The first 200 lines.
Omong-omong,
kudengar suamimu sangat menyukaimu.
Dia mengejarmu tanpa lelah dan berhasil menikahimu.
Tapi kudengar kalian tidak pernah bersentuhan
selama 30 tahun.
Apa?
Mereka tidak pernah berciuman selama lebih dari 20 tahun.
Maksudku...
Tapi itu mungkin saja.
"Benar"
Jadi, kamu belum berciuman lagi dalam 20 tahun ini?
"Jadi, kamu belum berciuman lagi dalam 20 tahun ini?"
Kurasa sudah 40 tahun yang lalu.
Terutama berciuman.
- Ini... - Sudah 40 tahun.
- 40 tahun. - Kalau begitu...
Usiaku saat ini 70 tahun, bukan?
- 40 tahun lalu, usiamu 30 tahun. - Aku...
- Tunggu. - Tunggu.
- Itu mungkin saja. - 40, 50, 60, 70.
Setelah kami menikah...
Seingatku, kami masih mesra selama 5 sampai 6 tahun.
Itu saat anak-anak kalian lahir.
Kami mesra saat anak-anak lahir.
Kurasa hanya sampai situ.
Kalau begitu, nyaris 35 tahun.
- Mungkin saja. - Selama 35 tahun, aku hidup
tanpa laki-laki.
- Dahulu kalian suka saling tatap... - Kami hanya saling melihat.
Suamiku
didiagnosis diabetes pada usia 40 tahun.
Dan di usia 50 tahun,
dia menjalani dua operasi karena masalah jantung.
Itu sebabnya aku...
Aku...
- Astaga. - Aku harus menjepit
kedua pahaku hampir di setiap malam.
"Aku harus menjepit kedua pahaku hampir setiap malam"
- Astaga. - Kamu risi mendengarnya?
Tidak.
- Lucu sekali. - Lucu sekali.
- Lucu sekali. - Hei.
- Kuharap bagian tadi disiarkan. - Hei.
Kamu merasa iba padaku, bukan?
Aku sudah seperti ini selama 45 tahun. Ini kisah sedih.
- Ini memang kisah sedih. - Benar.
- Kalian setuju, bukan? - Memang sedih.
Para ibu, ceritakanlah dengan jujur
- Pengakuan. - kapan terakhir kalian berciuman.
"Kapan kali terakhir kalian berciuman?"
"Katakan dengan jujur"
- Aku sama seperti dia. - Jujurlah.
- Sama seperti dia. - Aku...
- Tapi... - Aku lebih terkenal dari kalian.
Dan aku tetap ceritakan semuanya. Jadi, sebaiknya kalian juga mengaku.
"Aku sudah mengaku, jadi, mengakulah sekarang"
- Kamu setuju, bukan? - Astaga.
Kami akan mengaku.
Benar. Dia seorang selebritas.
Sebenarnya,
aku mengaku hanya agar mereka juga mengaku.
"Dia menjadi contoh bagi yang lain"
Kalian tidak boleh diam.
Jika kalian tidak cerita, akan kuambil lagi hadiahnya.
Baiklah.
- Sudah berapa lama? - Dia mengaku sama sepertimu.
- Aku? - Ya.
"Berpikir"
Harus tepat. Harus jujur.
- Tahun ini usiaku 75 tahun. - Bagaimana kamu
- bisa mengingatnya? - Aku sudah 52 tahun menikah.
"Dia menatapnya"
Astaga.
Ini...
- Mungkin sekitar 40 tahun? - Benar, bukan?
"Tidak berciuman selama 40 tahun"
Benar, bukan? Itu memang terjadi.
- Generasi kami kerap seperti itu. - Benar.
- Omong-omong... - Dia benar.
- Tapi In Sook berbeda. - In Sook itu...
"In Sook berbeda"
- In Sook berbeda. - Aku setuju dengannya.
In Sook itu...
Tidak. Aku...
Terakhir berciuman 2 hari yang lalu.
Kali terakhir, suaminya memeluknya dari belakang.
- Itu hanya pelukan. - Tunggu.
Mungkin sekitar 40 tahun?
- Aku tidak ingat. - Kalau begitu,
- kita bahas yang lebih jauh. - Lebih jauh?
Aku akan lebih jujur lagi.
Kamu tidak perlu menceritakannya pada kami.
- Kenapa tidak? - Kami harus cerita.
Kami tidak mau tahu.
Aku mau tahu.
Kami tidak mau tahu informasi sebanyak itu.
Duduklah.
- Ini penting bagi generasi muda. - Ini buka apa-apa.
