The first 200 lines.
"Kelas Memasak Jang Ok Ja"
"Episode 109"
Ji Seok, kamu sudah siap?
Kenapa kita keluar pada hari libur?
- Kita akan ke tempat yang seru. - Tempat yang seru?
Menonton film? Atau bersepeda?
- Atau... - Kita akan mengunjungi Ayah.
Kali terakhir ke sana, kita sedang mau putus.
Aku ingin menggandengmu
dan menunjukkan bahwa kita menjalani hidup bahagia.
Bagaimana?
Baik. Mari lakukan itu.
Ayah.
Ayah.
Ayah.
Ibu.
Ada apa kalian kemari?
Kami juga ingin mengunjungi Ayah.
Kapan Ibu sampai?
Jika aku tahu, seharusnya kita kemari bersama.
Benar.
Apa yang Ibu pikirkan?
Bukan apa-apa...
Membayangkan penderitaan yang sedang dia rasakan
dan betapa dia sangat sedih
meninggalkan kita.
Begitulah.
Coba pikirkan,
ini kali pertama kita mengunjungi Ayah bersama.
Bukan begitu, Ji Seok?
Ya.
Sebenarnya
aku kemari untuk meminta maaf kepada Ayah.
Semuanya, dari menikah tanpa mengatakan yang sebenarnya
sampai telah menyulitkan Ibu.
Aku juga ingin berjanji kepadanya.
Bahwa aku akan baik kepada Ibu
demi Ayah.
Aku juga ingin bilang,
aku akan membahagiakan Ji Seok dan melindungi keluarga.
Tentu saja.
Ibu pulang lebih dahulu. Kalian bisa datang lagi nanti.
Kenapa Ibu tidak menunggu dan kita pulang bersama?
Tidak apa-apa. Ibu hanya akan membuat kalian tidak nyaman.
Ayolah, Ibu. Kami tidak bisa...
Kami juga akan pulang.
- Ayo. - Kamu boleh tetap di sini.
Maafkan aku.
Kami akan kembali lain kali.
Kenapa selalu aku yang harus menyerah?
Karena aku putri sulung,
yang paling tua,
dan harus menggantikan tugas Ayah?
Sampai kapan aku harus melakukan ini?
Aku berusaha keras
mencari nafkah dengan Go Bong yang kekanak-kanakan
dan kesayanganku Go Woon.
Aku bekerja keras menggantikan Ayah.
Kenapa Ibu bilang aku tidak berguna?
Aku sangat membencinya saat teringat
bahwa dia putri Choi Tae Pyung,
tapi aku akan mempertimbangkan dan menerimanya.
Aku tidak akan menganggapnya sebagai putrimu.
Ya, Ibu.
Kamu bisa kemari
sepulang kerja besok?
Ya, tentu saja.
Aku sangat senang menerima telepon dari Ibu
dan Ibu memintaku ke sana.
Sudah, ya.
Ayolah, Ibu. Kami tidak bisa membiarkan Ibu pulang...
Kami juga akan pulang.
Ayo.
Kenapa kamu mengikuti ibu? Habiskan waktu bersama istrimu.
Tidak ada yang sendirian di tempat ini.
- Aku tidak mau ibu kesepian. - Lupakanlah.
Ibu juga sering berjalan di sini bersama ayahmu.
- Benarkah? - Ya.
Kami mengobrol di belakangmu dan Eun Seok
dan bergosip soal nenekmu juga.
Kami juga saling berjanji.
Janji apa?
Saat melihat matahari terbenam, kami berjanji
akan menua bersama.
Ayahmu romantis.
Kamu berusaha keras
agar ibu kembali normal setelah memaafkan Go Ya.
Jangan khawatir.
Ibu mengusir adik ibu dan memilih dia.
Ibu juga ingin akrab dengannya.
Maafkan aku.
Untuk apa?
Semuanya.
"Jika bisa menjadikan orang yang kita cintai sebagai dewa,
aku akan memilih untuk melayanimu."
Rencana Bibi tidak akan berhasil.
Aku akan melindungi Ibu dan Go Ya.
"Aku menyaksikan perkelahian di atap Grup WL"
Bagaimana dengan videonya? Sudah kamu unggah?
Baik.
