The first 200 lines.
Bagi yang datang ke toko kue ini,
kalian sebaiknya tidak beli apa-apa di sini.
Roti ini dibuat tangan pembunuh.
Ayah wanita ini adalah
pembunuh ayahku.
Maksudnya, tukang rotinya?
Bagaimana bisa kamu amat tidak acuh?
Ada apa denganmu?
Jang Da Ya, kamu kira apa yang kamu lakukan?
Apa maksud Kakak?
Kakak membela putri pembunuh?
Kenapa Kakak membelanya?
Kalian sudah menjadi orang asing.
Kenapa Kakak ikut campur?
Da Ya, cukup.
Ayo pergi.
Aku belum selesai.
Pria yang membunuh ayahku masih hidup di sana.
Bagaimana bisa aku diam saja?
Ayahku sudah tiada.
Da Ya, aku sungguh menyesal.
Ayahku sudah berdosa besar.
Tapi dia juga sudah hidup
dengan penuh rasa sakit.
Apa kamu baru saja bilang rasa sakit?
Rasa sakit apa? Rasa sakit semacam apa?
Dia membunuh ayahku yang tidak bersalah.
- Bagaimana bisa kamu bilang begitu? - Jang Da Ya!
Cukup.
Walaupun keluarga korban,
kamu tidak berhak melakukan ini.
Kamu tidak boleh melakukan ini.
Kak Dae Ryook.
Teganya Kakak melakukan ini kepadaku.
Dia putri pelaku.
Aku putri korban.
Jika menjadi aku,
bisakah Kakak memaafkan ayahnya dan melanjutkan hidup?
Apa juga yang Kakak lakukan di sini? Kalian sudah bercerai.
Kakak tidak seharusnya melakukan ini kepadaku.
Da Ya...
Ini bukan apa-apa. Tolong pergi.
Ini sungguh bukan apa-apa.
Do Ran.
Maaf. Aku saja yang akan meminta maaf.
Tidak perlu. Ada apa kemari?
Kamu meninggalkan barang-barangmu.
Jadi, aku membawakannya.
Terima kasih.
Jika
ada lagi, akan kubawakan nanti.
Dae Ryook.
Lain kali, jika kamu menemukan barangku,
buang saja.
Do Ran.
Kita bercerai dengan penuh kesulitan.
Aku tidak mau melihatmu seperti ini.
Aku mau kamu
melupakan aku dan ayahku.
Hati-hati dalam perjalanan pulang.
Apa yang harus kita lakukan dengan roti-roti ini?
Pak Kang, apa yang terjadi?
Ada apa? Siapa yang melakukan ini?
Bukan apa-apa.
Pak Kang. Do Ran.
Apa kalian terluka?
Kalian baik-baik saja?
Ya.
Aku seharusnya di sini.
Kenapa ini terjadi selagi aku melakukan pengantaran? Maaf.
Tidak perlu meminta maaf.
Kita sebaiknya membuatnya lagi.
Rumah terasa kosong dan ditinggalkan.
Bukan hanya kami yang memasukkan lansia
yang mengidap demensia ke petirahan.
Aku tidak perlu merasa tidak enak
Astaga, Da Ya.
Kenapa wajahmu murung? Kamu menangis?
Ibu.
Apa gunanya Kak Dae Ryook bercerai?
Dia tetap mengunjungi toko kue ayahnya Do Ran.
Dia tetap membelanya.
Kurasa dia masih menganggap dirinya
suami Do Ran.
Apa maksudmu?
Dae Ryook masih ke sana?
Ibu,
aku tumbuh tanpa bisa memanggil ayahku.
Ibu tahu itu.
Ibuku sudah menderita dan hidup penuh rasa sakit.
Ayahku tewas dan tiada.
Pak Kang yang membunuh ayahku
malah membuka toko kue dan hidup bahagia.
Jadi, aku amat marah sampai ke sana untuk bicara.
Tahukah Ibu Kak Dae Ryook bilang apa?
