The first 200 lines.
Perkenalkan.
Saya Kurashiki, guru pembina Ekskul Astronomi.
Terima kasih sudah menjaga Isaki.
Saya Nakami Ganta, dari kelas 1-1.
Tegang banget.
Tenang saja, sudah kubicarakan dengan orang tuaku.
Kakimu sakit duduk di lantai, 'kan?
Bentar, biar kuambilkan bantal.
A–Aku Nakami, teman sekelasnya M–Magari-san.
Aku Gunung Gede Berombak.
"Gunung"?
Oh, Embak!
Hayo, Isaki.
Udah berani bawa cowok, sampai dijamu pula, ya.
Biar kukenalkan.
Haya, kakak di atasku empat tahun.
Isaki adalah clone dari sisa-sisa selku.
Cuekin saja tukang kibul ini.
Oiya ...!
Aku juga ikut kamp kalian, jadi tolong bantuannya.
Em .... Termasuk ini?
Dia ikut sebagai pendamping kita.
Orang disuruh Papah-Mamah, kok.
Mbak, ini kan kausku!
Pinjam, elah ....
Bilang dulu, kek!
Jangan tarik-tarik, ah.
Eh, itu kan juga punya—
Oh, pantas talinya longgar, meski bra cupnya kecil.
Gak usah ngeluh segala!
Orang emang gitu, kok.
Udah, ah! Diam!
Panas ....
Masih jauh, nih?
Sedikit lagi ....
Bilang, kalau aku anak yang tahu sopan santun, ya.
Nyerah.
Bu, kita belum selesai!
Bangkitlah demi kami!
Ogah banget!
Pengin minum bir.
Gak boleh!
Agenda kampnya tertera di sini.
Iya ....
Oh ....
Ternyata, Ganta punya minat kepada bintang?
Karena tidak ada penengah di antara kami, jadi belakangan jarang mengobrol ....
Ayahmu seperti apa, Nakami?
Mirip denganmu?
Beda banget.
Ganta anak yang perhatian, sampai mau memasak buatku yang kerjanya malam.
Jadi berbeda sekali denganku yang tidak bisa apa-apa.
Ah, mungkin cuma satu kali pernah membuat masalah.
Oh?
Waktu SD dulu, aku sampai dipanggil ke ruang guru.
Kupikir dia mulai nakal, karena tidak ada bimbingan sosok ibu.
Tapi waktu panik datang ke sekolahnya ....
Ternyata, sepatunya kekecilan.
Tetap dia pakai, meski kakinya sudah terlalu besar.
Itulah sebabnya, waktu pelajaran olahraga selalu dijadikan sandal.
Padahal kalau bilang, pasti dibelikan yang baru.
Tapi, entah kenapa diam saja ....
Maaf, malah membahas hal lainnya.
Persoalan kamp pelatihan, kupercayakan saja pada Ibu Guru.
Sejak kapan Ganta-kun seperti itu?
Mungkin memang terkait dengan kematian ibunya.
Karena di suatu malam,
dia tiba-tiba tiada selagi Ganta tertidur pulas.
Misal shutternya dilepas setelah terpapar cahaya 10 detik,
kameranya bisa menggabung 300 foto setelah didiamkan satu jam.
Ini disebut composite.
Persiapan kamp pelatihanmu sudah beres?
Tinggal membeli perlengkapan kemah di Kanazawa, setelah ini.
Meski sulit memotret langit di Kanazawa yang banyak lampu,
tapi banyak tempat bagus untuk difoto, kok.
Kau hafal dengan Kanazawa?
Bukannya hafal atau bagaimana, sih.
Waktu menang kontes dulu,
acaranya diadakan di kantor prefektur Kanazawa.
Selain guru pembinanya cuek,
aku juga satu-satunya anggota ekskul,
jadi aku menolak ke sana karena terlalu malu datang sendirian.
Tapi setelahnya,
Bu Kurashiki yang tidak ada hubungannya malah bersedia menemaniku.
J–Jadi ....
Hasil fotomu sekarang sudah jauh berkembang.
Eh?
Apalagi sesingkat ini ....
Jadi, karena itu ....
