The first 200 lines.
*My Paparotti*
English/Korean to Indonesian Newbie Translator - Yoa_Han - (Member of subscene)
Berdasarkan kisah nyata.
My Paparotti
Aku hampir sampai.
Ya, Kepala Sekolah.
Baiklah.
Menyuruhku datang saat cuti ... Sialan !
Maaf, aku tidak lihat.
Aduh, paman ? Hei !
Aduh, leherku !
Aku kan tidak menabrak terlalu kencang.
Memangnya kau dokter ?
Rambut a la Farah Fawcett ?
Siapa yang masih bergaya rambut begitu jaman sekarang ?
Perkataanmu cukup kasar untuk orang yang tidak dikenal.
Kecelakaan mobil memang biasa terjadi pada orang asing.
Benarkan ?
Aku sibuk sekarang ...
Memangnya kami kelihatan menganggur ?
Akan kuhajar bokong sialmu itu.
Ada apa ribut-ribut ?
Keparat itu tidak mau minta maaf atas kesalahannya
Kalau begitu paksa dia.
Aku benar-benar minta maaf. Ini nomor asuransiku ...
Audio mobil ini hebat.
terlalu bagus untuk rongsokan ini.
Bemperku saja lebih mahal daripada harga mobilmu.
Ambil mobilnya dan suruh dia pergi.
Ya, Hyungnim !
Kau hampir sampai ? Bagus.
Akhirnya, ada terobosan untuk sekolah ini.
Begitu aku dengar demo-nya.
seluruh rambut di tubuhku merinding.
Sampai bulu ketekku juga.
Jenius sejati. Kau setuju ?
Itu sedikit berlebihan. Tapi dia cukup spesial.
Kalau dia memang spesial, kenapa kau kirim ke sekolah kami ?
Dia sedikit bermasalah.
Jadi, dia harus dipindahkan.
Kami akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Tangan terbuka itu bagus Pak kepala sekolah
tapi,
tapi dia sudah dipindahkan 4 kali.
Pasti dia mengalami kesulitan, anak malang.
Dia dikeluarkan dari sekolah, bukan begitu ?
Itu ...
Ah, sudah datang ?
Ini Lee Jang Ho.
Beri salam pada kepala sekolah yang baru.
Apa kabar...
Apa kabar pak. Maksudku ... wah !
Kau anak yang tampan !
Ini kepala departemen musik. Berikan salam.
Senang bertemu lagi.
Ada apa ?
Kalian sudah kenal ?
Aduh, leherku !
Ada masalah, Guru Na ?
Mendadak leherku nyeri sekali.
Bagaimana kalau anda memberi dia tes vokal, Guru Na ?
Lee Jang Ho Ssi?
Ya ?
Ya, Hyungnim.
Aku mengerti.
Guru Na,
Tes nya lain kali saja.
Mendadak ada urusan penting yang harus kukerjakan.
Kalau harus pergi, pergilah.
Sana.
Baiklah.
Tes nya ....
Bukan, "tes nya lain kali saja",
tapi "Boleh aku melakukan tes nya lain kali? Begitu cara bicara pada guru. Paham ?
Sana.
Ya.
Oh iya ...
Jangan khawatir soal bempernya.
Gunakan saja uangnya untuk jajan anakmu.
Anak itu !
Guru Na, bisa kita bicara ?
Jang Ho sudah pulang lebih dulu?
Dia ada urusan penting dan mau melakukan tes nya lain kali saja.
Kau harus mengatasi ini.
Kita yang butuh padanya. Kau, aku dan sekolah ini.
Kenapa kau sulit sekali ?
Apa tidak bisa kooperatif sedikit ?
Kau ini pegawai disini. Jadi kau tidak menganggap ini urusanmu ?
Kalau saja kau bisa tertarik sedikit ...
Kau mau aku mengundurkan diri ?
Baik. Tak masalah.
Dasar sialan !
Apa ?
Sebentar lagi ini bisa jatuh.
Jajan buat anak-anak ?
Sang Jin ! Sahabatku !
Lepaskan.
Aku kepala sekolah disini.