Katanya, "Walaupun keluarga korban,
kamu tidak berhak melakukan ini." Dia memarahiku.
Dae Ryook sungguh bilang begitu?
Tapi Dae Ryook dan Do Ran
sudah bercerai dan bukan keluarga lagi.
Kenapa dia ke sana?
Hai, Ibu.
Kamu di mana?
Aku sedang keluar kantor sebentar.
Sekarang?
Kenapa kamu ke sana?
Jika dia meninggalkan sesuatu,
Bi Cho atau Bi Yeoju bisa mengantarkannya.
Apa kamu
masih menyukainya?
Begitukah?
Apa masalahnya aku mengantarkan barangnya?
Itukah alasan Ibu meneleponku?
Kamu sudah gila?
Sadarlah.
Dia putri pembunuh.
Ayahnya membunuh ayahnya Da Ya.
Kenapa kamu masih menyukainya
- sampai ke sana? - Ibu.
Kamu Direktur Bom and Food
serta putra sulung kami.
Bagaimana jika dunia
tahu ayah mantan istrimu
pembunuh?
Apa yang akan kamu lakukan nanti?
Ibu.
Ibu tidak memikirkanku?
Apa?
Seperti kata Ibu,
aku menceraikan Do Ran
karena aku putra sulung.
Demi keluarga.
Ya, kamu melakukan itu.
Aku bukan mesin.
Aku manusia
dengan hati dan perasaan.
Aku menceraikan wanita yang kucintai.
Ibu tidak memikirkan perasaanku?
Aku berusaha melupakan Do Ran.
Kami tahu
tidak mungkin kami kembali bersama.
Ibu tidak perlu cemas soal itu.
Ibu tahu.
Ibu tidak cemas soal itu.
Tapi saat ibu mendengar kamu pergi ke toko kue itu...
Terlepas dari semuanya,
kamu tidak boleh bilang begitu kepada Da Ya.
Dia pasti merasa amat sedih.
Dia kira pria
yang membunuh ayahnya akan mati di penjara,
tapi pembunuh itu kini hidup seperti orang biasa.
Menurutmu, bagaimana perasaannya?
Aku paham,
tapi
Pak Kang sudah dipenjara selama bertahun-tahun.
Dia akhirnya bisa bangkit kembali.
Tidak benar Da Ya merisaknya.
Dia bilang ke orang-orang
bahwa pembunuh membuat roti mereka.
Dia menyebut Do Ran putri pembunuh.
Ibu.
Apa salah Do Ran?
Aku menceraikannya
dan dia menderita. Bukankah itu sudah cukup?
Bicaralah dengan Da Ya
dan larang dia melakukan itu lagi.
Aku ada rapat.
Aku sudah bilang
dia tidak boleh menikahinya dari awal.
Apa yang kini harus kulakukan?
Da Ya, minumlah ini.
Ini teh madu hangat.
Ini akan menghangatkanmu.
Terima kasih.
Da Ya.
Jangan salah paham dengan ucapan ibu ini.
Mulai sekarang,
jangan pergi ke toko kue tempat Pak Kang
dan Do Ran bekerja.
Ibu.
Mari memutus hubungan dengan orang-orang seperti mereka.
Memang berat,
tapi lebih baik tidak melihat mereka.
Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi,
tapi kita tidak bisa membalas mereka dengan cara yang sama.
Jika tidak bisa melakukan apa-apa,
melihat mereka hanya akan membuatmu merasa lebih buruk.
Ibu.
Bagaimana lagi aku bisa melampiaskan perasaanku?
Ibu paham,
tapi kamu harus melupakannya.
Jika ibumu bertingkah,
kamu harus menghentikannya.
Jika tidak, dia akan pingsan karena kesal lagi.
Ibu. Bagaimana bisa ini benar?
Bagaimana bisa mereka memberi pengampunan kepada pembunuh
karena dia bersikap baik?
Da Ya, katanya kriminalis
tidak pernah bisa kabur dari hukuman para dewa.
Orang-orang yang berhak dihukum
No comments yet. Be the first to leave one.