The first 200 lines.
enk zone
Hari ini, 11 Maret...
Saya menerima berita tragis...
...gempa bumi skala 9 yang belum pernah terjadi sebelumnya,
...dan kehancuran yang disebabkan oleh tsunami.
Jumlah korban terus bertambah.
Dan sejauh mana kerusakan akibat bencana ini...
...belum bisa diperkirakan untuk saat ini.
Relawan asing bergabung dalam upaya penyelamatan besar-besaran kami.
Kami akan mengatasi kemunduran ini...
...membangun kembali daerah-daerah yang terlanda, dan Jepang itu sendiri.
Bergabunglah denganku berdoa untuk kesuksesan kami.
Total jumlah korban? Berapa kira-kira?
Hampir 8000 di area kami.
Ini situasi rentan. Bisa lebih buruk setiap saat.
Aku tak bisa gunakan alat berat.
Kondisinya sangat rapuh.
88 orang berhasil dikeluarkan hidup-hidup.
Mereka bilang ada 5 lagi di ruang makan.
2 gadis, 3 laki-laki. Semua orang Jerman.
Mereka di dalam sana.
Hari ini hujan dan lumpur mengurung mereka.
Kami bersihkan dan memasukkan tabung dengan kamera untuk melihat keadaan mereka.
Kami akan coba dari sisi lain juga.
Itu saja yang bisa kami lakukan sekarang.
Tak satu pun dari mereka yang terluka parah.
Tapi mereka tergeletak hanya 30 sentimeter di bawah lempengan.
Sangat berbahaya. Bisa bergeser setiap saat.
Tetap tenang, anak-anak.
Ini dokter yang berbicara.
Semuanya jangan bicara sekaligus.
Tidak cukup banyak oksigen. Hanya satu dari kalian saja.
Jawablah setelah aku mengajukan pertanyaan.
Jelaskan secara singkat keadaannya. Siapa ini?
Ini Nina.
Bisa anda dengar?
Kita ada 5.
Kita semua... Kita semua masih hidup.
Sangat bagus, anak-anak. Berikut yang akan kita lakukan...
Tetap diam dan cobalah untuk menghemat oksigen.
Setelah kami mengeluarkan kalian, kita bisa bicara lebih detail.
Jangan. Tolong jangan pergi.
Teruslah berbicara dengan kami, ya? Kumohon.
Aku tidak bisa kemana-mana. Kereta bawah tanah ditutup.
Adakah yang tahu kalian di sini?
Ibumu? Ayahmu?
Ya. Ibuku tahu.
Ayahku sudah meninggal.
Aku sangat merindukannya.
Hei, Nina. Nina, jangan menangis.
Kau bisa menghabiskan semua oksigen.
Aku punya 5 ayah, dan aku merindukan mereka semua.
Mereka semua telah meninggal. Tapi aku tidak menangis.
5 ayah?
Itu tak mungkin.
Mungkin, tidak mungkin.
Bagaimana kau tahu?
Ini mungkin saja.
STALINGRAD
Ya Tuhan.
Berjalan di atas air?
Ya. Kita semua rasul sekarang.
Sstt, kau mengada-ada.
Baru saja ganti popok dan kau sudah buat lelucon.
Aku akan beri kau cambukan.
Cukup, Pak tua.
Para pencari ranjau melintasi jembatan yang terendam.
Jadi anda tak bisa melihatnya dari atas.
Semoga Tuhan membantu mereka.
Ayo, kawan.
Kala itu di Stalingrad.
Musim gugur 1942.
Rusia menyebrangi sungai Volga untuk menjejakkan kaki di tepi sungai lainnya,
dan menahan Jerman mengambil alih kota dan akses sungai.
Meski semuanya percuma.
Tapi mereka tidak peduli.
Masing-masing berjuang yang terbaik,
tanpa tahu dia sedang berjuang dalam pertempuran paling berdarah...
...dalam sejarah manusia.
Itu buruk.
Para pengintai.
Lompat.
Kantung, helm.
Baik, lompatlah.
Duduklah.
Sudah kau tandai jalurnya?
Ada ranjau?
Apa kau mencoba berbicara?
Chvanov.
Di pabrik kita, kita punya bisu tuli, dungu.
Tak ada yang dungu di Uni Soviet.
Ada yang sakit mental, tapi tidak dungu.
Baik. Tunggu kelompok penyerangan,
bawa mereka ke tangki-tangki minyak, lalu susul kita.
Ayo.
Kita di sini. Bangunan ini di sini.
