The first 200 lines.
The Judge from Hell
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF.
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM SITUASI AMAN.
PEMBANGUNAN ULANG HWANGCHEON DITERIMA
PUTRAKU
Kumohon…
Tolong hentikan!
Lepaskan aku.
Kumohon.
Astaga! Siapa kau?
Kutanya siapa kau?
Astaga! Sayang! Kau tidak apa-apa?
Kau baik-baik saja? Tidak terluka?
Siapa itu?
EPISODE 7
KANTOR POLISI NOBONG SEOUL
PASANGAN PENYERANGAN
Kau bilang tidak lihat wajahnya.
Namun, apa ada hal khusus yang kau ingat?
Maafkan aku.
Aku sangat…
Aku sangat terkejut hingga tidak mengingatnya.
Tidak apa-apa.
Pelan-pelan saja dan beri tahu aku jika ada yang kau ingat.
Itu…
Dibanding aku, tingginya sekitar…
Dia setinggi ini.
Baik.
Pisau yang dipegangnya tampak tidak biasa.
Bilah pisau itu…
agak…
Itu…
Apakah kau bisa
menggambar pisau yang kau ingat di sini?
Ya.
Kurasa bentuknya seperti ini.
KASUS PEMBUNUH BERANTAI J
KETERANGAN
Daon.
Dia kembali.
The Judge from Hell
Aku yakin Daon bahkan belum makan sup rumput laut hari ini.
Aku berencana membuatkannya di perkemahan malam ini.
Kalian pasti merasa sedih.
Karena dia masih belum bisa tertawa senang di hari ulang tahunnya.
Padahal kini tak masalah jika dia ingin tertawa. Benar, 'kan?
Sebagai orang tuanya,
aku yakin kalian ingin Daon bahagia.
Namun, si bodoh itu tidak menyadarinya.
Seharusnya kau bilang jika datang.
Hei. Seharusnya kau yang bilang padaku.
Kita bisa pergi bersama.
Aku senang kau datang.
Jangan khawatir, Bu. Aku akan mengurus putramu.
Kini totalnya ada tiga korban.
Petunjuk yang ditinggalkan adalah tanda di kening
serta luka tusuk di perut.
Kami sudah menyelidiki seluruh pabrik besi di negara ini,
tapi tak ada yang pernah membuat benda semacam ini.
Oh, benar. Kasus di Hwangcheon…
Selain itu, kejadian ini hanya terjadi di tempat tanpa kamera pengawas
atau kamera pengawasnya sedang rusak.
Dan melihat faktanya,
pelakunya tampak sangat teliti.
Bagaimana buktinya?
Masih belum.
Namun, kami akan segera temukan. Pasti bisa.
Aku baru ingat. Soal Hakim Kang Bitna,
apa kau tahu dia menerima kritik keras di internet
karena membebaskan Yang Seungbin?
ANJINGKU HAKIM YANG LEBIH BAIK DARIPADA KANG BITNA
HAKIM SAMPAH USIR HAKIM KANG DARI PENGADILAN
PENGADILAN
Ini teh favoritku.
Dan ini bebas kafein.
Lihatlah betapa cantiknya ini.
Aku memberimu hadiah yang langka
dengan harapan kau bisa lebih baik…
Kau mendengarkanku?
Tidak.
Ini…
tak akan bisa buatmu berpura-pura tidak dengar.
"Hakim itu harus dibunuh dahulu dengan brutal agar sadar."
"Mati kau, Kang Bitna."
Semua itu adalah komentar dari artikel tentang sidang belakangan.
Kau tak ingin berkomentar?
Tidak.
Mungkin kau masih punya hati nurani.
Sekalipun Anggota Dewan Jeong yang meminta, salah tetaplah salah.
Aku tidak akan menempatkanmu pada kasus seperti ini lagi.
- Jadi, kembalilah menjadi hakim tunggal. - Baik.
Kenapa hari ini kau tak melawan?
- Haruskah aku melawan? - Tidak.
Aku akan keluar jika kau sudah selesai bicara.
Sikap patuhnya bahkan lebih meresahkan.
Ada apa dengannya?
Kau benar-benar diomeli, ya?
Astaga. Sudah kuduga.
Hati nuranimu sudah mati jika tak menduga ada reaksi keras setelah putusan itu.
Komentar jahat pun bukan main jumlahnya saat ini.
- Kau menulisnya juga, 'kan? - Tentu saja aku…
Justitia.
Justitia.
Ada hal yang penting.
