Release info

No Dogs or Italians Allowed 2022 WEBDL
A Commentary by MonoProbe

Tags

webdl
web
WEBDL
Published on: 2024-01-19
Downloads: 34
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Ayahku seorang buruh migran.

Setiap empat tahun sekali, dia ditugaskan ke lokasi kerja baru.

Kami harus pindah setiap dia pindah.

Aku benci setiap kami pindah.

Sesampainya kami di kota asing,

aku mengunci diri di kamar sebagai bentuk protes.

Satu-satunya temanku,

hanyalah tanah liat, lem, gunting, dan pensil.

Kau mau jadi apa nanti?

Aku ingin bekerja pakai tangan. Mungkin masuk sekolah seni.

Seni bukan untuk kita.

Carilah pekerjaan di kantor pos dan melukislah di hari Minggu.

Kau harus bekerja dengan kepala, bukan tanganmu.

Saat aku masih kecil, tangan ayahku membuatku kagum.

Dia bisa memahat lapisan keju

menjadi rubah, burung, atau kupu-kupu.

Kini, aku merasakan keajaiban bentuk-bentuk ini di tanganku,

sambil bercerita.

Kisah dari tempat yang sangat jauh.

Ayahku sering berkata bahwa di Italia

ada sebuah desa bernama Ughettera.

Nama semua orang di sana sama dengan nama kami.

Ughettera, daerah asal marga Ughetto.

Semuanya bermula di sini, di balik kaki gunung Gunung Viso.

Kakek dan nenekku tinggal di rumah seperti ini.

Kini, atap rumah mereka sudah runtuh.

Pepohonan tumbuh subur di tempat mereka dulu membuat arang.

Apa yang terjadi?

Aku berharap bisa mengenal sosok kakekku, Luigi.

Sementara nenekku, Cesira, adalah sosok yang akrab.

Aku ingat seorang wanita berbusana hitam yang aku panggil Nenek.

Melihat rumah lamanya,

aku sadar bahwa sebelum menjadi seorang nenek,

nenekku adalah Cesira,

perempuan muda dan cantik.

Cesira adalah sosok yang didambakan dan dicintai.

Syal ini sangat cantik!

Di Ughettera,

orang bilang wanita Piedmont mengenakan celemek dan rok ini untuk bekerja.

Kau pergi ke Ughettera?

Sudah tak ada yang tersisa di sana.

Aku membawakan semua yang kutemukan.

Tentunya, kau ingin tanah, 'kan?

Ah, tanah adalah segalanya.

Tanah menghidupi kami.

Kami begitu lapar akan tanah,

sampai rela berkorban banyak untuk membeli sebidang tanah.

Di Ughettera, lahannya tidak banyak.

Ladang yang terjal di mana-mana.

Lalu Luigi? Dia seperti apa?

Ah, Luigi...

Dia pria yang tampan.

Tegar.

Kuat.

Tangannya begitu indah.

Pada masa itu, rakyat jelata tidak lusuh.

Mereka tidak mengemis.

Mereka puas hidup sederhana.

Antonio, ayo!

Bangun!

Giuseppe!

Luigi adalah anak kedua dari 11 bersaudara.

Ayah, bangun!

Ayo, Ibu juga!

Sebelas bersaudara?

Selalu ada anak kecil berkeliaran.

Ini tanah yang bagus, kau bisa memakannya.

Kaki anak-anak lecet bekas memanjat pohon untuk mencari sarang.

Itu satu-satunya cara untuk menyantap secuil daging.

Di rumah, untuk menyambut orang-orang yang kami cintai,

kami menyeduh kopi.

Kopimu pekat sekali!

Tanganmu mirip seperti Luigi.

Hebat, Luigi!

Dia jago!

Lalu, apa yang kau makan?

Di Ughettera,

mereka makan seadanya.

Ibu membuat polenta dengan susu,

ayah menyuruh mereka memakannya dengan garpu,

agar susunya tumpah ke bawah.

Namun, itu semua sudah berlalu.

Kenapa kau ingin tahu?

Aku ingin pergi ke Italia bersama ayahku,

untuk mendengar tentang Ughettera, kehidupanmu, semua kisahnya.

Silakan bertanya.

Apa anak-anak tidak bersekolah?

Sekolah dimulai setelah bekerja di ladang, setelah bekerja musiman.

Aku harus menyapu.

Tenang, anak-anak.

Luigi juga tidak sekolah?

Antonio, dasar bodoh!

Kadang-kadang.

Dia bisa menulis sedikit, untuk dokumen resmi.

Dia semangat belajar.

Aku mengajarinya beberapa kosakata bahasa Prancis.

Apa mereka membangun rumah?

Kita akan membuat rumah yang bagus, besar, dan kokoh!