Ji Seok, tunggu dan lihat saja.
Kamu akan mengusir Go Ya.
Jadi, berhentilah bertahan.
Itu hanya akan menyakitimu.
"Rumah Sakit Hanguk"
- Kenapa datang sepagi ini? - Paman.
- Aku butuh perawatan. - Apa?
Untuk apa?
Mimpi buruknya kembali.
Sejak kapan?
- Belum lama. - Sesering apa?
- Setiap hari. - Apa?
Aku kurang tidur belakangan ini.
Lalu?
Sebelumnya, aku hanya melihat kecelakaan itu di mimpiku,
tapi kini aku mulai melihatnya di dunia nyata.
- Aku juga bisa mendengarnya. - Hei.
Bisa-bisanya kamu mengatakannya seakan-akan itu hal biasa?
Karena aku memercayai Paman.
Aku tahu Paman akan memulihkanku.
Apa akhir-akhir ini kamu mengalami syok atau semacamnya?
Begitulah. Banyak yang telah terjadi.
Kita harus melakukan tes untuk memastikannya,
tapi sepertinya gejalamu memburuk.
Kamu akan memakan obat yang lebih kuat.
- Baik. - Bagaimana dengan Go Ya?
Untuk sementara ini, aku tidak mau ada yang tahu.
- Kenapa? - Karena
keadaan sudah cukup sulit baginya.
Dia juga cemas aku mulai bermimpi buruk lagi.
Jika tidak membaik,
aku baru akan memberitahunya.
Mari kita langsung mulai dengan psikoterapi dan hipnoterapi.
Kamu tidak boleh menyetir untuk sementara.
Baik.
- Nenek. - Hei.
Kapan kamu membeli bunga itu?
Aku ke pasar bunga pagi ini.
Aku membelikan Nenek dan Ibu, masing-masing satu.
Cantik sekali.
- Aromanya juga harum. - Benar, bukan?
Ibu.
Berikan foto itu!
Kamu baik-baik saja?
Ya.
Maaf ibu berteriak.
Tidak apa-apa.
Aku membelikan bunga untuk Ibu. Di sana.
Baiklah. Terima kasih.
Sama-sama.
Berikan foto itu!
Kamu bisa membayarnya dengan kartu kredit.
Berikan foto itu.
Kenapa Ibu dan Ji Seok tidak mau
aku melihat foto Ayah?
- Go Ya. - Kamu datang.
- Bibi di rumah? - Ya.
Benar. Kudengar dia memutuskan untuk menerimamu kembali.
- Ya. - Baguslah.
Aku akan menentangnya,
tapi aku sangat menyukaimu.
Itu sebabnya aku mendukungmu.
- Terima kasih. - Omong-omong,
kamu sangat diterima di sini,
tapi Go Bong sama sekali tidak.
Go Bong.
Apa?
Pria yang berciuman denganmu semalam adalah Pak Min, bukan?
- Ya. - Kamu sudah gila?
Apa?
Keluarga Ji Seok sudah menerima Kak Go Ya kembali.
Bukankah itu berarti aku punya kesempatan?
Kamu serius?
Jangan ganggu dia.
Aku sudah bicara dengan Pak Min
dan katanya dia mencintai Kak Go Bong.
Sungguh?
Terserah jika dia mau menghancurkan hidupnya.
Jangan pernah menghentikan seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
- Kamu mendengarnya dari siapa? - Paman Burung Layang-layang.
Semoga berhasil.
Hanya pesona Kakak yang bisa membuat Kakak bertahan.
Benar, bukan? Terus bertahan apa pun yang terjadi.
Ayo.
Go Bong. Aku menemukannya.
Menurutmu aku bisa melakukan ini?
Tentu saja. Kamu andal memancing.
Cobalah dapatkan ibuku.
Bagaimana denganmu?
Kamu sudah bertemu dengan ibuku?
Ya, sudah.
Semoga berhasil.
Semangat.
Astaga.
Lihat siapa ini. Halo.
Halo.
- Sedang apa di sini? - Apa?
Aku ingin berbelanja saat istirahat makan siang.
- Kamu bekerja di dekat sini? - Apa?
Ini toko kesukaanku.
No comments yet. Be the first to leave one.