The first 200 lines.
Di abad pertengahan muncul sebuah olahraga.
Disukai bangsawan dan rakyat jelata walau hanya ksatria yang bisa bertarung.
Olahraga tersebut adalah duel tombak.
Bagi salah satu ksatria ini, seorang mantan juara, masanya telah berlalu.
Tapi bagi pesuruhnya William, ini barulah permulaan.
Haruskah kita membantunya?
Dia harus hadir dua menit lagi. Dua menit atau gugur.
Pinjamkan itu.
- Kanan. Kiri. - Terima kasih.
- Mati. - Apa?
3-0 setelah dua babak.
Selama Sir Ector tidak jatuh dari kudanya, kita menang.
Dia sudah mati.
- Apa maksudmu mati? - Cahaya hidupnya sudah padam.
Rohnya sudah pergi tapi meninggalkan baunya.
- Apa itu menjawab pertanyaanmu? - Tidak.
Tidak, dia tidur. Bangunkan dia.
Aku sudah 3 hari tidak makan!
Kita semuanya belum makan!
- Kita harus panggil pastor. - Tidak, dia belum mati!
Bangun! Ayo!
Ayo!
Dasar orang tak berguna!
Roland.
Pesuruh, Sir Ector harus segera melapor atau dia gugur dalam pertandingan.
Dia segera ke sana.
Aku sudah 3 hari tidak makan!
Tiga hari! Apa yang sudah kau makan, Kawan?
Andai kau belum mati, aku akan membunuhmu!
Aku akan menggantikannya.
Lucuti pakaian besinya. Akan kugantikan tempatnya.
Wat, berhentilah menendangnya! Akan kugantikan tempatnya. Bantu aku.
Siapa namamu, William?
Aku menanyaimu, William Thatcher. Jawab dengan namamu.
Bukan Sir William.
Bukan Count atau Duke apalagi Raja William.
Aku tahu itu.
Harus keturunan ningrat yang bertanding.
Hal sepele. Yang penting makan. Kau mau makan atau tidak?
Bila para bangsawan tahu, akan ada kesulitan yang mesti ditanggung.
Maka berdoalah agar mereka tidak tahu.
HIKAYAT SEORANG KSATRIA
Pasang pelindung wajahnya.
Ayo, kita terlambat.
Sir Ector sejauh ini unggul 3-0.
Lord Philip dari Aragon.
Kau sudah siap?
Sir Ector. Kau sudah siap?
Siap?
Tentu. Aku sudah sering berlatih dengan Sir Ector.
Sebagai sasaran latihannya. Kau tak pernah menyerangnya.
- Jangan ganggu dengan hal sepele. - Hal yang penting. Tetaplah di kuda.
Dia perlu 3 angka. Jadi tongkat patah takkan membantunya.
Dia harus menjatuhkanmu dari kuda.
Aku tahu bagaimana menghitung nilai, Roland.
Aku sudah menunggu ini selama hidupku.
Menunggu Sir Ector mati?
Sangkutkan tombakmu.
Sangkutkan tombakmu!
William, kau masih hidup?
- Kita menang! - Kau bisa mendengarku?
Lepaskan aku! William, kau bisa mendengarku?
Kita menang!
Dia masih bernafas. Dia masih bernafas!
Sir Ector.
Sir Ector. Buka helm-mu.
Paduka, hantaman terakhir membuat helm ini tersangkut di kepalaku.
Katanya hantaman terakhir--
Inilah juaranya, Paduka.
20.
10 saja.
- 15. - Baik.
Bagus sekali. Terima kasih.
15 florin perak. Dia tak mau itu.
Lima untuk William.
Lima untuk Wat. Lima untuk Roland yang mau pulang ke Inggris.
Aku sendiri mau ke pub. Kue belut, kue kerak susu...
...kue kuning dengan krim peppermint.
Kita bisa lakukan ini.
Sudahlah, Nak. Kau sudah dapatkan perakmu.
Bukan, maksudku kita bisa lakukan ini. Kita bisa jadi juara.
Berikan uang kalian.
Berikan uang kalian.
Satu untukmu.
Dan satu untukmu.
Sisanya 13 koin.
Sisa uang ini untuk biaya latihan dan pakaian.
Turnamen di Rouen sebulan lagi.
Dalam sebulan, kita bisa dapatkan hadiah yang lebih besar dari ini.
Dalam sebulan, kita bisa raih kemuliaan dan kekayaan yang tak pernah kita impikan.
Atau dalam sebulan kita bisa berbaring di parit bersama Sir Ector.
Aku tak mau kekayaan dan kemuliaan, William. Aku hanya ingin pulang.
Kue-kue dan makanan enak. Kuambil 5 koinku sekarang.
Tunggu.
Kau salah jalan!
Kau bahkan tak bisa bertarung tombak.
Hanya butuh nyali untuk terima hantaman atau menyerang. Aku punya nyali.
Dan teknik? Aku punya waktu sebulan untuk mempelajarinya.
Lagipula pedangnya. Siapa yang lebih ahli berpedang daripada aku?
- Di tempat latihan. - Kau bukan keturunan bangsawan.
Mari kita berbohong.
Bagaimana para bangsawan awalnya menjadi terhormat?
