Revolutionary Sisters

Revolutionary Sisters (오케이 광자매)

Download Indonesian Subtitle

Release info

오케이-광자매-Revolutionary-Sisters-E65-E66-NEXT-VIU
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2021-07-11
Downloads: 24
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Episode 33"

Ye Seul!

Duduklah.

Ayah membuat sup tulang sapi dengan potongan tulang sapi terbaik.

Jangan ganggu aku. Aku ingin sendirian.

Mari habiskan waktu bersama.

Ayolah. Biar ayah lihat wajahmu.

Ayah tidak akan pergi sampai kamu duduk.

Tinggalkan aku, Berengsek!

Marah-marah tidak akan ada gunanya.

Siapa yang peduli jika kamu tidak berhasil sebagai penyanyi?

Kamu sudah sejauh ini tanpa menjadi penyanyi sukses.

Ayah bisa menafkahimu, jadi, jangan khawatir.

Itu sesuatu yang masih bisa ayah lakukan.

Meskipun kandung kemih ayah buruk,

penghasilan ayah masih cukup dari bekerja di lokasi konstruksi.

Ayah merebus ini saat di luar sepanas ini,

dan ayah hampir menderita ruam panas.

Ayah akan datang untuk memeriksa apakah kamu sudah menghabiskannya.

Ada apa?

Aku hanya merindukanmu.

Berkat, ini ayahmu.

Ayah.

Cilukba!

Berkat, kamu sudah makan?

Sudah

dan kini dia menggunakan energinya untuk bermain sekuat tenaga.

Begitukah?

Ini dia. Bibi yakin Byun Ho menelepon setiap jam.

Dia penasaran dengan keadaan Berkat.

Kamu senaif apa?

Itu karena dia tidak cukup memercayaimu.

Dia memeriksa apakah kamu mengurusnya dengan benar.

Entah kamu mengurusnya dengan baik atau tidak.

Dia khawatir sesuatu mungkin terjadi kepada putranya.

Kamu meneleponku setiap jam karena kurang memercayaiku, bukan?

Itu konyol. Aku hanya merindukanmu.

Kamu dan Berkat.

Bibi Taeng Ja bilang kamu mengawasiku.

Bukan begitu,

tapi kamu mungkin membuat kesalahan karena ini baru untukmu.

Aku jarang membuat kesalahan.

Aku harus mencuci botolnya sekarang, jadi, sampai jumpa.

Tapi aku melakukannya dengan baik.

Benar, bukan?

- Ini enak. - Benar.

Siapa itu?

Astaga.

Di mana cucuku?

Kenapa kamu mencarinya di rumah kami?

Masuklah, Bu Ji.

Itu tidak perlu. Dia di unit berapa?

Aku akan menggedor semua pintu.

Kamu perundung, ya?

Tolong jangan seperti itu dan bergabunglah dengan kami.

Ada yang ingin kukatakan kepadamu.

- Bersihkan mejanya. - Untuk apa?

Aku harus makan.

Dia selalu datang saat makan, sial.

Kamu mau mi?

Kaldu kedelainya enak dan kaya rasa.

Kaldu yang kaya rasa membuatnya jauh lebih enak.

Aku tidak datang untuk makan mi.

Akan kuambilkan porsi kecil.

Biarkan saja. Keluarga bisa makan sisanya.

Akan menjadi pemandangan konyol baginya untuk makan mi di sini.

Benar, bukan, Bu?

Jangan panggil dia begitu. Ini Bu Ji.

Dia benci saat kita memanggilnya besan.

Kamu jauh-jauh kemari yang hanya membuktikan betapa marahnya dirimu,

tapi anak-anak pasti berjodoh.

Byun Ho sudah bercerai,

lalu istri keduanya meninggal.

Dia mendapat nasib sial.

Kamu yang di sana.

- Haruskah mengatakannya begitu? - Tapi aku benar.

Orang yang menikah tiga kali bernasib buruk. Termasuk aku.

Itu karena keponakanmu.

Kini kamu bilang begitu? Kamu pikir putraku penurut?

Mereka ingin bersama. Siapa yang bisa memisahkan mereka?

Jika bisa, silakan cegah mereka.

Berhati-hatilah.

Ibu muda tidak mengizinkan mertuanya menemui anak-anak jika tidak baik.

Berbuatlah sesukamu jika bisa hidup tanpa melihat Berkat.

Bisakah kamu menghentikan adikmu bicara?

- Bu. - Astaga.

Kamu tidak berhak menghentikanku.

Hari itu jjajangmyeon, tapi hari ini kongguksu.

Kamu ingin aku memulainya?

Makan saja mimu.

Bu Ji, aku mengerti kamu kesal dan kecewa.

Tapi bisakah kamu merestui mereka?

Pasti sulit bagi Byun Ho tinggal di studio kecil bersama putranya.

"Byun Ho?"

Jangan memanggilnya seperti itu.

