The first 200 lines.
"Episode 33"
Ayah,
kudengar ibu kandungku masih hidup.
Kenapa Ayah bilang dia sudah meninggal?
Bagaimana...
Dan Dan, apa maksudmu?
Ibumu sudah meninggal.
Siapa bilang dia masih hidup?
Aku bertemu dengan tetangga lama kita.
Dia memberitahuku.
Dia bilang ibu kandungku datang menemuiku saat usiaku lima tahun.
Dia melihatnya!
Apa?
Teganya Ayah melakukan ini kepadaku.
Ayah bukan hanya mengkhianati Ibu dengan berselingkuh darinya,
tapi Ayah juga mencegahku menemuinya.
Dan Dan, dengarkan ayah sebentar.
Lupakan saja.
Katakan saja dia masih hidup atau tidak.
Dia benar-benar masih hidup?
Benarkah?
Tentu saja tidak!
Wanita itu salah.
Ibumu sudah meninggal.
Anggap saja dia sudah mati.
Apa?
Anggap saja dia sudah mati?
Bagaimana
bisa kuanggap dia sudah mati jika dia masih hidup?
Ayah.
Bagaimana bisa Ayah memisahkan kami seperti ini?
Apa Ayah begitu membencinya?
Benar. Ayah benci dia! Jadi, anggap saja dia sudah mati.
Sebenarnya, tidak.
Dia sudah mati bagi ayah!
Aku tidak peduli betapa Ayah membencinya.
Bagaimana bisa Ayah bilang dia sudah meninggal padahal belum?
Aku tidak akan pernah memaafkan Ayah.
Tidak akan.
Aku tidak akan pernah menemui Ayah lagi.
Aku muak menjadi putri Ayah!
Dan Dan, tunggu!
Kamu tidak boleh seperti ini kepada ayahmu.
Apa yang terjadi?
Bagaimana tetangga lama kita bisa bertemu dengan Dan Dan?
Sayang, ada apa lagi sekarang?
Haruskah aku menemuinya dan mengatakan yang sebenarnya?
Diam saja.
Aku perlu bicara dengan tetangga lama kita.
Hanya dia yang bisa memberitahuku apa yang terjadi pada ibuku.
Namun, dia pergi ke mana?
Dan Dan.
Dan Dan?
Dan Dan!
Wanita yang tinggal di sini 15 tahun lalu?
Ya, dia.
Kamu punya informasi kontaknya?
Entahlah.
Saat aku pindah kemari enam tahun lalu,
seorang wanita tua pindah. Mungkinkah dia?
Tidak, dia tidak akan setua itu.
Kalau begitu, aku tidak tahu.
Kalau begitu,
boleh aku minta informasi kontak wanita tua yang kamu sebutkan?
Hanya...
Aku harus menemui wanita yang dahulu tinggal di sini.
Ini melibatkan ibuku yang lama hilang.
Baiklah.
Aku akan mencari tahu dan mengabarimu.
Tolong jangan terlalu khawatir.
Astaga, terima kasih banyak.
Tolong kabari aku.
Tentu saja.
Terima kasih.
Mungkin aku juga harus meminta nomor teleponnya.
Apa lagi sekarang?
Di mana aku bisa menemukan ibuku?
Astaga. Pak Park!
Ada apa kamu kemari?
Selamat malam.
Halo.
Sebenarnya, ini karena aku tidak bisa menghubungi Dan Dan.
Apa dia di dalam?
Tidak, dia belum pulang.
Belum?
Ya, dia bilang ada urusan
dan meninggalkanku mengurus anak-anak.
Aku penasaran apa yang terjadi.
Apa dia dalam masalah?
Tentu saja tidak.
Omong-omong...
Maaf aku bertanya,
tapi bisa minta dia meneleponku saat dia kembali?
Kumohon.
Tentu.
- Kalau begitu, aku permisi. - Baik.
Pak Lee, Anda sudah pulang.
Ya.
Bukankah tadi itu Pak Park?
Ya, Pak. Itu Pak Park.
Nona Park pergi untuk mengurus urusan mendesak,
tapi ayahnya datang karena tidak bisa menghubunginya.
Pasti terjadi sesuatu.
Kelihatannya serius, dilihat dari raut wajahnya.
Benarkah?
