The first 200 lines.
Pada tahun '80-an, hubungan sulit antara ibu dan putrinya
diciptakan untuk tayangan yang menarik.
Di rumah kami, itu terjadi di kehidupan nyata.
Aku senang kau menungguku untuk membantumu mendekorasi.
Kami telah mendekorasi selama dua hari.
Astaga!
Aku tak akan makan jika tak berdoa,
dan apa pun ini, kita butuh berkat.
Bagaimana dengan yang ini?
-Ingat saat kau membuatnya? -Itu tongkat.
Tuhan yang membuatnya.
Jadi, tak mengejutkan ketika...
Kau merasakannya?
Apa perutmu sedikit tegang?
Ibu pasti terbangun dari operasinya.
Dia memberi tahu dunia lagi.
Semua akan baik-baik saja.
Aku sudah menyiapkan rumahku dan mengaturnya untuk dia.
Itu tidak akan mudah.
Itu yang harus kulakukan untuk menjadi anak favorit.
Syukurlah, dia akan pulih bersamamu. Coba bayangkan dia tinggal denganku?
Tidak setelah kunjungan Natal terakhir itu.
Kami masih membicarakan itu di belakangmu.
Ya, itu sulit.
Ingat saat kau bilang aku menyelinap keluar, tetapi kau kena masalah
karena dia benci pengadu?
Bagus kita masih bisa mentertawakan itu.
Aku tidak tertawa.
Jangan marah.
Setiap putri punya hubungan dengan ibunya,
terutama saat putri itu menjadi favorit ketiga dari dua anak.
Namun, jika terpaksa, kau akan merawat Ibu, 'kan?
Tentu saja. Jika tak ada pilihan lain.
Kau sudah mati. Ayah sudah meninggal.
Sepupu Merle tewas. Dunia akan berakhir.
Hampir semua orang harus mati.
Anggap saja kami semua sudah mati, karena kau menjaga Ibu pekan ini.
Apa?
Namun, kau anak favoritnya. Kenapa tidak kau saja?
Karena aku favoritnya.
Hubungan kami berdasarkan dia dan aku mengeluh tentangmu.
Aku tak mau kehilangan itu.
Itu dia. Jangan bilang aku yang menyuruhmu.
Pengadu.
-Tidak. -Halo?
-Halo? -Sayang, ada apa?
-Ibuku di luar. -Halo?
-Sedang apa dia di sini? -Bunionnya baru diangkat.
Denise bilang dia akan tinggal bersama kita seminggu ke depan.
Kau tak akan membiarkannya masuk, 'kan?
Kita tidak punya pilihan.
-Selalu ada pilihan. -Halo?
Kita tak mau Natal lainnya terulang. Mental kita hancur sampai Paskah.
Aku tahu. Jadi, kita harus bagaimana?
Pura-pura kita tak di rumah
-selama sepuluh hari ke depan? -Halo?
Jelas, kita tidak bisa melakukan itu.
Aku akan menyiapkan anak-anak, kita menyelinap lewat belakang.
Dia tak akan tahu kita di sini.
Aku bisa mendengar kalian.
Tidak.
Hai, Ibu.
Maaf, aku tak tahu kau akan datang,
karena Denise bohong dan bilang kau tinggal bersamanya.
-Ternyata kau masih pengadu. -Memang.
Aku masih favoritmu, 'kan?
Aku tak punya favorit. Namun, ya.
Halo, Paul.
Seperti ini rupanya saat pria di rumah dan melakukan pekerjaan rumah tangga.
Halo, Shireen. Sebenarnya, aku sudah bekerja. Aku seorang guru.
Jadi, seperti ini rupanya saat tak ada yang melakukan pekerjaan rumah.
Berapa lama kau akan tinggal?
Nenek Hitam!
Sayang, kau tak perlu bilang "Hitam".
Namun, Ibu bilang jangan memanggilnya "Nenek Jahat".
Senang bertemu denganmu, Nenek Shereen. Kuharap kau lebih sering datang.
Aku juga, Sayang.
Namun, kabar baiknya, suatu hari nanti,
aku akan terlalu tua untuk sendirian, jadi, aku akan di sini bersama kalian.
-Tunggu, benarkah? -Tunggu, benarkah?
-Kau mau tinggal di sini bersama kami? -Tentu saja.
Tidak ada lagi yang bisa mengurusku dengan lebih baik.
Lalu untuk saat ini, aku akan tinggal di kamarmu.
-Kamar tidur kami? -Kau tak keberatan, bukan?
Kakinya baru saja dioperasi.
Lagi pula, aku tidak suka sofanya.
Ayo, Bu. Akan kutunjukkan kamar barumu.
Aku akan bawakan tasmu. Yang mana yang ada hadiah kami?
Saat itulah ibuku naik menjadi anak favorit kedua.
Dengan banyaknya dinding di rumah ini, seharusnya ada satu foto James Brown.
Benar, bukan?
Namun, mereka punya kamar untuk foto taman kanak-kanak Johan.
Ini akan sangat nyaman di masa tuaku.
Aku beruntung.
Tidak seperti Janice, rekan kerjaku.
Anak-anaknya mengirim dia ke Silver Sunset Villa begitu
dia dapat diskon lansia di bioskop.
Biar kutebak, Janice kulit putih?
-Aku tidak pernah bisa hidup seperti itu. -Aku juga.
Tinggal di panti jompo, mengatur waktu untuk makan Jell-O-ku?
Mencuri wigku saat aku tidur?
Aku beruntung. Alicia akan selalu menjagaku.
Aku akan di sini untuk menjaganya yang sedang menjagamu.
Aku hanya penasaran apa yang akan terjadi padamu.
