The first 200 lines.
diterjemahkan oleh haveit dari subtitle milik GoldenBeard
Kau tau, orang bicara seakan semua itu tiba-tiba hanya ini,
tapi kau harus ingat, aku sudah terkenal
pokoknya bagaimana sejak umurku 19 tahun,
dan kau kelelahan.
Kau mau jadi seperti Byron dan pergi ke Yunani,
kau mau jualan senjata di Afrika.
Saat kau mendapat yang kau mau...
Apa maumu?
Rupanya, kau rusak teleponmu lagi.
Kau itu punya keluarga.
Kau peduli?
Sobat, kebiasaanmu menghilang
dan lalu menghilang sama sekali.
Jika kau meninggal, akankah kau mengabariku?
Aku dapat banyak telepon.
Jika ada terjadi sesuatu,
kau harus mengabariku.
Kami akan datang.
Hei, kau lupa kembalianmu.
Ayo.
Ayo!
Ayo! Ayo!
Tunggu apa lagi?!
Ayo!
Bagus.
Halo, kemahnya.
Jika senapan masalahmu, ya, pasti kupahami.
Aku membunuh demi susu.
Siapa kau?
Pertanyaan besarnya, kawan, yang penting.
Dari mana asalmu? Ke mana tujuanmu?
Siapa kau?
Bukan siapa-siapa khususnya. / Siapa pada umumnya?
Itu intinya, kawan.
Kau bukan tukang ngoceh. Aku suka itu.
Kau tau, kau bertemu orang di sini dan mereka hanya...
...ya, mereka bilang seperti apa kau anggap mereka,
yang mana cukup buruk,
atau apa yang diri mereka anggap, yang jauh lebih buruk.
Dari mana mereka kira mereka berasal, Ke mana mereka kira tujuan mereka,
atau... ke mana mereka mau pergi.
Maksudku, kau bertemu seorang pria, dan dia bilang padamu...
"Aku punya anak. Aku punya rumah yang indah."
Dan dia bilang begitu, kan?
Tapi mungkin dia percaya itu benar, tapi kupikir
dalam artian mana, dia punya rumah dan anak?
Maksudku, dasar-dasarnya.
Bank punya rumah.
Istri punya anak.
Kau lihat jika istri tak punya anak.
Bank tetap punya rumah, kawan.
Kau bayar banknya, jangan bayar pajakmu,
kau lihat siapa pemilik rumahmu.
Kau menyewanya dari pemerintah.
Jadi ini terjadi padamu?
Ya ampun, tak segampang itu, kawan.
Tidak, tidak, tak segampang itu.
Tadi penggalan Ahab's Leg, kawan. Ceritanya omong kosong.
Karya fiksi ilmiah tentang ambiguitas yang bagus.
Kau tau, aku percaya jika Ahab punya dua kaki
dan menginginkan pausnya untuk alasan yang tak bisa dia jelaskan,
tapi keseluruhannya... kaki buntung sebagai motivasi, itu...
...seperti istri eksekutif yang memikirkan soal omong kosong itu.
Kau tau sesuatu soal itu? / Tidak.
Aku sedang balas dendam tanpa alasan.
Aku Shakespeare teman.
Ya, selamat.
Mari bicara soal gurunnya.
Bicara soal apa yang kau mau.
Yesus kemari. Gurunnya.
Bukan yang ini. Yang satunya.
"Tempat pengeringan agama, gurun."
T.E. Lawrence bilang begitu.
Lihat di mana dunia itu karena orang penyendiri
jadi gila di gurun.
Yesus muncul,
bicara sendiri tentang kehidupan.
Terkenalnya, kau tau.
"Di sinilah Aku. Rupanya Aku Yesus."
Apakah berharga menjadi diri-Ku?"
Jadi atau tidak jadi.
Oh, selalu saja begitu, kan?
Jadi atau tidak jadi.
Dan di mana lagi untuk memikirkannya tapi di mana tak ada...
...apa-apa?
Dalam perkara Yesus...
...Dia bicara mengenai aspek diri-Nya
yang, demi argumen, kita akan panggil sang iblis.
"Kau bisa memiliki dunia," kata sang iblis.
"Raja dunia. Atau Kau bisa bersenang-senang."
"Secara pribadi tak ada gunanya sampai di masa depan,"
"pastinya melibatkan eksekusi orang-orang Romawi,"
"yang mana akan sangat menyakitkan."
Itulah yang sang iblis pikirkan di gurun.
Yang membawa kita pada apa yang kau pikirkan di gurun?
Aku berpikir tentang pria bersenapan
yang membenci pemerintah yang baru saja lewat
berpura-pura jadi sang iblis.
Kau suka pemerintah? / Tidak.
Kau mau menjual jiwamu? / Kau punya apa?
Wanita, uang, ketenaran?
