The first 197 lines.
Sang Konglomerat Legendaris
Episode 17 -
Sudah kubilang kau tidak boleh datang kesini!
Aku sudah menemukan pelaku yang mendorong adikmu ke laut.
Dia bilang waktu studionya terbakar, dia melihat Yanmei disana.
Karena itu dia mengira Yanmei juga ikut membakar studio filmnya.
Kemudian dia melarikan diri ke Pecinaan di Amerika.
Dia bekerja sebagai pencuci piring di restoran.
Tidak sengaja dia bertemu Yamei, setelah itu dia merencanakan balas dendamnya.
Diam-diam dia membuntuti Yanmei di atas kapal.
Tang Xing mau menjadi pengkhianat negara.
Dia bersekongkol dengan Jepang untuk menyelundupkan senjata;
sehingga mendapat imbas dari unjuk rasa anti-Jepang.
Apa urusannya itu dengan Yanmei?!
Aku hanya bisa membantu sampai di situ.
Selebihnya biar polisi yang menangani.
Tuan Kong,
hari itu....maaf. Terima kasih.
Tidak usah berterima kasih padaku. Aku melakukan hal ini bukan untukmu.
Kau juga tidak perlu pergi jauh dan menjadi tentara
demi menghindariku, benarkan?
Sebetulnya, hari itu, kalau bukan karena aku terlalu banyak minum,
aku tidak mengatakan hal-hal tersebut padamu.
Benarkah, maafkan aku.
Tapi....itu hanya salah satu alasanku bergabung dengan tentara.
Aku melihat begitu banyak orang meninggalkan rumahnya
untuk dengan berani melawan musuh demi negara.
Jika aku tetap membuat film,
aku takut, aku pun akan memandang rendah diriku sendiri.
Namun, aku harap apapun yang telah kulakukan tidak akan mempengaruhi hubunganmu dengan Da'ge.
Kau harus jaga dirimu baik-baik.
Aku percayakan Da'ge padamu kalau begitu.
Begitu kau pulang nanti, kita makan bungkus kaki lagi di sini.
Kau mengirimkan surat ke rumah ini?
- Ya. - Aku tinggal di sini.
Oh, ada telegram untuk Gu Sangluo.
- Aku istrinya. Biar aku terima. - Oh, baiklah.
Terima kasih. Darimana telegram ini?
Dari Cina daratan.
Terima kasih.
Sangluo!
- Pendapatku begini. Ini, mari kita ubah latarnya. - Sangluo!
Ada telegram dari Cina. Yanmei masih hidup.
Dimana Yanmei sekarang?
Dia di Fujian. Dia diselamatkan nelayan. Dia diselamatkan.
Cepat kita berangkat ke Fujian untuk menjemputnya.
Benar....pergi menjemputnya.
Aku ingin...ini... aku masih belum....
Hanya tinggal beberapa adegan lagi. Aku ada disini, kenapa kau tidak percaya?
Cepat jemput Yanmei! Setelah kau membawanya pulang, kita bisa menonton pemutaran perdananya bersama.
Oke. Aku harus merepotkanmu kalau begitu.
Cepat pergi.
Kau masih percaya dia akan kembali?
Dia berjanji padaku untuk kembali,
jadi dia pasti kembali.
Kau tidak hanya mencari alasan untuk menghindar dari Linjie, kan?
Aku benar-benar tidak mengerti.
Kebenaran akan selalu muncul.
Jika kau merasa ada salah paham di antara kalian, kau jelaskan saja padanya.
Aku yakin Linjie tidak akan memendamnya dalam hati.
Sampai berapa lama kau tidak akan menemui Linjie?
Kau tidak berencana untuk menghindarinya sampai waktu pernikahanmu nanti, kan?
Kau... Apa mungkin....
kau sebetulnya tidak mau menikah dengan Linjie?
Aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya.
Tidak, jangan bicara lagi.
Sejak kecil, aku selalu menuruti kemauanmu.
Tapi keinginanmu untuk tidak menikah dengan Linjie, tidak bisa aku kabulkan.
