The first 200 lines.
Saat keadaan Negara dalam bahaya, akan penjajahan dari negara asing...
Perebutan kekuasaan terjadi antara para Panglima, sehingga kekacauan menyengsarakan rakyat mereka sendiri....
Kota Dengfeng,Propinsi Henan, Cina.
Buddha Maha Welas Asih.
Buddha Maha Welas Asih.
Kakak, masih ada yang hidup di sini.
Bangunlah!
Bangunlah!
Cepat! Jangan biarkan mereka kabur!
Kejar mereka!
Bunuh! Jangan sisakan 1 oranpun!
Pak, makanlah pelan-pelan.
Makanlah, selagi masih panas.
Terima kasih.
Kakak, kira-kira datang 200 orang lagi.
Jingkong, sebentar lagi musim dingin akan tiba.
Sebelum badai salju tiba di gunung, sebaiknya kita segera membangun tempat berteduh.
Kita sudah kehabisan kayu dan jerami.
Kau ingin membangunnya dengan apa?
Segera cari apa yang ada di kamar kita kemudian berikan pada orang-orang ini.
Tidak mau, aku takut dengan kedinginan.
Lihat bakpao ini, semakin hari semakin kecil saja.
Jadi, kita sudah tidak perlu lagi takut akan kematian.
Sebelum musim dingin tiba,
kita pasti sudah meninggal karena kelaparan.
Kejar dia!
Geledah!
Keluarlah!
Minggir! Keluarkan dia!
- Berhenti! - Jangan bergerak!
- Kau! Kemarilah! - Berhenti! Jangan bergerak!
- Jangan bergerak! - Jangan bergerak!
Minggir!
Minggir!
Kau tidak boleh masuk!
Berhenti!
Kau tidak boleh masuk!
Keluarkan kudanya!
Keluarkan kudanya!
Kepala Biksu, tolong saya.
Biksu busuk!
Komandan Hou menginginkan orang ini mati! Siapa yang berani menampungnya berarti pengkhianat!
Aku tidak perduli siapa kau! Kau tidak boleh membuat kegaduhan di tempat ini!
Ayo maju.
Hei! Hei!
Terus selamatkan dia maka aku akan mengirim kalian semua menemui Buddha.
Dia kehilangan banyak darah.
Segera ambilkan bubuk penahan rasa sakit.
Baik, Guru.
Komandan Hou tiba!
Kelihatannya orang-orang ini sudah menyambutmu dengan pertunjukkan kungfu Shaolin mereka.
Kau membalasnya dengan menodongkan senjata? Dasar tidak bermoral.
Komandan Hou.
Tuan, tolong jangan bergerak.
Kepala Biksu, anda juga tidak perlu bergerak.
Dia sudah mendekati ajalnya.
Bantulah dia, "berikan dia jalan."
Buddha Maha Welas Asih.
Buddha yang menciptakan segala takdir.
Dia sudah diberikan kehidupan, walaupun saat ini adalah dia sedang sekarat,
Saya harus tetap membantunya.
Saya meminta Tuan untuk menunjukkan belas kasihan.
Jangan lagi menambah kematian yang tidak ada artinya.
Kalau dia belum mati, aku tidak bisa tidur tenang.
Saat hati sudah disingkirkan dari rasa takut, impian tidak akan lagi menjadi masalah.
Dengan hati yang bersih, maka setiap langkahmu akan menuju Nirwana.
Nirwana?
Kepala Biksu, mungkin anda sudah terlalu lama tinggal di kuil Shaolin sampai tidak mengerti.
Kalau aku tidak membunuhnya, peperangan ini akan terus berlanjut.
Ini artinya akan semakin banyak pembunuhan.
Kalau begitu, bagaimana cara agar kita bisa ke Nirwana?
Hou Jie.
Aku mengaku kalah.
Kota Deng Feng City kuserahkan padamu.
Kalau kau mau mengampuniku...
Aku akan memberikan seluruh kekayaan dan uangku padamu.
Ini...
Ini adalah seluruh harta yang sudah kupendam.
Terimalah.
Kalau kau tidak membunuhku, aku berjanji...
Aku tidak akan pernah kembali.
Terima kasih, Kepala Biksu.
- Guru! - Guru!
Guru!
Guru!
Lindungi kuil!
Jingneng, Jingkong, berlututlah.
Datang dengan gembira, pergi membawa duka...
Kekosongan di dunia ini akan dirasakan sekali lagi.
Bukankah lebih baik, apabila kita tidak melewati fase datang dan pergi...
Dan terbebaskan dari kesenangan dan kesedihan?
Buddha Maha Welas Asih.
Ayo.
Kakak, besok kita ada pertemuan dengan orang asing.
Untuk apa?
Untuk membahas keperluan, kita bisa membeli senjata mesin dan meriam dari mereka.
Dengan itu, kita bisa menguasai Zhengzhou.
Semakin banyak senjata memang bagus, tapi percuma kalau kau tidak menggunakannya.
Coba jelaskan, saat di kuil itu, kenapa kau tidak menembaknya?
Kasihan ya?
Ingatlah ini, saat kau menaikkan tanganmu..
tapi kau terlalu lama ragu...
maka yang akan mati adalah kau.