Mereka mengambilnya dengan bertarung. Akan kulakukan itu dengan tombak.
- Tombak tumpul. - Tak penting, Wat.
Orang bisa mengubah nasibnya. Dan aku tak mau jadi bukan siapa-siapa seumur hidup.
Itu bukan siapa-siapa. Di sanalah kemuliaan akan membawa kita.
Kita rakyat jelata. Kemuliaaan dan kekayaan di luar jangkauan kita.
Tapi perut kenyang? Mimpi itu bisa terwujud.
Bila kalian bisa ambil uang kalian, pergilah ke Inggris makan kue.
Tapi bila tak bisa, kalian ikut aku.
Benar, 'kan? Uang bukan masalah.
Kau lihat betapa laparnya aku?
Terkutuklah perutmu, Wat!
Roland, tolonglah.
Dengan 13 uang perak, 3 orang pria dapat mengubah nasib mereka.
Tuhan mencintaimu, William.
Aku tahu. Tak ada yang lainnya.
Belum beruntung.
- Kurasa dia semakin buruk. - Memang.
Ganti.
Ganti.
Kemuliaan dan kekayaan. Kemuliaan dan kekayaan!
Kau lihat betapa berbahayanya dia?
Lebih cepat! Gunakan kaki kalian!
Ayo, Roland. Lari lebih cepat!
- Kau meleset. - Kau sudah coba berulang kali.
Itu artinya kita harus coba lagi.
Ayo.
Ayo, kuda poni.
Bunuh dia.
Lebih cepat. Keseimbangan.
Pelan-pelan. Tetap seimbangkan.
Berhasil! Lihat, aku berhasil!
Kapan pun bisa.
- Ya, lebih baik. - Bagus.
- Giliranku menunggangi kudanya. - Tidak.
Kita belum melewati gunung. Dan aku tak yakin boleh.
Jika bertemu ksatria lain, bagaimana kesannya melihat pesuruhku...
...naik kuda dan aku berjalan kaki.
Aku tak peduli! Ini sudah giliranku!
Mungkin tak ada yang naik kuda saja. Kuda tak sesehat saat kita butuhkan.
Baiklah.
Pagi.
Pagi.
Tuan.
Apa yang kau lakukan?
Berjalan dengan susah payah.
Kalian tahu berjalan dengan susah payah?
Berjalan pelan, lelah dan...
...tertekan namun dengan tekad bulat oleh seorang pria yang tak punya apa-apa lagi...
...dalam hidupnya, kecuali dorongan untuk tetap tegar.
Kau dirampok?
Pertanyaan yang menarik. Ya.
Tapi di saat yang sama, tidak.
Lebih menyerupai sumpah kemiskinan yang dipaksakan.
Tapi setidaknya berjalan seperti ini menunjukkan kebanggaan.
Kebanggaan, tekad dan iman kepada Tuhan.
Kumohon, Tuhan, bantu aku dari masa...
...percobaanku.
Siapa kau?
Lilium inter spinas.
Bunga lili di antara duri.
Geoffrey Chaucer namaku. Menulis adalah keahlianku.
Chaucer?
Geoffrey Chaucer, sang penulis?
- Apa? - Penulis.
Aku menulis dengan tinta dan perkamen.
Untuk satu penny, akan kutulis apa yang kau mau.
Dari perintah, fatwa, surat panggilan, sampai pengesahan kebangsawanan.
Aku bahkan tulis puisi bila ada ilham.
Mungkin kalian pernah baca bukuku, The Book of the Duchess.
Memang alegoris.
Kami tak salahkan kau. Tiap orang ambil keputusan sendiri.
Katamu tadi pengesahan kebangsawanan?
Benar. Aku bilang begitu.
Dan kalian adalah?
Aku Sir Ulrich von Lichtenstein dari Gelderland.
Dan ini pesuruh-pesuruhku yang setia, Delves dari Dodgington...
...dan Fowlehurst dari Crewe.
Aku Richard si Pemberani. Senang bertemu denganmu.
Bukan, aku Charlemagne! Yohanes Pembaptis!
Baiklah!
Tahan lidahmu, tuan, atau kau kehilangan itu.
Setelah melihat itu, aku baru percaya...
...Sir Ulrich.
Terima kasih, Geoff.
Ada lagi yang mau dikatakan, Tuan Bugil, atau boleh kami lanjutkan perjalanan?
- Kalian mau ke turnamen? - Ini memang jalan ke Rouen, 'kan?
Kalian hanya bisa menonton. Mereka membatasi lapangan di Rouen.
Keturunan bangsawan dibatasi pada empat generasi dari kedua pihak keluarga.
Pengesahan kebangsawanan harus ditunjukkan.
Dengar, beri aku pakaian...
...sepatu dan makan. Biar kunaiki kuda itu sebentar dan kubuatkan pengesahanmu.
Tidak.
- Pengesahan kebangsawanan. - Kita membutuhkannya.
- Biar kutangani. - Berbaik-baiklah.
Baik, baik, baik.
Baiklah.
Khianati kami dan akan kubunuh kau sampai bagian dalam tubuhmu...
...berada di luar, dan yang di belakang akan jadi di depan.
No comments yet. Be the first to leave one.