Oh, aku punya kemiskinan dan ketidakjelasan, kawan, bila kau mau.
Ya, aku punya itu banyak. Aku kelebihan, kawan.
Apa yang kau lakukan di sini?
Aku menyerang para wisatawan.
Orang-orang pergi ke gurun, mereka diserang para pencuri.
Tradisional sekali.
Nyatanya, kebanyakan dalam Bibel.
Itu dan perang.
Aku cuma membuatmu pusing, teman.
Tidak, aku cuma mencobanya saja. Cuma ide.
Cuma omong-omong saja.
Aku cenderung ke yang fantastis.
Apa aku harus berterima kasih atas kopinya, ambil senapanku lalu pergi?
Ya, aku akan berterima kasih atas kopinya, ambil senapanku lalu pergi.
Jika aku ingin membunuhmu, kawan,
aku sudah berbaring di sana dan menembakmu mati di samping api unggun.
Ya, semestinya kau tak usah berpura-pura jadi sang iblis.
Oke.
Kita punya pekerjaan. Aku paham.
Aku menghargainya.
Aku akan memberimu pelurunya.
Kau simpan. Aku akan bawa senapannya.
Tidak.
Ya...
...kalau begitu.
Gurun bukanlah tempat kena sayatan, kawan.
Kau berada di kemah yang salah, kawan.
Kawan, terlambatkan untuk bilang kau salah sangka?
Sial.
Heei!
Mati kau, kawan!
Mati kau!
Tujuh.
Belum pernah kemari.
Sama.
Permainan dimulai, kawan.
Permainan dimulai.
Ya, aku juga tak mau memberi diriku tumpangan.
Klien nomer 1.
Yang terjadi di persidangan itu cerita.
Itu bukan kebenaran.
Yang berlaku di persidangan adalah 2 naratif fiksi manapun
yang membayar lebih tinggi ke yang membayar lebih rendah.
Aku tak bertanya sungguh-sungguh. Aku sudah tau.
Ada lagi pertanyaan retoris
yang perlu kujawab?
Maksudku jika sesuatu terlalu rumit dijelaskan,
kau menyarankan agar tak menjelaskannya?
Benar sekali.
Kutelepon kau nanti.
Hei, kau mau kopi?
Truknya kurusakkan. Suruh orang membawanya kembali.
Truknya di gurun. Lokasinya di belakang kertas.
Selamat datang kembali, pak. Bagaimana rumah barunya?
Aku tau anda sibuk, tapi apa anda punya waktu membaca naskahku?
Tidak.
Ya, kurusakkan mobilnya.
Aku tau itu mobil rumah produksi.
Sudah diberikan padaku 3 bulan lalu.
Tidak, aku tak mau catatanmu. Kau buta huruf, Norman.
Kau menyuruh orang berumur 21 tahun menulisnya.
Jika kau memberiku catatan, aku akan datang dan mengacaukan...
Oh, sekarang dia mau membunuhku jika aku punya ide.
Kau tau dia akan bilang apa jika aku ngomong begitu?
Dia bilang artinya kau akan hidup selamanya. Persetan dia.
Persetan dia, bos. / Berengsek.
Hei, baca lagi yang kita tulis.
"Satu-satunya yang layak dikerjakan adalah kemustahilan,"
"adalah baris yang kurasa para penonton takkan mengerti."
"Juga, penonton takkan terima jika orang kaya sedih."
Boleh kusarankan "bertentangan"?
Tidak. Jangan kirim itu.
Hei, kenapa rumputnya semua berantakan?
Kau harus memotong lurus rumputnya, Manuel.
Ya, apa, kau pakai narkoba atau apa?
Benar-benar bajingan. / Kau lihat kekacauan ini?
Kliennya seperti...
Kliennya sepertinya... tak mau perusahaanku membantunya.
Aku harus apa?
Kau tak punya perusahaan, Norman.
Ini perusahaanmu.
Dan ini kehidupan pribadimu.
Meremehkan. Meremehkan sekali.
Aku kehilangan kontrak dan danaku,
sementara, keberatankah kau, karena salah sangka,
dan kau begini padaku? Itu kacau.
Aku punya masalah lain dengan bawahanmu.
Dia menyia-nyiakan bakatnya. / Apa itu masalah?
Ya, tidak secara finansial, tidak.
Tapi bagaimana kalau kubocorkan, hah? Akan kubocorkan.
Itu yang akan kulakukan. Akan kubocorkan sialan.
Kau tau jalan keluar dari sini, kan?
Kau belok kiri, dan minggatlah dari sini, sampai jumpa.
Belok kanan, belok kiri.
Lagipula kita semua kacau.
Senapan!
44, 40.
Membunuh orang lain, kita menemukan mayat.
No comments yet. Be the first to leave one.