The first 165 lines.
Waktunya bekerja.
Ada apa, Zabuton?
Lebah? Besar sekali!
Itu mau kamu apakan? Mau dimakan?
Berarti mau kamu pelihara?
Begitu, ya. Apa tidak terlalu berbahaya?
Dia sudah tidak berniat melawan?
Ya sudah, boleh.
Beres, deh.
Aku membentuk kandang untuk sarang lebah di samping ladang buah.
Sarang yang besar pun selesai dalam sepuluh hari.
Para lebah pekerja juga bekerja dengan giat.
Omong-omong, yang ukurannya besar hanya ratu lebahnya saja,
sedangkan lebah pekerja ukurannya normal.
Kalau terus dibiarkan seperti ini, apa mereka bisa menghasilkan madu?
Di ladangku memang ada bunga,
tapi sebaiknya aku membuat kebun agar mereka lebih mudah mendapatkan madu.
Hiraku!
A-Aku pergi dulu!
Apa dia pernah disengat lebah?
Ini apa?
Waduk.
Rencananya sih begitu.
Aku berniat mengisinya dengan air sungai,
tapi aku terlalu sibuk.
Jadi begitu.
Pembuatan saluran airnya sudah sampai mana?
Sebenarnya aku masih bingung mau mendesainnya seperti apa.
Jarak dari sini ke sungai lumayan jauh,
tapi pertama kita harus memutuskan mau dibuat seperti apa.
Kalau saluran air, aku punya bayangan kalau dibuat dengan batu.
Tapi mencari bongkahan batu di daerah ini lumayan sulit.
Mau dibuat pakai kayu saja?
Kayu memang ada banyak, tapi kalau jaraknya jauh, takutnya airnya malah bocor.
Kalau begitu...
Begini saja!
Aku mengeraskan tanah memakai Palu Mahabisa.
Kerasnya sama seperti beton, harusnya bisa.
Beton?
Lupakan saja.
Sebenarnya tanah hasil dari menggali waduk
menumpuk terlalu banyak dan bingung harus kubuat apa.
Kami pun langsung masuk ke tahap produksi.
Kami memasang saluran air di air terjun.
Kami memakai tanah yang didirikan tinggi sebagai pondasi saluran air.
Bagus. Ke sini sedikit lagi.
Aku menugaskan para elf untuk pekerjaan lapangan.
Kerja bagus.
Kerja bagus juga.
Aku sendiri berfokus dalam pembuatan rangka saluran air.
Berkat bantuan mereka, proses konstruksi berjalan lebih cepat dari yang kukira.
Dengan begini, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air.
Iya, menyiram ladang juga jadi lebih mudah!
Ada, ada.
Karena kami menggunakan air sungai,
ikan yang selama ini tidak bisa kumakan pun berhasil tertangkap.
Mau kumasak apa, ya?
Meskipun kelinci di hutan ini liar, ikannya ternyata biasa saja.
Syukurlah mereka mudah tertangkap...!
Itu...
Ikan Hutan Kematian, 'kan?
Iya, mereka ikan yang sangat ganas.
Memangnya tidak apa-apa kalau dimakan?
Ini, sudah jadi.
Tidak, sebaiknya yang masak dulu yang makan.
Iya, kamu duluan saja.
Benarkah? Ya sudah, aku makan.
Seperti penampilannya, rasanya juga mirip salmon!
Salmon?
Tidak, lupakan saja.
Ini, makan saja jangan sungkan.
Ini...
...enak!
Apa kalian juga mau makan?
Ikannya kali ini habis karena terlalu populer.
Ketika berhasil menangkap banyak,
aku memutuskan untuk mengawetkannya dengan garam.
Aku mengayunkan cangkul sambil membayangkan beras,
dan padi pun tumbuh.
Aku tidak yakin kalau ini bisa tumbuh di ladang,
tapi mumpung sudah ada waduk...
Aku akan membuat sawah!
Sawah?
Tidak ada bedanya dengan ladang biasa.
Masih belum!
Ini diisi air juga? Ah, aku mengerti!
Kamu mau membudidayakan ikan, ya?
Terlihat seperti itu, ya.
Mulai saat ini, kalian juga harus membantu.
Kami harus apa?
Licin sekali!
Bagi tugas untuk menanam bibit ini!
Ria dan lainnya yang awalnya ragu pun dengan cepat terbiasa.
Proses nandur bibit pun berjalan lancar.
Aku meminta tolong pada anak-anak Zabuton untuk membasmi hama.
Mungkin karena sawahnya juga dibuat dengan Alat Bertani Mahabisa,
padinya pun siap panen dalam waktu cepat.
Waktunya membabat!
Proses ini juga dibantu oleh Ria dan lainnya.
Berkat mereka, semuanya selesai dalam sekejap.
Ini sedang diapakan?
Aku sedang menjemur padi agar semua cairannya hilang.
Hiraku memang tahu banyak hal, ya.
Aku cuma kebetulan tahu.
Benar, aku hanya kebetulan melihat idola di televisi melakukan hal ini.
Ini tanaman yang tumbuh dari sawah itu, ya?
Selanjutnya apa?
Mengirik.
Iya.
Kalau tidak salah...
Sepertinya alat pengirik yang kulihat di museum dulu bentuknya seperti ini.
Kurang lebih begini caranya.
Selanjutnya,
kita pisahkan daun dan sampah halus dari gabahnya.
Kita gilas agar kulit luarnya terlepas,
lalu tumbuk dengan kayu agar kulit dalamnya lepas.
Tahapannya lumayan banyak, ya.
Iya, apa itu tidak bisa dimakan jika tidak diproses seperti ini?
Apa sekarang sudah jadi?
Iya.
Kalau begitu, berarti sudah bisa dimakan?
Tidak, masih belum.
Kali ini apa?
Menanak nasi.
Kalau tidak salah, waktu menanak nasi...
Pertama mendidih lalu mendesis.
Tiup api secara bertahap,
dan masukkan kayu bakar secara telaten.
Meski ada suara bayi menangis, jangan buka tutupnya.
Mantra apa itu?
Entahlah, aku belum pernah mendengarnya.
Ru.
Bisa tolong nyalakan apinya?
Tentu saja.
Akhirnya giliran Petapa Agung, Nona Ru, telah tiba!
Akan kumusnahkan semuanya tanpa sisa.
Nyalakan yang pelan-pelan saja.
Membosankan, ah.
Akan jadi masakan apa, ya?
Aku tidak mengerti, tapi aku penasaran pada efek mantranya.
Tampaknya matang dengan sempurna!
Akhirnya selesai.
Masih belum!
Setelah semua proses melelahkan itu, jadinya hanya ini?
Iya.
Kalau kamu mencoba nasi, nasi kepal memang opsi paling utama.
Silakan duluan.
Iya, deh.
Enak sekali!
Benar, 'kan?
Ini...!
Ikan yang kemarin!
Iya, rasa asinnya cocok, 'kan?
Rasanya kerja kerasku terbayarkan.
Ini momen paling bahagia bagi petani.
Enak?
Ya, karena ini populer, sepertinya aku akan membuat lebih banyak lagi.
Selanjutnya aku akan menyiapkan isian yang lain.
Hari ini cukup segini saja.
Baik!
Semuanya membersihkan kotoran memakai sihir,
tapi kalau habis kerja begini, rasanya jadi ingin mandi.
Saluran air 'kan sudah jadi,
aku coba buat saja!
Pemandian?
No comments yet. Be the first to leave one.