The first 200 lines.
Kenapa begitu sulit bagimu?
Kau tahu,
aku sangat menyukaimu.
Karena itu, aku ingin tahu…
tentang masa lalumu
dan apa yang ada di pikiranmu.
Aku menantikan masa-masa
saat kita menjadi keluarga.
Katakanlah sesuatu.
Maaf.
Kenapa kau berubah menjadi orang lain?
Kenapa kau menjauh?
Kenapa kau menjadi orang asing?
Aku tak mengenalimu lagi.
Aku tak memahamimu.
Aku juga.
Aku juga tidak tahu.
Bu Dokter!
Aku sedang menuju ke rumahmu.
Ternyata kau di sini.
Bu Dokter, kau menangis?
Ada apa? Ada masalah apa?
Aku lupa membayar uang sewa.
Kenapa menangis? Kau tak perlu menangis gara-gara itu.
Maafkan aku. Akan kukirim hari ini.
Orang akan mengiraku tuan tanah yang jahat.
Bu Dokter, tidak apa-apa. Sungguh.
Sepertinya aku sudah gila. Air mataku tak bisa berhenti.
Kau sudah sarapan?
EPISODE 14
- Silakan, Bu Dokter. - Ya.
Sup rumput laut dengan bulu babi.
Aku membuatnya untuk Yun-gyeong, tapi kau makanlah sedikit.
Saat kali pertama datang ke Gongjin, kau juga memakan ini, 'kan?
Ya, rasanya enak sekali.
Aku akan menikmatinya. Terima kasih.
Tak perlu berterima kasih.
Walaupun melahirkan itu berat,
membantu orang melahirkan adalah hal yang luar biasa.
Cepat dimakan.
Ya.
Ini enak.
Omong-omong, kau sudah tinggal di sini selama empat atau lima bulan, ya?
Ya.
Waktu cepat berlalu dan takdir sangat tak terduga.
Siapa yang menyangka
kau akan membuka klinik gigi di sini dan berpacaran dengan Kepala Hong?
Apa kau ada masalah dengan Du-sik?
Kau tak harus menjawabku.
Tapi mungkin aku bisa membantu.
Tak seperti Nam-suk, aku bisa menjaga rahasia.
Bu Yeo.
Apa kau tahu
kenapa dia berhenti bekerja dan kembali ke Gongjin?
Kalau soal itu, aku tak tahu pasti.
Bukan hanya aku, tapi hampir semua orang di Gongjin.
Karena itulah banyak rumor yang beredar.
Sejak pergi kuliah dan wajib militer,
Du-sik jarang pulang ke kampung halamannya.
Tapi…
aku masih ingat ekspresinya saat kembali.
Dia terlihat sangat sedih.
Dia tak terlihat seperti Du-sik yang kita kenal.
Ekspresi wajahnya terlihat hampa.
Seperti orang yang kehilangan segalanya.
Jadi, tak ada yang tega bertanya.
Semua orang hanya menduga pasti ada hal yang terjadi padanya.
Tapi dia juga tak bercerita kepadamu?
Ya.
Aku belum berhasil membuka pintu hatinya.
Tidak, kau salah paham.
Kepala Hong… Maksudku,
Du-sik tak pernah terlihat sebahagia ini.
- Sungguh? - Tentu saja.
Bu Dokter, hal yang mungkin mudah bagi satu orang
bisa sulit bagi orang lain.
Sejak kecil, dia selalu dewasa
dan belajar untuk menahan diri.
Jadi, dia tak tahu cara berkeluh kesah.
Saat kesulitan dan sakit, tak ada orang yang mendengarkan keluhannya.
Kurasa kau bisa menjadi orang itu untuknya.
Setelah mengalami pernikahan dan perceraian,
aku menyadari sesuatu.
Seharusnya aku tak terburu-buru.
Seharusnya aku bisa memberi tahu semuanya dengan jujur.
BU DOKTER
Halo?
Kepala Hong, kenapa tak datang? Kau sudah berjanji akan membantuku.
Benar juga.
Maaf. Aku ke sana sekarang.
Ya.
Seon-a!
- Ha-rang! - Paman!
- Sudah lama tak bertemu. - Apa kabar?
Ha-rang, sudah besar, ya?
Dia berlari ke sini sambil memanggilmu.
- Ha-rang. - Aku?
"Aku?"
Kau lahap, ya.
Ibumu sehat, 'kan?
Ya. Dia lucu sekali.