Ada orang lain dalam hatiku.
Aku tidak bisa bersama Linjie.
Kau harus pikirkan baik-baik. Kesedihan karena ditinggal seorang teman
dan kekasih itu dua hal yang berbeda.
Tidak.
Karena kepergian Yanmei kali ini
aku tiba-tiba sadar bahwa aku dan dia bukan hanya sekedar teman.
Aku sungguh tidak bisa melupakannya.
Aku takut tidak bisa lagi bertemu dengannya.
Aku hanya ingin bersama Yanmei saat ini.
Memang, Linjie dan aku selalu bersama sejak kecil.
Pelukan, genggaman tangan dan ciuman,
semua terasa alami.
Aku bahkan yakin bahwa Linjie dan aku ditakdirkan sebagai pasangan.
Tapi baru sekarang aku mengerti
cinta sejati akan membuat seseorang sangat khawatir.
Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini saat bersama Linjie.
Aku tahu kalian semua pasti kecewa,
tapi aku tidak mau menikah dengannya.
Aku harus bagaimana?
Tidak ada yang bisa dilakukan.
Kau hanya bisa memilih untuk menikah dengan Linjie.
Ibu.
Aku mengerti perasaanmu.
Tapi di masa ini, begitulah nasib seorang perempuan.
Apakah kau tidak peduli lagi dengan bisnis ayahmu dan keluarga Kong?
Coba kau pikir kalau kau tidak menikah dengan Linjie.
Apa mungkin kita masih bisa memiliki kehidupan seperti ini?
Aku tidak mau. Aku tidak mau hidupku jadi begini.
Anggaplah kali ini aku memohon padamu.
Yang ada di pundakmu sekarang bukan hanya kebahagiaanmu sendiri.
Tapi kebahagiaan kita sekeluarga.
Aku yakin Linjie akan baik padamu.
Dia akan membuatmu bahagia. Dia akan sangat mencintaimu.
Laki-laki itu tidak akan kembali lagi.
Jadikan saja dia kenangan indah. Oke?
Kau tidak tahu selama kau menghilang
semua orang menganggap kau sudah mati.
Gu da'ge seperti kehilangan pegangan. Tidak mampu untuk bangkit.
Aku juga tidak tahu berapa lama aku terombang-ambing di lautan.
Siang-malam yang ada di hadapanku hanya lautan tak bertepi.
Setelah itu, aku kelelahan sampai tidak sanggup membuka mata.
Kukira aku akan mati begitu saja.
Tapi kemudian aku bermimpi.
Ceritakan. Mimpi apa?
Aku tidak tahu apakah itu mimpi atau halusinasi.
Aku memimpikan Qu Meng.
Kau memimpikan Qu Meng?
Benar.
Dia menolongku dan membawaku ke sebuah perahu kecil.
Kudengar orang akan melihat seseorang yang
paling ingin ditemuinya saat mendekati ajal.
Mungkin karena aku sangat merindukannya.
Saat itu, aku bermimpi dia merangkulku dalam pelukannya.
Rasanya begitu nyaman, begitu damai.
Aku ingin sekali tidur dalam pelukannya.
Tapi kemudian seseorang membangunkanku.
Ternyata orang itu gadis yang kutemui di Singapura. Namanya Xiaoyu.
Guru, jika yang kau katakan tadi itu benar,
artinya disaat aku menjelang ajal,
Xiaoyu-lah yang menyelamatkanku dari gerbang kematian.
Yanmei, meskipun aku tidak tahu caranya mengartikan mimpi,
aku bisa merasakan
dalam hatimu, Xiao Yu sama pentingnya dengan Qu Meng.
Cepatlah sembuh. Begitu kau sehat, kau bisa kembali ke Singapura untuk menemuinya.
Apa dia tahu kau baik-baik saja?
Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan.
Tapi kurasa kau seharusnya tidak menghindarinya.
Yang lebih penting, jangan biarkan gadis itu, Xiaoyu, tidak tahu kalau kau belum mati.
