The first 200 lines.
Aku masih sering memikirkannya, dan membuatku merasa gila.
Tapi aku tidak akan lari dari hal itu.
Jadi kau tidak perlu khawatir padaku, Joon Young.
Kuharap kau bisa bahagia.
Sungguh.
Kau banyak memberiku penghiburan.
Aku tak pantas menerima ini.
Kau pergilah sekarang.
Kenapa kau belum berpakaian?
Orang tua Se Eun itu datang dari tempat yang jauh.
Kita tidak boleh terlambat walau sedetik pun.
Terlambat bagaimana? Kita 'kan bertemu mereka buat makan siang....,
...dan kita saja sudah siap-siap pas habis sarapan tadi.
Bukankah menurutmu warna dasiku terlalu vulgar?
Kau itu tetap cocok walau kau pakai dasi warna merah terang sekalipun...
...karena kau memang kuno.
Anak-anak pasti sudah datang.
Aigoo, Da In, kau sudah datang./ Kalian cepat juga datangnya.
Kau mau ke kamar Kakek? Masuklah.
Bulu bagus memang menghasilkan burung yang bagus. Kau tampan sekali, Sang Hyun.
Dialah yang membuat pakaiannya jadi bagus.
Ibu, rambut Ibu...
...luar biasa.
Ayah, dasi Ayah sangat populer tahun ini.
Bagus?/ Sangat bagus.
Kau belum selesai?
Aku sudah siap.
Aigoo, kami semua menunggumu.
Dia itu sangat otoritatif.
Da In.
Nenek sudah selesai.
Aku akan membiarkanmu karena kau cantik.
Joon Young mana?
Joon Young tidak pulang semalam.
Dia mungkin datang bersama Se Eun.
Dasar brengsek itu.
Mereka bahkan belum menikah.
Tapi dia berulah sekarang karena kita akan bertemu dengan orang tua Se Eun.
Oppa.
Sepertinya kau kemari buat pergi bersamaku.
Kau harusnya menelepon sebelumnya.
Ayo, Oppa.
Se Eun.
Sepertinya aku tak bisa pergi.
Maafkan aku.
Aku tidak bisa pergi bersamamu.
Aku menyukaimu...,
...aku mempercayaimu...,
...makanya kukira semuanya pasti baik-baik saja.
Tapi ini sangat membebaniku.
Kurasa aku tak sanggup lagi.
Dan Oppa...,
...kau tidak perlu merasa tak enak atau bersalah.
Karena hubungan ini...,
...akulah yang merelakannya.
Ibu.
Ibu sudah datang?
Kalau sudah datang...,
...Ibu harus ikut tur keliling Seoul...
...terus pulanglah ke rumah.
Nanti kutelepon lagi.
Itu si Joon Young.
Joon Young?
Joon Young.
Aku keluar sama dia, ya.
Ayo keluar./ Ke luar?
Ayo keluar./ Ya.
Tahap kedua kemoterapimu telah selesai.
Sulit, bukan?
Ya.
Pasti lebih sulit memenangkan pertarungan melawan dirimu...
...biar jangan lelah daripada melawan sel kanker.
Baek Joo Ran-ssi, kau hebat.
Makanlah yang teratur dan optimislah.
Habiskan waktu bersama orang-orang dan banyak-banyaklah tersenyum.
Dua minggu lagi, kita bertemu lagi.
Baik.
Aku akan mengurus semuanya...,
...jadi jangan menyentuh apa pun.
Kau diam saja, seolah kau itu lukisan.
Itulah tugasmu.
Tanyakan apa pun yang kau butuhkan.
Keluarkan semua amarahmu padaku jika kau jengkel atau kesal.
Katakan padaku apa yang ingin kau makan juga.
Bukan aku yang akan masak, jadi jangan khawatir.
Tadi pas kesini, aku lihat banyak restoran enak.
Ada restoran belut dan restoran ayam rebus juga.
Kita bisa minta mereka antar makanan.
Atau kita bisa memanggil taksi.
Pentalan tali.
Pantulan tali.
Kau kemari buat kencan buta, 'kan?
Kau si kereta bawah tanah./ Kau si kereta bawah tanah.
Tak kusangka kita bertemu lagi seperti ini.
Dia tidak angkat teleponnya.
Dia dalam masalah serius kali ini.
Apa dia baik-baik saja?
Baik-baik saja?
Dia pasti dalam situasi kacau...
...di mana rasionalitasnya tidak bisa mengendalikan emosinya.
Sulit bagiku memahaminya...,
...karena dia tidak mirip denganku.
Aku khawatir dengan orang tuamu juga.
Ayo kita makan.
Ibu.
Ibu sadar orang tua tidak bisa selalu memaksakan anak mereka...,
...tapi Ibu rasa kami orangtua jadi lebih...
