The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"It's My Life"
- Lihat. Semurnya mendidih. - Ibu.
- Ibu. - Astaga. Kamu mengagetkanku.
Kenapa ada cakaran di wajah Woo Jin?
Itu. Kurasa itu dari cincinku.
Ibu seharusnya tidak memakai cincin saat mengasuhnya.
Baiklah. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang.
Ibu kewalahan mengasuhnya dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Tolong berhenti keras kepala. Ayo pekerjakan PRT.
Dengarkan dia.
Kamu memang andal mengurus pekerjaan kantor,
tapi kamu payah mengurus pekerjaan rumah.
Jadi, daripada kewalahan dan membuatnya stres,
- pekerjakan PRT... - Tidak mau!
Aku akan melakukannya.
Kenapa semua orang melarangku padahal aku ingin melakukannya?
Astaga.
Kamu sudah lupa siapa aku?
Aku selalu mendapatkan semua yang sudah kutekadkan.
Aku bisa mengurus semua pekerjaan rumah seorang diri.
Baiklah.
Aku mendengarmu.
Jadi, jangan marah.
Aku memahami perasaan Ibu.
Tapi aku tetap ingin mempekerjakan pengasuh paruh waktu.
Jin Ah, kamu aneh sekali.
Untuk apa mempekerjakan pengasuh jika aku bisa mengasuhnya?
Lebih baik neneknya yang mengasuhnya daripada orang asing.
Karena Ibu memulainya, aku ingin mengatakan sesuatu.
Aku tidak suka dia diajari membaca padahal baru dua tahun.
Kurasa sebaiknya membiarkan dia hidup selayaknya anak kecil.
Aku juga membesarkan Si Woo seperti ini.
Si Woo masuk TK berbahasa Inggris pada usia empat tahun.
Dia bisa bicara dengan penutur asli saat usia lima tahun.
Bicarakan soal itu nanti.
Jin Ah, bawalah Woo Jin ke atas. Kami akan menyiapkan makan malam.
Kenapa Jin Ah tidak berangkat kerja hari ini?
Apakah karena dia tidak mau meninggalkan anaknya bersamaku?
Dia mengambil cuti karena Woo Jin terkena pilek.
Adakah yang bisa kubantu untukmu?
Bagaimana kalau kuperiksa semurnya?
Kamu tidak perlu melakukan apa pun.
Beristirahatlah di kamarmu.
Aku sendiri yang menyiapkan makan malam hari ini.
Astaga. Kamu sangat keras kepala.
"CEO Choi Si Woo"
Masuklah.
- Selamat datang. - Halo.
Terima kasih.
"CEO Choi Si Woo"
Penjualan merek aksesori nyaris tidak membaik.
Kurasa kita membutuhkan strategi untuk meningkatkan penjualan.
Bagaimana menurutmu, Pak Jo?
Karena merek aksesori kita hanya menyediakan
produk edisi terbatas,
kurasa kelompok pelanggannya terbatas.
Karena itu,
bagaimana jika kita membuka toko untuk merek aksesori
di pusat perbelanjaan Genius, perusahaan Pak Ahn Nam Jin?
Kurasa pusat perbelanjaan Genius tidak menyediakan produk mewah.
Kudengar mereka menerima produk unik edisi terbatas.
Entah bagaimana sebaiknya kita menghubungkan produk aksesori
ke produk unik edisi terbatas.
Kita bisa memikirkan tema untuk produk kita.
Misalnya, 30 tas Boston besar untuk wanita hamil
atau tas selempang dengan banyak kantong penyimpanan
untuk pria yang baru mulai bekerja.
Itu ide bagus. Tolong tulis detail proposalnya.
Aku akan menemui Pak Ahn dan mendiskusikan soal membuka toko.
- Terima kasih, Pak Choi. - Terima kasih.
Pak Kim, bisa kita bicara sebentar?
Ya, Pak.
Masuklah.
Baik.
Tolong ajukan paten untuk desain ini sesegera mungkin.
Baik, Pak. Akan kulakukan.
Bagaimana kabar Pak Heo?
Dia sibuk menyiapkan liburan ke Eropa dengan Bu Yang bulan depan.
Dia mempelajari permainan go dan mengambil kelas kurator sejarah.
Aku ingin dia menjabat sebagai kepala pengacara perusahaan.
Haruskah aku bicara dengannya soal itu?
Katanya, dia akan ke rumahku nanti, jadi, aku akan bicara dengannya.
Baiklah.
Pak Jang, Anda sudah mengirim tiga desain aksesori lewat surel?
Baiklah. Aku akan mengeceknya.
Pak Jang, Anda mengalami andropause?
Anda tampak tidak peduli seolah-olah hidup ini membosankan.
Kamu benar. Hidup ini membosankan bagiku.
Aku merasakan dunia yang kutinggali sangat membosankan dan sepi.
Kenapa? Aku tidak boleh merasa seperti ini?
Bahkan Bu Choi tidak bekerja di sini lagi,
dan Tim Desain Dua telah pergi.
Cheol Sang, yang kusukai, tidak bekerja di sini lagi.
