The first 192 lines.
Selamat malam.
Ya.
Selamat malam.
Malam ini...
...kau mau...
...tidur bersama?
Ya.
Apa katamu?
Kita berpisah saja.
Berpisah saja.
Kenapa?
Kenapa, kutanya?
Aku tak percaya diri.
Aku tak percaya diri apa aku bisa membuatmu bahagia.
Omong kosong macam apa itu?
Apa ini dialog drama?
Jangan pura-pura akting, Shim Won Seok.
Ini bukan omong kosong, dan ini juga bukan akting.
Aku sungguh-sungguh.
Aku sungguh ingin berhenti.
Jadi kau juga harus memikirkannya dan beri aku jawaban.
Aku sementara ini akan tinggal di rumahnya Sang Goo Hyung.
Hei! Kau!
Tega sekali kau bicara itu sekarang?
Apa? Kau tidak cukup percaya diri?
Kau saja tadi menyuruhku menunggu 5 tahun lagi...
...bahkan setelah berkencan selama 7 tahun!
Tapi...
Tapi barusan kau bilang kau tidak percaya diri?
Karena itu jangan menungguku!
Memang cuma kau saja yang berkencan selama tujuh tahun?
Aku juga. Aku juga berkencan selama tujuh tahun!
Tapi kau...
Kenapa kau selalu bicara seakan kau yang selalu dirugikan?
Kenapa kau bicara seakan cuma kau saja yang harus menunggu?
Hei, karena pernikahan bodoh itu...,
...aku harus merelakan apa yang kuinginkan. Aku merelakan impianku.
Setiap hari rasanya mau mati!
Kemeja dan dasi itu...
...sungguh tidak nyaman. Kau tahu?
Ibu menunggu disini?
Dingin. Kenapa Ibu menunggu di sini?
Ibu barusan dari toserba.
Ada yang harus Ibu beli.
Dingin, Bu. Ayo masuk.
Kau sudah makan?
Aku belum makan, biar bisa makan sama Ibu.
Kau tak perlu repot-repot.
Ya. Terima kasih.
Semenjak pernikahan kita, ini pertama kalinya aku di kamarmu.
Benar juga.
Kalau aku tahu bakal begini, aku pasti sudah membersihkannya.
Tidak perlu, ini sudah nyaman.
Sangat sepertimu.
Baunya juga sepertimu.
Apa aku...
...bau?
Apa?
Tapi...
Bukan begitu...
"To Room19"
Oh, itu?
Itu buku yang kusukai semasa kuliah.
Aku baru-baru ini membacanya lagi.
Boleh aku bertanya tentang apa isinya?
Ada pasangan suami istri.
Mereka pasangan sempurna...,
...bahkan di mata orang lain.
Mereka juga puas dengan kehidupan mereka.
Keluarga yang bahagia dan harmonis.
Tapi...
Sang istri tiba-tiba ingin punya kamar sendiri pada suatu hari.
Jadi sang suami menyediakan ruangan untuknya di lantai dua.
Kemudian mereka menamainya, "Kamar Ibu."
Tapi tak lama setelah itu...,
...anak-anak mulai memasuki kamar itu.
Karena keluarga yang keluar masuk kamar itu...,
...kamar itu pun menjadi ruang keluarga biasa.
Jadi apa dilakukan sang istri?
Jadi sang istri pun...
...menyewa kamar di hotel yang jauh dari rumah...
...tanpa memberitahu siapapun.
Seiring waktu, selama beberapa jam...
...dia tinggal sendirian disitu.
Dia tidak melakukan apapun.
Dia merasa senang hanya dengan berada di dalam kamar itu.
Karena kamar itu...
...ruang dimana dia bisa sendirian dengan nyaman.
Menikah juga...
...berarti bahwa waktu dan ruangmu untuk sendirian sudah tak ada lagi.
Tidak bersama orang lain...
...memang bisa membuatmu merasa bahagia. Aku paham itu.
Isi ceritanya bagus.
Menurutku itu kisah sedih.
Sebenarnya, waktu membaca buku itu...
...aku memikirkanmu.
Kau sendiri pernah bilang...
