Un condamné à mort s'est échappé
The first 200 lines.
Ini kisah nyata.
Saya ceritakan sebagaimana adanya, tanpa memolesnya.
DI TEMPAT INI
DI BAWAH PENDUDUKAN JERMAN
10.000 ORANG DITAHAN
MENJADI KORBAN NAZI
7.000 ORANG MENINGGAL DUNIA
MELARIKAN DIRI
ATAU
ANGIN BERTIUP KE MANA IA MAU
Berdasarkan Memoar karya
Skenario dan Dialog oleh
Sinematografi oleh
Terima kasih, Pak.
Tunggu di sini.
Sialan!
Jangan coba-coba melarikan diri lagi!
Ayo jalan!
Ini akan mengajarimu untuk tetap tenang selama beberapa hari!
Aku merasa diriku sedang diawasi.
Aku tak berani bergerak.
Tak ada yang patah, tapi kondisiku tak sedap dipandang.
Aku menyeka semampuku.
Tuduhan terhadapku sangat berat dan tindakanku jelas memperburuk itu.
Kenapa mereka belum menembakku?
Saat menunggu di pelataran, aku jadi terbiasa dengan gagasan untuk mati.
Aku akan memilih segera dieksekusi.
Ketukan dari tetanggaku sama sekali tak membantu.
Bahkan untuk sesaat aku kehilangan nyali dan menangis.
Aku tidur nyenyak sekali sehingga penjaga harus membangunkanku saat siang.
Bangun.
Bangun!
Secara naluriah, aku pura-pura tak bisa bangun...
..dan harus bersusah payah untuk sekedar duduk.
Bisakah tipuan kecil ini menyelamatkan hidupku?
Cukup.
Mereka mendorongku dan aku ditinggalkan sendirian.
Selku berukuran kurang dari 3 kali 2 meter.
Perabotannya hanya seadanya.
Dipan dengan matras dan dua selimut.
Di ceruk dekat pintu ada ember tinja.
Terakhir, ada rak batu yang terpasang di dinding.
Dengan memanjat rak itu aku bisa mencapai jendela.
Di pelataran kecil di depanku...
..tiga lelaki berpakaian rapi dengan jambang tercukur tengah berjalan...
..tanpa pengawasan.
Tetap waspada. Aku akan kembali.
- Namamu? - Fontaine.
Aku Terry.
Ada cara untuk mengirimkan pesan?
Aku tahu caranya.
Aku harus tetap waspada.
Tangkap.
Setelah orang asing itu bilang, "Ada cara mengirimkan pesan,"..
..keadaanku berubah.
Keluar.
Keluar! Cepat!
Meskipun diborgol, aku bisa mencuci muka...
..dan membersihkan lukaku.
Jalan!
Lalu, aku berhasil berkomunikasi dengan tetanggaku.
Seorang pemuda yang bekerja di bengkel,..
..dia membunuh seorang tentara Jerman dalam sebuah perkelahian.
Dia bisa dieksekusi kapan saja. Usianya 19 tahun.
Dengan benang dan saputangan,..
..aku membuat semacam karung.
Besok berikan suratmu.
2 Mei, Ibu sayang, aku dipenjara...
Untuk menenangkan keluargaku dan memberi harapan yang tak kumiliki.
Dan terutama memperingatkan pemimpinku...
..bahwa alat pemancar yang jadi tanggung jawabku,..
..bisa digunakan oleh Jerman, karena mereka telah memecahkan kodenya.
Kuputuskan untuk mengambil risiko.
Sangat berisiko.
Mempercayakan suratku pada orang asing...
..bisa menempatkan aku dan penerima suratku dalam bahaya.
Kami bisa saja terlihat atau tertangkap basah di pelataran.
Ada peniti?
Peniti?
Sebentar.
Dia menuju penjara wanita.
Ini dari mereka.
Di kertasnya, ada tulisan tangan perempuan berbunyi "tabah."
Dan juga peniti.
Tetanggaku telah mengajari caranya.
Tapi tak langsung berhasil dan aku jadi meragukannya.
TEKAN, TARIK, LUBANG KUNCI, MEKANISME
Akhirnya aku bisa membebaskan tanganku yang kebas.
Sekonyong-konyongnya aku merasakan kemenangan.
Sebagai pengecualian,..
..kepala sipir mengizinkan Terry menemui putrinya di hari-hari tertentu.
Baru kemudian aku menyadarinya.
Bahaya yang kutimbulkan pada dia dan putrinya.
Setibanya di rumah, putrinya membubuhi perangko dan mengirimkan suratku.
Suratmu dikirim kemarin. Seharusnya sampai hari ini.
Terima kasih.
Kau sudah menunaikan tugasmu. Itu akan membantumu bertahan.
Lihat.
Waspadalah.
Letnan Fontaine.
Sudah mengakui kekalahanmu?
Jujur saja, jika dalam posisimu, aku juga akan kabur dari mobil itu.
Tapi sekarang kau harus berjanji untuk tak mencoba kabur lagi.
Aku berjanji.
Siapa yang kami kibuli?
Dia jelas tak percaya padaku.
Sedangkan aku sudah bertekad untuk melarikan diri pada kesempatan pertama.
