The first 200 lines.
Episode 5
Maaf.
- Ha Na, ayo! - Baiklah!
Maaf.
Sisi lainnya. Bagus.
Bagus.
Tetap begitu.
Selipkan di dagumu.
Bagus.
Bagus.
Istirahat dulu.
Ambil ini.
Ada apa?
Apa Perhiasan akan selalu menjadi Ratu Salju?
Bukankah itu sudah ketinggalan jaman?
Aku tetap menyukainya.
Intan. Jantungmu berdetak...
Itu keahlianmu. Mendebarkan jantung.
Mendebarkan jantung?
Entahlah. Jantungku belum pernah berdebar karena siapapun.
Tidak mungkin.
Setelah melihat semua gadis-gadis itu,
jantungmu tidak pernah berdebar?
Tidak pernah.
Sebaliknya, aku pandai membuat para gadis tergila-gila padaku.
Lihat?
Dia begitu agresif.
Rumornya dia seorang gadis sombong.
Dia sangat populer saat ini.
Ada apa denganmu?
Kenapa?
Aku tidak pernah menggoda gadis saat aku bekerja.
Apa? Sejak kapan?
Aku lelah. Kita istirahat 30 menit lagi.
Aku ke mobil dulu.
Kenapa dia?
- Dia ingin istirahat 30 menit. - Ayo kita istirahat.
Apa yang kau lakukan?
Diluar dingin sekali.
Aku tidak suka diganggu saat kerja.
Aku tidak akan mengganggumu.
Aku hanya ingin letakkan tanganku di sini.
Kau terlihat beda.
Beda apanya?
Apa aku salah?
Kau bisa dapatkan gadis manapun dalam tiga detik jika kau mau.
Kau tahu kalau itu julukanmu?
Oh, rumor itu.
Berarti itu hanya rumor?
Tapi...
Kenapa kau biarkan rumor itu menyebar?
Kata siapa tidak benar?
Jadi benar?
Aku hanya malas saja.
Aku lebih suka orang-orang menganggapku playboy.
Dengan begitu tidak seorang gadispun menggodaku.
Dan orang-orang akan menjaga jarak denganku.
Aku kurang nyaman dengan para gadis.
Kenapa?
Aku tidak percaya akan cinta.
Cinta pertamaku melukai hatiku.
Benarkah? Aku juga.
Kau patah hati.
Tidak apa-apa, kau boleh cerita padaku.
Aku akan merahasiakannya.
Tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu padamu.
Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya.
Ada telepon masuk!!! 5,6,7,8!
Angkat teleponnya!
Punyaku?
Apa ini?
Sialan.
Halo?
Kau orang Korea!
Kenapa?
Itu ponselku. Dimana kau mengambilnya?
Aku tidak pernah mengambilnya.
Aku baru sadar ponselnya ada di sakuku.
Apa? Kenapa bisa ada di sakumu?
Bagaimana itu terjadi?
Itu yang ingin aku tanyakan.
Ayo kita ketemuan sekarang. Kau di mana?
Kau siapa?
Sejak kapan kau berada di tempat sejauh itu?
Tunggu, aku segera ke sana.
Ayo pergi!
Kemana?
Ayo.
Seol Ho Dong! Aku harus bertemu seseorang.
Ayo, Jang Seok.
Siapa yang akan kau temui besok?
Siapa yang harus kau temui, sebelum pergi ke Korea?
Itu rahasia.
Rahasia bagi kami juga?
Hei! Anggap saja kita pergi bersenang-senang.
Kita siapa?
Kita adalah pendekar Dong Dae.
Tapi kau tetap menyimpan rahasia pada kami.
Itu artinya kau tidak perlu mencari tahu tentang kami.
Terima kasih.
Bagaimanapun juga,
aku belum pernah merasakan ini sebelumnya.
Kau istimewa.
Joon! Joon!
Apa?
Pemasang iklan ingin kita hentikan pemotretan.
Apa?
Akan segera terhubung.
