The first 200 lines.
Sub bY VIU
Resynced == ANANG KASWANDI ==
"Toko Buah Yoo"
Aku...
Aku kembali.
Kamu akan tahu setelah ingatanmu pulih
betapa membingungkannya
kamu melakukan ini untukku.
Dia pasti ingin
memukul wajahku yang tidak tahu malu.
Aku kagum dia bisa tahan denganku
dan tetap bersamaku.
Saat usiaku 22 tahun,
aku merasa hidupku sudah berakhir.
Aku berdoa
demi satu alasan untuk hidup.
"Susu Surim"
Hari itu, dia muncul dalam hidupku seperti takdir.
Aku akan bekerja keras
agar kita bisa pindah ke tempat yang lebih bagus dan nyaman.
Ayah pulang.
Ayah mengemudi dengan baik hari ini?
Tentu.
Selamat datang. - Terima kasih. Di mana Ibu?
Di kamar kalian. - Di kamar kalian.
Di kamar kami?
Selamat datang.
Ini dia.
Kamu menangis?
Tidak.
Apa ada masalah? Apa anak-anak nakal?
Aku sedih saat membaca buku.
Kamu menangis saat membaca buku? Seperti anak kecil?
Kamu mengejekku saat aku menangis menonton film.
Anak-anak ada di sana.
Aku ingin dia bahagia seperti aku,
dan mencintaiku sebesar aku mencintainya.
"Jembatan Wilayah Madison"
Eun Hee.
Apa yang kulakukan
sampai dia pergi?
Aku berjanji
jika dia kembali, aku akan hidup sebagai ayah anak-anak.
"Episode 9"
Kudengar Ayah melamar Ibu pada hari ini
dan itu hari pertama dia memegang tangan Ibu.
Katanya foto ini diambil untuk mengenang hari itu selamanya.
Ibu.
Ayah salah, bukan?
Ibu bilang sudah mengandung Eun Joo di sini.
Dia tidak mungkin lahir prematur.
Ibu bilang Eun Joo lahir setelah waktunya.
Apa Ibu
yang salah?
Ibu tidak
mengerti perkataanmu.
Ingatan ayahmu
masih belum pulih, itu saja.
Mau semur daging?
Kamu suka makan semur daging sapi dan ikan teri tumis
dengan bir.
Ibu.
Aku selalu bertanya-tanya...
Kenapa Ibu
hanya membawa Eun Joo saat pergi dari rumah?
Kenapa Ibu tidak mengajakku?
Saat itu,
ibu lebih muda darimu sekarang.
Ibu tidak tahu harus bagaimana.
Ibu. Bukan itu yang kutanya.
Sejak saat itu, aku sangat takut Ibu akan pergi lagi.
Aku ingin Ibu mengajakku jika pergi lagi,
jadi, aku selalu berhati-hati agar tidak membuat Ibu marah.
Aku ingin tahu apa ada alasan lain
dan itu bukan karena Ibu membenciku.
Aku merasa buruk
bersikap kejam kepada Eun Joo seumur hidupku, itu alasannya.
Benar.
Saat kembali,
ibu sadar telah membuatmu sangat ketakutan.
Dahulu kamu selalu tersenyum
dan percaya diri bahkan setelah membuat masalah.
Tapi kamu mulai berhati-hati
dan melihat sekeliling
untuk memeriksa keberadaan ibu.
Maafkan ibu.
Aku ingat
ucapan Ayah di pernikahan Eun Joo.
Ada apa denganmu?
Kenapa wajahmu terus merengut?
Aku tidak marah.
Apa karena aku tidak seelegan keluarganya?
Maafkan aku.
Maaf aku tidak pantas menjadi ayah Eun Joo.
Kurasa
sekarang aku mengerti
apa maksudnya.
Ibu harus bagaimana?
Apa yang harus ibu lakukan?
Ibu ingin merahasiakan ini
di antara kami berdua selamanya.
Ibu harus bagaimana?
Benar.
Tidak ada rahasia yang abadi.
Siapa sangka ayahmu akan tiba-tiba berusia 22 tahun
dan mengungkitnya?
Berikan foto itu padanya.
Ibu muak dan lelah dengan ketidakdewasaannya.
Dia tidak bersalah. Aku tahu.
