The first 200 lines.
"Episode 56"
Apa maksudmu?
Wanita itu bukan Lee Jeong Hwa?
Ji Seok tidak berpacaran
dengan Lee Jeong Hwa.
Apa maksudmu?
Katamu kamu pernah melihat Ji Seok mengajak Lee Jeong Hwa berkencan
dengan mata kepalamu sendiri?
Itu...
Tunggu.
Kamu membohongi bibi?
Ya.
- Astaga, Bibi. - Lepaskan.
Lalu apa yang kamu lihat?
Katakan.
Katakan segalanya dengan jujur, tanpa ada yang ditutupi.
Sejujurnya,
aku melihat Ji Seok menyatakan cintanya
kepada seorang wanita,
tapi wanita itu bukan Lee Jeong Hwa.
Kamu yakin?
Ya. Aku bertanya kepada kakaknya Lee Jeong Hwa.
Dia bilang, pria yang dikencani adiknya memang orang hukum,
tapi bukan seorang pengacara. Pria itu seorang jaksa.
Maafkan aku karena telah berbohong.
Mataku terbutakan oleh tas ini.
Itu sebabnya aku kemari untuk mengatakan yang sejujurnya.
Aku ingin memberi tahu Bibi segalanya.
Apa?
Lalu kepada siapa
Ji Seok menyatakan cintanya?
Itulah alasanku mengejar mereka untuk melihat siapa wanita itu,
tapi aku kehilangan mereka.
Tapi jangan khawatir.
Aku pasti akan mencari tahu.
Tidak.
Kamu tidak usah ikut campur.
Kini Bibi mau bagaimana?
Satu, dua, tiga.
Tampaknya enak.
- Berapa harganya? - Satu dolar.
Satu, dua, tiga.
Kamu mau melakukannya?
- Menaruh nomor di panggilan cepat? - Panggilan cepat?
Matamu tertutup.
Kamu jarang difoto, ya?
Kenapa matamu terus menutup?
Benarkah?
Ya. Kamu seperti kakakku.
Omong-omong, ini kali pertama kamu menyebutkan dia.
Tunggu, kamu belum pernah membicarakan soal keluargamu.
Kamu sudah mengenal keluargaku.
Begitukah?
Aku punya kakak laki-laki, dia seorang guru.
Ayahku sudah meninggal 10 tahun lalu.
Jadi, ibu dan nenekku tinggal bersama selama 30 tahun
dengan saling membenci.
Dan soal dokter yang menangani adikmu.
Dokter Han Jae Woong?
Ya. Sejujurnya, dia sangat dekat denganku.
Dia pamanku.
Sungguh?
Dia suami bibimu?
Dia mantan suami bibiku.
Mereka sudah bercerai.
Bibiku berselingkuh.
Kuharap aku tidak membuatmu sedih dengan cerita soal bibiku.
Tidak. Kamu tidak pernah membicarakan dirimu,
jadi, kini aku merasa menjadi orang penting bagimu.
Nomorku ada di panggilan cepatmu.
Begitu juga nomormu di ponselku.
Tanganmu mungil sekali.
Aku ingin mengantonginya setiap hari.
Aku bisa apa?
Aku harus pulang.
Aku bisa apa?
Aku tidak mau melepaskanmu.
Kapan kita bertemu lagi?
Di mimpi?
Sulit dipercaya kamu mengatakan itu.
Apa? Ya, kamu tahu,
aku membacanya di buku.
Kamu belajar berkencan dari buku?
Lalu aku harus bilang apa?
Kamu tidak perlu bilang apa pun.
Apa?
Itu cukup.
Aku akan meneleponmu.
Sebentar, ada yang ingin kutanyakan kepadamu.
- Apa agamamu? - Apa?
Apa yang kamu yakini sampai bisa secantik ini?
Apa?
Kamu berdandan untukku, bukan?
Kalau begitu, sampai jumpa.
Astaga.
- Kamu sedang apa? - Astaga.
Kenapa kamu membuat suara begitu?
Benarkah? Aku tidak begitu.
Selamat malam.
Tidak, dia pasti melihat sesuatu
dan berkata, "Astaga."
Aku harus tahu namanya untuk tahu nomornya.
"Salju Pertama"
"Salju Pertama"?