Lain kali...
Lain kali aku pasti akan mengejar siapapun yang menghalangi langkah kakak...
Aku pasti akan membunuhnya.
Baguslah kalau kau sudah belajar.
Song Hu sudah tiba.
Panggil dia "Komandan Song".
Komandan Song
Dasar brengsek, saat kita berperang, kita tidak melihat prajuritnya sama sekali.
Tapi giliran pembagian harta, dia langsung datang ke sini.
Kakak Hu, kota Deng Feng sudah berhasil kami ambil alih.
Huo Long sudah tewas.
Kalau sudah tidak ada Huo Long...
Kenapa begitu banyak keributan?
Aku kira kau masih mencari peti jenazahnya.
Pemberitahuan saja, kami telah kehilangan ratusan saudara kami.
Begitu ya?
Kalau begitu, aku berhutang banyak padamu.
Melawan Huo Long, aku tidak perlu datang, aku tidak mau mengambil untung darimu...
Kalau kakiku tidak cacat seperti ini...
Aku dan kudaku sendiri cukup untuk menghabisinya.
Bukankah begitu, saudaraku?
Tentu saja...
Apalah arti kehilangan orangku ini? Aku tidak resah sama sekali.
Aku tahu. Yang kau khawatirkan hanyalah kota Deng Feng.
Adik ipar, sudah lama tidak bertemu.
Kakak.
Shengnan, anak gadis kesayanganku.
Beri salam pada paman Song.
Halo, paman Song.
Halo, Nan-Nan.
Adik, Nan-nan ini semakin besar menjadi semakin sopan saja.
Semakin bertambah cantik pula.
Memiliki Putri sepertinya, hati-hati kalau ada orang yang ingin menculiknya.
Aku putuskan, anak ini akan menjadi bagian dari keluargaku.
Calon menantu perempuanku.
Kapan semuanya bisa diatur?
Tidak masalah, sekarang juga bisa.
Kenapa? Kau tidak setuju?
Kalau kau tidak setuju, kita berperang saja.
Bagus.
Senjata yang bagus.
Ini senjata otomatis.
Kau tidak bisa membelinya di tempat lain.
Kami ingin 80 unit.
Bagaimana?
Aku tidak akan meminta bayaran...
Asal Jenderal Hou mau mendukung pendirian rel kereta kami melintasi Deng Feng.
Apa yang kau bilang? Aku tidak mendengarnya dengan jelas.
Aku bilang, aku tidak akan memungut biaya...
Kalau kau mau mendukung pembangunan rel kereta kami.
Aku tidak mau senjata itu.
Jenderal.
Aku bilang aku tidak mau senjata itu!
Ayo, kita segera pergi ke kota Timur.
Aku yakin, Jenderal Song Hu pasti akan tertarik.
Tuan Peter, tunggu sebentar.
Kakak, senjata ini sangat hebat
Kalau sampai Song Hu yang mendapatkannya...
Tunjukkan jalan keluarnya!
Baik!
Tolong.
Lain kali, pilih kata-kata yang lebih baik saat kau ingin berbicara denganku.
Aku tidak akan pernah menerima perintahmu.
Mungkin saat kau sudah berada 1 tingkat denganku, kita baru bisa membahasnya lagi.
Kau dengar apa yang aku katakan?
Apa bicaraku sudah jelas?
Menggunakan tenaga orang China, mengambil kekayaan orang China.
Jika kita menyetujui rencana pembangunan rel kereta itu...
sama saja kita sudah membiarkan orang-orang asing itu merebut kekayaan kita.
Apapun yang ada di daratan China semua itu adalah milik orang China.
Kalau orang-orang asing itu masih berusaha merebutnya...
Aku akan memutuskan tangan mereka semua.
Aku harap Song Hu juga akan berpikir seperti itu.
Aku rasa, kau masih belum mendengar apa yang sudah kukatakan.
Selama 20 tahun ini, aku selalu memanggilnya dengan sebutan kakak.
Jangan pernah menjelek-jelekkannya.
Walaupun dia jahat, bukan hak-mu untuk membicarakannya!
Tolong atur acara makan malam untukku.
Bonekaku tersayang.
Aku pusing.
Apa yang sedang kau lakukan?
Makan biskuit.
Biskuit?
Sekarang aku sedang makan mie.
Kelihatannya kau sudah gila gara-gara kelaparan.
Kau tahu apa? Ini namanya makan melalui pikiran.
Pikiran? Makan melalui pikiran? Yang kau bisa hanya berpikir saja.
Mungkin kau bisa melakukannya, bagaimana dengan orang di luar sana?
Apa yang bisa mereka lakukan?
Pada masa kelaparan dulu, Hakim Bao memberi makan orang-orang dengan isi tokonya.
Bagaimana kalau kita menjadi pahlawan bertopeng?
Kita serang prajurit-prajurit pemerintah.
Kakak, kenapa kita tidak menjadi pahlawan bertopeng saja?
Pahlawan bertopeng?
Benar kita menjadi pahlawan untuk menyelamatkan orang-orang.
Kakak, tapi itu namanya melanggar peraturan.
Untuk apa takut?
No comments yet. Be the first to leave one.