Release info

인간실격-Lost-E03-NEXT-iQIYI
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2021-09-11
Downloads: 23
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 183 lines.

[SEMUA TEMPAT, TOKOH, FIRMA, DAN PERISTIWA DALAM TAYANGAN INI HANYALAH FIKSI.]

[Berbaring di ranjang 1,6 meter persegi yang kotor,]

[Pada saat-saat terakhirnya, tepat sebelum dia meninggalkanku,]

[berbaring di ranjang selama lebih dari enam tahun,]

[Dia mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa.]

[Apa dia merasakan rasa sakit yang tak tertahankan?]

[Jadi, aku berlari sejauh mungkin sejak hari itu, seperti ini.]

[Saat ajal menjemput, semua orang sendirian.]

Cukup tak usah diangkat.

Ambillah.

Lenganku mulai pegal.

Tidak mudah saat kau melihatnya.

Kau mendengar tentang orang melompat di berita.

Gang ini

adalah tempat anak-anak pergi ke bimbingan belajar swasta.

Itu bisa menakuti anak-anak.

Tidak akan mudah

membersihkan TKP.

Belum lama ini, seorang temanku bunuh diri.

Dia tak melompat. Dia...

Begitulah.

Hei.

Kurasa ini sejajar dengan unitku.

Jika melompat, kau bisa mengenai pipa pembuanganku.

Jika ingin melompat dari sini,

kau harus mengambil ancang-ancang yang jauh.

Jadi...

Jadi, begitulah...

Begitulah manusia.

Biasanya, mereka tak peduli.

Tapi saat seseorang dalam masalah,

mereka mendekat.

Mereka memang suka ikut campur.

Jadi,

tadi aku mau pergi membeli kimchi.

[Lalu, aku mendengar teriakan di tangga darurat.]

Setelah itu, kudengar kau berteriak ke atap.

Tentu saja, aku jadi mengikutimu.

Maksudku...

Jangan salah paham

kita jadi bertemu lagi seperti ini.

Kau tinggal di lantai sepuluh?

Kenapa aku belum pernah melihatmu?

Kau pernah melihatku?

Ayahku tinggal di sini.

Ayahmu rupanya.

Ayahmu pasti sakit.

Aku melihatmu membeli bubur.

Sial.

Padahal aku sudah memasak mi instan.

Kini aku harus memasaknya lagi.

Ayahmu pasti khawatir

karena kau pergi membeli bubur, tapi belum kembali.

Dia juga pasti sudah lapar.

Baiklah.

Aku mau membeli kimchi.

Kau sebaiknya...

Kau harus bilang apa kepada ayahmu?

Bilang saja kau naik ke atap untuk mencari udara segar.

Lalu seorang pria yang suka ikut campur,

tapi cukup tampan,

membuat keributan dan ingin bunuh diri.

Dia tak jadi melompat. Jadi, kau turun.

Kau tak akan pernah kembali ke atap.

Ya.

Kedengarannya bagus.

Baiklah, pokoknya begitu saja.

Aku pergi sekarang.

Aku tinggal di sini lebih dari setahun, tapi baru tahu ada fasilitas semacam ini.

Terima kasih.

Saat kita bertemu lagi,

mari kita bertukar.

ID KakaoTalk.

Apa aku membangunkan Ayah?

Kau belum pergi?

Kubilang aku akan menginap.

Kukira kau sudah pulang.

Ya...

Kembalilah tidur. Aku juga akan mandi dan tidur.

Bukan Jeong-su.

Bukan dia yang cerita. Jangan salahkan orang tak bersalah.

Ya, dia.

Bukan dia.

Kau tak memercayai ayah?

Baiklah.

Lagi pula, aku penyihir.

Tolong jangan katakan itu.

Baiklah.

Benar-benar sudah berakhir, 'kan?

Kita berdua penuh keraguan.

Ayah percaya kepadamu. Ayah tak penuh keraguan.

