The first 200 lines.
Terima kasih.
"Episode 6"
Kudengar tempat ini adalah tempat terkenal di Seoul akhir-akhir ini.
Mari kita makan untuk mencari tahu mengapa sangat populer.
Tapi kelihatannya sangat mahal.
Kau yang traktir?
Kau yang traktir hari ini.
Aku?
Kau sangat naif. Aku hanya bercanda.
Apa menggodaku satu-satunya hiburan dalam hidupmu?
Bagaimana kau tahu?
Hari ini hari yang beruntung. Ayo bersulang.
Tentunya dengan sampanye non alkohol.
Apa kau masih ingat kalau aku alergi dengan alkohol?
Bagaimana aku bisa melupakan gurita bakar?
Ini.
Terima kasih.
Isi yang penuh. Aku akan minum untuk empat orang.
- Halo. Anda bisa memberikan kuncinya padaku. - Hai.
Terima kasih.
Kudengar tempat ini sangat terkenal.
Itulah sebabnya ada banyak anak muda di sini.
Mari kita berkencan karena sudah lama kita tidak berkencan.
Ayo masuk.
Permisi.
Halo?
- Kami butuh meja untuk dua orang. - Silahkan masuk.
Kenapa kau di sini?
Kau harusnya ada di Guam, tapi kenapa kau di sini?
Halo, bagaimana kabar Anda?
- Siapa dia? - Tidak perlu menyapanya.
Dia adalah pria yang kuceritakan.
Dia bermain-main dengan Ru Ri kita.
Katakan padaku yang sebenarnya.
Apa kau datang ke Korea karena Ru Ri?
- Aku ada urusan bisnis disini. - Bagaimanapun,
jika kau berencana untuk merayu Ru Ri saat kau berada di sini,
kau harus melupakannya. Apa kau mendengarku?
Jika aku melihatmu di sekitar Ru Ri lagi,
aku akan menghancurkanmu.
Aku memperingatkanmu.
Ru Ri akan menikahi orang baik.
Aku tidak ingin kau dekat dengannya.
Jangan berpura-pura kalau kau mengenalnya,
bahkan jangan menemuinya,
dan menghapusnya dari ingatanmu sepenuhnya.
- Mengerti? - Pak...
Kau mengerti atau tidak?
Aku sudah pernah mengatakan ini di Guam.
Aku pernah berada di lokasi konstruksi di seluruh dunia.
Tolong, hanya sekali ini saja.
Sungai Buaya Terbesar di Libya...
Sayang, ayo kita pergi ke tempat duduk kita.
Aku sudah memperingatkanmu. Ingat itu.
Aku minta maaf. Silahkan nikmati makananmu.
Kau nakal.
Sayang, ayo duduk di sana.
Kenapa duduk di pojok saat kita bisa duduk di samping jendela?
Disana lebih nyaman.
- Ayo pergi. - Baik.
- Pergi ke kamar mandi. - Kamar mandi? Baik.
Apa yang harus kita pesan?
Tunggu sebentar.
Aku akan pergi ke kamar mandi dan mencuci tanganku.
Sayang, aku sudah membawa lap basah.
Tidak apa-apa. Aku harus pergi ke kamar mandi.
Sayang.
- Ibu. - Ayah pergi ke kamar mandi.
Apa?
Apa ada orang di dalam?
Apa ada orang di dalam kamar mandi?
Kenapa tidak ada jawaban?
Permisi?
Permisi?
Kenapa mereka lama sekali?
Ibu, selamatkan aku. Aku terjebak di kamar mandi pria.
Astaga.
Dimana Ru Ri?
[Ibu, selamatkan aku, aku terjebak di kamar mandi pria.]
Apa yang harus kita lakukan?
Aku akan mengurusnya.
Apa ada seseorang di sana?
Apa seseorang menggunakan kamar mandi?
Iya?
Ada apa? Apa pintunya terkunci?
Permisi. Buka pintunya.
Permisi.
Astaga.
Kandung kemihku akan meledak.
- Astaga. - Pak,
Maaf, pintunya sedang rusak.
Jika Anda buru-buru, silahkan gunakan kamar mandi wanita.
Apa? Seharusnya kau sudah memasang pemberitahuan.
Tidak ada orang di sana?
