The first 148 lines.
Ya sudah, ayo berangkat.
Hari ini hangat, tumben sekali.
Iya, tapi...
Kelihatannya dompet kita sudah kering kerontang.
Kita harus cari pekerjaan setelah sampai kota selanjutnya.
Kamu sudah berpikir sampai sana, Fern?
Ini perkara penting.
Tuan Stark, kalau tidak berpikir jauh ke depan,
perjalanan tidak akan bisa diteruskan.
Itu benar juga.
Pekerjaan, ya.
Semoga ada pekerjaan yang cocok.
Eh?
Rasanya.
Terima kasih sudah memberi kami tumpangan.
Sudah.
Tenang rasanya bisa ditemani grup Nona Penyihir Kelas Satu.
Tetapi, kalau ingin menuju Ende.
Bagi kami yang selamanya tinggal di tanah kampung halaman ini,
pasti akan jadi perjalanan yang tak terbayangkan panjangnya.
Mungkin benar.
Aku dapat ikan, nih.
Biar kutambahkan ke sarapan.
Lain kali akan kupancing yang besar.
Aneh sekali.
Seharusnya ada di sekitar sini.
Tumben, Frieren bangun pagi.
Kelihatannya terbangun karena penasaran akan sesuatu.
Sudah kamu puji?
Tentu sudah.
Ketemu.
Ini temuan besar.
Itu apa?
Batu yang indah.
Nih.
Eh?
Sihir apinya tidak mau keluar.
Ini namanya Bijih Penetral Sihir.
Bijih kristal yang punya kekuatan untuk menetralkan sihir.
Kalau semurni ini, mungkin bisa meniadakan sihir di radius tiga meter.
Stark, coba menjauh sedikit.
Oh? Ya.
Ah, menyala.
Ini arta yang sangat langka.
Seukuran kerikil kecil saja bisa dihargai beberapa keping emas.
Kalau sebesar ini, bisa beli wastu mewah.
Keren amat.
Tapi, kalau di dekatnya jadi tidak bisa pakai sihir, berarti tidak boleh kita bawa.
Akan berbahaya di jalan nanti.
Itu dia masalahnya.
Tolong segera buang batu seperti itu.
Kita bisa habis kalau sekarang diserang monster.
Sebelum itu, lihat dulu sebentar sifat unik batu ini.
Menarik sekali pokoknya.
Kalau batu ini dialiri daya sihir dengan kuat.
Akan bersinar sangat terang.
Silau.
Tolong segera dibuang.
Masih bersinar, coba.
Kelihatannya hari ini bisa sampai desa selanjutnya.
Eh, tapi, apa Dataran Tinggi Kontinen Utara sudah dekat?
Harusnya masih jauh.
Perlu melewati hutan besar dan area gunung berapi dulu.
Area gunung berapi, ya.
Kedengarannya bahaya.
Tidak juga, kok.
Sudah tidak erupsi dalam beberapa ratus tahun.
Sekarang jadi area air panas yang relatif aman.
Sumber air panas, ya.
Pemandian panas kelihatannya cukup menarik.
Memang sudah lama tidak ketemu itu, ya.
Eh, tunggu sebentar.
Jangan-jangan tanah ini...
Ternyata benar, di bawah permukaan tanahnya memang kopong.
Aku tidak suka area payau karena tanahnya jelek.
Eh? Nona Frieren...
Kelihatannya kita sial.
Pantas saja ada Bijih Penetral Sihir di permukaan.
Baru kali ini aku lihat endapan bijih sebanyak ini.
Cepat menyingkir.
Hampir keseluruhan gua terbentuk dari Bijih Penetral Sihir.
Kalau ini dibawa pulang, kita bisa jadi sultan tajir, ya.
Tapi itu mustahil.
Bijih Penetral Sihir punya tingkat kekerasan tertinggi di antara zat lain.
Terlebih.
Berbeda dari zat lain, juga tidak bisa dipotong atau diolah dengan sihir.
Ini bukan sesuatu yang bisa ditangani umat manusia.
Karena mustahil memanjat dari sini, ayo cari jalan keluar lain.
Hm, kenapa?
Kami mengandalkanmu, Stark.
Di sini, kami yang tidak bisa memakai sihir, hanyalah seorang gadis biasa.
Gadis?
Aku masih belum lupa Stark pernah memanggilku Nenek Lampir.
Aku minta maaf.
Ternyata masih dendam.
Tidak kusangka akan bermalam di tempat begini.
Tempat ini luasnya bukan main, ya.
Terlebih, ada banyak tulang hewan.
Nona Frieren bilang, bisa jadi ini sarang dari monster berukuran besar.
Hebat sekali bisa tidur pulas seperti itu.
Santai sekali dia.
Bahkan di tempat seperti ini, Nona Frieren bisa terlihat gembira.
Sedangkan aku tidak kuat menahan takut.
Bahkan tidak bisa memakai deteksi daya sihir.
Ini baru pertama kalinya dalam hidupku.
Rasanya seperti, dilempar ke dalam kegelapan.
Fern.
Monster?!
Frieren, bangun! Ayo la—
Itu Naga Racun Adikara.
Racun?!
Lawan buruk untuk Stark.
Nanti mati kena racun lagi.
Aku belum pernah mati!
Tapi, berarti harus bagaimana?!
Kamu sendiri malah enak-enak tidur.
Kenapa malah—
Karena nyawaku sudah kuserahkan padamu, Stark.
Aku sudah berniat seperti itu sejak merekrutmu jadi garda depan.
Grup tidak akan berfungsi kalau tidak begitu.
Aku ini pria yang akan lari di saat genting, lo.
Sekarang saja, rasanya mau langsung lari.
Oh.
Kalau begitu ayo lari sama-sama.
Stark, Fern.
Tutup mata kalian.
Himmel.
Kenapa kau sampai bisa bilang menyerahkan nyawamu padaku?
Hm?
Itu bukan sesuatu yang boleh dikatakan dengan enteng.
Aku ini pria yang sudah lari meninggalkan desanya.
Benar juga.
Kalau begitu, saat ingin lari, ayo kita lari sama-sama.
Karena kita adalah grup.
Ya sudah, ayo lari.
Kenapa pendeta sepertiku, kebagian yang berat?!
Habisnya Heiter bau alkohol.
Tadi menakutkan sekali.
Lari bersama-sama tidak buruk juga, kan?
Ya.
Ya sudah, ayo berangkat.
Frieren.
Apa?
Pinggangku lemas, enggak bisa jalan.
Bahan untuk makan siang, kira-kira segini cukup tidak, ya?
Lo, tidak ada orang.
Mungkin aku kembali terlalu cepat.
Oke, mancing ikan dulu, deh.
No comments yet. Be the first to leave one.