...sentimental seiring dengan bertambahnya usia.
Belakangan ini, hal-hal kecil pun bisa membuat Ibu sedih.
Malah...,
...menurutku itu bukan karena Ibu semakin tua.
Menurut Ibu, memang begitulah hidup.
Waktu Ibu masih kecil...,
...Ibu sangat sedih kalau orang tua Ibu tidak...
...membelikan Ibu apapun pas ulang tahun Ibu.
Tapi karena Ibu sudah tua sekarang, Ibu sedih kalau...
...kalian tidak melakukan apapun saat Hari Orang Tua.
Tapi...,
...ini bukannya kau melakukan hal seperti ini karena tidak menghormati kami...,
...jadi jangan merasa sedih karenanya.
Dan jangan khawatirkan ayahmu.
Memang tugas orang tualah khawatir dan peduli dengan anak-anak mereka.
Maafkan aku.
Tak apa.
Pasti berat yang kaualami sekarang.
Kau seharusnya...
...fokus saja mengkhawatirkan dirimu sendiri.
Aku sangat bingung, Ibu.
Aku terus meyakinkan diri sendiri...
...kalau aku seharusnya tidak melakukannya, tapi akhirnya terjadi juga.
Aku terus memikirkannya...,
...dan aku berusaha sangat keras melupakan dia...,
...tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku.
Aku tak bisa apa-apa lagi.
Inilah keputusanku...,
...jadi aku harus menanggung semua rasa sakit dan penderitaan ini.
Tapi aku merasa sangat tak enak.
Pada Se Eun, keluarganya, dan keluarga kita juga.
Sungguh maafkan aku.
Kau tidak lapar?
Aku belum makan apa-apa karena ayahmu kesal.
Katamu ada warung gulai kimchi yang enak dekat sini.
Ayo kita kesana dan makan dulu.
Dulu...,
...sebelum aku sakit...
Aku ngomong "dulu", jadi terasa lucu.
Padahal 'kan belum ada sebulan...,
...tapi rasanya seperti sudah dulu sekali.
Setiap pagi, aku biasanya menghabiskan satu jam menata rambut dan riasanku.
Tapi tidak ada gunanya memakai riasan ketika rambutku seperti ini.
Karena sekarang aku punya banyak waktu...,
...aku harus banyak tidur, menonton film, dan membaca buku.
Seperti yang biasa kau lakukan dulu.
Ketika tidak ada harapan, maka tidak ada keputusasaan juga.
Tak ada yang perlu disenyumi...,
...maka tidak ada pula yang perlu ditangisi.
Aku bahkan tidak akan bisa menjalin hubungan...,
...yang artinya aku tidak perlu khawatir kalau aku dicampakkan.
Dan aku bahkan tidak perlu beli sampo.
Bukankah bagus seperti itu?
Aku ingat kala itu.
Saat aku mengatakan itu padamu...,
...kau berkata padaku kalau aku tak boleh menyerah.
Terutama saat menjalin hubungan.
Aku berpikir, "Wanita ini tahu apa tentangku?"
"Siapa dia berkata hal seperti itu padaku?"
Tapi...
...malamnya ketika aku berbaring di tempat tidur...,
...kata-katamu entah kenapa terngiang-ngiang di benakku...,
...dan aku menjadi sangat emosional.
Aku mulai menangis, dan air matanya tidak berhenti menetes.
Jadi aku berpikir, "Oh jadi seperti ini ya rasanya dihibur."
"Ketika cobaan yang tak dapat dijelaskan menerpa kita...,"
"...pasti ada juga seseorang yang datang menghibur kita."
Kau tak kedinginan? Kurasa makin dingin sekarang.
Masuklah ke dalam. Nanti kau masuk angin.
Tidak, kok.
Menyaksikan bara api membuatku merasa hidup.
Nah.
Tak perlu.
Maaf.
Hei, wanita yang kukenal...
...selalu mengatakan mereka minta maaf...
...padahal seharusnya mereka mengatakan "Terima kasih".
Dalam salah satu film favorit-ku sepanjang masa, "Love Story", ada dialog seperti ini.
"Cinta..."
"...artinya tidak perlu mengatakan kau minta maaf."
Ini...
...sepertinya pasta gigi organik, jadi ini bagus buat kesehatanmu.
Kau hanya perlu makan sehat dan hanya memikirkan hal-hal yang baik.
Nah. Mandilah dulu, baru keluar.
Biar kusiapkan seprainya.
Aku akan tidur di sofa di luar.
Terima kasih.
Silakan./ Terima kasih.
Da In, coba kau gantung itu disini?
Aigoo, bagus sekali.
Kau hanya perlu menggantungnya seperti ini.
Bagus.
Da In, bawa ini ke kakekmu dan suruh dia gantungkan.
No comments yet. Be the first to leave one.