The first 200 lines.
KING THE LAND
BIODATA PEGAWAI
Dokumen tahun 1989 hanya ini?
Benar.
Apa aku boleh tahu siapa yang kau cari?
Entah apa niatmu bekerja di sini,
tapi kau harus bertikai denganku selama di sini.
Ini demi kebaikanmu.
Jangan sampai kau bernasib seperti ibumu.
Lupakan.
- Halo. - Halo.
Mari turun untuk makan.
Ibu di mana?
Dia tidak ada sejak kemarin.
Lekas berdiri.
Pak Komisaris menunggumu.
Ayo.
Halo.
Halo.
Halo.
Halo.
Jangan tersenyum.
Jangan tersenyum.
Jangan tersenyum!
Jangan tersenyum!
Jangan tersenyum.
Jangan tersenyum.
Ini tempatku.
Apa?
Ini…
tempatku.
Kau bisa menangis juga?
Kuizinkan sesaat.
Tetap di sini.
Ayo.
Biar kuantar.
Tak perlu repot. Aku bisa pulang sendiri.
Naik mobilku.
Kau tak bawa payung?
Payungku terbang.
Kenapa tak ditangkap?
Karena malas.
Ketika melihatnya terbang jauh terbawa angin…
anehnya, hatiku tenang.
Mungkin seharusnya kulepas sejak dahulu.
Kau benar membicarakan payung?
Bukan masalah cinta?
Tolong turunkan aku di mana pun dekat stasiun metro.
EPISODE 5
Hei.
- Nona Cheon Munafik. - Ya, Pak?
Sebentar…
Kita di mana?
Ambil.
Apa ini?
Pasti tak akan muat.
Pakai hari ini, lalu buang.
Pak Gu.
Kita makan.
Ini hari ulang tahunmu.
Apa…
Pakaianmu…
Tunggu.
Kita bisa dikira berpacaran.
Tak ada yang menganggap begitu.
Mana mungkin aku memacarimu?
Baiklah. Lihat ke sini.
Kalian tampak sangat serasi.
Mau kufoto sekali lagi?
Tidak, kami tak punya hubungan khusus.
Maafkan aku.
Karena begitu serasinya, kukira kalian pasangan.
- Lantas foto ini… - Taruh saja di sini.
Baik.
Semoga makan malam kalian menyenangkan.
Ya.
Lihat.
Semua salah paham.
Kau sekesal itu
dikira berpacaran denganku?
Siapa suruh beli baju yang sama?
Aku hanya asal beli baju yang ada di depan mata
sebab kurasa tak perlu serius memilih.
Benar juga.
Baru kali ini aku membeli baju untuk orang lain.
Meski kelihatannya usahaku sia-sia
dan kau tak akan suka,
itu lebih baik daripada baju basah.
Terima kasih, Pak.
Kubilang jangan berpura-pura.
Aku serius berterima kasih.
Sepatunya juga benar-benar pas.
Syukurlah.
Padahal aku asal ambil.
Hidangan siap.
Selamat menikmati.
Mana mungkin kuhabiskan semua ini?
Kenapa harus dihabiskan?
Makan saja yang kau mau.
Namun, sayang kalau tidak dimakan.
Aku tak tahu kau suka apa.
Namun, bukan berarti harus pesan semua.
Makanya, beri tahu aku.
- Beri tahu apa? - Apa yang kau suka.
Makanan favorit,
cuaca favorit, warna favorit.
Katakan semua yang kau sukai.
Kenapa kau ingin tahu itu?
Supaya tidak sayang dibuang
dan bisa fokus pada yang kau suka.
Biar aku yang traktir.
Ini hari ulang tahunmu.
Apa salahnya ditraktir orang?
Aku tak pernah merayakan ulang tahun.
Kenapa?
Tidak apa. Hanya saja hari ulang tahun itu terasa menyedihkan.
Membuat kita berharap, tetapi selalu berakhir kecewa.
Lebih santai jika tak berharap apa-apa dalam segala hal.
Namun, itu bohong, 'kan?
Membohongi diri dan pura-pura
menghibur diri sendiri.
Kau penuh kebohongan.
Makan yang lahap
sebab aku yang traktir.
- Ini. - Baik.
Totalnya 1.684.000 won.
Kenapa?
Apa?
Bukan apa-apa.
Bayar pakai ini.
- Pakai ini saja. - Tidak, biar aku yang bayar.
Kau berhak dijamu pada hari ulang tahun.
Nikmati sepuasnya.
Pak.
Kau harus tanda tangan.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih. Hati-hati di jalan.
Tunggu sebentar.
Walau ini hari yang sedih, akhirilah dengan yang manis.
Kenapa? Kau tak suka keik?
Tidak.
Aku suka sekali.
Terima kasih.
Pasti enak, karena buatan koki eksekutif hotel kita atas permintaanku.
Koki eksekutif? Kapan?
Saat kita masuk ke restoran tadi.
Aku minta dibuatkan, lalu diantar.
Padahal itu jam pulang kerja.
Makanya, kuminta secara khusus dengan penuh rasa hormat.
Itu yang disebut merepotkan.
Pesanan khusus bos besar menjelang waktu pulang.
Itu mungkin hanya permintaan bagimu,
tetapi bagi kami, itu perintah yang mustahil ditolak.
Dia jadi pulang terlambat gara-gara aku.
Aku tak terpikir sampai ke sana.
Lain kali aku akan lebih hati-hati.
Terima kasih banyak untuk hari ini.
Terima kasih juga keiknya.
- Masuklah. - Ya.
Sudah kuduga.
Sudah kuduga.
Pantas aku merasa ada yang aneh.
Kau minta putus gara-gara ini?
Semua ini rencanamu, ya?
Kenapa kau ada di sini?
Kenapa dia ada di sini?
Siapa kau?
Kau siapa?
Aku? Pacar Sa-rang.
Kenapa kau pacarku?
Mantan pacar.
Mantan pacar? Siapa? Aku?
Kita sudah putus. Jadi, kau adalah mantan pacar.
Kutanya siapa bajiangan ini?
Kau sudah tak ada urusan.
- Kenapa tak ada urusan? - Menurutku, mantan pacar
memang tak ada urusan.
Jangan ikut campur.
Ini sudah cukup.
Aku tahu kau menyesal.
Kembali kepadaku. Jangan gengsi.
Ini polisi. Bisa dibantu?
Halo.
Ada penguntit terus membuntutiku.
- Alamatnya… - Hei! Kenapa keras kepala sekali?
Kau tak mau dengar kalau aku bicara baik-baik.
Lebih baik panggil polisi.
Pergilah atau kulapor polisi.
Kenapa kau terus mengusirku?
Kau merasa berdosa?
Kau selingkuh, 'kan?
- Hei! - Kenapa?
Melihat sikapmu, aku bersyukur kita putus.
Mestinya kuakhiri hubungan kita sejak dahulu.
Kau…
akan kubunuh jika muncul di hadapanku lagi. Paham?
Kita benar putus kalau kau pergi.
Aku tak akan memaafkanmu.
Hubungan kita benar berakhir!
No comments yet. Be the first to leave one.