Meski dia bersikeras tinggal di sini,

kamu seharusnya menolak dan bilang dia tidak bisa begini kepadaku.

Kenapa kamu menerimanya seolah-olah sudah menunggu?

Gwang Nam tidak punya pilihan.

Dia hanya melakukan apa yang Byun Ho inginkan.

Cukup. Dia di unit mana?

- Tolong tenanglah. - Berapa nomor unitnya?

Kamu mau aku mengetuk setiap pintu?

Jika mengetuk sembarang pintu di gedung ini,

kamu akan berakhir di kantor polisi karena mengganggu

dan masuk tanpa izin.

Aku tidak takut harus pergi ke kantor polisi.

- Apa yang perlu ditakutkan? - Tunggu, Bu Ji.

Bu, di sinilah kamu harus berpura-pura menyerah.

Sebelum kamu meneteskan air mata darah di depan Gwang Nam.

Bisakah kamu menutup mulutnya?

Bisakah kamu diam?

Bu Ji, jika menjadi kamu, aku pasti akan frustrasi.

Dia pergi membawa Berkat, jadi, kamu pasti sangat rindu.

Betapa menyedihkannya itu.

Sungguh, aku sangat merindukan Berkat.

Aku berusaha keras membesarkannya tanpa ibunya.

Ada apa dengannya?

Bu Ji.

Tolong lihat ini.

Cucumu baik-baik saja.

- Manis sekali. Ini dia. - Berkat.

Berkatku.

Kamu membesarkannya sendiri. Kamu pasti sangat merindukannya.

Astaga, Berkat sayang.

Astaga, ini enak sekali.

Dasar bodoh.

Apa? Ini salah.

Astaga, rasanya enak sekali.

Astaga.

Bibi kasihan saat dia menangis memanggil nama Berkat.

Bibi berhasil mengusirnya, tapi kita harus bagaimana sekarang?

Mereka tidak boleh mendaftarkan pernikahan sebelum punya anak,

tapi mereka bergeming.

Ki Jin bahkan mengerjakan menu baru seperti kata Gwang Tae.

Aku tidak bisa menemukan kesalahan mereka.

Aku harus bagaimana?

Beri tahu aku.

Pimpinan, ayahku ingin tahu apa akhir pekan ini...

Maksudku, besok.

Ayahku ingin bertemu denganmu, entah soal pernikahan atau bukan.

Aku sudah memesan tempat.

Ini restoran Tiongkok di persimpangan. Ini kartunya.

Gwang Tae.

Pikirkan lagi saja. Haruskah kamu menikahi Ki Jin?

Ya.

Beberapa orang bahkan pingsan saat tiba di sini.

Tapi kamu merasa seperti di rumah.

Bagaimana kamu tahu?

Tidak ada yang berhasil denganmu.

Kamu boleh pergi.

Sampai jumpa besok.

Pastikan berdandan rapi. Jangan tampak seperti pria dengan riwayat.

Beraninya...

Dia membuatku muak.

Kurir ceroboh di restoran jjimdak itu?

Ada apa dengannya? Apa dia membuat masalah?

Tidak. Sebenarnya,

dia adik pimpinan.

Astaga. Apa dia adik Pimpinan?

Bibi tidak tahu.

Bibi kira dia selalu bermain-main.

Ternyata ada seseorang yang bisa dia andalkan.

Aku akan menikahi pria ceroboh itu.

Apa? Kamu bilang dia dari keluarga dokter.

Aku berbohong karena Ayah.

Dia tidak akan mengizinkan pernikahanku

jika aku memberitahunya bahwa mereka adalah rentenir.

Tapi mereka kaya raya.

Kamu sangat beruntung.

Andai bibi seberuntung kamu.

Bibi harus merahasiakannya.

Tanpa mendapat apa pun?

Akan kuberikan bagian Bibi saat aku menikah, ya?

Hei, kamu harus memberi bibi salah satu restoran mereka.

Hei, Kak Bong Ja.

Sekarang? Baiklah.

Permisi. Kamu kenal pria berusia 50-an

yang dahulu mengelola Swalayan Harapan di Paju?

Mungkinkah kamu mengenalnya?

Entahlah.

Ini sulit karena kita tidak tahu namanya.

Kita harus pergi ke penampungan tunawisma.

"Kartu identifikasi tunawisma"

Kamu tidak tahu deskripsi atau namanya?

Kamu tidak bisa menemukannya hanya dengan usianya.

Mustahil kamu bisa menemukan pria yang kamu kenal 41 tahun lalu.

Bagaimana dengan yang kuminta?

Kirimkan aku uang.

Dan bantu aku mencari pekerjaan di sana.

Aku punya masalah di sini.

Aku harus segera pergi ke Tiongkok.

Aku akan meneleponmu kembali.

Siapa itu?

Ini aku. Gong Chae.

Bagaimana perasaanmu?

Aku hampir mati.

Aku membelikanmu makanan.

Makan ini dan sembuhlah.

Apa masalahnya?

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left