The first 200 lines.
Untuk mata kuliah semester selanjutnya,
kami mulai membuat film baru.
Skenario, papan cerita, lokasi syuting, semua berjalan dengan lancar.
Hanya tinggal memastikan proses syuting saja.
Kau tidak mengerti.
Kau yang tidak mengerti.
Di adegan ini tidak boleh bicara.
-Perbedaan pendapat itu wajar, anak muda. -Sebaliknya, adegan ini harus bicara.
Selain itu, durasi terbatas dan waktunya kami yang ikut campur.
Oh, iya, Shinoaki.
Waktunya bangun.
Sudah mau mulai syuting?
Iya, kau sudah boleh mulai bersiap-siap.
Nanako juga, sudah mau mulai syuting.
Kau baik-baik saja? Dialognya sudah ingat?
Serahkan saja padaku. Aku sudah ingat dan bisa mulai syuting kapan saja.
Syukurlah, kemampuan mengingatmu hebat.
Tentu saja, aku berusaha keras untuk belajar akting...
Kau kenapa, Kyoya?
Tidak apa-apa.
Aku akan melihat Tsurayuki.
Sudah cukup paham?
Kyoya, dengarkan aku.
Mengenai penghapusan dialog, orang ini sudah menyetujuinya.
Sekarang katanya mungkin akan dihapus saat editing.
Itu tentu saja.
Adegan syuting itu masih mentah, setelah di-edit baru namanya selesai.
Berubah pikiran menurut situasi juga hal yang wajar.
Meski begitu, kau tidak perlu mengatakannya untuk membuatku kesal.
Kalau tidak dikatakan sedari awal, kau pasti akan mengeluh.
Intinya, durasinya terbatas.
Bisa mulai diatur sejak syuting, kan?
Benar juga, kami tidak punya waktu untuk mengurus orang ini.
Hei, diam di sana! Aku masih belum selesai bicara!
PIKIRKAN YANG BISA KAU LAKUKAN
Aku masih tidak paham.
Kau masih marah soal tadi?
Bukan!
Bukan yang itu, masalah salah peralatan.
Kenapa dengan itu?
Sebenarnya mahasiswa tahun pertama, dilarang pinjam peralatan lebih dari sehari.
Tapi, syuting sudah tiga hari dua malam.
Apa kau telah melakukan sesuatu?
Sebenarnya aku punya satu permintaan.
Maaf.
Di depan sana ada yang syuting. Bisakah tunggu sebentar?
Ya, tidak masalah.
Ada yang mau lewat, boleh?
Baik.
Maaf, lama menunggu. Silakan lewat.
Baiklah.
Terima kasih atas kerja sama Anda.
Kawasegawa hebat. Ini sangat membantu.
Bicara apa kau ini?
Mahasiswa tahun ketiga bisa meminjam peralatan selama satu minggu.
Jadi, kau manfaatkan celah itu
meminjam peralatan dengan dalih membantu senior syuting.
Itu melanggar aturan.
Benar, kalau sampai ketahuan dosen...
Pasti akan sangat marah, kan?
Adik?
Adik kecil, kau datang dari mana?
Kalian tidak boleh bicara seperti itu terhadap senior.
Senior?
Kupikir mahasiswa tahun pertama akan membantu tanpa pamrih.
Ternyata ada niat tersembunyi.
Ternyata begitu.
Mengenai hal ini, tolong Anda...
Kau berutang budi padaku.
Namaku Keiko Tomioka.
Masalah ini kurahasiakan untuk kalian, lain kali harus balas budi padaku.
Sampai jumpa.
Berikut ini adalah karya Tim Kitayama.
Nanako, aktingmu bagus.
Terima kasih, tapi aku jadi sedikit malu.
Syukurlah, Kawasegawa.
Kurasa ada sedikit masalah...
Sampai bagian akhir rasanya ada perasaan seperti dibuat-buat.
Syutingnya memang bagus, tapi hanya itu.
Tidak ada titik terang yang membuat orang kagum.
Tidak, kurasa itu karya yang sangat hebat.
Reaksi penonton juga bagus.
Semoga saja.
Setelah ini, kita putar karya terakhir.
Apa ini?
Sepenuhnya berbeda dengan karya kami.
Kemampuan aktingnya lebih hebat dari kami.
Meski yang tadi itu bagus,
tapi kemampuan aktingnya beda jauh.
Iya, yang ini seperti buatan produksi film.
Film barusan seperti terhalangi oleh aktrisnya.
Juara satu kali ini adalah
karya buatan Tim Kitayama.
Syuting yang bagus, selamat.
Mereka yang juara satu?
Penilaian aktrisnya sepuluh banding satu, kan?
Anak-anak, mata kuliah hari ini berakhir.
Bu Guru.
Peringkat tadi sepertinya salah.
Apa maksudmu?