Baiklah.
Kenapa tiba-tiba kita hentikan?
Hai, Suh.
Wow! Lihat kualitas videonya.
Bagaimana wajahku?
Bagaimana penampilanku dilihat dari situ?
Ada apa sebenarnya?
Tadi aku memikirkannya di Seoul.
Ratu Salju sudah ketinggalan jaman.
Ekspresi dingin memakai tiara.
Itu sudah semakin kuno.
Lalu?
Jadi aku berpikir.
- Lee? - Ya Pak.
Bisa kau membuatnya seperti ini?
Menurut pendapatku, ini sangat cocok dengan produk kami.
Sama seperti ini.
Buat sama seperti ini maka semuanya beres.
Kau ingin aku menjiplak?
Tidak, bukan menjiplak.
Kita sebut saja penghargaan.
Saat ini setiap orang punya penghargaan.
Penghargaan dari hongkong...
Tenang, Joon.
Apa yang terjadi?
Joon!
Dia tidak akan mematikan teleconference-nya, kan?
Aku rasa koneksinya bermasalah.
Suh yakin akan karya-karyanya. Semua orang tahu itu.
Kau tahu kau butuh lebih dari sekedar keyakinan, kan?
Dia jadi terkenal tepat pada saat dia membuat pameran perdana foto-foto kotornya.
Tidak seorangpun mau bekerja dengannya lagi.
Apa aku salah?
Apa yang kau ketahui tentang seni?
Dan aku sudah lihat foto-fotonya. Tidak ada yang baru.
Aku rasa tarifmu agak sedikit...
Halo? Suh? Suh?
Halo?
Lee! Apa yang terjadi?
Joon!
Joon!
Joon! Apa yang akan kau lakukan?
Diamlah.
Kau tidak boleh lakukan itu. Itu iklan untuk setahun.
Jika kau membatalkannya lagi, kita benar-benar bangkrut.
Siapa yang bangkrut?
Hei! Aku Suh Joon!
Ya, Suh Joon. Kau punya sesuatu yang disebut warisan keluarga.
Tapi aku punya sesuatu yang disebut utang keluarga.
Dan...
Ya Tuhan... Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?
Jangan diangkat. Biar aku yang mengurusnya.
Apa kau benar-benar hanya akan memotret untuk perusahaan ibumu saja?
Jangan coba-coba menjawabnya!
Aku tidak bisa lakukan itu.
- Halo? - Hei!
Dasar bodoh.
Hei! Siapa kau?
Hah? Aku yang menelponmu sebelumnya.
Kau dimana tepatnya?
Kami sudah kembali.
Maaf.
Bagaimana kau bisa pergi begitu saja setelah menyuruhku datang?
Kau kira aku mau pergi?
Jika kau sangat menginginkan ponsel ini, kau harus datang lebih cepat.
Aku datang secepat mungkin.
Kau terlambat.
Bukankah kau jadi agak kasar?
Tidak.
Salahkan saja dirimu sendiri karena tidak datang tepat waktu.
Lagipula, kau yang kehilangan.
Kenapa aku harus mengurus semua ini?
Jika ini sangat mengganggumu, aku akan membuangnya saja.
- Terserah kau saja. - Jangan!
Kau tidak boleh membuangnya.
Tenanglah. Dan kau jangan pernah membuangnya!
Aku akan mendatangimu lagi.
Lagi?
Jadi kau sekarang di mana?
Hei!
Kau sudah bilang padanya semua terserah aku?
Dia bilang besok dia akan datang sendiri.
Apa?
Kau tidak bisa hadapi dia?
- Berkemas sekarang. - Apa?
Kau mau pergi?
Ayo.
Kim! Aku yang akan tangani ini.
Katakan padanya tidak ada gunanya dia datang ke Jepang.
Katakan juga aku akan dapatkan tema fotonya.
Bilang jangan khawatir.
Kalau begitu kau ingin aku menjiplak?
No comments yet. Be the first to leave one.