Saat kubilang kita akan bertemu,
dia minta tanda tangan artis. Dia bahkan tak tahu jumlah anggota DOS.
Tadi tidak macet?
Dibandingkan macet,
datang ke sini membawa anak rasanya seperti perang.
Dia menangis karena tak mau duduk di jok anak-anak.
Dasar, Anakku.
Seon-a, kau harus mengalah.
Jangan berpikir untuk menang dari anak manis itu.
Begitu? Kalau begitu, buatlah acara mengasuh anak-anak.
Undanglah anak-anak sebanyak 15 orang.
Maafkan aku. Aku melakukan kesalahan besar.
Benar. Kau melakukan banyak kesalahan kepadaku.
Kau tak datang ke pernikahanku.
Astaga. Berapa lama lagi kau akan mengungkitnya?
Aku masih sutradara pendukung. Aku harus syuting setiap hari
tanpa tidur lima hari di luar negeri.
Setelah mengorbankan pernikahanku demi kariermu,
kau bisa menjadi sehebat ini.
Aku punya peran dalam kesuksesanmu.
Astaga. Kau menjadi tak tahu malu.
Kenapa? Kau perlu sesuatu?
Apa pun. Aku tak akan menolak pemberianmu.
Tak kusangka kau benar-benar datang ke sini.
Aku selalu ingin datang ke Gongjin.
Karena sering mendengarnya.
Sungguh? Dari siapa?
Dari kenalanku. Ini kampung halamannya.
Begitu, ya? Menarik sekali. Bagaimana menurutmu?
Seperti yang kudengar,
bagus sekali.
Enak? Makan pelan-pelan, ya.
Berapa lama aku tertidur?
Bu Dokter, aku sengaja tak membangunkanmu. Tidurlah yang nyenyak.
KEPALA HONG
KEPALA HONG
KEPALA HONG
Halo? Hye-jin?
Kau menelepon, ya?
Ya.
Maaf tadi aku membiarkanmu pergi.
Kita bertemu sebentar. Kau di mana? Aku ke sana.
Tidak. Aku tak mau bertemu.
Apa?
Walaupun kita bertemu sekarang,
kau hanya akan meminta maaf.
Kau baru saja melakukannya.
Kurasa
kita butuh waktu sendiri.
Ini bukan kata-kata klise untuk mengakhiri hubungan kita.
Aku tak mau berpisah denganmu.
Lalu kenapa?
Kurasa kita perlu waktu.
Waktu agar kau tak perlu merasa bersalah kepadaku.
Waktu agar kau bisa jujur kepadaku.
Kita tak bisa begini terus.
Kita perlu waktu untuk berpikir pelan-pelan.
Untuk memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan
dan apa yang kita inginkan.
Kau mengerti maksudku, 'kan?
Ya.
Kututup, ya.
KLINIK GIGI YOON
Ini apa?
Kalau kau yang memakainya,
pasti terlihat cantik, menggemaskan, dan manis. Jadi, aku membelinya.
- Ini baju? - Ya.
Kau tak perlu membelikan baju untukku. Aku punya banyak baju.
Tapi ini cocok sekali untukmu.
Begitu, ya.
Aku harus langsung pergi. Aku hanya mampir.
Terima kasih banyak. Akan kupakai dengan baik, Eun-cheol.
Ya.
Nanti kutelepon.
Kau pasti senang, Pyo Mi-seon.
Aku iri.
Kenapa?
Kenapa komentarmu seperti itu?
Kau masih ada masalah dengan Kepala Hong?
Rasanya seperti menonton Love and War .
Ada apa?
Selamat datang.
Bu Guru.
- Halo. - Halo.
Bisa dilihat di sini, ada gigi bungsu yang tumbuh di gusi dekat tulang rahang.
Gigi bungsu?
Karena selama ini tak ada, kukira memang tak akan tumbuh.
Gigi bungsu biasanya baru tumbuh di akhir masa remaja atau awal usia 20 tahun.
Istilah medisnya gigi geraham ketiga.
Disebut gigi bungsu karena tumbuh terakhir di usia saat mulai merasakan cinta.
Begitu, ya.
Selama ini, tersembunyi tanpa gejala sama sekali.
Sekarang sudah jarang yang memakai pacar air, 'kan?
Semua orang memakai kuteks,
tapi bagaimana kalau terkelupas dan masuk ke makanan yang kumasak?
Begitu, ya.
Lagi pula, aku lebih suka pacar air.
Kenapa? Aku tahu.
Karena kalau masih ada sampai turun
No comments yet. Be the first to leave one.