The first 200 lines.
Nur.
Lihat apa sih?
Bukan apa-apa.
-Ayo. -Ayo.
Ya.
-Pak. -Mbak.
Bisa kita naik mobil aja?
Tidak bisa.
Mobil tidak bisa lewat jembatan ini.
Ayo.
Ayo, Pak.
Ayo.
Sudah sampai.
-Sudah. -Ya.
-Permisi. -Mari, Pak.
Pak, terima kasih.
Apa kabar?
Ya, Mas. Ini adikku. Ayu.
-Ayu. -Prabu.
Dan ini temannya.
-Nur, Pak. -Ya.
Mas Prabu ini kepala desa ini.
Nanti, beliau yang menjadi pengawas
kegiatan KKN kalian.
Iya.
Dibahas di rumahku saja.
Ayo.
Ayo.
Ayo.
Ayo, Mas. Apa kabarnya, Mas?
Sudah lama, ya?
Yah, begini saja, Mas.
Di sini memang sepi
Nur?
-Kenapa, Nur? -Gak apa-apa.
Mas.
Kenapa tidak bisa, Mas?
Kasian Ayu, Mas.
Dia dan teman-temannya butuh
buat KKN di sini, Mas.
Dibantu, ya?
Saya mohon, Pak.
Kami datang dari jauh loh, Pak.
Karena niat kami, kan untuk mengabdikan diri
kepada masyarakat di desa ini.
Jadi, tolong dipertimbangkan, Pak.
Soalnya ini juga baru pertama kalinya buat kami.
Belum pernah ada
yang minta KKN di sini.
Berarti bisa dicoba kan, Pak?
Kami gak akan menyusahkan.
Program kerja kami akan membantu warga desa.
Apa pun masalah yang ada di desa ini
kami akan bantu atasi.
Yang penting kan bisa membantu warga.
Karena ini sifatnya pengabdian masyarakat.
Boleh ya, Pak?
Mbak Ayu
sama Mbak Nur,
mari saya tunjukkan satu lokasi
yang mungkin cocok
buat program kerja kalian di sini.
Makasih, Pak.
Dulu, tempat ini
dijadikan tempat mandi para penari.
Tapi
sekarang gak ada lagi
penari di desa ini.
Terus
tempat ini sempat beralih fungsi
jadi sumber mata air desa kami.
Tapi beberapa tahun belakangan ini
airnya mengering.
Jadi, warga agak kesulitan akses air.
Soalnya sungainya
gak begitu deket dari sini.
Kami bisa bantu, Pak.
Nanti kami buatkan skema
untuk mengalirkan air sungai.
Yah...
-Pokoknya, diatur aja, Mbak. Ya? -Ya, Pak.
Aduh...
Kelamaan duduk, tepos nih aku.
Sudah gak apa-apa?
Ini masih jauh, ya?
Ya sekitar setengah jam lagi.
Ya.
Sekalian ke Bali aja.
Ayo, semangat...
Ayu.
Ini jalan kaki?
Sial, kita naik sepeda motor?
Udah, Pak?
Makasih ya, Mas.
Makasih, Pak.
-Pak Prabu. Apa kabar, Pak? -Mbak Ayu.
Baik. Bagaimana perjalanan? Lancar, 'kan?
Temen-temen, ini Pak Prabu.
Kepala desa di sini.
Saya Prabu.
-Ini sudah pada kumpul semua? -Ya, Pak.
-Ayo, mari ikut saya. -Ayo.
Mohon maaf ya, Mas, Mbak.
Desa kami ya seadanya gini.
Listrik belum masuk.
Tapi semoga kalian semua betah selama di sini.
Santai aja, Pak. Udah biasa aku kaya gitu.
Di sini listrik belum masuk,
di kosanku, belum bayar.
Santai aja, Pak.
Di sini
rumah-rumahnya juga belum ada kamar mandinya.
Jadi, kalo mau mandi...
Mas-masnya mandi di sungai.
Mbak-mbaknya
mandi di bilik mandi deket proker kalian nanti.
Kalo mau buang hajat, di mana, Pak?
Buang hajat?
Karena sungainya gak terlalu deket dari sini,
warga udah biasa kalo mau buang hajat
-ya harus nyangkul tanah dulu. -Waduh.
Kalo itu, aku gak biasa, Pak.
Maaf, Pak.
Tadi di jalan saya denger suara gamelan.
Apa ada desa lain deket sini?
Gamelan?
Ya, Pak.
Saya pikir lagi ada hajatan.
Kamu kapan dengernya, Wid?
Di jalan.
Itu cuma kedengerannya Mbak aja.
Gak usah dipikirin.
Ya?
Sekarang saya antar ke tempat tinggal kalian selama di sini.
Iya, Pak.
Bu?
Mas. Mbak.
Ini Bu Sundari.
Nanti untuk sementara,
mbak-mbaknya akan tinggal di rumah Bu Sundari.
Mas-masnya
akan tinggal di posyandu sampe posko yang lebih besar udah siap.
-Ya? -Ya, Pak.
Bu, titip anak-anak, ya?
Saya gak bisa nolak, 'kan?
Ayo, Mas.
Kita ke posyandu sebelah, ya.
-Makasih, Pak. -Nur.
Mari, Bu.
Makasih, Bima.
Permisi, Bu.
Terima kasih, Bima.
Mari.
Mari, lihat-lihat sini.
Widya.
Itu tadi gamelan-gamelan, maksudnya apa?
Emangnya kamu gak denger?
Jaga sikap dong, Wid.
Masa baru sampe langsung nanya yang nggak-nggak.
Aku nih udah janji kalo kita semua bakal jaga sikap.
Makanya Pak Prabu ngizinin kita.
Kan kalo ada apa-apa, aku yang kena.
Bu.
Di desa ini, hampir semua rumah itu
terbuat dari anyaman bambu.
Jadi, kita bisa denger
apa saja yang kalian bicarakan
dan apa pun yang kalian pake.
Nih.
Kalo proker kalian berhasil,
Sinden ini akan idup kembali
jadi sumber air desa kami.
Sinden, Pak?
Iya, gitu kami menyebut tempat ini.
Jadi, Mbak Ayu,
penduduk semua sudah siap membantu.
Pak. Itu apa?
Oh, itu...
Penduduk kami masih menghargai
adat istiadat leluhur.
Itu salah satu cara kami untuk
menghargai semesta dan...
penduduknya.
Saya kira buat manggil setan, Pak.
Wahyu!
Buat apa manggil setan
kalo yang di depan saya aja sikapnya kaya setan?
Bercanda, Mas Wahyu. Jangan dimasukin hati.
Gak bercanda juga gak apa-apa, Pak.
Dia emang setannya kampus.
Gentayangan bertahun-tahun di kampus.
Gak tahu lulusnya kapan. Rasain kamu.
Ya udah, ayo ikut saya.
Ayo Mas Bima.
-Nur. Ada apa? -Ya?
-Gak ada. -Ayo.
Nah kalo ini, kuburannya penduduk desa.
Orang goblok juga tahu kalo ini kuburan.
Apa sih?
Mulutmu!
No comments yet. Be the first to leave one.