Release info

All Table Tennis! E08 220321 720p-NEXT
A Commentary by _ch_911_
Time 01:36:22 | Subs by Viu

Tags

720p
720
Published on: 2022-03-22
Downloads: 5
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Selama pertandingan sepuluh peringkat terbaik pekan lalu"

"Shin Ye Chan kalah"

"Lee Jin Ho kalah"

"Lee Tae Hwan kalah"

"Tim Pongdang Pongdang kalah dalam pertandingan rival kedua"

"Mereka menerima hasilnya dan memberi selamat kepada pemenang"

"Tapi mereka tidak bisa menyembunyikan kekecewaan"

Kami sudah pasti kalah,

jadi, kupikir kami harus berlatih lagi.

Tim Legendaris Kang Ho telah meningkat begitu cepat.

Jadi, kupikir satu-satunya solusi adalah berlatih lebih banyak.

Sampai kami bisa menunjukkan pertandingan yang layak...

Setelah kami kalah, aku kesal sampai syuting berakhir.

Aku akan berlatih sekuat tenaga.

Pekan lalu sangat mengejutkan.

Pertandingan di Yanpyeong... - Aku menghapusnya dari ingatanku.

Itu bencana.

Kuhapus dari ingatanku.

Itu sangat memacuku.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan Seung Yoon.

Aku juga berlatih setiap hari.

Benarkah?

"Setelah tim mereka kalah"

"Ye Chan berlatih setiap hari, mengingat kekecewaan mereka"

"Dari Senin sampai Minggu"

"Dia berlatih setiap hari"

"Ye Chan berlatih tanpa henti"

"Agar Seung Yoon tidak terlalu terbebani sebagai andalan"

Aku berlatih setiap hari selama empat jam.

Tidak heran. - Liburlah sehari. Tidak apa-apa.

Tidak, jangan istirahat.

Istirahat saat acara kita dibatalkan.

"Tidak ada lagi istirahat"

"Tim Pongdang Pongdang bertekad membalas dendam"

Kamu hanya bisa memakai teknik setelah mempelajari langkahnya.

Langkah sangat penting dalam pingpong.

Ambil langkah kecil.

Smes. Di kaki kirimu.

Kamu terus membuka sudut saat bermain.

Kamu harus tutup. Pukul dan tarik mundur. Itu dia.

Di kaki kananmu.

Jangan turunkan.

Julurkan tanganmu.

Itu dia. Julurkan tanganmu.

Majulah. Itu dia.

Kurasa aku bisa menguasainya. - Baiklah.

Aku berlatih memukul bola selama 30 menit.

"Mereka berlatih sampai pusing"

Kamu kehabisan napas, bukan?

Kini kamu tahu sebanyak apa atlet profesional berlatih.

Bersiaplah. Mari kita lakukan! - Ayo.

Pukul bolanya. Itu dia.

Itu dia.

"Berkeringat"

"Pertarungan sengit melawan diri sendiri untuk menang"

"Mereka hancur di depan dinding yang tidak bisa mereka lihat"

Maafkan aku!

"Mereka hancur berulang kali"

Astaga, ini gila.

"Menjadi juara kedua tidak bisa menjadi targetku"

"Aku tidak pernah memimpikan hal yang tidak bisa diraih sejak kecil"

"Kim Taek Soo, atlet pingpong Korea"

"Di sebuah kafe setelah sepekan latihan keras"

Lama tidak bertemu, Pelatih. - Halo.

Bagaimana performamu dalam kompetisinya?

Semuanya lancar.

Kami juara pertama di ganda wanita.

Kami menang. - Tim yang kamu ikuti...

Kami menang. - Kamu menang.

Ya. - Selamat.

Terima kasih.

Kamu memang luar biasa.

Tim Pongdang Pongdang juga suatu hari nanti.

"Ragu-ragu"

Kami kalah pekan lalu.

Ya, aku sudah dengar.

"Tim Pongdang Pongdang berada di peringkat bawah"

"Kapten Eun tampak muram sepanjang pertandingan"

Tim Legendaris Kang Ho

telah banyak berkembang. - Benarkah?

Ye Chan kalah dengan menyedihkan

dari Ho Dong.

Dia kalah dengan menyedihkan?

Dengan menyedihkan. - Tidak mungkin seburuk itu.

Kurasa dia hancur secara mental.

Para pemain kami lebih muda dan lebih lemah secara mental.

Mereka tidak tahu cara mengambil inisiatif lagi

saat kalah. - Ya, mereka kurang dalam hal itu.

Apa mereka terintimidasi dengan energi tim lain?

Kurasa tim lain memiliki energi yang baik.

Mereka bersemangat. - Benar.

"Dibandingkan Tim Legendaris Kang Ho yang selalu penuh energi"

"Gerakan sorakan Tim Pongdang Pongdang tidak besar"

"Mereka cenderung bersorak dengan tenang"

Itu sebabnya aku menyiapkan sesuatu.

Seperti evaluasi sementara? - Benar.

Kamu memeriksa hal-hal yang harus mereka perbaiki.

Benar.

