The first 160 lines.
TERINSPIRASI DARI KISAH NYATA DAN LAGU GLENN FREDLY
Setahun lebih ibu tidak melihatmu.
Tiba-tiba sekarang muncul,
lalu kamu ingin meminjam sertifikat rumah.
Soal perceraianmu saja ibu tahu dari Bibi Widya.
Yang penting sekarang Ibu sudah tahu, 'kan?
Kamu pikir cerai sesederhana itu?
Bu, Laras sudah membuat keputusan.
Tidak sulit, 'kan? Kali ini saja ibu menghargai keputusanku.
Sesederhana soal pilihan kuliahmu,
sampai kamu mengambil keputusan keluar dari rumah,
dan berhenti menghubungi ibu.
Apa pernah keputusanmu tidak ibu hargai?
Ini soal perceraian.
- Ras... - Sejak kapan Ibu peduli?
Jika kamu perlu sertifikat rumah ibu,
setidaknya kamu perlu mendengarkan omongan ibu sampai selesai!
Begini saja, sekarang aku bertanya kepada Ibu.
Apa yang mau diharapkan dari pria yang meniduri perempuan lain
sementara istrinya sedang hamil dua bulan?
Sampai harus keguguran.
Aku tidak mau seperti ayah.
Lebih baik sakit sekarang dan sebentar daripada harus tersiksa seumur hidup.
Halo?
Oke, aku ke sana sekarang.
Bu...
Aku tidak pernah meminta apa pun, 'kan, dari Ibu?
Sekarang aku meminta bantuan.
Meminjam sertifikat rumah.
Sekarang aku harus turun, tapi nanti akan kembali lagi.
Ibu pikirkan saja dahulu.
Anggap saja ini kesempatan Ibu untuk merasa punya andil lagi dalam hidupku.
- Siang, Pak Erik. - Hai, Mbak Laras. Apa kabar?
Bagaimana kabar Ibu?
- Masih dirawat. - Begitu rupanya.
Seperti yang kusampaikan sebelumnya.
Masalah ini akan lebih mudah
seandainya sebelumnya ada perjanjian pranikah.
Jadi, aku harus ikut menanggung utang-utangnya dia?
Masalah utang bisa kita urus. Aku sudah membuat legal opinion.
Yang pasti, sekarang kita harus fokus kepada masalah peradilan dahulu.
Itu memang tugas Anda, kalau tidak, akan kukerjakan sendiri.
Pokoknya, aku ingin masalah ini cepat selesai.
Baiklah, kalau begitu.
Sekarang begini, kita lihat dahulu apa semuanya sudah lengkap.
Kalau tidak ada lagi, Mbak Laras boleh tanda tangani surat kuasanya.
Kapan ini bisa didaftarkan?
Setelah Mbak Laras penuhi invoice yang sudah kami kirimkan,
kami bisa segera melanjutkan ke proses berikutnya.
Mbok Dar, Ibu ke mana?
- Suster. - Ya?
Di mana pasien kamar 1352?
- Atas nama Nyonya Sulastri? - Ya.
Nyonya Sulastri baru saja dibawa ke ruang operasi.
Kalau boleh tahu, Mbak siapa?
Kamu sudah tak apa-apa, 'kan, Ras?
Uang untuk pengacara sudah ada?
Hmm?
Kakakku masih ingin membantu jika kamu masih membutuhkannya.
Nanti saja.
Kalau semuanya lancar,
seharusnya bulan depan sudah selesai.
Kau yakin?
- Sungguh? - Sebentar, ya.
Ya.
Baik.
- Ras. - Kenapa kamu di sini?
Jangan seperti itu, Laras.
Bagaimanapun, Ibu orang tuaku, dan aku ingin mengantarkannya ke makam.
Ya, tapi aku tak nyaman jika kau berada di sini.
Sebaiknya kau pulang.
Kamu tak mau menunggu sampai 40 hari?
Bukankah baru kemarin ibumu dimakamkan?
Kenapa sekarang kamu sudah meminta wasiatnya dibacakan?
Memangnya mau menunggu apa lagi, Bibi?
Aku anak ibu satu-satunya.
- Minumlah. - Terima kasih, Mi.
Baiklah.
Aku yang bertanda tangan di bawah ini,
Sulastri Kusumaningrum,
tempat tanggal lahir,
Jakarta, 20 Juni 1946.
Sebagai ibu kandung dengan sadar dan tanpa paksaan...
membuat pernyataan surat wasiat waris...
agar apabila aku telah tiada,
maka rumah yang kutempati sekarang,
berikut seluruh isinya,
diserahkan kepada satu-satunya anakku,
Kemala Dahayu Larasati.
Dengan syarat mutlak.
Dilakukankan setelah dirinya mengantarkan sebuah kotak
beserta surat yang tersimpan di dalam lemari...
ke alamat tertera yang dibuktikan dengan selembar surat tanda terima.
Jadi, aku harus mendapat tanda tangan orang itu dahulu,
baru bisa mendapat rumah ini?
Begitulah.
Tak ada cara lain, Bibi?
Bibi hanya notaris.
Bibi hanya membacakan apa yang tertulis.
Lagi pula, kekuatan hukumnya sudah jelas.
Tidak bisa dihindari.
Aku akan menjual rumah ini.
Jika Bibi punya teman yang mau,
nanti Bibi akan kuberi komisi.
Inti soalnya bukan itu.
Yang penting kau menjalani wasiat ibumu.
Lagi pula, semua biaya perjalanannya sudah ditanggung.
Ke Praha. Kau bisa sekalian berjalan-jalan.
Siapa tahu mendapat jodoh lagi.
Jalan.
Bravo, bravo!
Kalian menakjubkan.
Penampilan kalian malam nanti
pasti akan sukses.
Para penonton pasti akan terpukau.
- Terima kasih, Jaya. - Terima kasih, Jaya.
Hm.
Aduh!
Anjing.
Halo?
Halo?
Ah.
Hai!
Hai.
Mau makan siang?
Tidak.
Baiklah. Semoga harimu menyenangkan.
Kau juga.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Hei. Tunggu.
Duduk.
Bagong. Hei.
Bagong!
Pak Jaya?
Aku tidak bisa menerima ini.
Maksud Anda?
Aku tidak bisa menerima barang ini dan sebaiknya Anda pergi dari sini sekarang.
Aku tidak bisa pergi sebelum Anda tanda tangani surat ini.
Aku akan menelepon taksi.
Sebaiknya Anda pergi dari sini sekarang.
Aku tak mengenal Anda.
Dan aku pun tak mengerti alasan ibuku menjadikan ini syarat atas warisannya.
Yang jelas, aku hanya membutuhkan Anda menandatangani surat ini.
Yang jelas, aku tak bisa menerima barang-barang ini.
Ya, tapi apa alasannya?
Itu urusan Anda.
Kenapa jadi urusanku?
Aku jauh-jauh datang ke sini untuk tanda tangan Anda,
dan sekarang Anda bilang bahwa ini hanya urusanku?
Palsukan saja tanda tanganku.
Aku akan menelepon taksi, dan bawa barang ini semua.
Anda boleh pergi dari sini sekarang. Jelas?
Tidak perlu.
Aku bisa cari sendiri.
Bagus.
Aku akan kembali besok pagi.
Dan kuharap Anda sudah berubah pikiran.
Selamat malam.
Eh, Nona, bawa ini pergi atau kubuang ke tempat sampah.
Taksi!
No comments yet. Be the first to leave one.