Tanpa anak-anak, kau hanya menatap laras masa depan tanpa ada yang menjagamu.
Kau benar.
Tidak ada yang menyuapimu, memandikanmu,
tak ada yang menggantikan saluran saat kau hampir ketinggalan Alf.
Maaf, itu tadi isyarat. Kita akan ketinggalan Alf.
Maafkan aku, Ibu.
Kau benar. Siapa yang akan melakukan ini untukku?
Aku tidak punya putri atau bahkan putra yang bodoh.
Aku harus memikirkan ini. Aku akan kembali.
Jika Ibu butuh sesuatu, beri tahu aku.
Lalu aku akan memberi tahu Alicia.
Apa maksud ibumu soal tinggal di sini selamanya?
Aku tahu. Bagus, bukan? Dia memilihku.
Apa maksudmu? Kau baru saja pura-pura tak ada di sini.
Astaga. Begitulah cara kami berbicara.
Pikirkanlah, Paul. Dia bilang tidak ada yang bisa mengurusnya dengan lebih baik.
Itu hal terbaik yang dia katakan padaku.
Astaga. Aku mengerti kau antusias,
tetapi aku merasa harus mengingatkanmu, kita berurusan dengan ibumu.
-Benar sekali. Ini ibuku. -Ya. Ini ibumu.
-Ya. Benar. Ini ibuku. -Benar. Ini ibumu.
Kenapa kau terus mengatakan itu? Aku tahu keadaan di masa lalu rumit,
tetapi dia membutuhkanku sekarang. Aku belum pernah merasakannya.
-Ini akan berbeda. -Alicia! Aku membutuhkanmu.
Untuk membeli selimut baru karena aku benci selimutmu!
Lihat? Dia membutuhkanku.
Aku datang, Ibu!
Halo, Rainbow. Bajumu bagus.
Aku jadi teringat saat memberimu nasihat hebat
tentang pergi ke pesta dansa dengan pria kulit putih itu.
Ingat betapa bahagianya kau setelah kita bicara?
Bibi Dee-Dee tak apa? Kau tak pernah bicara sebanyak ini kepadaku.
Aku jujur kepadamu, Rainbow.
Selama ini aku salah dan kini aku tak punya anak untuk merawatku
saat bertambah tua.
Jadi, kau akan punya anak?
Astaga, tidak. Aku benci anak-anak. Maksudku...
Kuharap kau bisa mengurusku.
Dengan senang hati.
Meski baru tahu soal ini, aku sudah punya rencana.
Apa pendapatmu tentang Vermont?
Karena kita bisa membeli rumah kecil di sana.
Ukurannya harus kecil, karena aku ingin sebagian besar uangku untuk amal,
tetapi jangan khawatir. Itu cukup besar untuk kita dan semua anjing.
-Anjing? -Ya.
Mereka tak akan mengusir anjing selama aku punya halaman.
Tidak. Terlalu rumit.
Anjing? Itu seperti orang kulit putih.
Ibuku berusaha keras memastikan nenekku nyaman.
Itu artinya membuat ayahku sangat tidak nyaman.
Apa itu bakon?
Kau sedang apa?
Aku ingin bangun pagi dan membuatkan Ibu sarapan sebelum pergi bekerja.
-Dia butuh bakon. -Aku butuh bakonku!
Ini rumah vegetarian.
Sayang, dia baru pulih dari operasi.
Bagaimana dia bisa membaik tanpa bakon?
Aku tak tahu berapa lama lagi waktuku.
Aku hanya ingin bahagia.
Baiklah, permisi, aku mau cari udara segar.
Udara yang tidak berbau seperti bangkai babi.
Sudah kususun ulang perabot di kamar kita sesuai seleramu, mengisi bak, sarapan.
Sepertinya kau sudah siap.
Aku akan kembali bekerja, jika kau tak butuh apa pun.
Aku tidak butuh apa pun. Kau sudah melakukan lebih dari cukup.
Sampai jumpa, Ibu.
Aku butuh obat pereda nyeri, tetapi kurasa aku bisa menggigit tongkat.
Aku bisa mengantarmu ke apoteker.
Aku punya banyak waktu.
Duduklah.
-Maaf aku terlambat. -Kau tak hanya terlambat.
Kau melewatkan seluruh rapat. Denise datang tepat waktu.
Aku sangat kecewa padamu.
Maaf. Aku terjebak membantu ibuku.
Dia butuh sesuatu dari apotek, lalu dia butuh sesuatu dari toko,
kemudian dia butuh bantuanku menulis surat ke The Price is Right,
tetapi itu tidak akan terjadi lagi.
Aku tidak mengerti. Kenapa kau melakukan itu?
Apa pramutamu hotel tidak bisa membantunya?
Aku tak mau dia menginap di hotel. Dia tinggal bersamaku.
Apa kau imigran baru?
Jangan bilang ada yang tidur di lantai.
Tidak. Kami di sofa.
Tak apa, karena itu memberiku kesempatan memperbaiki hubunganku dengan ibuku.
Namun, jangan khawatir. Pekerjaanku tak akan terganggu.
Aku bisa menjadi putri dan pengacara yang hebat sekaligus.
Aku tidak peduli jika ibumu tidak pernah bicara denganmu lagi.
Jangan lewatkan rapat klien lagi.
Kau tak akan pernah mendengar tentang ibuku di kantor lagi.
Ibu menelepon. Dia ingin kau pulang dan mengganti saluran.
Dia hampir melewatkan Wapner.
Aku permisi.
Tidak semua orang bisa menjadi pengacara dan mengurus ibu mereka.
Ini dia.
Ternyata, ibuku juga tak bisa.
Kenapa besar sekali? Kau mau aku tersedak dan mati?
No comments yet. Be the first to leave one.