Haruskah aku berpura-pura tidak tahu?
Eun Joo tetaplah kakakku. Itu tidak akan pernah berubah.
Tidak ada yang perlu diubah.
Apa pun kata orang, ayahmu adalah ayah Eun Joo.
Tidak diragukan lagi.
Jika bukan karena itu, ibu tidak akan bertahan dengannya sampai kini.
Eun Joo berhak mengetahui kebenarannya.
Jangan sampai dia tahu dari orang lain.
Ibu harus
memberitahunya sendiri.
Aku pulang.
Astaga, apa lagi kali ini?
Kalian tidak bertengkar, bukan?
Mari akur, ya?
Berantakan sekali.
Apa kamu
mendengar percakapan kami? - Tidak.
Apa yang kalian bicarakan?
Tidakkah kamu
ingin mengatakan sesuatu kepadaku? - Tidak.
Duduklah.
Kamu menyatakan perasaanmu kepadaku, jadi, aku harus merespons.
Aku menjauh dari keluargaku setelah masuk sekolah kedokteran.
Aku tidak punya teman bercerita.
Kamu satu-satunya keluarga dan temanku.
Aku serius.
Aku akan kembali bekerja besok.
Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu mau.
Mulailah dari awal.
Carilah seorang pria.
Aku hanya ingin mengobrol denganmu hari ini.
Kamu butuh anak, suami, dan cinta.
Itu keluarga sungguhan.
Kamu tidak akan pernah bisa memiliki itu denganku.
Kamu tidak perlu merencanakan masa depanku dengan sangat cermat.
Aku akan mengurus masalahku sendiri.
Aku memutuskan menjadi temanmu, tapi itu sulit.
Aku juga sulit memaafkanmu.
Namun,
jika aku mengabaikan satu hal itu, tidak masalah.
Karena aku tahu semuanya.
Setidaknya aku tidak akan gelisah karena tidak tahu.
Tunggu sampai aku tahu yang kuinginkan.
Lalu, putuskan sendiri dan beri tahu aku.
Jangan menekanku.
Itu baru adil.
Tentu.
Lakukan sesukamu.
Kita harus menjadwalkan ulang rapatnya.
Pak Im cuti.
Dia baru saja bekerja. Bagaimana bisa dia berlibur?
Mungkin dia sedang bersama pacarnya.
Hei, Eun Hee tahu.
Apa? - Mengenai Eun Joo.
Entah bagaimana caranya, tapi aku mendengarnya
bicara dengan ibuku tentang Eun Joo.
Dia mengatakan sesuatu kepadamu?
Dia tidak tahu aku tahu.
Kamu pikir dia tidak tahu?
Aku ragu dia tahu.
Dia pasti akan menanyaiku.
Aku harus bagaimana?
Mari katakan yang sebenarnya.
Tapi
aku melarangnya meneleponmu, jadi, aku ragu dia akan menelepon.
Kenapa?
Saat kamu menghindari teleponnya,
kupikir dia salah karena datang ke kantor.
Dia berpacaran dengan seseorang, jadi, aku menyuruhnya jaga jarak...
Apa dia harus menjaga jarak dariku jika berpacaran?
Kenapa dia harus mendengarkan adiknya mengkritiknya?
Apa karena kamu bekerja di perusahaanku?
Kalau-kalau kamu merasa tidak nyaman?
Kamu salah soal itu.
Itu urusan kami, bukan urusanmu. Jangan ikut campur.
Kamu tidak dihukum. Bawa itu dan ikutlah denganku.
Biarkan saja dia. Dia bergadang hampir tiap malam.
Aku tahu.
Dia mendapat banyak SMS belakangan ini.
Karena dia sangat populer di pasar perjodohan.
Apa maksudmu?
Jika kamu menelepon untuk membalas pesannya,
kamu membuktikan dirimu tua.
Halo, ini Media Angsa Emas.
Bisakah aku memeriksa jadwal Direktur untuk hari ini?
Bisakah kita tunda janji temu?
Rapat dengan penerbit?
Begitu rupanya. Baiklah, sampai jumpa.
"Lowongan Barista"
Kurasa bos keluar sebentar.
Mau yang biasa?
No comments yet. Be the first to leave one.