Benar. Ayah benci dia! Jadi, anggap saja dia sudah mati.
Sebenarnya, tidak.
Dia sudah mati bagi ayah!
Kenapa Ayah sangat membencinya?
Itu tetap tidak memberinya hak untuk mengatakan bahwa dia sudah mati
padahal belum.
Aku akan menemukannya dengan cara apa pun.
Apa pun yang terjadi.
Astaga. Kenapa kamu tidak menjawab telepon ayahmu?
Kamu tahu betapa cemasnya dia?
Astaga.
Tanganmu dingin sekali.
Kamu pasti panik berkeliaran di jalanan.
Di mana Ayah? Ada yang ingin kukatakan.
- Tentu. - Sayang, Dan Dan datang!
Astaga.
Dan Dan.
Dari mana saja kamu?
Ayah, ada yang ingin kukatakan.
Tentu saja. Kalau begitu, duduklah.
Jika ada yang ingin kamu katakan, katakanlah.
Duduklah.
Ibu, Ayah, aku berterima kasih atas semua yang kalian lakukan
untuk memberiku kehidupan yang baik.
Di samping itu, kalian saling mencintai.
Serta mereka yang jatuh cinta harus menjadi keluarga, bukan?
Aku sangat memahami kalian berdua.
Maaf karena aku marah soal perselingkuhan kalian
dan bagaimana itu membuat Ayah meninggalkan ibu kandungku.
Seharusnya aku menjaga ucapanku.
Aku minta maaf untuk itu.
Bagaimanapun,
aku berjanji
tidak akan pernah mengkritik Ayah atas hal itu lagi.
Sebagai balasannya,
setidaknya beri tahu aku nama ibu kandungku.
Aku ingin mencarinya,
jadi, tolong katakan kepadaku.
Apa?
Ayah.
Ceritakan semua yang Ayah tahu tentang ibu kandungku.
Berapa usianya?
Di mana dia tumbuh?
Dia bersekolah di mana?
Jika Ayah tidak tahu nomor KTP-nya,
setidaknya beri tahu aku berapa usianya.
Aku tidak akan membenci Ayah lagi.
Aku akan berterima kasih atas perbuatan Ayah selama sisa hidupku.
Wanita yang dahulu tinggal di sebelah kita memberitahuku
bahwa ibuku pergi ke Amerika.
Benarkah dia ada di Amerika?
Ayah tahu dia di Amerika bagian mana?
Dan Dan, kenapa kamu bersikap seperti ini?
Ibu. Nenek.
Tolong katakan apa saja.
Dan Dan, ibumu sudah meninggal.
Wanita itu salah.
Dia salah.
Tetangga sebelah memberitahuku
bahwa ibuku
datang menemuiku saat usiaku lima tahun.
Kenapa Ayah berbohong kepadaku?
Dia sudah mati.
Kenapa kamu memercayai orang asing, alih-alih ayahmu sendiri?
Dia sudah mati!
Baiklah. Ya.
Aku mengerti.
Setidaknya beri tahu aku nama ibuku.
Setidaknya beri tahu aku berapa usianya.
Aku tidak tahu apa pun tentangnya. Aku sudah melupakannya.
Ayah.
Kenapa Ayah bersikap seperti ini?
Ayah bilang dia sudah mati,
tapi kenapa Ayah bahkan tidak memberitahuku namanya?
Apa dia penjahat?
Apa dia di penjara?
Ayah.
Meskipun dia dipenjara,
aku ingin melihat wajahnya.
Setidaknya aku ingin melihat bayangannya.
Jadi, Ayah, kumohon.
Dia sudah mati.
Ayah tidak mau
membicarakannya lagi.
Ayah tidak akan memberitahuku meski aku memutuskan hubungan dengan Ayah?
Jika Ayah tidak memberitahuku tentang ibuku,
aku akan memutuskan hubungan dengan Ayah.
Apa?
Ayah masih tidak mau memberitahuku?
Baiklah. Berbuatlah sesukamu.
Meskipun aku harus putus hubungan, ayah tidak akan pernah bilang!
Baiklah. Aku tidak keberatan!
Aku bukan putri Ayah lagi!
Astaga. Apa yang terjadi?
Aku tidak bisa memaafkannya. Aku tidak akan pernah memaafkannya.
No comments yet. Be the first to leave one.