Release info

구미호뎐1938 Tale of the Nine Tailed 1938 S02E08 230528 HDTV-NEXT
A Commentary by surya_27895
Ripped from Amazon, Resync for NEXT ver. EP08 (RT 01:12:17)

Tags

HDTV
hdtv
HD
Published on: 2023-05-28
Downloads: 64
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Darurat! Bangun!

- Darurat! Bangun! - Kapak!

- Ada serangan dadakan? - Panggilan Nyonya Ryu.

Aku tak tahu kenapa, tapi dia menggila.

Apa? Kenapa?

Kubis yang berasal dari laut itu keras dan tebal.

- Rasa udangnya enak? - Segar dan tidak amis.

- Selamatkan aku, Bos. - Kau sedang apa di situ?

Kukira ada keadaan darurat.

Salah satu acara terbesar Myoyeongak tentu saja keadaan darurat.

- Duduk, Kalian Bertiga. - Ini musim gimjang?

- Aku mantan dewa gunung. - Aku bos geng bandit.

Aku korban geng bandit.

- Mantan dewa tak pantas membuat kimchi. - Tunggu.

Aku sudah hitung biaya penginapan kalian. Selama ini kalian tidak bayar.

Kira-kira, jumlahnya senilai harga sebuah rumah.

- Kok mahal… - Kau sering makan yang lauknya banyak!

Kau lebih sering!

Begini…

Aku tak mendapat diskon? Kita berteman, dan aku mantan dewa.

Jangan harap.

Duh, aku tak pernah mengerjakan hal semacam ini.

Yang benar saja.

Aduh, punggungku.

Kita benar-benar harus membuat kimchi dengan 500 sawi putih?

Tanganku berlumuran cabai alih-alih darah. Padahal aku bandit.

- Nah! - Kimchi rumahan paling enak.

Sampai wadahnya penuh.

- Menurutku ini terlalu asin. - Masa? Coba kucicipi.

Rasanya pas. Memang harus asin untuk difermentasi.

- Begitu, ya? - Kerjakan yang benar.

- Tuh, harus asin. - Enak sekali!

Hei, Kalian!

Duh, yang benar saja.

Pak, aku tak mau sekamar dengannya. Kami tak bisa akur.

Dasar tukang mengadu!

Lagian kenapa harus dia yang kaurampok? Dia amat pendendam, tahu?

Mana kutahu. Aku cuma menyuruhnya bekerja dengan becus.

Benar. Salah sendiri dia bodoh, asal minum tanpa tahu isinya apa.

Dasar pencuri.

Hei, korban tidak patut disalahkan!

- Jangan bentak anak buahku! - Jangan songong pada kakakmu!

Jangan ceramahi bosku!

- Diam! Buat gimjang! - Lepaskan tangan…

Bahkan Gyeongseong sudah agak berubah.

Bicaralah dengan bahasa Korea, Bodoh.

Bahasa Korea… Sulit…

Padahal kau sudah 20 tahun mempelajari bahasa Korea.

Kalian Prajurit Bayaran Shinigami?

- Aku diminta menjemput kalian. - Kau bawahan Kato, tapi tak kenal kami?

Ini Gyeongseong. Aku tak peduli dengan orang kampung seperti kalian.

Mau kami beri tahu kami siapa?

Banyak yang mengawasi.

- Sedang menunggu Lee Rang? - Tidak, Bu.

Kalau tidak, ini apa?

Menurut majalah, bangau kertas akan mewujudkan cinta kita.

Astaga. Kau sesuka itu padanya?

- Kalau begitu, temuilah. - Boleh?

Baik, aku kembali satu jam lagi.

Astaga.

Ah! Ada noda karamel pada pakaianku!

- Nyudo. Ini ulahmu, 'kan? - Berisik sekali…

Jorok! Mana pakaian gantiku?

- Apa lihat-lihat? - Tidak ada.

