The first 200 lines.
Selamat Menonton...Enjoy!! "Public Property in Public Domain!" Semoga bermanfaat!! Thanks!!! EmirTEF. :)
"THIS BOY’S LIFE" ~ 1993 Warner Bros. Pictures ~ Durasi 01:54:42
Xavior Thank you very much! I’ve used your very good English subtitle to translate into Indonesian!
Please, Enjoy ~ Good Luck! :) • Bila berkenan, silakan vote dan rate sesuai penilaian Anda •
HARAP MAKLUM, SUBTITLE SEADANYA! :) •• Bila berkenan, silakan "rate" sesuai penilaian Anda •• ~• EmirTEF ~ Bojonggede, BOGOR ~ 28 Mei 2018 •~
~• Ondertitels : Xavior •~ ~•• Vertaler (Engels ~ Indonesisch): EmirTEF ••~ Gepresenteerd voor mijn lieve kleinzoon: GibranAS
"THIS BOY’S LIFE" ~ 1993 ~ Warner Bros. Pictures ~ Durasi 01:54:42
"THIS BOY’S LIFE" ~ 1993 ~•• Suatu Kisah Nyata ••~ Warner Bros. Pictures ~ Durasi 01:54:42
Saat itu tahun 1957 dan kami naik mobil dari Florida ke Utah.
Setelah Ibuku dipukuli oleh pacarnya...
...kami mengarahkannya ke ladang uranium.
Kami akan mengubah keberuntungan kami...
...yang belum begitu baik sejak keluarga kami pecah lima tahun yang lalu.
Kuamati dengan mata kecilku sesuatu yang dimulai dengan huruf C .
- Kaktus. Kaktus. - Bukan.
- Bukan? - Ini di atas.
- Atas. Di atas... - Awan. Awan.
Baiklah, sekarang giliran Ibu.
Aku terjebak dalam kebebasan Ibuku, kegembiraannya dalam kebebasannya.
Dia akan menjadi kaya berkat uranium dan aku akan membantunya.
Film "THIS BOY’S LIFE" (1993) yang bergenre Biography, Drama dan disutradarai oleh Michael Caton-Jones ini menceritakan seorang anak (Toby, diperankan…
…oleh Leonardo DiCaprio) dan Ibunya Caroline (Ellen Barkin) pada tahun 1957 di Timur melarikan diri dari pacarnya yang kasar guna menemukan kehidupan baru.
Sampai di Seattle mereka bertemu Dwight (Robert De Niro), seorang montir bengkel yang sopan. Toby terus-menerus mendapat masalah dalam pergaulan dengan orang…
…yang salah. Sang Ibu menikahi montir itu, tetapi mereka segera mengetahui bahwa dia seorang pecandu alkohol yang kasar. Mereka berjuang memupuk harapan…
…dalam situasi yang mustahil ketika anak itu berencana melarikan diri dari kota kecil itu dengan segala cara. ~• Berdasarkan kisah nyata Tobias Wolff •~
- Bagaimana cara kerja benda ini? - Wah, kupikir ini seperti...
Itu mengeluarkan cahaya hitam yang menyebabkan jejak uranium jadi bersinar.
Kita bisa menyusuri jalan dan menemukan uranium?
Wah, itu ada di mana-mana di Moab, kata mereka.
Kita sangat terlambat di Moab.
Orang itu mengatakan tidak ada yang menemukan uranium di Salt Lake City.
Berarti kita akan memiliki tempat itu untuk kita sendiri, yaa?
- Ya. - Ini bisa jadi terobosan besar bagi kita.
Jika ini berhasil, pikirkan saja.
Kita bisa dapatkan rumah sungguhan dan bisa kita singkirkan Nash sialan ini.
Kita tidak akan khawatir lagi soal uang.
Ini akan seperti surga pada perayaan "June Day".
Surga pada "June Day".
Sialan.
Jika aku punya satu keinginan sekarang, kau tahu apa itu?
Aku ingin membakar Nash sialan ini sampai garing.
Aku serius. Aku membencinya.
Aku benci orang yang menciptakannya. Aku benci pabrik yang membuatnya.
Hampir membuatku ingin menjumpai Roy.
Dia adalah satu-satunya orang yang dapat membuat mesinnya tidak terlalu panas.
Astaga, dia membosankan. Membosankan dan jahat.
Ibu benar-benar punya selera payah soal pacar.
Ayo, ayo kita pergi menggapai kekayaan di Salt Lake.
Tunggu sebentar. Kau membohongiku, benar?
Tidak. Kami datang ke sini mencari uranium.
Jika kau mencari uranium, mengapa kau tidak pergi ke Moab?