Datang ke kantor juga tidak menyenangkan lagi bagiku.
Aku merasakan hal yang sama.
Mungkin sebaiknya aku berlibur ke tempat yang jauh dari sini.
Bukankah kalian bosan karena tidak ada bahan gosip?
Tentu menyenangkan jika kalian bisa menyebarkan rumor
seperti biasanya. Benar?
Tolong jangan begitu.
Aku telah hidup tenang bagaikan debu.
Aku iri kepada kalian semua.
Aku berharap bisa merasakan hari yang membosankan dan sepi
meskipun sehari saja, atau setidaknya setengah hari.
Aku bekerja di sini seharian.
Saat di rumah, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih karena si Kembar.
Aku bahagia saat Bu Choi tinggal di rumahku.
Kurasa itu sebabnya
orang harus tinggal di rumah yang ramai.
Astaga.
Anda baru saja mengatakan Bu Choi tinggal di rumah Anda?
Kapan?
Kalian berdua melakukan kohabitasi?
- Astaga. - Tidak.
Dia tinggal di rumahku sementara untuk menghindari reporter.
Jadi, jangan menyebarkan rumor. Mengerti?
Kamu tahu maksudku, bukan?
Ya, Pak. Aku tahu.
"Genius"
Pak Ahn, sepertinya kita harus membuat rak baru di gudang.
Banyak rak rusak karena dus-dus yang berat.
Benarkah?
Sepertinya rak itu terlalu lemah.
Kepala tim keamanan bekerja sangat keras.
Aku hanya satpam dan manajer gedung.
Aku hanya anggota tim keamanan.
Keadaan tidak akan berjalan lancar tanpa aku. Tidak ada pilihan lain.
Aku tahu Anda bekerja sangat keras, Pak Bang.
Jika kamu tahu itu, beri aku kenaikan gaji,
atau pekerjakan seseorang sebagai bawahanku.
Baiklah. Aku akan menaikkan gaji Anda.
- Bisa kita lihat sekarang? - Tentu.
Cepatlah kembali.
- Aku akan menunggu di area parkir. - Baiklah.
Ayo kita semua pulang hari ini.
Ha Na, kamu tidak pulang?
Aku harus memperbaiki gambar kios di pusat perbelanjaan kita.
Aku akan pulang setelah menyelesaikannya.
Astaga. Ha Na bekerja sangat keras.
Dia magang, tapi setara dengan sepuluh pegawai.
Dia sangat pintar dan hebat dalam pekerjaannya.
Kita selalu bisa memercayai Ha Na.
Aku sangat menyukaimu.
Pastikan kamu makan malam. Makanlah makanan mahal.
Aku akan menyetujui semua biaya makanmu.
Baiklah.
Sampai jumpa besok.
- Sampai jumpa besok. - Sampai jumpa.
Lihat ke sini. Bayiku, San.
Buka mulutmu. Anak pintar. Bagus.
Deul, ini giliranmu. Baiklah.
Makanlah satu sendok lagi. Buka mulutmu.
Makananmu terbang ke mulutmu.
Anak pintar. Kalian berdua menghabiskan makanannya.
Astaga.
Aku lelah.
Kenapa Yeon Ji belum pulang?
Kita bermain sekarang? Kamu ingin terbang?
- Ada apa ini? - Ya ampun.
- Ya ampun. - Ayah. Ibu.
- Anak badung. - Kenapa kalian lama sekali?
Apa maksudmu? Kami hanya pergi setengah hari.
- Hai. - Nenekmu di sini.
- Kami pulang. - Hai.
- Kamu sudah makan? - Kemarilah.
Kamu sangat menggemaskan.
San dan Deul, kalian sangat menggemaskan.
Apa? Sebentar. Di mana?
- Kamu menyukai kakek, bukan? - Luar biasa.
Bagaimana Ayah membuat mereka sangat menyukai Ayah?
Itu sudah jelas, Anak Badung.
Ibu dan ayah tulus kepada San dan Deul.
Jadi, mereka juga membuka hatinya kepada kami dengan tulus.
- Baiklah. - Baiklah.
Tapi aku juga tulus mengagumi mereka.
Hei. Mereka lebih baik dibandingkan bayi lain.
Sewaktu masih bayi, kamu menukar siang dan malam.
Ayah dan ibu harus bergadang tiap malam.
- Benarkah? - Baiklah.
Astaga. Ayo bermain.
- Ini untukmu. - Aku pulang.
- Hai. - Yeon Ji.
San dan Deul, kalian bersenang-senang hari ini?
Katakan, "Selamat datang, Ibu."
"Ibu bekerja keras?"
Yeon Ji, tidak bisakah kamu menyapaku juga?
Kamu tidak akan membuat makan malam?
Aku kelaparan.
Jangan menangis.
Benar. Dae Sik. Dia pasti lapar.
- Buatkan makan malam. - Ayo makan ini.
Makan ini. Baiklah.
Aku sedih sekali.
Tidak ada yang memedulikan aku.
- Bayiku. - Pergilah ke ibumu.
Apa?
Ibu mengajari Woo Ji membaca Hangul?
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.