"Evaluasi Performa Tim"

Halo. - Hai, Ye Chan.

Halo. - Halo.

Halo. - Ibu jarimu kenapa?

Ini? - Apa yang terjadi?

Selagi mengasah betku,

ibu jariku teriris.

Astaga. Ibu jarimu teriris? - Sebesar inilah semangatnya.

Ibu jarinya bahkan terluka. - Ya, benar.

Ibu jari ini teriris.

Kamu master sejati sekarang.

Tidak apa-apa karena itu tangan kirinya.

Itu melegakan. - Dia masih bisa bermain.

Itu melegakan. - Kuperiksa ibu jari yang mana

begitu aku terluka.

Jadi, Pelatih Hyo Won

menganalisis performamu. - Benarkah?

Kinerjamu bergantung

pada siapa lawanmu. - Benar.

Kamu goyah.

"Selama pertandingan rival pertama dengan Keun Woo"

"Dia bermain dengan tenang dan tersenyum"

"Dia juga santai"

"Tapi selama pertandingan rival dengan Ho Dong"

"Dia tampak tegang"

"Bahkan saat memenangkan poin"

"Dia sangat kaku"

"Rasanya seperti dagingku benar-benar terkoyak"

"Ye Chan terintimidasi oleh energi Ho Dong"

Dia terintimidasi oleh pemain yang bersorak keras seperti Kapten Kang.

Dia terintimidasi? - Ya.

Sepertinya aku hancur saat kehilangan kecepatan.

Saat kamu kehilangan kecepatan? - Ya.

Bahkan atlet profesional tiba-tiba tegang

saat membuat kesalahan pada teknik

yang mereka yakini.

Karena mereka mantan atlet,

mereka bersorak keras setelah mencetak angka.

Tapi anggota tim kita tampak menyesal setelah mencetak angka.

Anggota kita tidak seceria itu.

Semua orang punya cara untuk bersorak.

Mereka kepalkan tangan atau berkata, "Bagus."

"Dengan menunjukkan kepercayaan diri kepada lawan..."

Dengan begitu, kamu bisa memimpin permainan lagi.

Kamu juga harus melakukan hal itu.

Aku akan bersorak keras. - Ya, kamu bisa membuat rutinitas.

Aku akan menang dari siapa pun lawanku berikutnya.

Bagus. Lihat matamu. Terlihat garang.

Kamu pasti bisa! - Aku bisa!

Kamu pasti bisa! - Sampai jumpa.

Halo. - Halo.

Apa kabar, Pelatih Hyo Won? - Baik. Bagaimana kabarmu?

Aku menganalisis performamu

dan menulis beberapa hal.

Benarkah? - Ya.

Kamu mencetak angka dan membuat kesalahan setiap kali menyerang.

Setiap kali ada peluang menyerang, kamu terlalu tegang.

Itu sebabnya kamu membuat kesalahan saat menyerang.

"Masalah terbesar Jin Ho"

"Dia terlalu tegang saat menyerang"

"Karena terbebani untuk mencetak angka"

"Itu sebabnya dia membuat kesalahan saat dapat peluang mencetak angka"

"Santailah"

Kamu membuat kesalahan. - Benar.

Aku selalu terburu-buru setiap kali bermain.

Aku langsung beri servis setelah mereka dapat angka untuk menyusul.

Di situlah aku goyah.

Sebelumnya, kita hanya perlu mengoper bola ke seberang.

Benar. - Tanpa teknik.

Kami hanya perlu mengoper bola ke seberang.

Tapi sekarang, kami harus mencetak angka

Benar. - dengan teknik yang kami pelajari.

Sekarang kita harus berpikir keras sebelum memukul bola.

Sepertinya aku terlalu tegang.

Kamu punya cara untuk tenang dan memimpin permainan lagi

saat terlalu tegang?

Saat aku bermain dengan Ho Dong,

dia merusak alurnya.

Dia mematahkan alur untuk memimpin permainan lagi.

Kamu butuh rutinitasmu sendiri.

Kamu bisa melompat tiga kali atau menarik napas dalam-dalam tiga kali.

Kamu bisa berjalan sedikit untuk memberi dirimu waktu berpikir.

Kamu harus berpikir positif saat melakukan itu.

Aku harus memikirkannya.

Benar sekali. Kamu harus membuatnya sendiri.

Kamu bisa beristirahat sejenak saat merasa terburu-buru.

Sangat penting memiliki rutinitas seperti itu selama pertandingan.

Pakailah rutinitas itu untuk memimpin permainan.

Sampai lawanmu terkejut.

Selain itu...

Ada satu halaman penuh kelemahanku.

"Ada lagi?"

"Masih banyak yang harus dibaca"

Pasti sulit menulis sebanyak itu.

"Dia teliti dalam menganalisis"

Dia pasti hanya mengamatimu.

Aku terus mengupayakan... - Kamu mau kertasnya?

Ya. Akan kutempel di kulkasku.

Tempelkan saja di wajahmu.

Tempelkan di wajahmu. - Benar.

Jin Ho yang energik di antara kita.

Dia suka bermain pingpong. Itulah yang kukagumi darinya.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left