Kami sudah pergi ke sana, tapi semua orang mengacaukan kami.
Jadi kau datang ke sini hanya pada kesempatan akan kau temukan uranium?
Ya.
Apakah kau keberatan kukatakan sesuatu yang mungkin terdengar kasar?
Nyonya, kau punya lebih banyak keberanian daripada akal sehatmu.
- Jadi, apa yang dikatakan orang itu? - Jangan tanya.
Ibuku punya cara sendiri memecahkan masalah. Dia tinggalkan mereka.
Itulah yang dilakukannya pada Nash, hanya meninggalkannya saja.
Semua hal mulai bertambah baik. Dapatkah kau merasakannya?
- Ya. - Aku bisa merasakannya.
Saat-saat indah akan datang.
Ibuku punya harapan tinggi, terutama terhadapku.
Aku sudah membuatnya berduka tanpa akhir sejak dia tinggalkan Ayah.
Kuputuskan akan berbuat lebih baik. Aku akan memiliki teman yang baik.
Akan kudapatkan semua nilai A di sekolah dan menghindari masalah.
Aku berjanji dan bersungguh-sungguh.
Kami berikan anak-anak baru prasangka baik.
Ini yang kedua kalinya kau menemuiku.
Kupikir sebaiknya kau telepon Ibumu, katakan kepadanya agar datang ke sini.
Dia bekerja.
Dia sedang bekerja.
- Bukan aku yang berbuat salah. - Kumohon.
- Percaya pada mereka, bukannya aku. - Jika kau peduli padaku, diamlah.
Jika kau peduli sesuatu tentang aku, Ibu tidak akan berpisah dengan Ayah.
Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu.
Aku tahu itu tidak benar.
Ayahku telah berbuat sekehendaknya sendiri sebelum mereka berpisah…
...dan membawa abangku, Gregory, bersamanya.
Terkadang harus kusalahkan seseorang, dan hanya Ibu yang ada di sana.
- Pukul berapa sekarang? - Hampir pukul 7.
Mengapa tidak kau bangunkan aku?
Aku siapkan makan malam. Kentang sudah digoreng dan kupanaskan hot dog.
- Maafkan aku. - Aku mengerti kau.
Aku tahu Ayahmu tidak menelepon dan abangmu tidak menulis surat...
- ...tapi kau tahu itu bukan kesalahanku. - Aku tahu.
Baiklah.
Halo?
Halo, Roy.
Sebuah Winchester! Terima kasih.
Kutemukan kamar untukku. Tapi ini jelas buruk dan di luar kota.
Dan kupikir kudapatkan pekerjaan melakukan tune-up di bengkel Texaco.
Jadi bagaimana kau suka di Winstead?
- Bagaimana kau tahu tempatku bekerja, Roy? - Aku sudah di sini hampir seminggu.
Dan kau telah mengikutiku di sini selama seminggu?
Bagaimana kau temukan aku?
Kau suka senapan itu, Toby?
Ini hadiah terbaik untukku. Aku menyukainya. Aku akan pergi pura-pura sedang menembak.
Jangan arahkan ke siapa pun atau tidak akan kuajarkan kau menembak.
- Ini tidak ada pelurunya. - Kau dengar aku. Apa pun atau siapa pun.
- Tidak ada pelurunya. - Jangan buat kukatakan itu lagi.
Baiklah. Hanya akan kuarahkan ke langit kalau begitu.
Jangan.
Roy, jangan!
Jangan, Roy. Toby masih belum tidur.
Kau adalah sesuatu yang manis, Sayang.
Hanya memandangmu saja telah membuat anuku keras.
Jangan, Roy.
Jangan sekarang.
Dia tidak akan mendengar apa pun!
Dengar, aku...
Maaf, Sayang. Maafkan aku.
Ayolah, kau tahu aku tidak bermaksud begitu.
Aku hanya senang bertemu denganmu.
Hampir setiap sore, aku akan berkeliaran seperti kesurupan.
Terkadang aku pergi ke pusat kota, melihat-lihat barang dagangan.
Mungkin aku harus mengutil. Mungkin tidak.
Aku biasa bayangkan melihat Ayahku datang ke arahku.
Akan kutunggu dia mengenaliku.
Aku tahu itu bukan dia. Dia tinggal kembali ke Timur, menikah dengan perempuan kaya.
Nama panggilannya Duke dan begitulah kubayangkan Ayah…
...sebagai seorang duke yang tinggal di sebuah kastil nan jauh.
Beberapa menit kemudian, aku akan memilih orang lain.
- Aku pulang. - Halo, Sayang.