Kalau memang begitu keadaannya, maka menyembunyikan hal ini darinya sangatlah kejam.
Apa kalian berdua tidak akan pernah bertemu lagi nanti? Coba pikir.
Jika suatu saat kalian berdua bertemu lagi dan dia mengetahui kebenarannya,
betapa terlukanya perasaan gadis itu?
Hadirin sekalian, selamat datang di bioskop Dunia Kemewahan.
Berikutnya, kami akan memutarkan film produksi Perusahaan Film Tianxia, "Matahari Membara".
Semoga hadirin sekalian dapat menikmatinya.
Tetapi tidak bertemu denganmu seharian kemarin,
membuatku begitu merindukanmu.
Aku tidak tahu caranya bertutur kata manis.
Setelah bertemu lagi di atas kapal ini, setiap saat kita bersama
hidupku terasa sangat bahagia.
Aku bohong padamu. Aku tidak putus dengan Linjie.
Dan orang tuaku juga sudah menerima
lamaran dari Linjie.
Apa mungkin sejak awal kau tidak berniat untuk menentang keinginan orang tuamu?
Semua yang kita jalani di atas kapal ini bukan kebohongan semata, kan?
Aku tadi ke rumahmu. Aku juga mampir ke rumah kaca dan klub bilyard. Akhirnya aku bisa menemukanmu di sini.
Kenapa kau mencariku?
Jadi kau benar-benar lupa.
Hari ini adalah perayaan hari dimana kita bertemu.
Kita dulu pernah berkata setiap tahun di hari ini, kita akan mengambil gambar bersama sebagai kenang-kenangan.
Saat kita tua nanti, kita akan melihat foto-foto itu bersama.
Maaf. Ada begitu banyak hal yang terjadi sehingga aku melupakannya.
Kau ingat satu tahun itu, saat kita masih SMP,
kita diam-diam pergi ke.... Sentosa.
Setelahnya, kita bahkan naik ke puncak Gunung Kela untuk mengambil gambar.
Tapi kita kemudian tersesast dan tidak bisa pulang malam itu.
Kita kembali keesokkan harinya, aku dimarahi oleh ayahku.
Dan juga satu saat, mungkin waktu kita masih SD.
Aku berkelahi dengan teman sekelas dan kau begitu khawatir sehingga saat kita berfoto, kau masih menangis.
Tidak. Kau yang menangis karena tanganmu berdarah.
Karena aku ditindas sehingga kau ikut campur.
Benar.
Dan ada satu foto lagi... beberapa tahun sebelum kejadian itu.
Saat itu kau bilang kau ingin mencoba mengenakan pakaianku.
Jadi saat kita difoto, aku mengenakan gaunmu.
Foto-foto itu semua kusimpan di dalam album.
Aku sangat merindukan hari-hari kita dulu.
Maaf.
Tidak apa. Kalau tahun depan kau masih lupa,
aku juga akan mengingatkanmu.
Mengenai Yanmei....aku sudah salah menuduhmu.
Awalnya, aku memang sangat marah.
Dan sangat kecewa kenapa kau bisa berpikiran seperti itu padaku.
Tap[i setelah itu, aku malah menyalahkan diriku sendiri. Karena di dunia ini
kaulah seharusnya orang yang paling mengenal dan mempercayaiku.
Kalau kau ragu padaku, itu artinya aku tidak cukup baik.
Kenapa kau selalu memikirkan perasaanku?
Jelas aku yang bersalah. Kenapa?
Selama kau tidak bahagia, selama hidupmu tidak senang,
selama kau masih menangis, artinya akulah yang berbuat kesalahan.
Aku sungguh tidak tahu kau sebaik ini padaku.
Aku selalu memperlakukanmu seperti ini dulu dan aku akan tetap melakukannya sekarang
hingga nanti.
Hei, sudah hampir tengah malam.
Kita tidak boleh melanggar janji ini, oke?
Oke.
Perjanjian ini berlaku seumur hidup.
Meskipun nanti kita sudah menikah, kita tetap harus melakukannya. Oke?
No comments yet. Be the first to leave one.