Tak usah mengelak. Tadi kau melirik.

Astaga. Akhirnya kita tak kesempitan lagi.

- Iblis. Ada iblis di sini. - Iblis macam apa?

- Putri duyung. - Dagingnya menjadikan kita abadi, 'kan?

Aku ingin memakannya.

Yuki, akan kutangkap untukmu.

Sudahlah. Misi harus diprioritaskan saat ini.

Wah! Enak sekali.

Kau tampak senggang. Katamu mau menangkap Topeng Merah Putih.

Aku sudah mencarinya tadi, tapi tidak ada.

- Mau mengerahkan anak buahku? - Tak usah. Nanti dia juga datang sendiri.

Kau akan mati kurang dari 100 tahun lagi.

Di tahun 2020, kau akan berkorban demi kakakmu.

Bagaimana hubunganmu dengan si Putri Duyung? Lancar?

- Kau menemuinya tiap hari, 'kan? - Tidak.

Ayo tetapkan tanggalnya. Mau bertemu di mana?

Hidangan Korea atau Barat? Tak mungkin hidangan laut, 'kan?

- Karena pengantinnya juga spesies laut. - Kau gila? Maksudmu pertunangan?

- Harapanku adalah melihatmu menikah. - Itu bukan urusanmu.

Hei! Kok minum makgeolli sebelum makan?

- Nih. Makan suyuk dahulu. - Alah, sudahlah.

- Ini membuatmu kesal? - Berhenti bersikap baik. Itu menyebalkan.

Kali ini ada masalah apa? Kenapa tingkahmu aneh?

Hei!

Astaga.

Dasar anak itu. Padahal waktu kami tinggal sedikit.

Akira!

Kau ingin berjumpa dengan Yuki, 'kan?

- Gak tahu deh. - Yuki kangen banget sama Akira.

Kudengar kau digampar oleh iblis Joseon.

Jangan tertawa!

Akan kubalaskan dendammu.

Lakukan saja sesuai yang diperintahkan.

Jangan memerintah Yuki!

Akira, kini kau tampil necis sejak hengkang dari grup?

Karena sudah jadi pegawai kantoran, ya?

Jangan sentuh aku.

Kalian sudah datang.

Prajurit Bayaran Shinigami. Datang dari Manchuria.

Terima kasih sudah mau turut serta dalam perang.

- Di mana bos kalian? - Kau belum berjumpa dengannya?

- Dia pergi ke Gyeongseong lebih dahulu. - Bos suka datang semaunya.

Jelaskan saja misinya apa. Lama-lama aku gila karena sudah tak sabar.

- Kita akan melakukan eksperimen. - Eksperimen?

Menjadikan iblis Joseon senjata perang Kekaisaran.

Wah. Kedengarannya seru banget.

Misi kalian adalah menangkap iblis Joseon.

Bolehkah aku membunuh mereka dan membawakan bagian tubuh saja?

Akan sulit menangkap mereka hidup-hidup.

Bagaimana hitungan upahnya?

Dihitung per kepala.

Siap!

Kau tak menyesal memanggil mereka?

- Mereka selalu seenaknya. - Eksperimen bukan segalanya.

Kita harus membasmi mereka.

Basmi iblis Joseon dan legenda yang diyakini masyarakat.

Kita harus membasmi iblis Joseon.

- Sudah kuselidiki yang namanya Lee Yeon. - Lalu?

Dia di Myoyeongak.

Seperti si Nyonya, dia juga dewa gunung Joseon.

Dewa gunung Joseon, ya?

CHEON HO-YEONG

Akhirnya.

- Hyunuiong. - Ya.

- Tahu dari mana aku di sini? - Kau tak pulang, jadi…

- Bukankah kakakmu dimakamkan di sini? - Ya, sempat.

Tapi kini dia di situ.

Moo-yeong, apa yang hendak kaulakukan?

