The first 200 lines.
Aku tak menyedihkan! Aku bukan orang gagal!
Pak Yoon.
Kumohon!
Pak Yoon.
Jangan sebut aku orang gagal!
Pergi!
Bangun!
Pak Yoon. Bangun!
Jangan sebut aku orang gagal.
Kumohon.
Pergilah.
Jangan
sebut aku orang gagal.
Ya.
Kau bukan orang gagal.
Tak apa-apa.
Tidak apa-apa, Tae-in.
Tak apa-apa.
Tidak apa-apa, Tae-in.
Tak apa-apa.
Siapa kau?
Pak Yoon.
Apa?
Kenapa kau di sini?
Ini kamarku.
Apa-apaan ini?
Sedang apa kau di sini?
Syukurlah, kau tampak baik-baik saja.
Apa-apaan ini?
Apa maksudmu?
Ini. Ini bukan masalah serius.
Bagaimana itu tak serius?
Pak Yoon. Biar kujelaskan.
Apa yang kau inginkan dariku?
- Apa katamu? - Kau pikir bisa membodohiku?
Aku sudah bertemu banyak orang sepertimu.
Kau berpura-pura mendekatiku dengan kebaikan dan membuatku lengah.
Tapi pada akhirnya, kau akan memanfaatkan kelemahanku untuk mengkhianatiku.
Jadi, jangan membuang waktu dan beri tahu aku
apa yang kau inginkan dariku.
Tunggu. Biar kuluruskan.
Kau pikir aku akan menggunakan ini untuk memerasmu.
Kau pikir itu yang akan kulakukan?
Atau apa?
Kau menangis dan kesakitan.
Jadi, aku akan membiarkannya karena kau tampak sangat kesakitan.
Astaga. Sulit dipercaya.
Sekarang, aku ingin melakukan yang kau tuduhkan kepadaku.
Berapa uang yang kau butuhkan?
Apa?
Pak Yoon.
Urutannya kacau.
Kau harus minta maaf lebih dahulu setelah tahu apa yang terjadi.
"Maaf. Aku tak bermaksud begitu."
"Apakah sakit?" Kau bisa saja mengatakan itu.
Kenapa kau melakukan ini?
- Kenapa kau... - Karena aku tahu kau kesakitan.
Karena aku tahu ini hanya kecelakaan.
Jangan khawatir.
Aku tak sejahat itu sampai memanfaatkan rasa sakitmu untuk memerasmu.
Jika merasa bersalah atas hal ini,
kau bisa melakukan apa yang kuminta.
Apa pun itu.
Aku akan menebus ini.
Apa pun yang terjadi.
Selamat pagi, Woo-yeon.
Aroma kopinya enak.
- Kau mau kopi? - Boleh.
Astaga.
- Ini. - Terima kasih.
Kau tidur di tenda lagi kemarin?
Tidak. Di kamar Pak Yoon.
Kamar Tae-in?
Di depan kamar Pak Yoon.
Begitu rupanya.
Aku tak bisa tidur nyenyak, jadi, agak kebingungan.
Begitu rupanya.
Apa itu? Kau terluka? Lehermu...
Leherku?
Leherku terasa kaku kemarin, jadi, aku terlalu agresif memijatnya.
Jadinya bengkak.
Terima kasih kopinya.
Jangan pernah menjadi topik pembicaraan karena hal menjengkelkan.
Jika kau tak bisa sempurna, menyerah saja, mengerti?
Dasar bodoh.
In Yoon-ju. Kau mencemaskannya sekarang?
Kendalikan dirimu.
Seperti selama ini, aku tak akan memberinya waktu untuk berpikir
dan akan menguras energinya.
Pak Woo.
Kau mau ke mana?
Ke pusat kebugaran.
Begitu rupanya. Itu bagus.
Bisakah kau membantuku?
Kau?
Bukan untukku, tapi untuk Pak Yoon.
Astaga. Luar biasa!
Pak Woo. Luar biasa. Kau seperti atlet profesional.
Judo adalah olahraga yang bagus untuk melatih pikiran dan tubuhmu.
Hari ini santai saja, kita belajar cara menggendong seseorang di bahu.
Menggendong seseorang di bahu? Sungguh?
