ke mulut buaya.
Benar-benar di situ, tak terlihat apa-apa,
hanya sedikit kiri dan kanan dari sudut mata.
Rasanya diterkam di kepala, lalu dijepit,
meremukkan makin keras.
Kurasa buaya itu sepanjang 3,7 meter,
berbobot sekitar 200 kg.
Dinosaurus kokoh yang besar.
BUAYA
Buaya, 200 juta tahun evolusi mengubah hewan ini
menjadi salah satu pemburu paling mematikan di Bumi.
Makhluk menakjubkan ini bisa tumbuh lebih dari 4,5 meter, 32 km per jam,
dan menahan napas dalam air hingga 60 menit.
Dr. Marisa Tellez adalah ahli biologi
dan direktur Koalisi Riset Buaya.
Saat ada di habitat buaya,
kau paling tak ingin memikat buaya.
Misalnya, mengikat ikan pada tali yang menggelepar.
Itu mangsa sekarat yang akan memikat
buaya melalui ISO, organ indra luar.
Ini adalah ujung saraf yang melingkupi
kepala buaya dan sepanjang tubuhnya.
Kemungkinan ISO buaya aktif,
No comments yet. Be the first to leave one.