Bagaimanapun, film yang terakhir itu aktingnya sangat luar biasa.
Begitu bagusnya sampai...
Film itu seni gabungan.
Penilaian tidak bisa diberikan karena akting aktris dan mengabaikan yang lain.
Tapi...
Apakah kau tahu apa alasan utama film itu meninggalkan
kesan kuat pada penonton?
Perbedaan teknik, pengalaman, penampilan dan suara.
Kemampuan akting ditentukan oleh berbagai faktor.
Tapi, kali ini perbedaan kalian sederhana.
Karena akting mereka sangat nyata.
Itu saja.
Kalian sudah bersusah payah.
Berkat kerja sama semuanya, film kali ini selesai dengan baik.
Baik, ayo.
Bersulang.
Bersulang!
Syuting di pantai itu panas sekali.
Iya.
Tapi, dengannya lumayan bagus.
Adegan itu bergantung pada skenarioku.
Dialogmu sudah banyak yang dihapus. Masih berani kau berkata begitu.
Jangan cerewet!
Tapi, tak kusangka kita juara satu.
Dia baik-baik saja, kan?
Dia terlihat seperti memaksakan tersenyum.
Sepertinya dia sedang menghindari masalah ini.
Sekarang biarkan dia tenang dulu.
Waktu akan menyelesaikan segalanya.
Waktu?
Baiklah, Nanako. Nyanyikan sebuah lagu.
-Aku tidak usah. -Tidak boleh.
Nyanyikan satu lagu dengan keras.
Bagaimana ini,
Kyoya?
Bukankah bagus?
Lagi pula, mulai sekarang kita akan bisa mendengar nyanyianmu di mana saja.
Itu hanya masalah waktu.
Benar juga.
Kalau begitu...
KARAOKE
Maaf, nyanyianku yang fals jadi terlihat oleh kalian.
Nanako, nada tinggimu sangat bagus.
Benar, jauh lebih hebat dariku.
Oh, iya. Bukankah waktu kecil kau sering berlatih lagu daerah dan sebagainya?
Ternyata memang hebat.
Lumayan.
Selanjutnya siapa?
Kawasegawa.
Kenapa? Kau juga ingin bernyanyi?
Bukankah kau bertekad menjadi aktris?
Inikah? Menyanyi?
Kenapa bicara begitu?
Aku merasa agak aneh.
Meski aktingmu di film pendek sangat bagus,
tapi tidak tahu apa yang kau lakukan dan apa yang kau ungkapkan.
Kau hanya menunjukkan penampilanmu saja.
Ternyata begitu, pantas saja kurasa aktingmu sangat dibuat-buat.
Bukan begitu.
Pasti begitu.
Karena kau tidak serius ingin jadi aktris.
Tak peduli bagaimana mulutmu bilang serius, topengmu pasti akan terungkap.
Suaramu saat bernyanyi begitu bagus, pasti sudah latihan sejak kecil, kan?
Abaikan dulu seberapa kau suka bernyanyi. Kutanya, kenapa kau mau jadi aktris?
Jangan cerewet!
Karena kau takut serius, kan?
Jika kau serius melakukannya dan gagal, artinya sama saja dengan penolakan.
Kau takut dengan hasil akhirnya.
Jadi kau gunakan kemampuan akting yang terkadang dipuji itu untuk menipu orang.
Berisik! Diam!
Apa yang kau mengerti?
Aku suka bernyanyi dan tumbuh di lingkungan penuh suara nyanyian.
Tapi, masih dibilang fals.
Kalau bisa menyelesaikan hal ini, sudah sejak dulu kulakukan.
Kau tidak mencoba menyelesaikanya, kan?
Kalau begitu, kutanyakan lagi. Kenapa kau kuliah di jurusan film?
Seharusnya jurusan musik, kan?
Karena kau tidak bisa memperbaiki fals, mungkin kuliah akan memperbaikinya, kan?
Tapi, kenapa kau kabur di saat-saat penting?
Ini...
Nanako sering berlatih, dia sering bersamaku...
Apa dia pernah berlatih secara formal?
Apa kau punya pengetahuan dalam aspek ini?
Ini...
Itu tidak termasuk berlatih.
Hanya terus-menerus mengulangi hal yang tidak profesional saja.
Padahal sudah punya dasar yang bagus.
Jangan kabur dan hadapi langsung.
Kalau kau punya kemampuan yang bisa dijalani dengan serius,
kenapa tidak bertarung dengan kemampuan itu?
Hanya menggunakan pujian sebagai dasar berakting
tak akan bisa menggerakkan siapa pun.
Nanako.
Kau boleh menamparku.
Wajar saja aku ditampar karena mengatakan hal seperti ini.
Aku pulang dulu.
Nanako.
Jangan ikut aku.
Aku juga pulang dulu.
Kawasegawa.
No comments yet. Be the first to leave one.