"Salju Pertama"
Dapat. Ini pasti dia.
"Salju Pertama"
- Kapan Ibu masuk? - Baru saja.
Ibu ingin bicara denganmu.
Ibu bertengkar dengan Nenek lagi?
Ibu tampak agak lesu.
Bukankah kamu berkencan dengan Lee Jeong Hwa?
Kenapa aku mau berkencan dengannya?
Lalu kenapa dia sering mengunjungi kantormu?
Tampaknya kamu menemui dia secara pribadi.
Aku membantu adiknya
dengan kasus perceraiannya.
Ibu salah paham?
Lalu siapa gadis itu?
Siapa?
Kamu bilang mau mengenalkan seorang gadis kepada ibu?
Seperti kataku. Aku butuh sedikit waktu lagi.
Kenapa kamu masih butuh waktu?
Ada apa? Kamu malu mengenalkannya?
- Tidak. - Atau apakah dia
tidak begitu menyukaimu sebanyak kamu sangat menyukainya?
Bukan seperti itu.
Pasti seperti itu.
Hye Eun melihatnya.
Dia melihatmu memohon kepada gadis itu.
Astaga, kenapa dia harus mengatakannya?
Jika ibu salah, bawa gadis itu kemari besok.
Ibu harus menemuinya.
- Sepertinya tidak bisa. - Apa?
Aku ingin melakukannya perlahan.
Dia baru saja membuka hatinya untukku.
Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman.
Lalu?
Aku akan mengajaknya di waktu tepat.
Jika dia mau, akan kubawa dia kemari.
Hye Eun benar.
Kenapa kamu sangat berhati-hati?
Apa dia begitu spesial?
Kenapa dia sangat spesial?
Aku hanya sangat menyukainya.
Itu sebabnya ibu ingin menemuinya.
Bukankah ibu sudah bilang?
Saat bertemu dengan wanita yang mau kamu nikahi,
kamu harus lebih dahulu mengenalkannya kepada ibu.
Tidak ada tujuan lain.
Dia akan menjadi menantu ibu.
Apa salahnya ingin segera bertemu dengannya?
Ibu ingin akrab dengan wanita yang kamu sukai.
Ibu ingin mengenalnya.
Jadi, bawalah dia kemari pekan ini.
Ibu tidak bisa menunggu lebih lama dari itu.
Biar kutanyakan kepadanya dahulu.
Apa? "Biar kutanyakan kepadanya dahulu"?
Kenapa kamu ke atas?
Aku tadi berbicara dengan Ji Seok.
Kamu masih mencerewetinya
soal wanita yang dia kencani?
- Apa? - Ibu yakin wanita itu baik.
Jika kamu melakukan itu,
percayalah saja kepadanya dan beri dia waktu.
Kenapa aku harus begitu?
Apa yang begitu spesial soal gadis itu
sampai membuat Ji Seok sangat berhati-hati?
Aku harus mencari tahu.
Tunggu dan lihat saja.
Apa aku sedang melihat foto ini?
Kita akan bertemu di mimpi.
"Pusat Kebugaran"
Permisi.
Apa Choi Mi Mi bekerja hari ini?
Dia sudah berhenti.
Pergelangan kakinya cedera.
Saat ingin merayu pria dengan pakaian seperti itu,
adakah pria yang tertarik kepadamu?
Kumohon sadarlah.
Pikirmu mereka sungguh menyukaimu?
Ini salahku. Aku harus bagaimana?
"Diet Salep Lemon"
Ini dia.
Terima kasih.
- Sampai jumpa lagi. - Sampai jumpa.
Terima kasih.
Di sini? Tidak apa-apa.
- Apa nama panggilanku? - Rubah?
Aku sangat andal memikat orang.
Ini hari pertamaku, tapi aku sudah menjual banyak sekali.
Bagaimana pergelangan kakimu?
Tidak apa-apa.
Aku hanya harus menjalani terapi fisik selama tiga hari.
Omong-omong, pria itu mencarimu.
Itu sudah pernah terjadi.
- Maksudku gurunya adikmu. - Apa?
Saat aku mengatakan kamu sudah keluar,
dia menanyakan di mana kamu bekerja sekarang.
Kenapa tidak bilang dari tadi?
No comments yet. Be the first to leave one.