Kubilang lepaskan, sial !
Aku ini pantang menyerah.
Lepaskan aku !
Minumlah.
Ayolah, ini demi sekolah.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali kita memenangkan kompetisi.
Jadi, kau membawa preman untuk menyanyi di sekolah ?
Saat ayah menjadikan aku kepala sekolah dia berkata padaku,
'Nobility Obliges.' Kewajiban yang bermartabat
Kita harus melakukan peran kita pada masyarakat.
Kau punya hutang padanya? Dia mengancamu ya ?
Jika saja kita tidak kuliah bersama ...
Guru Na !
Apa Pak Kepala Sekolah ?!
Jangan sok menggurui aku diluar sekolah !
Aigoo Ayah ! Aku ingat saat almarhum ayahku
membawamu di bawah perlindungannya saat kondisimu buruk.
Bagaimana aku bisa berhadapan dengannya
kalau aku membiarkan sekolah ini tutup ?
Berikan anak itu kesempatan. Kumohon?
Wah benar-benar.
Coba lihat ini ?
Benar-benar pekerjaan menjahit yang hebat.
Rokmu sangat ketat sampai tidak bisa di naikkan.
Bagaimana kau bisa jalan ?
Baik-baik saja.
Aku kasihan bukan saja pada rokmu,
tapi juga mataku yang harus melihat pemandangan ini.
Pembuat masalah ...
Kau lagi.
Kau pasti bukan manusia.
Berapa banyak cat rambut yang kau gunakan
sampai warnanya bisa begini ?
Warnanya begini karena aku kurang gizi.
Aigo...
Coba lihat kantung mataku.
Begitu ?
Coba saja bawa sehelai ke labor kriminal.
Satu helai saja tidak cukup.
Setidaknya butuh contoh segenggam.
Beri aku gunting !
Dasar anak-anak bandel!
Selamat siang Hyungnim !
Itu dia ? Kudengar orang besar dipindahkan kemari.
Besar apanya ?
Bukan itu, bego !
Apa-apaan ?
Pak, kenapa tidak menghentikan dia ?
Hey kau !
Nak ... kemari sebentar ?
Oh Tuhan ...
Kenapa ?
Kau harusnya pakai seragam. Bukan ... ?
Lalu sepatunya ...
Kau punya masalah dengan sepatuku ?
Coba aku cek buku pedomannya lagi.
Meskipun, menurutku harusnya tidak masalah.
Selanjutnya siapa ?
Min-seok?
Ya.
Dia juga mengecat rambutnya.
Apa ?
Eh,
Kau mengecat rambutmu dimana ?
Apa wajahmu bertato ?
Brengsek ... Minggir sana!
Wah, kau wangi.
Kau pakai shampoo apa ?
Ada apa ?
Tidak apa-apa. Mungkin dia lagi tidak mau ngobrol.
Benarkah ?! Ah, anak ini !
Buat apa kau sekolah segala ?
Oy ...
Aku sedang bicara padamu.
Kau berdarah.
Bukan darah.
Coba kulihat.
Wah muncrat begitu.
Bel sialan ini menyelamatkanmu !
Apa lihat-lihat ? Sana lihat lagi bukumu, brengsek.
Kenapa tidak sekalian saja kau cat satu sekolah ini dengan darah?
Anda salah paham. Dia yang mulai ...
Sudah, bocah !
Anak ini, kau apakan wajahmu ?
Ini bukan kelas melukis.
Kau mau menghajarku ?
Bocah sialan ini.
Apa ini ?
Uang jajan.
Pesan semangkuk mie , aku yang bayar,
diskon 30%.
Penata rambutmu ... Berisik !
Brengsek !
Aigo omo, tidak ada yang mau makan dengamu karena emosimu yang buruk?
Biar kutemani.
Aku bisa diare kalau makan dengan orang.
Jang Hoo tidak masuk sekolah beberapa hari ini.
Sudah kau telepon ?
Aku sibuk.
Terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sebagai guru ?
Baiklah. Nanti kutelepon.
Berhenti bersikap seolah ada semut di pantatmu.
No comments yet. Be the first to leave one.