The first 192 lines.
=Desainer Hati=
=Episode 38=
Lelah sekali.
Duduklah.
Kuambilkan sesuatu.
Sketsa Luoluo.
Jangan lupa bawa pulang.
Baik.
Aku mandi dulu.
Kenapa buru-buru memanggilku kemari?
Wusan,
aku sering mengajaknya, dia tetap tidak keluar.
Aku sudah beberapa hari tidak melihatnya.
Kamu sudah tanya kenapa?
Dia bilang sibuk,
lalu ibunya sakit.
Intinya banyak alasan.
Maka pasti karena ibunya sakit.
Apa yang perlu dipikirkan?
Ibunya sakit,
juga tidak sampai tidak balas pesanku.
Lagi pula,
semua hadiah dariku, juga dikembalikan.
Aku punya firasat,
jika begini terus,
kami akan berakhir.
Mungkin karena
Guru Tian terus mengawasinya,
tidak ada kesempatan menemuimu.
Tidak.
Dia bukan anak manja.
Pertama kalinya melihatmu
begitu kacau seperti ini karena seorang pria.
Aku juga tidak tahu ada apa denganku.
Dulu aku selalu merasa dia tidak akan meninggalkanku.
Dia begitu mencintaiku.
Jika merindukannya, dia akan muncul.
Jika kesal padanya, dia akan menghilang.
Sekarang aku sungguh takut,
takut dia menghilang dari hidupku.
Tenang saja.
Wusan tidak seperti itu,
dia sangat bertanggung jawab.
Aku juga tahu dia tidak seperti itu.
Tetapi,
dulu aku sangat menyukai Kak Jiang Yan,
juga tidak begini.
Menurutmu,
apa aku sudah tidak tertolong?
Tidak tertolong.
Jadi bagaimana?
Kamu ingin menemui Wusan, 'kan?
Itu mudah saja.
Tidak mudah.
Aku tidak bisa mengatasi Guru Tian.
Kamu tidak bisa, aku bisa bantu.
Nanti malam ibu buatkan mie kacang kesukaanmu.
Ibu, biar aku saja.
Ibu coba apa masakanku atau Ayah lebih enak.
Halo, Direktur Song.
Halo, Zuo.
Aku akan pergi membahas investasi proyek,
kamu ikut aku.
Kirimkan alamatnya padaku, aku pergi ke sana.
Tidak perlu.
Kirimkan alamatmu, aku jemput kamu.
Baik, tidak masalah.
Kenapa? Ada masalah?
Ibu,
perusahaan ada hal mendesak,
harus menjumpai klien.
Aku tidak menemani Ibu makan malam.
Baiklah.
Pergilah, aku baik-baik saja.
Perusahaan lebih penting.
Baik. Ibu, aku pergi dulu.
Aku pergi dulu, Ibu.
Kak Lin,
hari kita jumpai siapa?
Aku bersiap dulu.
Kamu memang harus bersiap.
Kita akan menjumpai
Direktur Zhou dan Direktur Qin.
Apa?
Tidak sangka, Kak Lin.
Kamu bisa seperti ini juga.
Kamu kira aku bersedia?
Jam tanganmu bagus.
Bagus, 'kan?
Qin Qing kemarin ke Italia dengan Kak Fang, 'kan?
Dia yang beli.
Kak Fang juga memberimu hadiah, 'kan?
Iya.
Dia belikan apa?
Apa urusanmu?
Banyak bicara.
Aku ingin bandingkan.
Banding?
Dia belikan rumah, bandingkanlah.
Sayang, maaf.
Hal ini memang seharusnya kujelaskan.
Aku membuatmu khawatir.
Aku baik-baik saja.
Bukan salahmu juga.
Jadi kamu tidak marah?
Aku tidak berhak marah.
Aku tidak berpikir secara menyeluruh.
Seharusnya aku memberitahumu hal ini.
Tetapi tenang saja,
aku sudah memikirkan cara mengatasi Ibuku,
tetapi butuh waktu.
Tidak lama ini,
aku juga berpikir,
kenapa ibuku begitu menentang kita bersama.
Sebenarnya alasan utamanya ada di aku,
karena di mata Ibuku,
aku anak kecil yang tidak bisa ambil keputusan,
jadi dia begitu panik memutuskannya untukku.
Aku akan membuktikan aku bukan anak-anak.
Kita bersama juga bukan karena gegabah.
Aku akan berusaha dalam karirku,
bertanggung jawab pada hubungan kita.
Suatu hari, memberitahunya dengan sikap mandiri.
Aku harus bersama denganmu.
Itu adalah pemberitahuan, bukan permohonan.
Italia menyenangkan?
Apa kamu ada pergi belanja?
Ada.
Apa kamu beli barang yang kamu suka?
Tentu saja.
Beli apa?
Baju, tas,
sepatu, perhiasan, kosmetik.
Banyak sekali.
Jadi apa kamu melihat pakaian pria?
Tidak, hanya melihat pakaian wanita.
Benar juga, untuk apa melihat pakaian pria.
Ada apa? Kenapa ekspresimu seperti itu?
Ekspresi apa?
Tidak, hanya berbincang saja.
Beberapa waktu ini, aku terus berpikir
cara membuktikan diri pada Ibuku,
malah tidak memberimu rasa aman.
Maaf.
Wusan.
Qin Qing,
tidak perlu katakan apa pun.
Aku hanya ingin memberitahumu,
seperti apa pun keadaannya,
tetapi hatiku semakin jelas,
di hidup Zuo Yulin, jika tidak ada Qin Qing,
maka tidak akan lengkap.
Tenang saja.
Aku akan berusaha.
Salahku,
saat kecil begitu nakal,
sekarang jadi menyusahkanmu.
Salahku dari kecil terlalu patuh,
sekarang membuatmu sedih.
Biar kulihat.
Beberapa hari tidak bertemu,
makanmu pasti tidak teratur.
Kurus lagi.
Kubuatkan makanan enak.
Wusan.
Peluk lagi.
Peluk.
Sayang.
Janjilah untuk menjaga diri.
Baik.
Makan tepat waktu dan tidur dengan baik, ya?
Kamu juga, makan teratur.
Kalian berdua jangan berlebihan.
Aku pergi dulu.
Kamu yang patuh.
Setelah pulang, turuti ibumu.
Jangan melawannya.
Jika dia memintamu untuk kencan buta,
pergilah.
Aku cukup tahu di hatimu ada aku.
Tenang saja.
Zuo, sudah jam berapa?
9.30.
9.30.
Jam ini bagus, beli di mana?
Italia.
Italia?
Qin Qing yang belikan?
Bagus sekali.
Kamu pulang tidak?
Tidak, aku tidur di sini.
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.