The first 200 lines.
Halo kelas inilah aku.
Aku adalah anak yang terkenal.
Aku adalah pemimpin geng sekolahku.
Tidak ada yang bisa menghentikan aku.
Semuanya harus tunduk padaku.
Tidak ada pengecualian.
Tidak perduli apa yang menghalangiku.
Pada akhirnya semuanya akan aku miliki.
Kita tidak boleh takut.
Kami tidak pernah takut.
Benar.
Hei kalian.
Apa yang kalian inginkan?
Bilang lagi padanya.
Sepertinya dia tidak mengerti.
lakukan saja.
Kami ingin kau tunduk pada kami.
Dalam mimpimu.
Apa?
Sepertinya kita harus memberikan mereka pelajaran.
- Ayo kita hajar mereka. - Serang!
Hei!
Kenapa mereka tidak kemari?
Hei! Cepat kesini.
Mereka banyak sekali.
Jangan takut.
Serang!
Tunggu dulu!
Mundurlah.
Tampakanya mereka takut.
lalu ada satu orang yang muncul.
Sepertinya dia berani.
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Serang!
Apa yang kalian lakukan?
Apa kalian tahu semua ini merusak nama sekolah?
Siapa yang memimpin geng ini?
Apa yang akan kau lakukan?
Apa yang akan aku lakukan?
Jadi kau merasa semua yang kau lakukan ini tidak salah?
Kau yang di belakang.
Kami hanya membalas mereka.
Membalas mereka?
Itu bukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan.
Apa kau tidak tahu itu?
Sebaiknya kau dikeluarkan saja.
Aku sudah tidak sanggup menghadapi hal ini.
Satu peringatan lagi..
Atau kalian semua akan dikeluarkan.
Jadi sebaiknya kalian menjaga perilaku.
Apa kalian mengerti?
Kami mengerti.
Salam.
Kalian telah mendengar perkataan kepala sekolah.
- Guru? - Apa?
Sebaiknya kau jangan jauh-jauh darinya.
Hei! Beraninya kau bicara seperti itu.
Apa kau mau dikeluarkan?
Kenapa kalian semua tidak belajar dari kesalahan?
Aku sungguh tidak mengerti dengan kalian.
Kamu! Jangan macam-macam denganku.
Kenapa kalian suka berkelahi?
Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan?
Apa yang kalian tertawakan?
Tidak ada yang lucu, berhentilah tertawa.
Kalian akan menerima hukuman. Tidak ada yang lucu,
Kalian akan menerima hukuman.
Aku akan menghukum kalian semua.
Kalian seharusnya takut.
Jika seperti ini terus, kalian mau jadi apa di masa depan?
Petinju? Tukang pukul?
Bubar.
Anak kamu terlibat dalam perkelahian antar sekolah.
Sebaiknya dia diberi pelajaran di rumah.
- Aku mengerti. - Benarkah?
Dia harus diberi perhatian yang khusus.
Tidak hanya itu, dia harus dihukum agar tidak melakukan ini lagi.
Apa ibu mengerti betapa besar masalah ini?
Dengarkan, hal semacam ini tidak bisa dibiarkan.
Ada apa?
Sebaiknya kau meminta maaf.
Dia tidak akan melakukannya.
Seepertinya dia tidak menyesali perbuatannya.
Kami berdua sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan.
- Sebaiknya.. - Hei!
- Sebaiknya.. - Hei!
- Baiklah, kami akan terus memantau anakmu. - Kau banyak bicara!
Maafkan aku.
Aku terbawa suasana.
Nyonya.
Kami akan memikirkan hukuman yang pantas untuknya.
Untuk sementara ini tolong awasi anakmu.
Aku mengerti.
Kau akan ibu hukum.
Jangan menggunakan kekerasan dengan anak yang bandel.
Nyonya, sebaiknya kau menjaga dia dengan baik.
Aku tidak mau hal ini terulang lagi.
Benar, hal itu pasti akan terulang lagi.
Ibunya tidak bisa memberi contoh dengan baik.
- Hei. - Ada apa?
Apa kau lihat apa yang sekolah mereka lakukan?
Kita pasti menang jika semuanya ikut berkelahi.
Bagaimana menurutmu?
Diamlah.
Kenapa kau menjadi sok pintar?
Lihatlah, ada video Nick.
Aku mau lihat.
Kenapa dia membuat video ini?
Hei, lihatlah itu.
Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi.
Aku mengerti.
Apa yang dia lakukan disana?
Apakah kita akan ada dalam masalah?
Benar.
Sebaiknya kita harus berjaga-jaga.
Apa yang kau katakan?
Kenapa kau bersembunyi?
Bodoh. Pakailah otakmu.
Apa?
Ayo pergi.
Kalian mau kemana?
Tunggu aku!
Tidak cukup kau mempermalukan ibu.
Ibu tidak tahu bagaimana harus menghadapi kamu.
Ibu sudah lelah seperti ini terus.
Aku tidak salah.
Kenapa kau bisa bicara seperti itu?
Aku sudah sangat marah padamu. Kemarilah bawa minuman itu.
Cepat.
Kenapa ibu selalu minum jika ada masalah.
Karena ibu stres.
Kau anak kecil tidak tahu beban ibu.
- Terserahlah. - Hei.
Ada apa lagi? - Terserahlah.
Ada apa lagi?
Bagaimana ibu meminumnya?
Apa ibu tidak bisa ambil sendiri?
Dasar anak pemalas.
Kau selalu membantah apa yang ibu katakan.
Selalu membuat ibu pusing.
Dasar anak nakal.
Sebaiknya aku minum.
- Ini bagus sekali! - Benar.
Ini sungguh menyenangkan.
Aku mau kesana.
Hei!
Bagus sekali.
Ayo lebih cepat!
Ayo!
Ada polisi di depan.
Sekarang bagaimana?
Putar balik!
Siapa?
Kenapa kau selalu ingin tahu?
Urus masalahmu sendiri.
Pergilah.
Lihatlah mereka.
- Dasar aneh. - Kau pasti memikirkan yang aneh.
Oh lihatlah itu.
Dimana dia? Oh lihatlah itu.
Dimana dia?
Aku sudah lelah.
Kalian tidak masuk sekolah.
Sebentar lagi.
Hei, apa kabarmu?
Baik. Baik sekali.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Senang bertemu denganmu.
Halo.
Dia jelek sekali.
Aku yakin tidak ada yang mau dengannya.
Tapi mungkin kau mau.
Yang benar saja.
Aku tidak tahu harus berkata apa dengannya.
- Kalaun begitu jangan bicara. - Kau benarjuga.
Aku tidak mau melihatnya lagi.
Sebaiknya aku pergi dulu.
Berhati-hatilah.
Kenapa kau begitu centil?
Sifatku sudah begitu.
Apa kau iri?
Itu dia.
Kau beruntung.
Hei!
Hei!
Aku mencarimu kemana-mana.
Maaf aku ada sedikit urusan.
Tidak apa-apa.
Apa! Kau akan meninggalkan aku?
Hei, hei!
- lalu aku bagaimana? - Kau bisa pulang sendiri.
Tidak adil!
Hei!
Tunggu!
Kau akan aku balas.
Lihat saja nanti.
Berhenti.
Kejar itu.
Cepat.
No comments yet. Be the first to leave one.