The first 200 lines.
Ada orang di pantai!
Aku ke sana.
Ia mengigau, tapi menyebut namamu.
Tunjukkan.
Ia hanya membawa ini.
Dan ini.
Kau datang mau membunuhku?
Aku tahu ini apa.
Sudah pernah kulihat, dulu sekali.
Milik orang yang kujumpai di mimpi yang separuh kuingat.
Orang dengan pemikiran radikal.
Apa parasit paling gigih? Bakteri? Virus?
Cacing usus?
- Maksud Tn. Cobb... - Ide.
Gigih. Sangat menular.
Begitu ide mencengkeram otak, nyaris mustahil dihapus.
Ide yang terbentuk dan dipahami sempurna, akan melekat.
- Di dalam sini. - Untuk dicuri orang sepertimu?
Dalam kondisi mimpi, pertahanan kesadaran merendah.
Membuat pikiran rentan dicuri. Namanya 'pengambilan'.
Tn. Saito, kami bisa melatih bawah sadarmu untuk bertahan...
...dari pengambil paling ahli.
- Caranya? - Aku pengambil yang paling ahli.
Aku tahu cara mencari rahasia dalam pikiranmu. Tahu tipuannya.
Bisa kuajarkan padamu agar bahkan saat kau tidur...
...pertahananmu tak menurun.
Kalau mau bantuanku, kau harus terbuka denganku.
Aku harus memahami pikiranmu lebih dari istrimu...
...psikiatermu atau siapa pun.
Kalau ini mimpi dan kau punya brankas penuh rahasia...
...aku harus tahu isinya.
Agar semua ini berhasil, aku harus bisa masuk sepenuhnya.
Nikmati malam kalian selama kupertimbangkan tawaranmu.
Dia tahu.
Ada apa di atas?
Saito tahu. Kita dipermainkan.
Tak penting. Aku bisa. Percayalah. Informasinya ada di brankas.
Ia meliriknya saat kusebut rahasia.
Kenapa dia kemari?
- Kembali ke kamar. Akan kuurus. - Pastikan itu. Kita sedang bekerja.
Kalau melompat, aku akan selamat?
Mungkin, kalau terjunnya bagus.
- Mal, kenapa kemari? - Kupikir kau merindukanku.
Kau tahu itu, tapi sudah tak bisa percaya padamu.
Lalu?
Tampaknya selera Arthur.
Subyeknya parsial pada pelukis Inggris pasca-perang.
Silakan duduk.
Apa anak-anak merindukanku?
Kau tak bisa bayangkan.
- Kau mau apa? - Mencari udara segar.
Tetap di tempatmu, Mal.
Sial.
- Berbalik. - Senjatanya, Dom.
Tolong.
Kini amplopnya, Tn. Cobb.
Dia memberitahumu, atau kau memang sudah tahu?
Bahwa kau mau mencuri dariku, atau bahwa kita sedang tidur?
Katakan nama majikanmu.
Percuma mengancamnya dalam mimpi, Mal.
Tergantung apa yang diancam.
Membunuh akan membangunkannya.
Tapi rasa sakit...
Rasa sakit ada di pikiran.
Menilik dekorasinya, kita dalam pikiranmu, Arthur?
- Terlalu dini! - Ya, tapi mimpinya mulai kacau.
Kucoba Saito tidur lebih lama. Kita hampir dapat.
Ia sangat dekat.
Hentikan dia!
Ini takkan berhasil. Bangunkan dia.
Ia tak mau bangun!
RAHASIA
- Beri efeknya. - Apa?
Benamkan dia.
Dia pingsan.
Kau sudah siap, ya?
Kepala keamananku juga tak tahu apartemen ini.
Bagaimana kau temukan?
Sulit bagi orang di posisimu merahasiakan sarang cinta begini.
Terutama bila ada wanita bersuami.
- Ia takkan bicara. - Tapi kita di sini.
- Dengan dilema. - Mereka mendekat.
- Kau sudah dapat keinginanmu. - Tidak benar.
Kau sisihkan sepotong informasi.
Kau menyimpan sesuatu karena tahu niat kami.
- Kenapa biarkan kami masuk? - Audisi.
- Audisi untuk apa? - Tak penting. Kalian gagal.
- Kami dapat setiap informasimu. - Tapi tipuanmu jelas sekali.
- Tinggalkan aku dan pergi. - Kau tak paham, Tn. Saito.
Perusahaan penyewa kami tidak terima kegagalan.
Kami takkan bertahan 2 hari.
- Cobb. - Tampaknya harus lebih sederhana.
Katakan yang kau tahu!
Aku selalu benci karpet ini.
Bernoda dan usang dengan khas.
Tapi jelas dari wol.
Saat ini aku ada di poliester.
Berarti aku bukan di karpetku di apartemenku.
Kau sesuai reputasimu, Tn. Cobb. Aku masih bermimpi.
- Bagaimana? - Tidak bagus.
Mimpi dalam mimpi? Aku terkesan.
Tapi dalam mimpiku, turuti peraturanku.
- Begini, Tn. Saito. - Kita bukan di mimpimu...