Aku tak mau! Tak akan!
Hei, dengar. Kenapa aku harus mempelajarinya sekarang?
Ini olahraga untuk melatih pikiran dan tubuhmu.
Ini sempurna untukmu.
Mari kita mulai, Guru.
Jangan sentuh aku.
Santai saja. Atau kau akan terluka.
Tae-in. Ini cukup sulit, bukan?
Ini olahraga yang bodoh.
Tidak. Judo adalah olahraga kelas atas.
Dengar. Kau tak perlu langsung menyerang lawan dalam judo.
Lempar, balik, tekan, dan putar dia.
Itulah seni olahraga ini.
Sungguh mengejutkan.
Aku belum pernah melihatmu bicara sebanyak ini.
Sudah berapa lama kau berlatih judo?
Sudah tiga tahun.
Saat sedang banyak pikiran,
olahraga adalah obat terbaik.
Tapi kenapa judo?
Ada kendo, hapkido, dan taekwondo.
Kenapa judo dari semua seni bela diri?
Pernahkah kau mendengar ungkapan, "Yesiyejong yuneungjegang"?
Itu kepercayaan utama judo.
"Dimulai dan diakhiri dengan hormat."
"Kelembutan mengalahkan yang kuat dengan mudah."
Aku suka itu.
Aku ingin lebih dari sekadar kekuatan fisik.
"Lebih dari sekadar kekuatan fisik"?
Sudah selesai? Kalian haus, bukan?
Kau berkeringat.
Aku berniat mempelajari judo dengan benar lain kali.
Kau keren sekali.
Dari tendanganmu tempo hari, sepertinya kau tak perlu belajar.
Itu berbeda.
Bisakah kau mengajariku lain kali? Kumohon?
Ya? Berjanjilah kepadaku.
- Aku harus ke toilet. - Baiklah.
Orang-orang memang tampak bersinar saat melakukan hal yang mereka sukai.
Haruskah aku mencobanya?
Beginikah caranya?
- Apa-apaan ini? Lepaskan aku. - Kurasa dia mulai seperti ini.
Ayolah, aku benci itu. Hentikan.
Biar kucoba sekali lagi. Ya?
[ Ga-on, ini Sang Hoon. No Sang-hoon. Kau ingat aku? ]
[ Aku merindukanmu. Aku ingin mendengar kabarmu. ]
Baiklah. Seperti ini caranya.
Satu.
Kenapa tak bisa? Tiga!
Yang benar saja!
Bukan main. Sudah kubilang hentikan, bukan?
Aku akan mengalahkanmu lain kali.
Ayo.
Itu menggangguku.
Anda datang untuk membeli syal?
Ya. Apa yang populer belakangan ini?
Apakah ini hadiah?
Untuk pacar Anda?
Tentu saja bukan.
Kenapa dia pacarku?
Ini hadiah untuk pegawai dalam situasi khusus.
Begitu rupanya.
Belakangan ini,
ini yang paling populer.
Elegan, berkelas, dan feminin.
Dia sama sekali tak feminin.
Kalau begitu, bisa beri tahu aku usia dan gayanya?
Usianya akhir 20-an.
Lalu gayanya...
Cukup membingungkan.
Tapi dia lumayan cantik.
Jika dilihat secara objektif.
Begitu rupanya.
Bagaimana dengan yang ini?
Ini kasual dan mewah.
Kurasa dia cocok memakai ini.
Aku akan membeli yang ini.
Bagus.
Apa ini?
Bukalah.
- Ini hadiah. - Astaga.
Kau salah paham. Leherku...
Aku hanya berpikir itu butuh sesuatu.
Apa?
Kupikir lehermu butuh sesuatu.
Tapi berlebihan jika aku memberikan kalung.
Kupikir syal cocok. Jadi, aku membelinya.
Bagaimana menurutmu?
Benar.
Aku butuh sesuatu untuk leherku.
Astaga. Ini sangat cantik.
Aku menyukainya.
Omong-omong, bukankah ini sangat mahal?
Sebenarnya, syal ini sangat
murah.
Lalu kenapa kau hanya membeli satu?
Jika syalnya semurah dan semanis ini...
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Setidaknya kau harus membeli tujuh.
No comments yet. Be the first to leave one.