Kita menyelinap masuk. Undi dengan koin,
kepala atau ekor.
Kepala, kita mencari detonator.
Harusnya di lantai dua.
Tak ada alasan bagi mereka menempatkannya lebih tinggi yang bisa terkena serangan.
Ekor, kita segera temukan detonator dan bunuh mereka semua.
Kita potong setiap kawat yang kita temukan.
Itu saja.
Jurgens. Jurgens.
Rusia datang./ Apa?
Radio, beri kabar.
Tidak ada sinyal, kapten.
Baiklah, Jurgens.
Sebaiknya aku tak bertanya mengapa tak ada sinyal.
Ledakkan tangki-tangki.
Tapi itu bahan bakar untuk seluruh tentara, kapten.
Jurgens.
Kau idiot. Rusia di sini.
Aku akan segera kembali.
Orang-orang Rusia punya parit di sana.
Kedua sisinya ada ranjau. Kita tidak bisa memaksa maju.
Granat!
Ketemu kau, bangsat.
Semoga Tuhan menyelamatkan kita. Ayo, Nak.
Anakku.
Berjagalah.
Aku akan ke lantai atas.
Kawan. Aku salah satu dari kalian. Aku pemandu.
Carikan radioku. Aku memerlukannya.
Kawan.
Itu dia.
Kami sampai di sini kemarin dari stasiun pemadam kebakaran.
Jerman membunuh awak radioku.
Apa kau pengintai?
Ya. Tapi siapa kau?
Sudah kubilang, aku pemandu. Seorang perwira.
Perwira?/ Aku bagian artileri.
Kenapa para Kraut menggantungmu seperti hiasan Natal?
Aku belum tidur selama tiga hari.
Aku lemah. Aku kedinginan.
Kau mengacaukan perlintasannya, brengsek.
Mereka dibakar hidup-hidup. Tak ada tembakan perlindungan.
Dan kau belum tidur?/ Komandan.
Ada apa?/ Semyonov mati?
Radio kita rusak.
Dia berguna. Haruskah kita gunakan dia?
Kau sungguh tahu cara menggunakan radio?
Ya.
Hubungi markas.
Akan kulakukan.
Berikan frekuensi dan sandi kalian.
Kaluga,
44 dan 3.
Banci.
Jangan panggil aku "banci".
Aku seorang perwira dari tentara buruh-tani.
Tolong beri aku pistol.
Hubungi markas.
Jika tidak, aku akan menembakmu.
Kapten! Kesini cepat.
Siapa yang dia sandera?
Kurasa bocah laki-laki.
Apa kau baik-baik saja, Nak?
Seorang gadis.
Dipastikan seorang gadis, komandan.
Dia terguncang, ketakutan.
Kita akan mengurusnya nanti.
Dan Nikiforov?
Itu dia.
Dia membawa tamu yang jorok.
Setan macam apa dirimu?
Aku bukan setan, kapten. Aku malaikat.
Polyakov. Komandan senjata.
Komandan senjata./ Ya, Pak?
Dan di mana senjata yang kau perintah?
Di sana, di gapura.
Punya amunisi?/ Ya?
Satu putaran.
Baiklah.
Kalau begitu, ayo kita lakukan beberapa pertempuran.
Kapten!
Ini markas divisi.
Duduklah.
Jadi kita harus mengasuh dia sekarang?
Itu sudah cukup, sialan.
Komandan, lihat yang dilakukan para kraut padanya.
Ini perang, malaikat. Dia masih hidup.
Begitulah bagaimana mereka bertemu.
5 orang, hangus oleh 2 tahun pertempuran,
tertiup angin dari kota besar dan mundurnya negara besar kami...
...ke kota yang tersebar sepanjang tepian-tepian sungai.
5 pria dan ibuku.
Ibu mudaku.
Bangunan di mana Mama tinggal menghalangi salah satu pintu keluar ke Volga.
Selama berbulan-bulan, tentara kita akan menguasai gedung dan kemudian pergi lagi.
Mama lelah hidup di neraka,
lelah dikejutkan oleh kesedihan manusia,
kekejaman manusia dan bahkan oleh kesabaran sendiri.
Mama terus tinggal dalam rumah tuanya dan tak ingin meninggalkannya.
Ini adalah kamarnya, apartemennya,
tangganya, jalannya,
dan akhirnya, kotanya.
Dia hanya tidak bisa meninggalkannya.
Itu beberapa hari sebelum ulang tahun ke-19nya .
No comments yet. Be the first to leave one.