Bagaimana menurutmu soal rumor itu? Aku memberitahumu sebelumnya
bahwa Arong adalah Satan.
Arong adalah Satan?
Itu benar.
Tatapannya sungguh tak biasa. Dia bukan hanya pemarah.
Matanya selalu terlihat agak gila, bahkan saat tidak marah.
Aku yakin sifat aslinya muncul tak lama lagi.
Sampai kapan kau akan mengoceh? Akan kututup telingaku.
Aku yakin soal itu!
Tunggu, Justitia.
Kau sudah lihat pesan pemilik rumah sewa?
Dia ingin semua penghuni mendaki bersama akhir pekan ini.
Untuk menumbuhkan rasa persatuan. Apakah kau akan ikut?
Akhir pekan, bersatu, mendaki bersama.
Tidak ada yang kusuka. Kau pergilah.
Bagus.
Hakim Kang, kita akan kembali jadi tim hakim tunggal?
- Ya… - Papan tanda di sana
- harus diganti dengan ini. - Baik.
Aku pergi dahulu.
Baik.
Hei.
- Kemarilah sebentar. - Aku?
Sialan.
Kubilang kemarilah. Sialan.
- Kemari. - Cepat.
Bisa pinjamkan kami uang?
Aku tidak punya uang.
Jika kami menemukan uang, kau akan tamat di tangan kami.
Tunggu… Hentikan.
Diamlah.
Tidak! Jangan!
Lihatlah.
- Lihatlah. Beraninya kau bohong? - Tidak, jangan. Hentikan.
- Jangan! Hentikan! - Dasar jalang!
Apa-apaan ini?
Terima kasih telah menyelamatkanku.
Tak perlu begitu. Aku tidak berusaha membantumu.
- Apa? - Siapa kau, Bibi?
Kalian tak perlu tahu. Ambil sampahnya.
Bibi, lanjut jalan saja kalau tidak ingin terlibat masalah.
Suasana hati Bibi sedang buruk belakangan.
Ambil selagi Bibi bicara baik-baik.
Kau mau apa jika tak kulakukan?
Kau mau bagaimana?
Kuperingatkan kau. Kau harus mengambilnya.
Kenapa anak zaman sekarang kasar sekali?
Padahal kalian cukup cantik.
KANTOR POLISI NOBONG
- Kasus Hwangcheon. - Ya?
Apa terjadi sesuatu di Hwangcheon-dong? Ada apa?
Apa? Aku juga tak tahu.
Bukan hal serius. Benar, 'kan?
Apa? Ya, benar.
Donghun dan aku akan mengurusnya. Kau fokus saja pada tugasmu.
Baik.
Apa? Ini nomor kantor kita.
Ini Kim Soyeong dari Kejahatan Kekerasan.
Apa?
KEPALA DIVISI PEREMPUAN DAN REMAJA
Kau sudah datang.
Ibu.
Tunggu dulu. Ada masalah apa?
Begini. Mereka berusaha merampok putrimu…
Maksudku, mereka memeras uang darinya.
Lalu wanita itu menyelamatkannya.
Namun, dia menggunakan kekerasan dalam prosesnya.
Jika ada yang menyentuhnya…
- Astaga, putriku… - Siapa yang melakukan ini padamu?
Kau memukul anakku?
Bukan memukul, tapi mendidik.
Hei! Beraninya kau bicara santai padaku!
Kau yang memulainya.
Siapa dia sebenarnya?
- Aku ingin menuntut wanita itu. - Aku juga.
Ibu dan anak sama saja.
Kalau begitu, aku juga akan menuntut mereka.
Mereka mendorong dan mencuri uangku lebih dulu.
Itu hanya candaan di antara anak-anak.
Namun, orang dewasa ikut campur dan memukul mereka!
Aku yakin mereka tidak dididik dengan benar di rumah.
- Dan semakin yakin setelah melihatmu. - Apa?
Coba kita lihat apa kau masih bisa mengoceh di depan hakim.
- Permisi, Bu? - Ya?
Dia seorang hakim.
- Apa? - Dia adalah hakim.
Haruskah kita cantumkan kekerasan di sekolah juga?
Aku tak percaya padamu!
Apa aku sudah boleh pergi?
Ya, tentu saja.
Jangan sampai kalian bertemu Bibi lagi ke depannya, ya.
Kita bahkan tak bisa berkutik karena kekerasan di sekolah.
Astaga, yang benar saja!
Ayo keluar.
Ibu.
Selagi kemari, haruskah aku menyapa rekan-rekan Ibu dan makan malam di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.