Release info

인간실격-Lost-E10-NEXT-iQIYI
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2021-10-03
Downloads: 25
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 199 lines.

[Semua tempat, tokoh, firma, dan peristiwa dalam tayangan ini hanyalah fiksi.]

[Bagian Sepuluh: Kembali Ke Tempatku yang Sebelumnya]

Saat aku membeli tempat ini...

Apa?

Kau selalu bilang kau yang membelinya.

Tentu saja aku yang membelinya. Memangnya kau?

Aku ikut patungan.

Lima juta won.

Jika dia menyumbang lima juta won, kalau harganya 70 juta won,

bukankah berarti aku yang membelinya?

Kau selalu bilang 70 juta won.

Harganya 66,6 juta won.

Bukankah harganya

seperti angka sial?

Tiga angka enam berturut-turut.

Ada apa dengan angka enam?

Di Tiongkok, enam adalah angka terbaik setelah delapan.

Begitukah?

Kalau sebagus itu, kenapa kau selalu bilang 70 juta won?

Katakanlah yang tepat, 66,6 juta won.

Bukankah itu terlalu panjang?

Panjang?

Menurutmu tidak panjang?

66,6 juta.

66,6 juta.

Lihat? Apa?

Aku mengatakannya dua kali kurang dari sedetik.

Masih bisa bilang itu panjang?

Boleh juga.

Lalu?

Apa?

Kau membeli tempat ini.

Lalu apa?

Pasti ada akhir dari cerita ini.

Akhir?

Tidak ada.

Apa? Lantas 666 adalah akhirnya?

Tidak, ada akhirnya.

Ibumu terus menyela.

Jadi, apa akhirnya?

Akhir yang paling membuat stres.

Orang lain menghasilkan uang.

Siapa yang menghasilkan uang?

Saat aku membeli rumah ini dengan 70 juta dolar won...

Jangan menyela.

Temanku membeli apartemen seluas 46 meter persegi di Goyang

hanya seharga sembilan juta won.

Aku sudah punya firasat buruk tentang ini.

Aku melakukan apa pun untuk membelinya.

Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa.

Karena ibumu menentangnya.

Apa?

Aku tidak menentangnya.

Aku hanya

memberikan beberapa komentar.

Ibu berkomentar apa?

Katanya kami tetap harus tinggal di Seoul.

Meskipun miskin, orang harus tetap di Seoul.

Jika pergi, orang tak akan pernah kembali.

Dia sangat menentangnya.

Lalu?

Berapa kenaikan harga apartemennya?

400 juta won.

400 juta won...

400 juta won?

Jangan dilebih-lebihkan.

Bukan 400 juta won,

tapi 300 juta won lebih sedikit.

Apa maksudmu?

Kau mengatakan itu karena itu bukan uangmu.

Di mana ponselku?

Kita bisa mencarinya di situs real estat.

Jangan dicari. Nanti aku bisa kehilangan selera makan.

Astaga.

Aku bahkan tak menonton berita. Itu membuat stres.

Yang benar saja.

Benar-benar 400 juta won?

Tidak, bukan 400 juta won. Sudah kubilang!

Lagi pula,

harga tempat ini juga naik.

Berapa?

80 juta won.

Bisa-bisanya dia bilang 80 juta won,

padahal 90 juta won.

Lihatlah.

Harga jualnya adalah 380 juta won. Hampir 400 juta.

Kalau sekarang jadi 380 juta, berarti harganya naik 300 juta.

Bukan 400 juta.

Melihat ini, pantas saja kau frustrasi.

Kau mengerti.

Bisa dibilang aku sudah tak punya keinginan hidup.

Kalau begitu, jangan lihat harganya.

Berikan.

Astaga.

Jika tak dilihat, harganya turun?

Diam. Aku mulai kehilangan selera makan.

[Gang-jae Aku akan segera meneleponmu nanti.]

Aku tak pernah bisa menghubunginya.

Dia selalu sulit dihubungi.

Manajer Akira Seo Jong-hoon?

Apa?

Kau punya pekerjaan lain?

Apa?

Bukan.

Tentu saja tidak.

Ini kali pertama dalam hidupku

menerima telepon darinya.

Kalau begitu, kenapa tak diangkat?

Ini kali pertama dia menelepon, bukan?

Sebenarnya, bukan kali pertama.

"Dia tidak boleh dinodai," apanya.

Kau profesional.

Dan pandai berbohong.

Aku? Aku tak berbohong.

Kau juga bekerja di kamar?

Kamar? Tidak.

Kau tahu Jeong-woo, 'kan?

Kita semua pergi mengambil uang dari kakaknya.

Aku mengenalnya.

Dia pernah tiba-tiba tidak masuk kerja.

Jadi, Gang-jae memintaku menggantikannya.

Aku membantunya sekali itu saja.

Luar biasa.

Luar biasa kenapa? Itu biasa saja.

Dia meminta bantuan. Jadi, aku...

Bukan main. Sulit dipercaya.

Apa?

Bisa-bisanya kamu.

Apa?

Setelah itu,

aku tak pernah ke sana lagi.

Aku akan minum ini karena sangat kesal.

Baiklah.

Mau kubukakan?

Tidak. Biar aku saja.

Kurasa kau juga membuka minuman untuk orang-orang.

Kurasa begitu.

Tunggu sebentar.

Min-jeong, lihat.

[Seo Jong-hoon Lama tidak bertemu.]

Lihat?

Dia mencari Gang-jae, bukan aku.

[Aku tak bisa menghubungi Gang-jae. Hubungi aku.]

Baca semuanya.

"Semuanya"? Itu hanya satu kalimat.

Kau sudah baca "Lama tidak bertemu"? Di sini.

Kau akan mendapat masalah ke mana pun kau pergi.

Benar.

Tak jadi kau buka?

Benar juga.

Baiklah.

Ini.

Telepon dia.

Aku ingin tahu kenapa dia mencari Gang-jae.

Gang... Gang-jae?

Sebagai rekan bisnisnya,

aku ingin tahu situasinya.

Apakah pekerjaan terkait Lee Bu-jeong berjalan lancar,

apakah dia tak melakukan hal ilegal...

Gawat jadinya

kalau dia ditangkap.

Benar.

Kalau begitu...

Aku akan menjaga kasir.

Baiklah.

[Kau cantik sekali. Kau tipeku. Kau punya pacar?]

Kami saling menatap.

Kau lihat?

Ada-ada saja.

Pria yang bekerja di kasir adalah pacarku.

Masuklah ke dalam ruangan.

Hei, Saja.

Lama tidak bertemu.

Bagaimana sekolahmu?

Kau sudah lulus?

Sudah punya pekerjaan?

Belum.

Jadi, kenapa kau mencari Gang-jae?

Bukan apa-apa...

Aku sedang mencarinya saja.

Kelab ini akhirnya penuh pelanggan.

Ada dua grup dari klub aktivitas.

Aku mau bertanya sesuatu padanya.

Kau sedang bersamanya?

Tidak.

Tadi aku bersamanya sampai sore ini.

Lalu kenapa dia tidak menjawab?

Apa dia menghindariku?

Menghindarimu?

Dia bekerja untukmu.

Apa Gang-jae bilang sedang mengerjakan

Soal itu...

Gang-jae...

Lalu bagaimana kau bisa tahu?

Tapi sungguh,

[dia tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku.]

Tidak apa-apa.

Aku tidak menginterogasimu, aku hanya bertanya.

Itu bukan rahasia besar.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left