- Kita akan pergi ke suatu tempat? - Kita pastikan.
- Ke mana? - Aku tidak tahu. Ada usul?
- Phoenix. - Bagus. Aku sedang memikirkan Phoenix.
Atau Seattle. Banyak kesempatan di kedua tempat itu.
Bagaimana dengan pacarmu yang hebat? Roy yang hebat dan membosankan.
- Apakah dia ikut juga? - Astaga, kuharap tidak.
Aku melihat keluar jendela di tempat kerja hari ini, dia di seberang jalan mengawasi.
- Sangat tidak keren. - Kau tidak berpikir seperti itu semalam.
"Aku suka senapan baruku, Roy! Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima."
Diam.
Ke sana.
Sekarang? Kita pergi sekarang?
- Bagaimana dengan makanannya? - Tinggalkan.
- Bahkan makanan kalengnya? - Kau mau ikut atau tidak?
Tanyakan kapan bis berikutnya ke Phoenix.
- Kapan bus berikutnya ke Phoenix? - Besok pagi. Pukul 11.45.
- Bagaimana dengan Seattle? - Ya, kalau ke Seattle?
Berangkat dalam tiga... Tidak, dalam dua menit.
- Apakah ini bis ke Seattle? - Ya, benar.
- Cepat. Ayo. - Seattle, ini kami!
Aku selalu dapat membayangkan.
Jika aku mendapat lisensi CPA, aku yakin kami bisa sungguhan pergi di Seattle.
Aku tahu apa. Akan kupasang iklan mencari teman sekamar.
- Hei, Ter. - Hei, Jack.
Apa yang Ibumu katakan kalau bolos sekolah?
Siapa yang dengarkan?
Apakah kau ke rumah Wanda semalam?
Kau bercinta?
Enak?
Seberapa enaknya?
Sampai hidungnya berdarah.
Tentu saja kau.
Hei, Jack. Terry.
Oh, lihat! Itu Elvis, Elvis, dan Elvis.
Apakah wajahmu sakit? Karena itu membuatku emosi.
Perak.
- Ada seseorang di sini? - Tolong! Tolong!
Tolong! Aku di sini!
Wah. Lois, Sayang, kemarilah. Aku punya enam inci yang menunggumu.
- Ya, kau kepingin. - Oh, Lois. Aku sangat menginginkanmu!
Ayolah, kau membuat anuku keras, Sayang!
Ayolah, Sayang. Akan kulakukan lebih baik daripada Superman. Berikan aku kesempatan.
Bagaimana kau temukan aku, Superman?
Oh, Lois. Ayah akan membuatmu bahagia. Ikat tali itu di sekelilingku.
Kau bahkan tidak bisa membangunkannya, Silver.
Kami harus bicara kotor sebentar. Itu formalitas…
...seperti menyalib dirimu dengan air suci ketika kau masuk ke gereja.
Setelah itu, kami diam dan menonton pertunjukannya.
Kami melunak. Kami menyerah. Kami menonton Superman bertualang…
...dengan jalan cerita norak dan kami tidak tertawa pada mereka.
- Tampak lebih baik dengan busur di belakang. - Dia akan menyukainya.
Kau bilang dia sudah serius?
Kupikir demikian. Dia terus bicara denganku tentang pernikahan.
- Dia ingin sekali bertemu dengan Toby. - Tiga kali kencan. Kau mengerti dia.
- Aku tidak yakin menginginkan dia. - Tidak menginginkan siapa?
Ini laki-laki tangguh yang tidak bisa diganggu pergi ke sekolah.
Tidak inginkan siapa?
Dwight. Ingat? Aku sudah ceritakan tentang dia.
Tolong, gunakan gelas.
Dia laki-laki yang datang dari daerah terpencil itu? Montir itu?
Dwight. Sungguh nama yang bodoh.
Dwight.
- Caroline. - Halo?
Halo.
- Pintunya terbuka. - Bersikap sopanlah.
Terima kasih.
Kuperkenalkan kau kepada semuanya. Akan kusimpan topimu.
- Ini Marian. - Marian.
- Dan Kathy. - Kathy.
Dan ini anak laki-lakiku.
- Jadi kau Toby? - Bukan.
- Kau bukan Toby? - Bukan.
Dia ingin dipanggil Jack. Konyol, tapi dia membaca buku-buku Jack London.
Akan kupanggil dia sekehendaknya. Orang juga boleh memanggilku apa saja...
...selama mereka tidak memanggilku larut malam untuk makan malam .
- Secangkir kopi sebelum kita pergi? - Aku bisa bertahan dengan secangkir jawa.
No comments yet. Be the first to leave one.