Tapi mimpiku.
Brengsek, kenapa salah karpetnya?
- Bukan salahku. - Kau arsiteknya.
- Mana tahu pipinya akan di situ? - Cukup.
Kau, apa itu tadi?
Sudah kuatasi.
Aku benci melihatmu hilang kendali.
Tak ada waktu untuk ini. Aku turun di Kyoto.
- Ia takkan memeriksa tiap kabin. - Aku tak suka kereta.
Kita masing-masing.
- Halo? - Hai, Ayah.
Anak-anak, apa kabar kalian?
Baik, kurasa.
Siapa yang baik? Kau, James?
Ya. Kapan Ayah pulang?
Tidak bisa, Sayang. Belum bisa. Ingat?
Kenapa?
Ayah sudah bilang pergi untuk bekerja.
Nenek bilang Ayah takkan kembali.
Phillipa, itu kau? Berikan teleponnya pada Nenek.
Ia menggeleng.
Semoga dia salah.
- Ayah? - Ya, James?
Ibu bersama Ayah?
James, kita sudah membahasnya.
Ibu sudah tidak ada.
Di mana?
Cukup anak-anak. Ayo pamit.
Ayah akan mengirim hadiah dengan Kakek, ya?
Baik-baiklah...
- Tumpangan kita di atap. - Baik.
- Kau tak apa-apa? - Ya. Kenapa?
Di mimpi, Mal muncul.
Maaf soal kakimu. Takkan terjadi lagi.
- Memburuk, ya? - Satu permintaan maaf saja.
- Mana Nash? - Belum datang. Kau mau tunggu?
Rencana perluasan Saito harusnya diantar ke Cobol 2 jam lalu.
Mereka pasti tahu kita gagal. Saatnya kita menghilang.
- Mau ke mana? - Buenos Aires.
Aku bisa sembunyi di sana, mungkin dapat pekerjaan saat semua mereda.
- Kau? - Dekat AS.
Titip salam.
Ia menyerahkan kalian. Ia menemuiku dan minta tak dibunuh.
Kutawarkan kepuasannya.
Bukan itu caraku menangani.
- Ia akan diapakan? - Tidak ada.
Aku tak tahu soal Cobol Engineering.
- Kau mau apa dari kami? - Inception (permulaan).
- Apa mungkin? - Tentu tidak.
Kalau bisa mencuri ide dari pikiran seseorang...
...kenapa tak bisa menanamkannya?
Ini aku menanam ide di benakmu. "Jangan pikirkan gajah."
- Apa yang kau pikirkan? - Gajah.
Benar, tapi itu bukan idemu, karena kau tahu aku yang berikan.
Pikiran subyek selalu bisa melacak awal-mula idenya.
- Ilham sejati mustahil dipalsukan. - Tidak benar.
- Kau bisa? - Kau menawariku pilihan?
Aku bisa mencari cara penyelesaian dengan Cobol.
- Berarti kau punya pilihan. - Aku memilih pergi, Tuan.
Beritahu mereka kau mau ke mana.
Tn. Cobb!
Kau mau pulang?
Ke Amerika. Anak-anakmu.
Kau tak bisa. Tak ada yang bisa!
- Seperti Inception. - Cobb, ayo.
- Sekompleks apa idenya? - Cukup sederhana.
Tak ada ide yang sederhana kalau mau ditanamkan di pikiran orang lain.
Saingan utamaku seorang kakek sakit-sakitan.
Anaknya akan segera mewarisi kendali perusahaan.
Aku mau dia memutuskan memecah kerajaan ayahnya.
- Cobb, sebaiknya kita menjauh! - Sebentar.
Kalau kulakukan, kalau bisa, aku butuh jaminan.
- Bagaimana kutahu kau bisa? - Kau tak tahu.
Tapi aku bisa.
Kau mau coba berdasarkan keyakinan?
Atau menjadi kakek penuh penyesalan...
...dan menunggu mati sendirian?
Bentuk timmu, Tn. Cobb, dan pilih orangmu dengan bijak.
Aku tahu kau ingin pulang.
- Ini tak bisa dilakukan. - Bisa.
- Hanya harus cukup dalam. - Kau tak tahu itu.
Sudah pernah kulakukan.
Pada siapa?
Kenapa kita ke Paris?
Kita butuh arsitek baru.
Ayah tak pernah suka kantornya.
Tak ada ruang berpikir di lemari sapu itu.
Apa aman kau di sini?
Ekstradisi antara Prancis dan AS adalah mimpi buruk birokrasi.
Mereka bisa cari cara kalau untuk kasusmu.
Aku bawakan ini untuk Ayah bagi anak-anak kalau Ayah sempat.
Butuh lebih dari boneka biasa agar mereka yakin masih punya ayah.
Aku melakukan yang kutahu, yang Ayah ajarkan.
- Ayah tak mengajarimu jadi pencuri. - Tapi menavigasi pikiran orang.
Setelah kejadian itu, tak banyak cara legal memakai keahlian itu.
Kenapa kemari, Dom?
Aku mendapat cara untuk pulang.
No comments yet. Be the first to leave one.