The first 148 lines.
Di negara ini, ada karya sastra yang disebut karya agung.
Tapi apa tak ada orang yang merasa itu semua tak berhubungan dengan karya ini?
Bagi generasi muda, ini hanyalah kisah lama.
Bagi generasi tua,
ini adalah cerita yang terpaksa mereka baca dulu.
Jika kalian ambil salah satunya sekali lagi, kalian akan terkejut.
Dengan melihat karakter utama khawatir, berduka dan bertindak mengingatkan akan diri kita sendiri.
Kemudian, itu semua akan mengingatkan kita bahwa hari-hari kita dipenuhi derita dan kehidupan.
Sesuatu yang cenderung kita lupakan.
Contohnya, Bukan Manusia Lagi ini.
Ini adalah karya besar Dazai Osamu.
Dengan 10 juta kopi,
dan telah diabadikan sebagai karya yang paling dibaca di Jepang.
Tapi ini tak lebih dari kisah lama.
Karya agung itu pilu.
Silakan saksikan episode pertama dari Bukan Manusia Lagi.
Aku hidup dalam rasa malu.
Aku tak tahu apa itu hidup manusia.
Maaf aku telat.
Kau menjenguk suamimu lagi?
Iya.
Kita sudah buka.
Aku segera ganti baju.
Lagi pula dia akan dieksekusi.
Wanita ini adalah Mayumi.
Nama aslinya, setelah kuketahui, adalah Tsuneko.
Dia adalah wanita yang kusebut dibunuh.
Pada saat itu, aku terlibat dalam gerakan anti pemerintah.
Menurut Menteri Dalam Negeri, ada lebih dari 100.000 pengangguran.
Kota penuh dengan pengangguran.
Tak terhitung jumlah orang yang tinggal di desa dan menjual diri!
T-Tak terhitung!
Anu...
A-Adikku...
juga dijual...
untuk membantu keluarga!
Dia baru 16 tahun!
Para pelajar!
Ini revolusi!
Sekarang waktunya gulingkan pemerintahan!
Pemberontakan bersenjata menjelang!
Tulis namamu disana dan bergabunglah!
Aku akan ikut!
Aku juga!
Bantu kami dengan beli senjata!
Sangat mudah mengumpulkan uang.
Iya kan, Kapten?
Kau juga pandai berakting.
Kau cuma pelawak.
Kau melawak dengan sempurna.
Oh benarkah?
Tapi kita bilang untuk orang miskin yang ternyata uang itu dari yang lebih miskin...
Bagaimana jadinya kalau mereka tahu kau itu orang kaya yang kotor?
Tuan Muda.
Ayah Tuan geram sekali karena Tuan masih ikut kegiatan ilegal.
Ini supaya dunia lebih baik.
Tuan masih belajar seni?
Ayah Tuan bilang kalau Tuan merusak reputasinya,
beliau akan berhenti memberi uang.
Kalau terus begini, saya tak bisa apa-apa.
Saya harap ini yang terakhir.
Tanpa uang, lebih baik aku mati.
Tolong beri tahu itu pada Ayah.
Semuanya ditahan!
Diam di tempat!
Kepar...
Itu polisi khusus.
Sial!
Cepat!
Kabur lewat jendela!
Hei, sudah periksa WC?
Dorong!
Bodoh! Periksa!
Hei, tunggu!
Ayo!
Tangkap mereka tanpa menarik perhatian.
Cari mereka ke mana.
Kita berdiri bersama...
Ayo berpencar.
Siapa yang bawa uang kita?
Hei, pinjam uang.
Bukannya hari ini kau dikasih uang?
Jangan!
Jangan sentuh aku! Nanti ketahuan.
Ternyata benar. Dasar.
Yang punya uang, dia yang bayar.
Dah!
Aku hidup dalam rasa malu.
Kau akan masuk SMA di Tokyo.
Aku...
Paham?
Aku mau jadi seniman.
Sial!
Mayumi!
Selamat datang.
Kau sendirian?
Ikut aku saat kau sudah selesai.
Mau?
Aku kesepian...
Aku tahu bar yang bagus.
Aku yakin kau pasti suka.
Bagaimana?
Mau ikut, kan?
Maaf.
Adikku datang dari jauh.
Ikut aku.
Anu...
Biarkan aku sembunyi sebentar.
Orang itu gigih sekali.
Kau suka apa?
Apa saja...
Baiklah...
Tolong bawakan satu botol.
Siap.
Tidak, aku...
Tak masalah.
Aku pura2 jadi kakakmu.
Selamat datang.
Oh, Kosuge!
Selamat datang!
Oh, kau sudah pulang kerja?
Mana tamumu?
Dia ke kamar kecil.
Maaf mengganggu.
Silahkan datang lagi!
Sudah aman.
Mau sampai kapan kau disitu?!
Sepertinya kau menyembunyikanku.
Tenang saja.
Kenapa?
Dia polisi khusus, kan?
Dia biasa di bar.
Selalu di mana-mana...
Aku benci dia.
Dan kau juga ditakut-takuti.
Oh, begitu?
Kau lucu.
Anu...
Bisa gawat kalau ketahuan.
Kita pura-pura pacaran saja.
Baik.
Hei!
Kabur!
Hei!
Lepas!
Pelacur sialan!
Cepat!
Kenapa kau tak mau lepas?!
No comments yet. Be the first to leave one.