...hal yang hanya bisa kau tanggung dalam hidup ini...
...hanyalah rumah ini, si Kucing...,
...dan dirimu.
Itu sebabnya kau tidak akan menikah.
Pada saat itu, kata-katamu berbicara kepadaku.
Aku juga hanya bertanggung jawab atas kamar ini.
Tapi...
...jika kau hidup seperti itu...,
...bukankah kau akan kesepian?
Pernahkah terlintas kau mungkin akan kesepian?
Entahlah.
Menurutku aku tak pernah...
...merasa akan kesepian.
Daripada menoleransi orang lain...,
...menurutku sendirian itu lebih baik.
Begitulah aku hidup sampai sekarang.
Aku ingin bertanya padanya.
Dalam hidup ini, satu cinta saja...
...sudah cukup.
Jika satu-satunya cinta dalam hidupnya telah pergi dari dunia ini.
Dan kalau memang demikian...,
...akankah dia bisa...
...memulai cinta lagi?
Apa sekarang...
...kita sudah bisa tidur? Ini sudah larut malam.
Ya.
Sebaiknya aku ambil bantalku dulu.
Ya.
Ya, menurutku juga begitu.
Mungkin seharusnya aku mabuk saja.
Tidak, aku bukan anak kecil.
Ya, 'kan?
Aku akan bersikap dewasa.
Ji Ho-ssi.
Kau sudah tidur?/ Ya.
Ya.
Ji Ho-ssi.
Apa aku...
...boleh memelukmu?
Ya.
Bau aromamu.
Apa aku bau?
Ini aroma tubuhmu.
Aku mencium aroma tubuhmu.
Oh, maksudnya aroma tubuh.
Aku senang kau berhenti jadi penulis naskah.
Apa?
Mungkin ini bukan cinta.
Aku bercanda.
Walau ini bukan cinta, tak apa bagiku.
Aku memang tak jago bercanda.
Kau marah, ya?
Boleh aku menciummu?
Hari ini hari pertama dia memasuki kamarku.
Ya.
Itu pun sudah cukup bagiku.
[Episode 13: Karena ini Pertama Kalinya Memasuki Kamarmu]
Sini.
Ibu harusnya menginap beberapa hari lagi.
Tak apa. Bukan kau saja orang yang bekerja.
Ibu juga harus bekerja.
Apa Ibu tak bisa berhenti bekerja sekarang?
Omong kosong apa itu?
Ibu tahu 'kan aku beli apartemen di Mullae-dong?
Kita bisa pindah ke sana tahun depan.
Jadi datanglah ke Seoul tahun depan dan tinggal bersamaku.
Jika kau sangat ingin tinggal sama Ibu, kau saja yang pindah ke Namhae.
Aku ini lagi serius.
Sampai kapan Ibu pulang pergi dari Seoul ke Namhae?
Ibu juga 'kan tidak berjalan kaki.
Ibu 'kan naik bus, jadi tidak capek-capek amat.
Pergilah.
Apa maksudnya? Cepat masuk.
Tak usah. Ibu naik kereta bawah tanah saja.
Naik kereta 'kan langsung menuju terminal bus.
Kereta apanya. Jangan keras kepala, masuk saja.
Katanya kau dimarahi atasanmu beberapa waktu lalu.
Cepatlah berangkat kerja.
Ibu.
Biar aku saja yang antar.
Halo, Ibu.
Aku pacarnya Soo Ji, Ma Sang Goo.
Pacar?/ Ya.
Aku tidak tahu dia punya pacar.
Dia memang tidak banyak bicara.
Kurasa sebaiknya aku harus datang dan memperkenalkan diri pada Ibu.
Kau sangat tinggi.
Soo Ji juga tinggi.
Serasi sekali.
Aku juga dari dulu tidak pilih-pilih makanan dan suka makan bayam.
Tak lucu, ya?
Soo Ji sepertinya sudah terlambat bekerja.
Biar kuantar Ibu ke terminal hari ini.
Ayo, silahkan./ Tak perlu.
Aku yang akan mengantarnya ke terminal.
No comments yet. Be the first to leave one.