- Ini penting. - Ya.
Tapi mereka hanya menganggap kita wanita tua.
Aku penasaran karena...
Saat wanita berusia 30 sampai 40 tahun
melihat wanita di usia kami,
pasti mereka mengira kami bisa bahagia
dengan menata rambut kami, merias wajah kami,
dan memakai pakaian bagus. Mereka pasti penasaran.
Tapi kami ingin melakukannya.
- Benar. - Setuju, bukan?
- Benar. - Kita juga perempuan.
Tetap saja kita ini perempuan.
Aku ingin mereka tahu soal ini.
- Benar. - Benar.
Kita ini perempuan.
Hanya 2 orang di sini
yang sangat bingung.
"Apa aku seharusnya tidak membahas kapan kali terakhir berciuman?"
"Apa kita sudah pindah topik?"
"Semoga aku tidak perlu mengatakan itu."
"Tidak, aku tanya saja?"
Kedua wanita ini sangat kebingungan.
- Tidak. Dong Yeob. - Ya.
Artinya kita masih belum selevel.
- Jang Hoon. - Ya.
- Jang Hoon. - Ya. Astaga.
Aku mau tanya.
Kapan kali terakhirmu berciuman?
Sekarang giliranmu.
Mereka sudah menjawab. Sekarang giliranmu.
Aku akan segera kembali.
- Saat - Ya.
- kamu melajang, kamu memasak? - Ya.
Terkadang aku...
Kamu memasak di rumah?
Terkadang aku pesan antar makanan.
Kamu tidak memasak?
Aku pergi ke rumah ibuku.
- Omong-omong... - Kamu tidak masak untuk dirimu?
- Ya. - Ini...
Aku membawa kimchi untukmu.
Kimchi tua.
- Astaga. - Kupikir dia memasak di rumah.
Dong Yeob, ini buatmu saja.
Jangan. Aku bisa memakannya
dengan makanan yang lain.
Katamu kamu ke rumah orang tuamu.
- Hanya sekali tiap bulan. - Dia juga makan di sana.
- Begitu, ya. Baik, ambillah. - Sekali dalam sebulan.
- Terima kasih banyak. - Ini kimchi tumis...
Dia baik sekali.
Tasnya juga cantik.
- Dan kimchi lobak. - Astaga.
- Bawalah tasnya juga. - Astaga.
Sudah kupilihkan yang bagus.
Harganya hanya 20 dolar.
Bagus, bukan?
- Astaga. - Ini kimchi tua.
- Astaga. - Bukalah.
- Kamu baru pindah rumah, bukan? - Ya. Ada makanan di rumah.
Aku makan berbagai masakan di rumah.
Lihatlah.
- Astaga. - Kubawakan ini untuk kalian.
- Jadi, - Terima kasih.
- tinggal memasak nasi saja. - Baiklah.
- Lihatlah. - Masih panas.
- Astaga. - Astaga.
Jadi, kapan terakhir kamu berciuman?
Kamu harus jawab sekarang. Tidak ada yang gratis.
- Jangan dimakan sebelum cerita. - Ceritakanlah...
Tidak ada yang gratis.
- Dia lucu sekali. - Sebut saja tahunnya.
- Berapa bulan lalu? - "Berapa bulan lalu?"
- Kemarin? - Tidak.
- Kalau begitu? Kapan? - Sudah lama sekali.
- Berapa tahun lalu? - Beberapa tahun lalu.
- Beberapa tahun lalu? - Ya.
- Aku pernah melihatmu. - Tidak mungkin.
Sekitar 2-3 tahun lalu.
Aku melihatmu di Yangsu-ri.
Dua atau tiga tahun?
Ya, 2-3 tahun.
Baiklah. Itu cukup.
- Kocak sekali. - Astaga.
Sepertinya, baru kali ini para ibu sangat terbahak-bahak.
Kita beri sambutan lagi untuknya.
"Kamu sangat disambut di sini"
Dia luar biasa.
- Mari lihat putra sulungnya... - Sekarang,
acaranya sudah selesai? Sepertinya aku harus pulang.
- Sudah selesai? - Belum.
"Di hari yang indah"
"Di Pantai Pulau Daebu di pesisir barat"
Ini Pantai Pulau Daebu.
Pulau Daebu?
"Siapa yang jauh-jauh datang ke sini?"
Astaga.
"Ada yang merengek"
"Ternyata Kim Gun Mo"
"Gun Mo datang ke pantai bersama teman-temannya"
Astaga.
Lautan.
No comments yet. Be the first to leave one.