Lain kali ...
... cobalah tidak memotret di tempat yang indah ....
Fotografi yang bagus itu ...
... tercipta oleh hasratmu yang ingin mengabadikan momen tertentu.
Jadi cobalah menjepret, begitu kau terpikat.
Begitu aku terpikat ...?
Aku akan mencobanya!
Terima kasih banyak, Shiromaru-senpai!
Ah, aku akan menyapu pekarangan depan!
Berjuanglah, Junior.
Kau tahu jalannya, Magari?
Tahu.
Soalnya, sering main ke sini.
Kayak pas belanja bareng teman atau semacamnya.
Semuanya terasa baru bagiku.
Pfft! Kayak Sinterklaas!
Memang banyak tempat bagus.
Ini jalan favoritku, lo.
Di musim semi, dari ujung ke ujung isinya bunga sakura semua!
Sampai kayak hujan konfeti pas diterpa angin!
Andai saja kamu lihat!
Kenapa?
Nakami!
Sini!
Terima kasih sudah menyetir.
Santai!
Isaki! Buruan, ih!
Sabar, ah!
Pipisku bocor, nih!
Pengap banget.
Ada engawa-nya.
Di balik ini langsung lautan, lo.
Seberang sana ada kuil,
sekaligus halte bus.
Selain itu, gak ada lagi.
Tempat yang bagus.
Menyejukkan.
Isaki!
Tisunya gak ada!
Tolong!
Beres sudah.
Keringatan begini, aku duluan yang mandi, ya.
Habis itu, boleh aku dulu?
Kalau begitu, biar kusiapkan makan siang.
Oh! Mantap betul!
Bikin mi dingin?
Ah .... Iya.
Manteplah.
Aku keroncongan!
Sudah jadi, kok.
Ayo makan bersama—
Selamat makan!
Kamu jago masak juga ya, Nakami-kun.
Tidak jago-jago amat, sih ....
Oiya.
Karena kita pemotretan di Mitsukejima besok,
aku mau pergi latihan dulu.
Ikutlah juga, Magari.
Gimana?
Namaku juga Magari lo, nih?
I–Isaki-san ....
Udah, deh, Mbak!
Ketemu, nih.
Bikin kangen ....
Hei, Isaki.
Ada kepitingnya.
Selamat siang.
Selamat siang.
Buat jaga-jaga saja.
Malam ini sepi bintang karena purnama,
tapi bisa buat latihan!
Mbak.
Aku keluar sebentar.
Gak usah lihat sini!
Magari—
Salah, yang benar Mbak Magari.
Anak itu nyusul habis cuci muka.
Eh?
Oh, ini?
Balas dendamnya Isaki.
Punya saudara, Nakami-kun?
Tidak.
Kalian terlihat dekat sekali, ya.
Wah, kelihatan begitu?
Aku mending jadi anak tunggal.
Pasti kamu sudah tahu, 'kan?
Kalau kecilnya sakit-sakitan dan harus diperhatikan?
Iya.
Isaki-san bilang, kalau punya masalah jantung.
Pokoknya,
sejak dia lahir selalu jadi patokan segalanya.
"Memang tidak kasihan padanya?"
"Maklumilah sebagai kakak yang baik."
Bahkan semua acara sekolahku sampai dikesampingkan.
Makanya selagi gak diawasi, kupuas-puasin jahilin dia!
Hei.
Kamu serius suka memotret di tempat yang kosong begini?
Memang kosong, sih.
Tapi aku merasa senang datang ke sini.
Misalnya saja,
sampai sempat keasyikan sendiri ...
... mencari tempat yang bisa menangkap langit, laut, dan pemukiman sekaligus.
Oh, aku mah sama sekali gak minat.
Yang lebih penting, kamu benar lagi menggebet Isaki?
Eh?!
Gebet—
Aku memang bilang dia istimewa, tapi bukan yang seperti—
Lagi pula, aku mengutip ucapannya sendiri saat dia menghiburku.
Jadi mungkin tidak bermaksud terlalu intim.
Kalau kamu pacarnya,
pasti udah dapat restu dariku.
No comments yet. Be the first to leave one.