Aku merebus rangkanya dengan tanah. Ditambah musang, ular, dan laba-laba.

Jangan bilang…

Kau berniat membuat jimat banhon? Jangan. Kau tak boleh mengacaukan…

JIMAT BANHON JIMAT YANG MEMBANGKITKAN ORANG MATI

- …Alam Manusia dan Alam Baka. - Aku tahu tindakanku tak akan dimaafkan.

- Tapi harus kulakukan. - Jangan jadikan Taluipa musuhmu.

Baik aku maupun dia… Kami belum berhenti menyayangimu.

Karena inilah aku tak mau bertemu denganmu.

Kau terus menemaniku bahkan saat aku menjadi batu.

Saat turun salju, kau memakaikan jaket pada batu yang cuma bisa diam.

Kau selalu sensitif terhadap dingin.

Aku bukan lagi Moo-yeong yang kaukenal. Lebih tepatnya, aku harus berubah.

Moo-yeong, kau pikir aku tak mengenalmu?

Biarkan aku menjadi penjahat.

Jangan pernah mencariku lagi.

Aku membeli ini untukmu.

Jangan lupa makan.

- Kapan kau akan pergi? - Kurang dari sepekan lagi.

- Haruskah kau pergi? - Ya.

Ada yang menungguku.

Dasar bajingan.

Kudengar wanita itu sudah bereinkarnasi.

Moo-yeong yang memberitahumu?

Kenapa kau tak memberitahuku soal identitas Moo-yeong?

Kau tahu sejak awal, 'kan?

Mungkin aku ingin bermimpi.

Bahwa kita bisa kembali seperti sediakala.

Hanya aku yang punya impian bodoh semacam itu.

Entah apa kau percaya, tapi aku tak pernah meninggalkan kalian.

Karena itulah aku tak bisa memaafkannya.

Aku akan mengakhiri semua ini.

Kau memang seperti dia.

Kalian mempertaruhkan nyawa demi aku…

tapi saling menjauhkan dariku.

Maafkan aku, Hong-joo.

Karena tak pernah memberimu jawaban yang kauinginkan.

Tapi ada yang harus kulindungi.

Di sini, dan di masa depan tempat asalku.

Terserah deh… kalau itu memang keinginan kalian.

Aku berhenti bertingkah seperti gadis yang tak berdaya.

Aku juga akan berjuang untuk melindungi Myoyeongak dan para gisaeng.

Ada yang kaulupakan.

Kau. Jangan lupa melindungi diri sendiri juga.

Aku mau dipeluk.

Aku tak mau bermain adil mulai sekarang.

KESELAMATAN DAN KEAMANAN TOLAK PERANG

Tunggu! Sebentar!

Memangnya ini salon rambut? Percuma jika kita bertindak sendiri.

Kita harus memancing Taluipa keluar! Talui… Hei!

- Kau harus puasa sekarang. - Astaga.

- Hei! - Inilah kenapa…

Astaga.

Kini kau menunjukkan batang hidungmu?

Aku keluar untuk menyaksikan roh penghuni dicukur.

ROH PENUNGGU YANG MELINDUNGI RUMAH

Entahlah.

Jika berpisah dengan rambutku, aku berharap hidupmu makin sulit.

Cukur saja. Lagi pula, bentuk kepalamu bagus.

- Perlukah kupotong… - Eh! Tunggu! Astaga.

Sepertinya kau minta disadarkan.

Eh! Tunggu! Mari bicara! Kita selesaikan secara kekeluargaan saja.

Nanti kau mati kalau diteruskan!

Kau memihak siapa sih?

Dewa pribumi tiba-tiba menghilang satu demi satu.

- Kini kami tak punya tempat tinggal. - Lantas?

Apa? Kau minta dibelikan rumah?

Sayang, ini menyangkut keberlangsungan hidup mereka.

Tugas kita mengamati hidup dan mati, bukan mengurus para berandal ini!

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left