The first 200 lines.
"Episode 89"
Tulisannya kecil sekali. Aku tidak bisa membacanya.
Sudah selesai?
Kamu membuntutiku?
Kak Sa Ra, kita harus bicara.
Pulanglah lebih dahulu.
Sulit dipercaya kamu sampai membuntutiku.
Aku harus menunjukkan yang kurasakan.
Bahwa aku sangat ingin bicara dengan Kakak.
Baiklah.
Apa yang ingin kamu bicarakan?
Mari kita dengarkan.
Jika kubilang aku ingin pulang,
bisakah Kakak
menerimaku lagi?
Jadi,
kamu ingin menyampaikan
bahwa kamu ingin kembali ke rumah?
Ya.
Aku ingin kembali ke masa bahagia bersama Kakak dan Ji Seok.
Bagaimana Kakak bisa mengenal Choi Go Ya?
Kenapa kamu tahu nama menantuku?
Apa? Menantu Kakak?
Jadi, istrinya Ji Seok
adalah Choi Go Ya?
Kakak tahu siapa dia?
Dia putrinya Tae Pyung.
Apa?
Putrinya Tae Pyung?
Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Bisakah kamu turun?
Masuklah.
- Ibu. - Duduklah.
Kamu
mengenalnya, bukan?
Apa?
- Itu... - Kamu sudah melihatnya
di swalayan, bukan?
Apa?
Dia
adik ibu. Bibinya Ji Seok.
Tapi kami sudah memutuskan hubungan.
Karena
dia berselingkuh.
Dia meninggalkan suami dan keluarganya
demi pria itu.
Ya.
Lucu, bukan?
Ibu tidak menyukai
latar belakang keluargamu
padahal kehidupan adik ibu juga bermasalah.
Itu sebabnya, ibu menyembunyikannya darimu.
Ibu takut kamu akan memandang rendah
jika tahu masalah ibu lebih besar.
Aku tidak akan berpikir begitu.
Tapi
anehnya,
ibu ingin menceritakannya kepadamu.
Ibu tidak ingin menyembunyikan apa pun darimu.
Apa?
Kita keluarga sekarang.
Ibu tidak mau berbohong lagi kepadamu.
Apakah kamu kecewa
ibu telah membohongimu?
Tidak. Sama sekali tidak.
Sesaat ibu teringat kepadamu.
Ibu sangat malu menceritakan tentang adik ibu.
Pasti sulit bagimu
untuk menceritakan masalah ayahmu.
Namun,
kamu memutuskan untuk memberi tahu ibu.
Dahulu ibu jahat kepadamu.
Ibu.
Ji Seok memberi tahu ibu
alasan kamu menuntut balik ayahmu.
Tentu saja. Ibu juga akan melakukan hal yang sama.
Ibu.
Pikirkan saja.
Bisa-bisanya dia meminta uang setelah meninggalkan keluarganya.
Ibu juga pasti akan marah.
Masalah itu
pasti terlalu berat bagimu.
Hidupmu juga berat.
Ibu.
Ibu juga menyulitkanmu.
Ibu menyesal.
Ibu menyakitimu dengan ucapan ibu yang kejam
tanpa mengenal dirimu.
Tapi dahulu,
ibu enggan menerimamu sebagai menantu.
Aku mengerti.
Go Ya.
Kamu pernah bilang.
Kamu berharap
suatu hari ibu akan
menggenggam tanganmu
dan mengatakan itu bukan salahmu.
Ya?
Benar.
Itu bukan salahmu.
Itu salah mereka.
Maaf ibu baru mengatakan ini
setelah sekian lama.
Ibu.
Go Ya.
Kamu sedang apa? Apa kamu menunggu...
Go Ya.
Aku
harus bagaimana?
Ada apa? Katakan kepadaku.
Bisakah kita jujur saja kepada mereka?
Go Ya.
Kukira aku akan bahagia jika Ibu menerimaku
sebagai menantunya.
Tapi aku salah. Kini malah terasa lebih berat.
Aku merasa sangat bersalah.
Go Ya.
Kita berjanji akan merahasiakan itu selamanya,
dan aku sangat bodoh karena kini meragukannya.
Aku memutuskan untuk tidak takut lagi,
dan sangat menyedihkan karena aku malah goyah lagi.
Tapi Ji Seok, aku tidak bisa membohongi Ibu lagi.
Aku pun goyah saat ibumu bercerita kepadaku.
Aku tidak menduganya.
Kasih sayangnya membuatku goyah.
Apa yang akan terjadi jika kita memberi tahu mereka?
Kita akan kehilangan semua hal yang selama ini
ingin kita lindungi.
Kita bisa minta maaf.
Kita bisa memperbaikinya.
Kini kita sudah menjadi keluarga.
Kita keluarga karena ibumu tidak tahu Oh Na Ra bibiku
dan ibuku tidak tahu Choi Tae Pyung ayahmu.
Jika mereka tahu,
kita tidak akan bisa bersama.
Go Ya, dengarkan aku.
Kita bahagia sekarang.
Jangan biarkan ayahmu dan bibiku
membuat kita menderita.
Kita rahasiakan saja.
Aku tidak mau kebahagiaan kita dirampas.
Keluarga kita juga melihat keadaan kita sekarang.
Aku pun ingin melindungi kebahagiaan mereka.
Aku harus bagaimana agar Kakak mau menerimaku lagi?
Katakan saja, aku akan melakukannya.
Apa pun?
- Ya. - Baik.
Kalau begitu,
hidupkan kembali ayahnya Ji Seok.
Apa?
Kecelakaan mobil yang terjadi saat kami berlibur
menewaskan suamiku dan hampir menewaskan Ji Seok.
Kamu ingat?
Tapi itu bukan sekadar berlibur.
Detektif swasta mengatakan
kamu dan Tae Pyung ada di sana.
Dengan alasan berlibur,
aku ingin mencoba membujukmu
sekali lagi.
Apa maksud Kakak?
Serta
kamu memang ada di sana.
Aku siap memohon
jika itu bisa mengubah keputusanmu.
Aku mengikutimu layaknya orang gila.
Aku tidak menyangka
suamiku akan tewas dan putraku terluka
saat mereka mencoba mengejarku.
Kak Sa Ra.
- Kak Sa Ra. - Apa?
Kamu ingin kembali?
Ya.
Aku juga berharap bisa kembali.
Dengan begitu,
aku tidak akan pergi berlibur,
dan suamiku tidak akan tewas!
Baik.
Aku mengerti.
Terima kasih banyak.
Baik.
Sayang, akhirnya aku berhasil. Kamu dengar?
Seseorang menghubungiku
untuk memberiku pekerjaan bahkan di usiaku ini.
Aku bilang apa?
Aku bisa melakukan apa pun jika mau serius.
Apa kamu masih marah?
Tahanlah sebentar lagi.
Aku yakin kita akan hidup dengan layak.
Hidup tidak hanya soal uang.
Kita bisa saling mencintai
dan saling mengandalkan.
Tentu saja, bukan berarti aku ingin terus seperti ini.
Aku akan bangkit kembali.
Aku akan sukses.
Tunggu sebentar.
Tunggu di sana.
Ambil ini.
Baiklah. Jika merasa tidak sehat,
sebaiknya tenangkan pikiranmu dengan tidur.
Aku harus berangkat kerja.
No comments yet. Be the first to leave one.