Apa dia berharap orang kelaparan akan memakan makanan itu?
Makanan pertamaku dalam empat hari.
Kunjunganku ke jendela semakin bertambah lama.
Aku bisa melihat pelataran, dinding dan halaman rumah sakit.
Tanpa disadari aku mempersiapkan diriku.
Aku tahu mereka melakukan eksekusi di lingkup penjara.
Pikiran gila melintas dalam benakku.
Dia ada di sana.
Aku terjaga semalaman mengajarinya mars batalion.
APA BEDANYA? SIAPA PEDULI? SEMUA PEMUDA YANG TAK BERUNTUNG.
Itu satu-satunya bantuan yang bisa kuberikan padanya.
Hari berikutnya kepala sipir mengunjungiku.
Jaket.
Handuk.
Aku dipindahkan dari sel lantai satu menuju sel 107 di lantai atas.
Semuanya keluar!
Semuanya keluar!
Tak ada orang di sebelah kananku. Sel itu kosong.
Di sebelah kiriku, tetangga yang tak membalas ketukanku.
Aku mengamati wajah mereka, menerka-nerka orang macam apa mereka.
Aku juga mengamati temboknya.
Baru masuk kemarin?
Aku di sel bawah selama 15 hari...
..atau 15 tahun!
Kau akan terbiasa.
Percayalah.
Namaku Hbrard.
Jangan ngobrol!
Aku Fontaine.
Waktunya mengosongkan ember tinja, dan membasuh muka,..
..lalu kembali mendekam di sel sepanjang hari.
Tak ada kegiatan, tak ada berita, dan dalam kesunyian,..
..sepenuhnya sengsara menanti nasib kami.
Aku tak bisa membayangkan nasibku kelak.
Seandainya aku bisa kabur, melarikan diri.
Entah kebetulan atau kemalasan yang memberiku peluang pertama.
Aku sering terduduk di dekat pintu,..
..hanya menerawang kosong tanpa melakukan apa-apa.
Pintunya terbuat dari dua panel yang tersusun dari enam papan kayu ek,..
..terpasang dalam bingkai yang sama tebalnya.
Di celah antara papan-papan, aku lihat penghubungnya bukan kayu ek,..
..tapi kayu berwarna lain, kayu beech atau poplar.
Pasti ada cara untuk membongkar pintu ini.
Untuk mendapatkan sendok besi,..
..karena timah atau aluminium terlalu lunak atau rapuh,..
..aku harus menunggu selama beberapa kali pemberian makan.
Aku membuat semacam pahat dari sendok itu.
Papannya tidak dipasang dengan sambungan pasak dan lubang...
..yang menyatu dengan kayu ek,..
..tapi dengan sebilah kayu lunak yang bisa dengan mudah dicungkil.
Kuperkirakan empat atau lima hari untuk mencungkil bilah itu...
..dengan memotong atau mengikirnya.
Tapi setiap sore, aku harus keluar.
Progresnya lambat karena aku takut menimbulkan suara...
..dan kekhawatiran akan tertangkap basah.
Terlebih lagi aku harus terus-menerus membersihkan bawah pintu...
..dengan seutas ijuk yang kucabut dari sapu penjara.
Fontaine, kau di dalam?
Itu kau, Terry?
Kita bertemu lagi. Lama tak jumpa.
Aku akan pergi.
Mereka membebaskanmu?
Mereka membawaku pergi, entah ke mana.
Entah bagaimana caranya dia bisa menyelinap ke sini.
Tetanggaku di lantai bawah?
Dieksekusi dua hari lalu.
Selamat tinggal.
Kepergian Terry dan kematian kawan yang tak pernah kutemui...
..membuatku putus asa.
Meski begitu, aku teruskan usahaku. Itu mencegahku berpikir yang tidak-tidak.
Pintunya harus kubuka. Aku tak punya rencana setelah itu.
Tahanan baru, Pastor de Leyris...
..akan mendapat kepercayaanku dan menjadi teman.
Mereka menangkapku di mimbar gereja. Tak sempat membawa barang-barang.
Tak satu pun?
Aku berharap menghabiskan waktu membaca Injil, untuk merenung.
Aku tak punya Injil, tapi aku punya pensil.
Itu cukup.
Kau harus tetap sibuk, menulis, menjaga pikiranmu.
Aku tetap sibuk.
Tiga papan harusnya sudah cukup untuk keluar.
Di sel 108 di seberangku, seseorang terus mengawasi,..
..yang membuat pekerjaanku menjadi lebih mudah.
Di sisi lain, tetanggaku yang bungkam membuatku gelisah.
Kita bebas bicara. Mereka semua ada di bawah.
Kau takut?
Aku tahu dia ada di sana. Aku yakin itu.
Tetanggaku membuatku khawatir sehingga aku tak berani menyentuh pintuku lagi.
Aku menyumpal celahnya dengan kertas yang kugesek-gesekkan ke lantai.
Dia menatap kami dengan kebingungan.
Malamnya di jendela, Blanchet, itu namanya...
Karena beberapa dolar, Tn. Blanchet? Uang itu milikmu?
Bukan, milik seorang wanita Yahudi. Aku tak mengenalnya.
No comments yet. Be the first to leave one.