Setuju!

Di rumah, kami semua tinggal di satu ruangan.

Kami tidur di lumbung sepanjang tahun.

Ya, di sini orang dilahirkan, hidup dan mati di lumbung.

Apakah walikota atau pendeta tidak berusaha membantu?

Ah, Sang Pendeta…

Orang-orang memberi pendeta hasil panen mereka agar disukainya.

Tak ada pendeta yang meninggal karena kelaparan di Ughettera, sungguh.

Putar engkol di bawah meja.

Kenyataannya, para pendeta memerintah desa-desa kami.

Jika dia tidak memberkati rumahmu, kau dianggap orang yang tak bertuhan.

Jika kau seorang wanita, dia akan bilang kau seorang penyihir, une masca.

Rakyat pun mempercayainya.

Mereka takut pada masca.

Penduduk desa mengucilkan para wanita tua yang malang itu.

Nasib mereka sangat menyedihkan.

Seorang masca disalahkan atas setiap musibah: badai, hujan es,

gagal panen, penyakit, dan kecelakaan,

kematian anak-anak. Itu semua akibat masca.

Sang pendeta membiarkan rakyat bergosip. Tentu saja! Dia mendukung takhayul.

Apa yang kau temukan, Giuseppe?

Lihat!

Sebuah mandolin.

Menarilah! Menari, menari!

Kemarilah! Lihat ini!

Menarilah!

Ayo, menari!

Menari!

- Apa ini sapi sungguhan? - Tidak, ini bukan sapi.

Sapinya cantik dan gemuk!

Sapi yang tidak menghasilkan susu!

Kau temukan di mana, Luigi?

Di dalam kotak.

Sapi, berikan kami susu.

Tapi hanya mainan.

Semoga Tuhan menyertaimu.

Dan juga rohmu.

Kita tidak sanggup bertahan di musim dingin.

Kita akan kelaparan, kita hanya punya kacang kastanya.

Kita harus pergi sebelum salju menghalangi jalan.

Bersiap-siaplah!

Persediaan makanan tidak cukup dan musim dingin akan datang.

-Kirimkan mereka kentang. -Satu saja.

Ini untuk mereka.

- Bagaimana kalau satu lagi? - Tidak.

Lihat, perut mereka sudah membesar!

Suatu hari, seorang pria muda

menemukan sepanci penuh kentang rebus.

Kemudian dia makan dan makan…

Dia berhalusinasi.

Perutnya membengkak.

Temannya memperingatkan dia, "Hati-hati! Kau akan mati."

Lalu dia terdiam dengan kentang di mulutnya, dia mati.

Perut kami semua tipis dan rapuh.

Di rumah tak ada pekerjaan.

Setiap musim dingin sebelum turun salju, separuh warga pergi ke Prancis.

Penyapu cerobong asap, tukang lap, penjual korek api, tukang sepatu…

Orang Italia mau bekerja yang sulit.

Coba dengar apa yang dikatakan di surat kabar Prancis ini.

"Yang menjadi ciri khas buruh Italia adalah fleksibilitasnya."

"Kita bisa menyuruhnya mengerjakan apa pun"

"Para buruh ini tidak memiliki harga diri."

"Tahan banting."

"Disuruh bekerja saat bel berbunyi, mereka patuh, kepala tertunduk."

Malam yang sangat indah!

Aku masih sedikit lapar.

Adakah di antara kalian yang mau bekerja?

Ya.

Apa kau tidur larut malam?

Tidak.

Kau merokok?

Tidak.

Kau punya berkas?

Ya.

Kau punya sekop dan cangkul?

Ya.

Bersiaplah sedini mungkin besok pagi.

Tidak mungkin! Bagaimana dengan anak-anak?

Anak-anak pergi ke Barcelonnette, di Basses-Alpes.

Untuk pasar anak mingguan.

Biasanya ada 300 hingga 400 anak laki-laki dan perempuan, berusia 10 atau 12 tahun.

Pada pukul 10 pagi, pasar sudah sepi.

Semua anak-anak sudah disewa.

Sungguh mengenaskan!

Benar.

Tapi begitulah adanya.

Luigi tidak setuju, tapi semua orang melakukannya.

Rasakan itu, dasar monster!

Antonio! Dasar bodoh.

Sampai jumpa.

Jaga diri kalian.

Sampai jumpa.

Sampai jumpa, Luigi!

Selamat tinggal, anak-anak!

Ke mana saja mereka pergi?

Di mana pun ada pekerjaan. Swiss, Prancis.

Bagaikan tak ada gunung di antara mereka.

Mereka menggali terowongan di bawah Gunung Viso,

"Buco di Viso."

Luigi ada di sana.

Lihatlah di kotak di belakang.

Kau menemukannya?

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left