Jadi pakai toilet? Aku mau mandi.

Kenapa mandi di tempat sekecil ini?

Mandilah di rumahmu.

Rumahku juga kecil.

Dan ini adalah rumahku.

Rumah itu atas nama Jeong-su.

Rumah ini milikku.

Aku tinggal di sini selama tujuh tahun sebelum Ayah datang.

Benar.

Kau melakukan hal besar, membeli rumah di Seoul.

Orang lain akan mengira aku membeli rumah di Seoul.

Padahal hanya studio tua dan baru lunas setengah cicilan.

Tapi kau sudah bayar setengahnya.

Ada kamar mandi, dapur,

pemanas air, jendela, dan tak ada yang memanggil.

Tak banyak yang bisa melakukan ini tanpa bantuan orang tua mereka.

Energi Ayah sudah pulih.

Kubilang aku tak sakit.

Selain itu,

tentu saja aku dibantu orang tuaku.

Saat aku belajar di Seoul,

Ayah menjual properti keluarga dan membayar uang sewaku.

Aku sering pingsan. Jadi, Ayah membelikanku obat selama delapan tahun.

Itu properti kakekmu, bukan milik ayah.

Itu sama saja.

Omong-omong,

berapa sisa utangmu?

Aku tak mau membahasnya.

Berapa lagi?

- Sedikit. - Astaga.

Astaga.

- Lepaskan. - Berapa...

Ayah.

Ayah harus makan telur sebelum tanggal kedaluwarsa.

Ini tanggal terakhir untuk distribusi.

Kau bisa memakannya satu sampai dua bulan setelah itu.

Lalu itu akan menetas menjadi anak ayam di kulkas.

Jika menetas, ayah akan memeliharanya di atap.

Atap itu bukan milik Ayah...

Aku hanya bercanda.

Telurnya tak akan menetas. Bagaimana mungkin itu menetas?

Aku hanya bercanda.

Apa terjadi sesuatu saat kau pergi?

Apa? Kenapa?

Bukan apa-apa.

Aku pergi ke atap untuk mencari udara segar.

Atap?

Kenapa pergi ke sana saat malam? Itu berbahaya.

Benar.

Bagaimanapun,

aku memutuskan untuk tak kembali ke sana.

Ayah tahu penghuni unit terakhir di ujung lorong?

Di ujung lorong?

Kita bertemu dengannya di pintu masuk kemarin.

Si Hidung Belang itu?

Ya.

Ayah mau tahu?

Sepertinya dia baru melihatku kemarin.

Kau bertemu dengannya di tempat lain?

Ya.

Hanya sebentar saat aku turun dari atap.

Kami bertemu di lift

dan pernah saling menyapa beberapa kali.

Dan secara tak sengaja,

tagihannya dikirimkan kepada kita. Jadi, kuberikan kepadanya.

Ya, ayah ingat.

Tapi aku tahu mi instan apa yang dia makan.

Bagaimana kau bisa tahu?

Ayah yang memberitahuku.

Benarkah?

Ayah bilang dia membuang

10-20 dus mi instan yang sama.

Ya.

Benar.

Ayah ingat.

Tapi dia sama sekali tak mengingatku.

Dia tak tahu aku tinggal di sini.

Omong-omong,

dia melihatku untuk kali pertama.

Dia mungkin sangat bodoh.

Tidak.

Bukan begitu.

Ayah tahu perasaan itu.

Ayah ada, tapi tak hadir.

Omong-omong,

aku tak dianggap olehnya, Ayah.

[Aku hanya melihat hal yang membuatku tertarik.]

[PANGGILAN UNTUK MINGGU PUKUL 14.00. TIGA JAM. BISA?]

[Semua orang kecuali aku hanya orang yang lewat.]

[Seingatku, aku tak pernah memperhatikan orang lain.]

Kita tak menemui mereka karena tak tertarik.

Ayah tak tahu apa yang kubicarakan, bukan?

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left