Ya.
Terima kasih.
Cepat keluar.
Bagaimana dengan ayah?
Cepat.
- Ibu. - Cepat pergi.
Apa?
Kenapa kau di sini?
Aku juga ingin mencuci tangan.
- Cepat. - Baik.
Astaga, bagaimana mereka bisa memperlakukan pelanggan seperti ini?
"Parkir valet"
- Mobilku 5700. - 5700? Baik.
Kau pasti sangat terkejut. Kau baik-baik saja?
Ya.
Aku mengerti.
Aku akan sabar menunggu.
Sayang, kita harus memesan sesuatu.
Ayo pergi. Aku tidak bisa makan di sini.
Kenapa? Aku lapar.
Kau bisa membedakan kualitas restoran ini dengan kamar mandi.
Mereka bahkan tidak memperhatikan fasilitas kamar mandi bagi pelanggan.
Harganya juga mahal.
Aku tahu tempat yang bagus. Ayo pergi.
Sayang.
Sayang.
Sayang. Sayang.
Makan di sini saja. Aku lapar.
Tunggu disini. Aku akan mengambil mobil.
- Astaga. - Manajer Jung, apa yang harus kita lakukan?
- Aku akan ambil mobilnya. - Astaga.
Lihatlah bajingan itu.
Belum lama ia putus dengan Ru Ri.
Dia sudah bertemu wanita yang baru.
Sayang, ayo masuk saja.
Tunggu sebentar.
Kenapa wanita itu seperti itu?
Fisiknya terlihat...
...seperti Ru Ri.
Apa maksudmu?
Dia sedang kencan buta sekarang.
Sayang, ayo masuk ke dalam.
Tunggu sebentar.
Dia juga sangat tinggi.
Ini benar-benar mencurigakan.
- Benar, 'kan? - Sayang.
- Kenapa? - Sayang.
Tunggu sebentar. Tunggu disini.
Apa yang harus kita lakukan? Kupikir dia datang ke sini.
Hei, Guam. Lihat aku.
Hei, Guam.
Sayang.
Apa yang dia lakukan? Tunggu sebentar.
Ini perintah. Diam.
Manajer Jung.
Hei.
Kami tidak punya pilihan.
Mari kita katakan padanya.
Kita tidak bisa melakukan itu.
Pak.
Sayang.
- Lihatlah dia. - Ini mobil Anda.
Tunggu sebentar. Ada apa denganmu?
Mobilku ada di sini.
Apa?
Hei, tunggu sebentar.
Hei, berhenti. Berhenti.
Apa yang dia lakukan?
Lihat belakang. Apa dia mengikuti kita?
Tenang, tidak ada orang di belakang kita.
Sungguh?
Kau baik-baik saja?
Apa yang harus kulakukan?
- Ya, Ayah. - Di mana kau sekarang?
Sekarang?
Ya.
Kau dengan siapa?
Aku baru saja berpisah dengan teman kencan butaku.
Aku akan naik kereta bawah tanah.
Benarkah?
Bagaimana kencan butamu?
Apa dia mengajakmu berpacaran?
Aku belum tahun untuk sekarang ini.
Aku akan memberitahumu saat aku sudah pulang.
Baik. Sudah larut, jadi cepat pulang.
Mungkin bukan Ru Ri.
Lihat? Kau terlalu curiga dengannya.
Berhentilah bersikap curiga.
Dia benar-benar eksentrik.
Pasti ini tanda-tanda datangnya kiamat.
Putriku sudah tinggal dengan seorang pria.
Lagi pula, aku tidak bisa tenang...
...selama dia tinggal di Seoul.
Kau tidak tahu?
Tidakkah kau tahu kenapa aku...
...berpartisipasi dalam kontes pengembangan menu?
Kau bilang kau tidak tertarik denganku saat berada di Guam.
Aku salah, jadi aku kembali.
Jangan pernah berpikir untuk bertemu bajingan itu lagi.
Kenapa kau di luar?
Maaf, tapi ayo kita merayakannya dengan ini.
Kau pasti lapar.
Manajer Jung.
Kau menyuruhku untuk menjawab sesudah makan.
Aku akan menjawabmu sekarang juga.
Aku hampir mengalami serangan jantung...
No comments yet. Be the first to leave one.