The first 198 lines.
Melangkah Maju
Episode 29
Beberapa hari ini kau ke mana?
Pulang begitu malam.
Tidak ada.
Badanmu bau sampah.
Kau yang bau sampah.
Kenapa tak berbicara?
Tak ingin bicara.
Jika bicara, kau semakin tak senang
Bicaralah,
tak terbiasa begini.
Kau mau sampai kapan seperti ini padaku?
Dan kau selalu
menghadapi semua sendiri.
Kau pilih pinjam uang dari bank,
tak mau pakai uangku.
Kita masih keluarga atau bukan?
Bicara apa kau ini.
Tentu saja masih.
Aku selalu merasa,
yang satu darah,
belum tentu bisa jadi keluarga.
Tetapi saling menghargai yang dicintai,
pasti bisa.
Bukankah itu harus menikah.
Menikah hanya sesaat saja
jadi keluarga.
Begitu tak lagi menghargai dan menyayangi,
bukankah harus cerai?
Seperti Bibi He Mei dengan Zhao Huaguang,
dan Ayah Ling dengan Bibi Chen Ting.
Mereka sudah jadi orang asing, 'kan?
Bahkan di hatimu,
Zhao Huaguang bukan ayahmu,
ayah kita barulah ayahmu.
Jika karena keluarga
diperlakukan semena-mena,
maka hubungan sekuat apa pun
juga akan jadi lemah.
Seperti layang-layang,
kau biarkan dia di luar,
tak peduli padanya.
Biarkan dia terjemur,
terguyur hujan di luar.
Suatu hari,
talinya pasti putus.
Saat kau dan Kakak pergi,
kita juga hampir,
hampir putus hubungan, 'kan?
Salahnya di mana?
Kami tak pulang.
Salah.
Salahnya ada di
kita tak mengatakan isi hati sesungguhnya
pada sesama.
Dan bagian sesungguhnya
selain kebahagiaan hidup,
juga ada penderitaan hidup.
Jika tak ada penderitaan sebagai perbandingan,
maka kebahagiaan jadi tak berarti.
Aku pernah lihat kata ini di Weibo Zheng Shuran.
Ini kesimpulan dari pemikiran kami.
Aku juga tak bermaksud lain,
hanya tak ingin katakan hal yang tak menyenangkan,
kalian jadi ikut tak senang.
Aku mengkhawatirkanmu jadi tak senang.
Kau mengabaikanku,
hatiku sakit sekali.
Sungguh.
Hatiku ini seperti kaca,
sangat mudah hancur.
Aku sering berpikir,
kakakku seorang diri menderita,
dia mengikat dirinya di tiang salib.
Hatiku mulai berdarah.
Tiba-tiba merasa,
hidup ini tak menarik.
Jangan, Ziqiu.
Mau apa?
Mulai asal bicara.
Kenapa hidup jadi tak menarik?
Kulihat setiap hari makanmu banyak.
Dari mana kau tahu?
Setiap hari kita tak bertemu.
Kulihat dari momentmu.
Lihat yang studiomu bagikan itu,
makan begitu banyak.
Makanan babi juga tak sebanyak itu.
Lihatlah kau ini,
sungguh tak baik padaku.
Memang dari kecil,
hanya ingin jadi menantu yang masuk, He Ziqiu.
Kau pilih Ling Xiao bukan aku,
aku tak boleh bersedih?
Jika aku baik-baik saja,
bersenang-senang,
bukankah itu gila?
Benar juga.
Jadi kau ingin
sedih berapa hari lagi?
Kau mengabaikanku.
Aku sangat sedih.
Seluruh badanku sakit.
Melucu.
Sudahlah.
Apa maksudnya?
Mau berapa hari?
Kenapa tertawa?
Apa maksudnya tertawa?
He Ziqiu!
Tahan anjingnya!
Kak, jangan buka pintu.
Apa itu?
Toko Mie Haichao
Masakan ayah memang lebih enak.
Kita buat perjanjian.
Li Jianjian ingat.
Pertama,
perlakukan dengan adil,
jangan pilih kasih.
Kedua,
jika pacarmu
dan kakakmu bertengkar,
kau harus memihak pada kakakmu.
Ketiga,
jika pacarmu jahat padamu,
kakak pasti memukulnya.
He Ziqiu.
Harus begini.
Li Jianjian, kau tahu?
Guru Zhang ingin mengejar Paman Li.
Guru Zhang pandai menilai.
Guru Zhang apa?
Li Jianjian tak beri tahu kalian?
Nenek Qian perkenalkan
pasangan pada Paman Li.
Seorang guru, sangat berbudaya.
Terlihat sangat berwibawa.
Kenapa Ayah tak cerita?
Paman Li sepertinya tak suka.
Ayah bilang apa?
Bilang tak cocok.
Sudah pasti tak suka, 'kan?
Ayahku hanya lihat penampilan?
Merasa dia suka yang cantik.
Aku merasa bukan.
Sangat mungkin.
Ibu Jianjian cantik,
ibumu juga cantik.
Benar juga.
Hari ini aku beli sayur denganmu,
sungguh belajar hal baru.
Begitu membahas memasak
tak bisa berhenti.
Guru Zhang.
Anda jangan...
Kenapa pulang semua?
Kakak istirahat hari ini.
Ini Guru Zhang Hongying.
Kau...
kau Jianjian, 'kan?
Cantik sekali.
Ayahmu bilang
kau mirip ibumu.
Apa kabar, Bibi.
Apa kabar.
Berikanlah, cukup berat.
Terlalu berat, jangan.
Jangan, terlalu berat.
Ini...
Bibi Zhang berikanlah.
Terima kasih.
Dua anak tampan ini,
yang mana Ziqiu,
yang mana Ling Xiao?
Pelan-pelan.
Bibi Zhang, aku Ziqiu.
Ling Xiao.
Sungguh baik.
Duduklah.
Kalian lanjut makan.
Ayah kalian mau ajari aku buat daging cincang.
Bagus, semua masakan ayahku enak.
Kelak bisa dipelajari.
Baik.
Aku tak pandai masak.
Tetapi anak pertamaku sangat pintar buat masakan barat.
Lain hari makan di rumah.
Baik.
Itu...
Guru Zhang,
begini,
kau ke dapur dulu
persiapkan bahannya.
Yang tadi
aku katakan di jalan.
Aku mau bicara dengan anak-anak.
No comments yet. Be the first to leave one.